Ellia's Husband

Ellia's Husband
Melamar seseorang yg



Nadin mulai memasukkan satu persatu pakaiannya yang ada di dalam kamar Ifraz, Iriana baru saja masuk ke dalam sana, "kakak,"


"Hai, sini masuk," ucap Nadin.


Iriana duduk di sana melihat baju yang sudah masuk ke dalam koper satu persatu.


"Kakak yakin ingin menikah? tidak menunggu Iraz?" tanya Iriana.


"Aku sudah lama menunggunya, dia yang sekarang bahkan sangat sulit untuk ku gapai, menjadi bagian dari kalian sudah lebih dari cukup dan membuatku senang, apalagi yang aku inginkan," ucapnya dengan sebuah senyum.


"Padahal aku sudah sangat senang karena kakak berkata hendak menunggu, siapa nanti yang bisa bersama Iraz dengan kepribadiannya yang suka berubah itu kak," ucap Iriana khawatir, mood Ifraz memang suka berubah, di banding Ikram, Ifraz adalah yang paling tidak stabil dan masih labil.


"Dia kaya, dengan wajah yang juga dia miliki, akan banyak sekali wanita yang mengantri untuk menjadi istrinya nanti, tidak perlu terburu-buru," ucap Nadin.


"Kakak kenapa baru bilang ?"


"Sebenarnya sudah cukup lama, tapi karena Logan aku berniat memundurkan tanggal pernikahannya, cuma karena sekarang semuanya sudah baik-baik saja rasanya tidak perlu memundurkan tanggalnya," ucap Nadin.


Iriana menatap sedih orang yang sudah ia anggap seperti kakak perempuan di hadapannya, "terimakasih sudah banyak berjuang bersama kami sejak kami belum menjadi siapa-siapa ya kak," ucap Iriana sedih.


Sebenarnya ia juga tidak kembali hari ini, ia bersiap untuk besok agar tidak terlambat.


"Hari ini aku masih harus menyelesaikan pekerjaan di laboratorium Ifraz, dimana dia?" tanya Nadin.


"Di dalam lab," ucap Iriana.


Nadin menutup koper miliknya, "aku ke sana dulu ya, aku tidak ingin meninggalkan banyak pekerjaan untuk nya nanti," ucap Nadin lagi.


"Oke kak," ucap Iriana yang masih duduk di ranjang kamar Ifraz menatap Nadin yang sudah menghilang di balik pintu.


Iriana melihat sekeliling kamar Ifraz, "bahkan denganku dia tidak pernah berbagi kamarnya, hanya sekali, itupun karena abang dan kakak ipar, selain mereka bahkan tidak ada yang berani untuk tinggal di kamarnya, tapi dia memberi pada kak Nadin bahkan secara tanpa sadar," gumam Iriana.


"Apa yang akan terjadi pada Iraz nanti saat pernikahan itu terjadi, aish bagaimana orang bodoh sepertinya bisa ada di dunia ini," ucap Iriana kesal karena Ifraz tidak kunjung menyatakan perasaannya.


***


"Iraz," panggil Nadin yang hanya memasukkan kepalanya ke dalam pintu.


"Masuklah,"


"Tumben serius banget," ucap Nadin.


"Banyak banget yang harus gua lakuin mumpung masih ada di sini," ucap Ifraz.


"Mana gua bantu," ucap Nadin mendekati Ifraz yang masih berkutat dengan mikroskop yang ada di sana.


"Ambilkan sampel ini di sana, bantu aku mengujinya," ucap Ifraz.


Semua berjalan baik, mereka seperti mereka yang biasanya, Ifraz yang sering mencuri pandang pada Nadin yang sibuk dengan pekerjaan nya dan Nadin yang diam-diam melihat Ifraz tertawa seolah dialah yang merasa paling bahagia karena tawa itu.


Jika Nadin adalah orang yang ekspresif, untuk hal ini Ifraz sangat dingin sekali, pura-pura tidak peduli, pura-pura tidak suka dan pura-pura yang lain, namun Ifraz adalah orang pertama yang akan mengambil langkah saat ada situasi buruk yang terjadi pada Nadin.


"Aku kemarin pergi makan es krim dengan Iriana dan kakak ipar, rasanya lumayan, mau mencobanya tidak?" tanyanya lebih sopan tanpa lu gua seperti biasa.


Nadin bingung dengan laki-laki ini, "mengajakku?" tanyanya menunjuk dirinya sendiri.


"Iya lah, siapa lagi," jawab Ifraz.


"Tumben banget, biasanya juga cuma ngajak ke laboratorium, rumah sakit, atau ke museum purba, baru kali ini gua di ajak keluar," ucap Nadin sedikit tidak percaya.


"Mau apa nggak?" ucapnya lebih kasar.


"Jelas mau dong, masak iya nggak mau," ucap Ifraz.


Dari dulu hingga sekarang, Ifraz adalah orang yang paling tau semua hal tentang Nadin, begitu juga sebaliknya, namun aktifitas mereka juga hanya di dalam rumah dengan semua hal yang sudah di siapkan, hampir tidak pernah makan di luar, jalan bareng berdua atau melakukan aktivitas seperti pasangan pada umumnya.


"Tapi pekerjaan nya?" tanya Nadin.


"Iraz are you okay? ini nggak kayak kamu loh?" ucapnya pada Ifraz.


"Sudah ayo kita pergi," ucapnya yang langsung menarik tangan Nadin dan membawanya pergi dari sana.


Sebuah mobil sport keluaran terbaru yang baru saja ia beli beberapa minggu yang lalu menjadi pilihannya hari ini, "yakin pakai ini buat beli es krim? lu mau jadi tatapan mata orang,"


"Tes drive," ucap Ifraz.


Tidak biasa, kali ini Ifraz membuka pintu untuknya, "abang biasa melakukan ini untuk kakak ipar," ucap Ifraz lagi.


"Terimakasih tuan muda," ucap Nadin senang.


Keduanya berada di dalam mobil yang sama, Nadin menyalakan musik di dalam mobil, menyanyi dengan cukup keras, tidak peduli untuk jaga image di depan Ifraz.


Ifraz hanya tersenyum dan mengemudi dengan baik, hingga sampai di sebuah tempat yang ia dan saudaranya kunjungi kemaren.


"wah ini sering banget muncul di berita, nggak sabar banget," ucapnya senang.


Keduanya mulai masuk dalam sebuah pintu, "Ada yang bisa di bantu tuan," tanya pelayan itu sopan.


"Reservasi atas nama Ifraz," ucapnya.


"Baik, tuan muda Ifraz silahkan mengikuti saya," ucap pelayan itu sopan.


Saat kedua manusia itu menghabiskan waktu bersama di sana dengan detik-detik terakhir waktu yang mereka miliki.


Ikram bersama dengan Ellia mulai bersiap untuk pergi ke suatu tempat, "Ellia apa sudah siap?' teriak Ikram.


" Sebentar lagi mas," ucap Ellia di ruang baju.


Tak lama Ellia keluar dengan dress selutut yang memiliki warna senada dengan setelan yang di pakai Ikram.


Ellia sungguh terlihat sangat cantik dengan balutan baju itu, benar-benar menawan pikir Ikram.


"Sudah siap," tanyanya.


"Apa aku tidak terlihat sangat kecil," tanyanya khawatir tidak seimbang dengan suaminya, pasalnya Ikram selalu mempesona dengan semua hal yang ia pakai.


"Cantik, sudah sangat cantik." ucap Ikram.


"Semoga ada kabar baik setelah ini," ucapnya.


Keduanya mulai berjalan keluar dari kamar, "abang mau kemana?" tanya Iriana penasaran langsung berlari mendekati Ikram dan Ellia.


"Ifraz dimana?"


"Keluar bersama kak Nadin, beli es krim ke tempat kita pergi kemaren kakak ipar,"


"Semua tagihan yang di keluarkan Ifraz hari ini, langsung sambungkan dengan rekening abang,"


"Oke bang, aku juga tapi ya," ucapnya lagi.


"Oke, asal kau senang,"


"Yes, tapi abang mau kemana,"


"Melamar seseorang,"


***


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar kak


Selamat membaca