Ellia's Husband

Ellia's Husband
Rahasia Ikram dan Ellia



Ellia bangun lebih dulu pagi ini, ia ingin mulai menyiapkan makanan untuk Ikram sebagai ucapan terimakasih, Ikram selama ini memang tidak pernah memintanya memasak, setiap hari makanan selalu siap di meja makan karena Ikram selalu memesan makanan setiap hari, bahkan beberapa kali seorang pelayan akan datang sebelum Ellia sempat membersihkan rumah atas permintaan Ikram.


Sedikitpun Ikram tidak pernah meminta Ellia membersihkan rumah, memasak atau bahkan mencuci bajunya, ia ingin membuat Ellia nyaman dan tidak terbebani dengan semua tugas rumah tangga di usia Ellia yang masih di anggap belia.


Ellia masih belum tau apa makanan yang di sukai oleh Ikram, ia hanya memasak makanan yang bahannya ada di kulkas apartemen itu.


Dan lagi, Ikram melarangnya bekerja karena alasan khawatir Ellia kemalaman dan menjadi tidak fokus belajar, entah karena Ikram seorang dosen atau hanya tidak ingin Ellia kelelahan dengan sebuah aktifitas yang tidak berguna.


Desain interior lemari penyimpanan yang tinggi di area dapur cukup menyulitkan Ellia, dengan tubuhnya yang ia rasa cukup tinggi tetap tidak mampu menggapai sebuah piring yang berada di dalam lemari atas.


Gadis itu masih berusaha mengambil namun tetap tak kunjung bisa menggapainya, hingga kemudian ia mengambil sebuah kursi kecil berbahan plastik yang entah ia temukan di mana.


"Kenapa prof Ikram membuat desain tinggi seperti ini, bahkan dengan kursi ini aku tidak bisa mengambilnya," batin Ellia yang terus berusaha namun kakinya tidak sadar jika ia sudah berada di ujung.


Ellia limbung hingga kemudian tubuh itu mulai kehilangan keseimbangan dan mulai terjatuh ke samping, "Ah"


Namun sebuah tangan kokoh menahannya, Ikram dengan rambut rapi dan bau wangi khas miliknya menangkap Ellia yang hampir saja terjatuh ke lantai.


"Sedang apa Ellia?" tanyanya begitu Ellia berada di dekapannya.


"Prof Ikram," ucapnya panik dengan mengedipkan matanya beberapa kali.


Ikram menggendong tubuh kecil itu ke sebuah meja yang tidak jauh dari sana, dengan masih tidak bicara Ikram memeriksa tangan dan kaki Ellia khawatir ada yang terluka.


"Prof saya tidak terluka,"


"Sedang apa?"


"Memasak," jawabnya singkat takut kena marah.


Bukannya menjawab, Ikram justru mengambil sebuah ponsel di saku celananya dan menghubungi seseorang entah siapa.


"Halo pak Ginanjar," ucapnya saat itu dengan wajah yang tidak terlalu jauh dari Ellia, mereka sangat dekat, bahkan hembusan nafas satu sama lain bisa di rasakan oleh yang lainya.


"Iya tuan muda,"


"Tolong atur ulang desain dapur apartemen ku, itu terlalu tinggi, sesuaikan dengan tubuh Ellia,"


"Baik tuan muda," ucapnya yang langsung di akhiri oleh Ikram.


Sejujurnya pipi Ellia sudah memerah di perlakukan seperti ini oleh Ikram, bagaimana tidak, dia yang biasanya tidak di anggap, di perlakukan tidak baik di dalam keluarga, sekarang benar-benar di jadikan ratu oleh Ikram.


"Aku ingin memasak prof,"


"Aku tidak ingin tangan ini terluka bahkan lecet, dia saja Ellia, aku masih mampu memberimu makanan tanpa harus bersusah payah," jelasnya.


"Prof, anda tidak punya pacar? pasti sangat beruntung orang yang bisa mendapatkan anda,"


Ikram hanya mengangguk, kemudian tersenyum, "aku tidak memiliki pacar, tapi aku sedang memperjuangkan satu nama di dalam doaku,"


Mata indah itu berbinar-binar, "benarkah? wah semoga berhasil prof, semangat," ucapnya mengangkat kedua tangannya memberi semangat yang mana membuat Ikram semakin gemas.


"Ellia, tolong pijit kepalaku sebentar, aku merasa sakit kepala sejak bangun tidur pagi ini," ucap Ikram.


"Benarkah? sini biar Ellia periksa anda demam atau tidak," ucap Ellia yang langsung meletakkan tangannya di dahi Ikram.


Ellia memijit pelan kepala Ikram, cukup lama hingga tidak terasa Ikram kembali tertidur dengan nyenyak, hingga sebuah panggilan masuk dari ponsel Ellia yang mana membuat gadis itu menarik tangannya.


Terlihat nama Yuda kekasihnya di sana, dengan melihat Ikram sebentar dan memastikan Ikram masih tertidur pulas, akhirnya Ellia mengangkat panggilan telfon itu dan berdiri sedikit menjauh.


"Halo," jawabnya setengah berbisik takut membangunkan Ikram.


"Aku bilang suamiku dulu,"


"Hah? yakin nggak lama, ini weekend soalnya, kuatir nanti dia nyariin kalo keluar lama-lama Yuda."


"Iya, sekarang aja deh kalo gitu gimana?,"


"Oke aku ke sana sekarang,"ucapnya kemudian sebelum mengakhiri panggilan itu.


Ellia kembali menoleh pada Ikram yang masih tertidur dengan posisi duduk, karena khawatir Ikram bangun dan mencarinya, gadis itu dengan pelan dan segera kembali ke kamarnya kemudian bersiap seadanya.


Dengan langkah kaki di hati-hati, Ellia meninggalkan apartemen tanpa izin dan diam-diam dari Ikram, gadis itu seperti sedang keluar diam-diam dan takut di marahi oleh ayahnya.


Sesaat setelah pintu lift tertutup, mata Ikram perlahan terbuka, dengan senyum nanar itu Ikram masih menatap lift yang bisa di jangkau sudut matanya.


"Nando," ucapnya di ruangan seorang diri.


"Iya tuan muda," jawab Nando yang entah berada di mana.


"Awasi Ellia, aku akan kembali ke markas sekarang, " ucapnya dengan wajah datar seperti biasa.


Ikram dengan kaki panjangnya segera keluar dari apartemen, ia hanya mengambil sebuah jaket dan kunci mobil di dalam kamar.


Ikram mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju sebuah tempat yang berada di tengah hutan yang masih berada di pusat kota dengan medan perjalanan yang tidak main-main dengan kanan kiri tebing curam, jika bukan orang yang biasa melewati jalan ini, maka sudah di pastikan mobil mereka akan terjun cantik ke dalam jurang.


Setelah melewati cukup banyak waktu, Ikram berada di sebuah bangunan gedung kosong yang belum selesai di kerjakan, jika di lihat dari luar itu hanya bangunan tua yang belum selesai di kerjakan, namun sejujurnya di dalam sana tersimpan banyak sekali kode rahasia.


Wajah yang biasa tersenyum itu berubah total seratus delapan puluh derajat, ia terlihat sangat dingin dan menakutkan, auranya berbeda, ini tidak terlihat seperti ia yang tersenyum ramah biasanya.


"Bos datang," ucap salah seorang yang melihat Ikram hendak masuk ke dalam markas.


"Gerakan kalian cepat juga," ucap Ikram yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka semua.


"Bos, anda sudah sampai di sini? bagaimana bisa anda secepat itu?" tanya yang lain.


"Maheza mengincar ku?"


"Iya bos,"


sudah sampai tahap mana?" tanya Ikram serius.


"Perusahaan anda, terlebih Nando dan Ginanjar saat itu ada di lokasi untuk menjemput kakak ipar," jelas yang lain.


Ikram berfikir dengan memainkan lidahnya, "jika tidak bisa menghancurkan karirnya, bunuh saja lewat jalur bawah,"


TO BE CONTINUE