
"Jujur, aku mengagumimu,tapi aku tidak pernah menyebut namamu di dalam doa ku, bukan anda yang saya inginkan," batin Ellia bimbang.
***
Ikram sudah lebih baik dengan Ifraz di sampingnya, adik laki-lakinya itu menjaganya semalaman, Ifraz tidak bisa mempercayakan Ikram pada Ellia sejak awal, terlebih begitu mendengar apa yang sudah terjadi, sedikitpun Ifraz tidak ingin meninggalkan Ikram.
"Pulanglah, ini sudah pagi, pekerjaanmu juga pasti banyak, ada operasi kan ?" tambahnya.
"Aku bisa mengalihkannya kepada orang lain, abang lebih penting sekarang," jawab Ifraz dengan konsol game di tangannya.
"Ingin menghalangiku pergi dengan Ellia bukan ?" tebak Ikram.
"Tidak, untuk apa pak bos ? aku tidak picik seperti itu," elaknya yang masih fokus dengan gamenya.
Ikram tersenyum, "abang harus menyelesaikan masalah ini secepatnya," jelas Ikram tanpa Ifraz bertanya padanya.
"Masalah yang mana ? seharusnya kakak ipar yang harus menyelesaikan masalah ini dengan abang, tapi lihat ? dia bahkan tidak memiliki rasa bersalah," tambah Ifraz sinis.
"Ifraz, dia lebih muda darimu, dia juga lebih muda dari Iriana bukan ? dia masih anak-anak, dia juga pasti sangat sulit mengambil keputusan,"
"Kita juga pernah di posisi yang sama dengannya, di usia yang bahkan jauh lebih muda darinya, tapi bahkan Iriana bisa membuat keputusan yang logis dan bijaksana saat itu," sanggah Ifraz yang cukup kecewa dengan kakak ipar pilihan abangnya.
"Karena kalian memiliki aku, tapi Ellia tidak memiliki siapapun, yang Ellia miliki saat itu hanya Yuda kekasihnya," ucapnya.
Ifkar berhenti memainkan game konsol di kamar Ikram, laki-laki ini mencerna setiap hal yang baru saja diucapkan oleh abangnya, "dia tidak memiliki siapapun ?" tanyanya menatap Ikram.
Ikram mengangguk yakin, menyisakan guratan aneh di wajah Ifraz.
Setelah cukup lama berfikir, Ifraz bangkit dari duduknya dan merapikan game konsol kembali ke tempatnya, laki-laki ini mendekati Ikram dan mencium tangan laki-laki yang lebih tua darinya ini.
"Aku ada jadwal operasi Menteri hari ini bang, aku akan bersiap dan pulang," pamitnya pada Ikram.
Ikram tersenyum, "jangan terlalu lelah, setelah semua hal rumit ini selesai, ayo kita menemui Iriana," ucapnya menggerakkan pelan tangannya di kepala adiknya.
Ifraz menganggukkan kepalanya, "oke, jangan sakit lagi agar kita bisa bertemu dengannya," ucap Ifraz.
"Cepat sembuh bang, jangan makan cemilan terus, abang bisa gendut," teriaknya sambil berlari.
***
Ikram memaksakan tubuhnya yang masih malas bergerak untuk segera turun dari ranjang besar miliknya, ia memilih keluar kamar dan mencari keberadaan istrinya.
"Ellia,"
"Ellia,"
"Ellia,"
Teriakan teriakan pagi Ikram sudah kembali terdengar, namun masih belum ada sahutan dari Ellia, "kemana anak itu? kenapa tidak ada di seluruh rumah, " gumamnya pelan.
Pak Ginanjar sudah pulang, hanya ada dirinya dan Ellia di rumah ini, karena tidak melihat Ellia di sekitar rumah, Ikram bermaksud melihat Ellia di kamarnya.
Tok tok tok.
Beberapa kali Ikram mengetuk pintu kamar itu, namun Ellia juga tak kunjung menjawab, cukup lama Ikram menunggu akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Ellia.
Gadis itu tengah tertidur dengan posisi duduk di meja belajarnya dengan beberapa buku sebagai alas, Ikram melihat wajah cantik di depannya, merapikan sedikit anak rambut yang berlarian menutup mata Ellia yang masih terpejam.
Ellia yang merasa ada pergerakan di sekitarnya segera bangun, perlahan kelopak mata bulat dengan bulu mata indah itu terbuka.
"Prof, anda sudah baikan?" tanyanya dengan suara khas bangun tidur.
"Kenapa tertidur di sini? tidak sakit?" tanya Ikram lagi.
"Saya bertanya, kenapa anda malah balik bertanya," ucap Ellia.
"Aku ingin mengajakmu liburan, aku tidak bertanya kau mau atau tidak,"
"Hah? maksudnya ?"
"Aku tidak bertanya, artinya kau harus ikut kemanapun aku pergi,"
"Pak Ginanjar yang akan mengurusnya kali ini,"
"Kemana memangnya?"
"Ke tempat yang hanya ada kita saja," ucap Ikram.
"Memangnya ada tempat seperti itu?" tanya Ellia.
"Makanya ikut dengan ku agar kau tau Ellia,"
"Iya iya iya," jawab Ellia.
"Ayo kita berangkat sekarang," ucapnya.
"Hah?" tanya Ellia tidak percaya.
"Sekarang?"
"Iya sekarang, lihat di sana," ucap Ikram lagi menunjuk pada sebuah koper yang sudah siap dengan isinya di sana.
Ellia menoleh ke arah ujung jari telunjuk Ikram, ia tidak percaya sebuah koper sudah siap begitu saja, ia tidak tau siapa yang menyiapkannya.
"Aku tidak menyiapkan nya, anda menyiapkan untukku?" tanya Ikram lagi.
"Tentu saja bukan aku,"
"Lalu?"
"Sudah, kau cerewet sekali Ellia, menurut saja padaku, kau tidak akan menyesal kali ini, apa yang kau inginkan akan ku setelah perjalanan kita ini,"
"Keinginan yang mana?" tanya Ellia bingung, ia tidak pernah mengatakan apapun yang ia inginkan kepada Ikram sebelumnya.
"Sudah, cepat mandi, tiga puluh menit lagi aku menunggu di luar," ucap Ikram yang langsung bergerak pergi.
"Apa keinginan ku ya? aku tidak memiliki keinginan apapun," ucapnya menyakinkan diri sekali lagi.
***
Ellia berjalan mengikuti Ikram yang sudah beberapa langkah lebih dulu di depannya, gadis ini kesulitan dengan koper yang ia bawa dan beberapa tas snack makanan milik Ikram yang juga enggak ia lewatkan.
Beberapa minggu terakhir bersama Ikram, Ellia faham suaminya ini sangat suka makan cemilan, karena satu minggu, Ellia membawa dalam jumlah banyak karena khawatir kehabisan.
"Prof, jangan berjalan terlalu cepat, kenapa terburu-buru,"
"Jika tidak terburu-buru maka akan tertinggal pesawat Ellia,"
"Iya, tapi kaki anda melangkah terlalu cepat prof," ucapnya dengan nada menggemaskan.
"Benarkah? sorry sorry, kemari, aku akan membantumu membawa mereka," ucap Ikram yang sudah mengambil satu koper besar yang ada di tangan kanan Ellia.
"Jangan yang itu prof, itu hanya berisi snack, bawa yang ini saja, ini kecil tapi berat, bantu aku bawa ini saja,"
"Siap bos" ucap Ikram sedikit membungkukkan tubuhnya yang membuat Ellia tertawa.
Keduanya sudah sampai di dalam pesawat yang cukup kecil namun benar-benar mewah, rupanya ini adalah pesawat pribadi milik Ikram, dan bodohnya Ellia percaya saja di bohongi akan ketinggalan pesawat.
"Profesor anda berbohong?" ucap Ellia dengan wajah masam.
Ikram tertawa, "menyenangkan saja," jawabnya.
"Profesor nakal," ucapnya kesal.
Ikram masih menatap Ellia yang menggerutu di depan ponselnya, laki-laki ini tidak pernah bosan menatap Ellia yang saat ini berada di depannya.
"Alasan aku ingin membahagiakan mu adalah agar kau percaya bahwa tidak semua laki-laki sama, kau sudah di kecewakan oleh ayah mu, lelakimu, haruskah aku mengecewakan mu juga? tapi jika bukan aku bahagia yang kau inginkan, aku bisa apa? " batin Ikram.
TO BE CONTINUE