
"Tapi dia sudah harus menikah besok, semua sudah siap," ucap Ratih.
"Bukankah masih lusa?" tanya Ikram.
"Itu sama saja dengan besok, hanya tinggal menghitung hari saja," ucap Ratih.
"Bibi, tidak bisakah bibi membatalkannya untukku? maksudku, kami benar-benar sangat menginginkan Nadin untuk menjadi istri Ifraz," ucap Ikram.
Ratih tersenyum, "ini antara dua keluarga, bukan hanya keputusan bibi seorang diri nak, kami berdua juga sudah melalui perdebatan panjang sebelum membuat keputusan seperti ini," ucap Ratih.
"Ratih, tapi putrimu hanya mencintai keponakan ku apa dia akan bahagia dengan laki-laki yang kau jodohkan dengannya itu," ucap Ginanjar.
"Justru aku khawatir jika dia benar-benar menikah dengan Ifraz, cinta yang dia miliki hanya cinta sepihak, Ifraz sama sekali tidak mencintai Nadin, hidupnya nanti hanya akan mengejar Ifraz hari demi hari, itu akan menyulitkannya," ucap Ratih lagi.
"Bibi tidak percaya padaku, aku berjanji akan membahagiakan dia, dan memperlakukan dia dengan baik," ucap Ikram lagi.
Ratih tersenyum, "sudah kalian makanlah dulu, keputusan bibi tidak bisa di rubah, semua hal sudah siap dan acara tidak mungkin di batalkan, orang yang akan menikah dengan Nadin adalah orang yang sangat mencintainya, meninggalkan dia bersama dengan laki-laki itu membuat bibi tidak akan berfikir di masa tua bibi nanti," ucap Ratih yang beranjak dari duduknya, berjalan ke dapur menyiapkan makanan untuk tamunya yang sudah melakukan perjalanan jauh.
"Mas Ikram," panggil Ellia menyentuh punggung tangan Ikram.
"Untuk hal ini, jangan memaksakan kehendak kita, mereka juga punya hak untuk membuat keputusan mereka sendiri," ucap Ellia pada Ikram.
Ikram hanya menatap Ginanjar tidak nyaman dengan situasi canggung ini, "aku di tolak untuk pertama kali, tapi aku tidak bisa marah," ucapnya.
"Sudah, aku akan membantu bibi dulu,"
"Hati-hati jangan terlalu lelah, kita masih ada program hamil yang mengharuskan tubuh kita berdua sehat," ucap Ikram sebelum Ellia pergi.
"Oke mas,"
"Bagaimana paman?"
"Dia benar, sekalipun kita tau bahwa Ifraz mencintai Ellia, tapi dia juga tidak melakukan pergerakan apapun sampai detik ini, seperti paman yang khawatir Ellia akan merepotkan mu dan membuatmu tidak bahagia karena dia sama sekali tidak mencintaimu saat itu, itu juga di rasakan oleh setiap orang tua di dunia ini Ikram," jelas Ginanjar.
"Apa aku harus membunuh laki-laki itu saja, aku lebih tidak bisa jika melihat Ifraz terluka nanti," ucap Ikram.
"Kau pikir adikmu itu bisa menerima semua ini, apa dia tidak akan menyalahkan mu seumur hidupnya karena ini," ucap Ginanjar.
"Lalu apa yang harus kulakukan, bibi akan tetap pada pendiriannya," ucap Ikram resah.
"Ifraz saja tidak melakukan apapun, kalau memang dia menginginkan Nadin, seharusnya dia juga memperjuangkan gadis itu, tidak hanya diam saja seperti ini," ucap Ginanjar.
"Lalu aku harus menerima saja semua ini,"
"Ifraz memang harus merasakan hal ini Ikram, kau tidak bisa terus membantunya begini, biarkan dia menikmati rasa sakitnya hidup, dunia ini tidak hanya berisi semua hal yang bisa membuat dia senang saja, kau terlalu memanjakan adik-adikmu," tambah Ginanjar.
Ikram mendengar semua yang di katakan oleh Ginanjar, semua yang dia katakan memang benar, hati dan pikirannya kini sedang berfikir keras dengan semua hal yang akan terjadi nanti.
Berbeda dengan dia, Ellia kini tengah membantu Ratih di dapur, "sudah Ellia bajumu kotor nanti, bibi bisa sendiri,"
"Aku sudah biasa memasak bibi, ini tidak sulit untukku," ucap Ellia.
Gadis itu langsung dengan lincah bergerak ke sana kemari di dalam dapur, yang mana membuat Ratih shock, "apakah Ikram hanya menyuruhmu memasak di dalam rumahnya, ini seperti kamu sudah terbiasa melakukan ini selama bertahun-tahun," ucap Ratih.
"Aku sangat suka memasak, tapi sejak menikah dengan mas Ikram, dia malah tidak memperbolehkan aku masuk dapur," ucap Ellia.
"Seandainya saja Nadin benar bisa menjadi adikku, aku pasti akan sangat senang memiliki ibu seperti bibi," ucapnya pada Ratih.
Terlihat sekali gurat kesedihan di wajah Ellia, "bibi, maafkan kami, kami semua tumbuh tanpa ibu dan keluarga yang baik, aku yakin bibi juga tau itu, dokter Ifraz bukan tidak mencintai Nadin, dia hanya tidak tau caranya, kami sebagai keluarga juga tidak cukup baik dalam menyikapi hal ini," ucapnya lagi dengan sopan.
Ratih terdiam, dia mencerna apa yang baru saja di ucapkan Ellia padanya, pertengkarannya beberapa bulan yang lalu bersama Nadin kembali teringat di pikirannya.
"Dia telah menyentuh jiwaku ibu, pandangannya telah mengalir di darahku setiap kali dia melihatku, jangan pisahkan kami, aku tidak bisa hidup tanpanya, aku hanya bisa menjadi miliknya, aku sangat mencintainya ibu, aku sangat mencintainya," teriak Nadin saat itu padanya dengan suara parah, bahkan air mata mengalir deras dari kelopak matanya.
Saat itu Ratih hanya bisa memeluk putrinya, "kau mencintainya, tapi dia sama sekali tidak mencintaimu, bagaimana hidup kalian nanti, laki-laki ini mencintaimu sejak lama Nadin, ibu yakin kau akan bisa bahagia bersama orang yang mencintaimu dari pada orang yang kau cintai,"
"Kedepannya kau tidak harus berkorban dan melakukan semua hal untuk siapapun, karena dia yang akan melakukan semua hal untukmu," ucap Ratih menasehati.
"Bibi, bibi," panggil Ellia.
"Iya," jawabnya setengah melamun.
"Ini, bagaimana rasanya?" tanya Ellia.
Ratih mengambil sendok yang ada di tangan Ellia, menuangkan sedikit kuah itu di telapak tangan untuk mencicipinya.
"Bagaimana?"
"Ini sangat enak Ellia, kemampuan memasak mu memang yang terbaik, bibi sampai kalah darimu," ucap Ratih senang.
"Tentu saja dia yang terbaik, istriku memang selalu terbaik," ucap Ikram yang langsung memeluk Ellia dari belakang.
"Aku bahkan hanya seorang kucing yang di pungut dari jalanan bibi, jangan percaya ucapannya, dia pandai bicara," ucap Ellia.
"Itu karena aku pandai menilai orang, sampai bisa mendapatkan berlian seperti mu," ucapnya, terlihat sekali bahwa Ikram sangat mencintai gadis ini.
"Sudah, ayo makan dulu,"
"Kita sudah makan bibi,"
"Sudah ayo sedikit saja, istrimu yang memasak,"
"Bawa kemari makanannya Ratih, masakan Ellia sudah pasti sangat enak, itu tidak perlu di ragukan lagi," ucap Ginanjar.
"Aku akan membawakan makanan nya paman," ucap Ellia meninggalkan Ikram dan Ratih di sana.
"Ikram,"
"Iya bi,"
"Tolong tetap jaga Nadin seperti saudara kalian sendiri, bagaimana pun keputusan yang akan dia ambil nanti," pesan Ratih.
"Tentu saja aku pasti akan menjaganya,"
***
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar kak
Selamat membaca