
"Tidak bisa di pungkiri, aku cukup sakit melihat dia dengan istrinya, tapi tidak semua cinta bisa seberuntung mereka," batin Zelin begitu melihat sikap Ikram yang sangat lembut terhadap Ellia.
Ikram langsung kembali ke kamar begitu meletakkan Ellia yang masih tertidur terlelap di ranjang kamar Ifraz, tentu saja setelah memberikan sebuah kecupan singkat di kening Ellia.
"Oke, kita mulai sekarang, mulai dari Ifraz," ucap Ikram.
"Semua aman, nggak ada masalah di semua perusahaan, berita terakhir mengenai abang yang sudah mulai kembali pulih semakin membuat harga saham kita melonjak tinggi," ucap Ifraz.
"Peluncuran produk baru?"
"Hanya menunggu Iriana, tapi jika dia tidak bisa menyelesaikannya, aku sudah menyelesaikan produk baru yang siap di luncurkan kapan saja,"
Tiba-tiba hendak mengganti produk? tanpa rapat pemegang saham?"
"Hanya opsi kedua jika ada sesuatu yang merubah pikiran Iriana," ucapnya.
"Donasi pemerintah?"
"Masih ku tahan sampai abang siap dan kembali," ucap Ifraz.
"Alihkan saja untuk membangun kekuatan tempat ini, Aro setelah ini kalian akan menjadi kekuatan rahasiaku, tempat ini akan kurubuhkan dan kalian semua akan pindah ke sebelah yang masih dalam tahap pembangunan," ucap Ikram.
"Siap bos,"
"Zelin buat semua orang agar fokus pada kalian sementara sampai kekuatanku yang di sini pulih sempurna," ucap Ikram.
"Oke,"
"Masalah Logan bagaimana? tidak ada yang ingin kau laporkan padaku?" tanya Ikram
"Seperti yang kamu tau, aku tidak ingin menjelaskan kepada orang yang sudah tau,"
"Aku juga ingin mendengar cerita ini versimu,"
"No comment, aku sedang tidak ingin bercerita," ucap Zelin.
Ikram menarik nafas cukup panjang, "setelah ini jangan ada yang ikut campur dengan semua hal yang akan Logan lakukan nanti, jangan bertanya, jangan terganggu dan jangan melakukan apapun sampai ada instruksi dan petunjuk dariku,"
"Oke,"
"Siap bang,"
"Sementara aku harus mengirimmu kembali, jangan buat tempat ini mencolok dan buat kematian Hassel dan ayahnya sebagai kecelakaan, aku yakin permintaan ini sangat mudah untukmu," ucap Logan.
Zelin hanya menganggukkan kepalanya, "Aro, perketat latihan semua orang, lawan mereka saat ini Ifraz dan aku, aku harus segera kembali dalam beberapa hari," ucap Ikram.
"Iriana saja, biarkan dia dan aku yang berlatih bersama mereka, abang cukup serahkan dan percayakan pada kami," ucap Ifraz.
"Siap-siap saja, jika Ikram sudah serius seperti ini, pelatihannya bahkan akan lebih sulit dariku, tapi hasilnya tidak main-main, contoh produk unggulnya ya Ifraz dan Iriana ini," ucap Zelin pada Aro.
"Tidak perlu mengajak Logan ke benteng hitam, kembalilah dengan semua orang-orang kita selain Logan," ucap Ikram.
"Baik, sesuai yang kau katakan ketua," ucap Zelin.
Ifraz mengamati Zelin, laki-laki ini memperhatikan semua hal dari wanita yang ada di depannya ini dari atas hingga bawah, "bagaimanapun dia berusaha menolak, tapi cinta di matanya tetap tidak bisa di tutupi, sangat berbeda dengan abang," ucap Ifraz dalam hati.
"Dia sebenarnya juga tidak buruk, hanya saja kakak ipar sedikit lebih beruntung, tapi memang orang seperti abang cocoknya hanya dengan wanita seperti kakak ipar, jika mereka berdua yang menikah maka akan menjadi seperti apa rumah mereka nanti, mungkin akan seperti goa, diam saja terus setiap hari," batin Ifraz lagi hingga tanpa sadar sebuah senyum keluar di balik wajah tampan itu,
"Ada apa ? menertawaiku ?" tanya Ikram.
"Tidak,"
"Ada yang lucu ?" tanya Ikram lagi.
"Tidak ada abang," jawabnya.
"Wajah siapa yang kau baca kali ini," ucap Ikram.
"Astaga abang, aku seorang dokter, bagaimana bisa membaca wajah seseorang," ucapnya pada Ikram gemas karena bisa menebak apa yang ia pikirkan saat ini.
"Aish,"
"Siapa ?"
"Zelin,"
Plak
"Dia lahir lebih dulu darimu,"
"Iya iya, kak Zelin, aku tidak bisa membaca tapi orang bodoh juga bisa melihatnya,"
"Aku? ada apa denganku ?" tanya Zelin yang masih tidak nyambung dengan kedua kakak beradik ini.
"Aku tidak mau mengatakannya," ucap Ifraz khawatir membuat Zelin malu atau canggung.
"Katakan saja, apa ada yang salah denganku ?" tanya Zelin kemudian.
"Iya, tapi bukan kesalahan,"
"Apa ?"
"Aku tidak ingin mengatakan nya," ucap Ifraz.
"Katakan saja ada apa? toh aku juga akan segera kembali, jangan mengkhawatirkan apapun,"
"Ungkapan cinta yang sejak tadi kak Zelin sampaikan pada bang Ikram lewat bahasa tubuh, hanya saja abangku terlalu tidak peka untuk menerimanya," ucap Ifraz enteng seolah tidak peduli wajah Zelin sudah memerah.
"Aku tidak tau kalian berdua punya wisata masa lalu sedalam apa, tapi kalau aku boleh saran, sepertinya begini lebih baik,"
Uhuk uhuk uhuk, Ikram tersedak oleh ludahnya sendiri, menatap tajam ke arah Ifraz tak percaya.
"Maksudku, kalian berdua sama-sama sempurna, memiliki ambisi yang sama besar, rival dalam segala hal, tapi rumah tangga bukan bersaing, saling berbagi dan mengisi satu sama lain lebih penting,"
"Dan orang seperti kakak ipar yang ceroboh dan sedikit bodoh, memang sangat cocok dengan sifat abang yang sempurna," ucap Ifraz seolah orang yang hidup sepuluh tahun lebih tua.
"Bagaimana kau tau? maksudku itu bukan wisata masa lalu, tapi bagaimana kau tau?" tanya Ikram kemudian.
"Membaca setiap gerakan dari tubuhnya dan tubuh abang," ucap Ifraz.
"Jangan pernah menceritakan ini pada Ellia, Aro kau juga," tunjuknya memberi peringatan.
"Lebih baik abang bercerita sendiri dari pada orang lain yang memberitahu nya," ucap Ifraz.
"Sedalam apa? kami bahkan belum memulai tapi sudah usai, bahkan tanpa ada kata selesai," ucap Zelin dengan sebuah senyum yang tak kalah pahit.
"Oke aku akan kembali ke banteng hitam sekarang juga, kau cepat sembuh dan jaga dirimu dengan baik," ucapnya yang sudah bangkit dari duduknya dan memegang pundak Ikram.
"Masih ada hal yang harus ku bicarakan denganmu, kalian keluarlah dulu," ucap Ikram.
"Abang, ingat untuk tidak bermain api, atau kita semua akan terbakar nanti," pesan Ifraz sebelum pergi, ia bukan tidak percaya abangnya, tapi situasi saat ini sangat penting untuk membuat keributan lebih dalam.
Kedua orang itu segera keluar dari pintu dan berjaga di sana agar tidak ada seorang pun yang masuk.
"Duduklah,"
"Ada apa? kau mulai khawatir padaku karena Logan? aku masih bisa menjaga diri," ucap Zelin yang kini tengah berjalan dan berhenti di depan jendela.
Menatap singkat ranjang Ikram dan Ellia dengan sebuah senyum, sebelum mengalihkan pandangan nya ke sebuah laut yang sedikit terlihat dari sini.
"Kau tau bagaimana perasaan ku sekarang," ucap Ikram.
***
Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.