Ellia's Husband

Ellia's Husband
Ellia's Husband



"Dan kau Iriana, berhenti main-main dan minta mereka semua berhenti," bentaknya pertama kali.


Iriana mematung di tempatnya, melepaskan tangannya yang menyangga tubuh Ikram, menatap laki-laki yang ada di hadapannya ini dengan tidak percaya.


Tak hanya Iriana, Ifraz dan bahkan Ellia kini memutar tubuhnya melihat bagaimana mungkin Ikram sampai membentak Iriana di hadapan banyak orang seperti ini.


Ifraz hendak bicara, tapi sebuah gelengan kepala dari Iriana menghentikannya, "Baik," ucapnya dengan sebuah senyum mengembang di sana.


Gadis ini berjalan sedikit mundur menjauh dari Ikram, "kak Zelin, tolong tarik mundur semua pasukan kakak," ucapnya dengan sebuah earphone di telinganya.


"Iraz," ucapnya menatap Ifraz, pasalnya laki-laki ini masih tidak memberikan perintah pada pasukannya.


"Kita kembali sekarang, kemari Iriana," ucap Ifraz.


Sebuah tangan sebelah kiri Ifraz menjulur di udara, meminta Iriana datang kepadanya.


"Tolong jaga dia," ucapnya pada Andara sebelum kemudian berjalan memegang tangan Ifraz.


Sebuah butiran air mata tanpa sengaja jatuh dari kelopak mata Iriana tepat di depan Ifraz dan Ellia, Ellia langsung saja memeluk Iriana dari samping, "its okay, dia sedang sakit, wajah mas Ikram bahkan sampai pucat seperti itu," jelas Ellia mengelus lembut punggung Iriana dengan tangannya.


Ifraz melempar sebuah tas kecil pada Aro, "berikan itu padanya, itu cukup untuk membuatnya pulih dalam beberapa hari," ucap Ifraz.


"Kita pulang sekarang," ucapnya berbalik dengan tangan kanan memegang Iriana dan tangan kiri memegang Ellia.


"Tidak ada yang boleh meninggalkan tempat ini, kalian akan tetap bersamaku," ucap Ikram.


"Abang pikir istri dan adik perempuan abang itu bisa tinggal di tempat penuh laki-laki dengan tatapan yang selalu menganggap mereka berdua makanan, abang nggak lihat yang sudah mereka lakukan pada kakak ipar?"


"Kita datang karena khawatir, tapi karena sudah ada banyak sekali orang yang mengkhawatirkan abang, jadi rasanya kami sudah tidak diperlukan lagi di sini," ucap Ifraz semakin membantah.


"Kau sudah berani membantah ku Ifraz?" teriak Ikram dengan nada suara tak kalah tinggi.


"Iya, dulu ada yang selalu menjaga kami sampai aku tidak sampai hati membantahnya, dan sekarang sudah ada yang harus ku jaga, aku harus melakukan apapun untuk melindungi mereka," ucapnya tidak memperdulikan Ikram.


"Tutup pintunya, jangan biarkan mereka keluar," ucap Ikram lagi.


Ifraz menarik nafas kasar, "Iraz, tenang, abang sedang sakit," ucap Iriana mengelus pelan dada bidang Ifraz.


"Sekarang apa yang mas Ikram inginkan?" tanya Ellia.


"Tetap di sini," ucap Ikram tanpa basa-basi.


"Tetap tinggal di sini dan kembali bersamaku nanti setelah dua puluh hari, Andara siapkan kamarnya, aku akan kembali ke kamarku sendiri," ucap Ikram melepaskan pegangan tangan Andara dari tubuhnya.


"Dan kau Aro, aku belum membuat perhitungan denganmu," jelasnya.


"Kalian bertiga ikut dengan ku," ucap Ikram, Ikram langsung naik begitu saja menuju kamarnya.


"Iraz mau bermain tidak?" ucap Iriana memecah suasana, beberapa hari ini Ifraz memang sedang memiliki banyak tekanan, tidak baik jika terus seperti ini.


"Apa?"


"Siapa yang lebih dulu sampai di kamar bang Ikram dia dapat hadiah,"


"Apa hadiahnya, aku boleh ikut tidak?" tanya Ellia.


"Boleh dong kakak ipar,"


"Kudengar pantai di daerah ini sangat indah saat matahari tenggelam, yang menang bisa menikmati pemandangan di laut dengan kapal pesiar milikku, gratis," ucap Iriana.


"Pantai?" mata Ellia membulat sempurna.


"Tidak tertarik, aku sudah punya kapal pesiar, aku akan membawa kakak ipar ke sana nanti,"


"Uhm, begini saja, yang kalah akan membuat makanan untuk kita setiap hari," ucapnya.


Tanpa aba-aba ketiga orang itu langsung berlari begitu saja menaiki anak tangga menyusul abangnya, tidak perduli bagaimana orang lain menatap mereka aneh.


"Cepat kakak ipar jangan sampai kalah dari Iriana," teriak Ifraz.


"Keluarga macam apa mereka ini," ucap Aro frustasi.


"Kak Zelin, ku serahkan mereka semua padamu," teriak Iriana yang sudah berlari mengejar kakak ipar dan abangnya.


Ikram yang masih berjalan tertatih-tatih sangat kaget ketika tiga orang berlari sangat cepat mendahuluinya, "abang di mana kamar abang ?" teriak Ifraz.


"Itu," tunjuk nya.


Grep, ketiga orang itu bersamaan memegang handel pintu, "aku lebih dulu," ucap Iriana.


"No, aku lebih dulu An," sanggah Ellia.


"Nggak bisa nggak bisa, udah jelas gua yang lebih dulu, tangan gua yang paling bawah," jelas Ifraz.


"Apa yang kalian lakukan?" ucap Ikram.


"Iriana... ah ah ah," teriak Ifraz saat Iriana mencubit keras perutnya.


"Tidak apa-apa bang," ucapnya salah tingkah.


"Masuklah," ucap Ikram.


Sebuah kamar dengan desain full kayu dan nuansa suram terlihat sangat jelas di sana, sebuah gorden motif semakin membuat tempat ini seperti sebuah kastil lama.


Ellia berjalan mendekati ranjang, ranjang itu sudah penuh dengan darah dan basah sekali di sana, "tadi Andara menyiram wajahku dengan air karena aku tidak juga bangun saat kalian datang,"


"Ppftttt, ha ha ha ha ha ha,"Ifraz tak kuasa menahan tawanya.


"Pantas saja sampai membentak aku, macan tidur kok di bangunin," ucap Iriana yang kini duduk di meja Ikram.


"Wah, pantas saja abang membuka server keamanan ku dari sini, kalau saja tidak datang kesini, aku pasti sudah memberikan banyak virus ke sini," ucapnya.


Berbeda dengan yang lain, Ellia justru menarik seprei yang sudah basah karena air dan darah itu, dengan telaten ia membersihkannya, namun darah kering yang menempel di sana tetap juga sangat sulit untuk hilang.


"Aku mau sebuah springbed baru dan seprainya dalam lima menit," ucap Ifraz kepada seseorang di balik earphone.


Ikram menatap adik laki-laki nya dengan alis berkerut, "kenapa sangat perhatian dengan istriku?" tanya Ikram.


"Tentu saja, kakak ipar juga sangat baik dan perhatian padaku,"


"Benarkah?" ucapnya tidak percaya.


Saat ini Ifraz menarik seprai di tangan Ellia, "sudah kakak ipar, jangan membuang tenaga untuk membersihkan ini, di buang saja," ucapnya.


"Kakak ipar selalu memperhatikan kami bang, dia selalu memberikan kami susu sebelum tidur, mengingatkan kami makan, dan melakukan banyak hal untuk kami," tambah Iriana.


"Benarkah?" ucapnya masih tidak percaya.


"Ini sudah sangat malam, aku akan buatkan kalian teh lavender hangat malam ini," ucap Ellia.


"Aku tidak suka teh," teriak Ifraz.


"Malam ini harus teh, itu baik untuk mengurangi tingkat stress, kecemasan hingga depresi," jelas Ellia.


"Kakak ipar lebih baik ganti baju dulu," sanggah Ifraz.


"Wah, Ifraz dia istriku loh, kenapa seperti kamu yang menjadi suaminya, seharusnya aku yang mengatakan itu." ucap Ikram semakin tidak senang.


***


Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.