
Ellia masih tidak percaya dengan penjelasan yang di berikan Ifraz padanya, bagaimana mungkin suaminya sebagai pemimpin sampai rela mengorbankan dirinya sendiri sebagai tumbal acara itu.
"Kakak ipar, dia juga abang kami satu-satunya, terlepas dari bagaimana media menanggapi masalah ini, bahkan jika seluruh dunia memutuskan bang Ikram meninggal, aku dan Iriana akan tetap percaya dan berusaha mencari titik celah keberadaan bang Ikram saat ini," jelas Ifraz.
"Kakak ipar mau ikut bersama kami atau tetap berada dalam keterpurukan seperti ini, aku tidak berhak memutuskan," ucap Ifraz yang langsung keluar dari kamar Ellia.
Ellia masih terduduk di lantai, berusaha mengendalikan diri, mencoba kuat dan sabar seperti sebelumnya, saat dulu ia masih belum bertemu dengan Ikram, "aku harus menguatkan diriku lebih dulu, mereka juga sama terpuruknya," ucapnya berusaha menguatkan hatinya.
Berbeda dengan Ellia, Ifraz masih berdiri di balik pintu kamar Ellia, memori tentang apa yang diucapkan Ikram pagi ini berputar-putar dengan jelas di otaknya.
Flashback On
"Paman, semester berapa dia sekarang?" tanyanya pada Ginanjar yang saat ini tengah duduk di depan.
"Delapan,"
"Artinya semester depan dia harus menyelesaikan kuliahnya," gumam Ikram dengan sebuah senyum seolah sudah lama menanti saat ini.
"Kakak ipar bukannya masih belum genap dua puluh tahun? cepat banget udah semester delapan aja," sanggah Iriana.
"Eh iya ya,"
"Lah abang gimana, istri sendiri malah nggak tau,"
"Aku bahkan tidak sempat bertanya padanya tentang ini," batin Ikram pelan.
Tut tut tut tut tut
Sebuah suara bising terdengar dari tablet milik Ifraz, "ada apa? dari tim yang mana?" tanya Ikram sembari memijit pelan kepalanya.
"Zelin," jawab Ifraz.
"Zelin? benteng hitam? ada apa? sambungkan aku dengannya" ucap Ikram kemudian, ia khawatir ada serangan balik setelah kematian Hassel di benteng hitam.
"Ikram, cepat kembali dan putar arah mobil," ucap gadis bernama Zelin itu seketika.
"Ada apa?" tanyanya.
"Mereka tidak terima dengan kematian Hassel, semua pasukan ku sudah di gantikan, tidak ada satupun orang kita di sana, mereka yang ada di sana adalah orang-orang bodoh yang disiapkan untuk mati hari ini," jelasnya yang sedikit berisik karena bunyi baling baling helikopter.
"Tarik mundur semuanya saja, hanya aku yang akan masuk, jangan biarkan satu pun orang kita ada di sana,"
"Oke," ucapnya sebelum panggilan itu terputus.
"Bagaimana Ikram? " tanya Ginanjar.
"Aku masih harus mencari data seberapa banyak kekuatan mereka, aku yang akan menumbalkan diriku, aku yang menyebabkan kematian Hassel, hal ini pasti akan terjadi cepat atau lambat,"
"Abang," ucap Iriana tidak faham lagi dengan jalan pikiran abangnya ini.
"Satu bulan, hanya satu bulan, abang janji bakal balik, jika tidak dihadapi sekarang kekuatan mereka akan semakin membesar nanti, kita pasti akan semakin kesulitan mengimbangi pencapaian mereka,"
"Abang, kita juga tidak tau seberapa besar kekuatan mereka sekarang, abang bahkan sudah terkenal di mana-mana tapi mereka bahkan masih berani," ucap Iriana tidak ingin abangnya berangkat.
"Itu karena mereka emosi atas kematian Hassel, abang yakin persiapannya belum matang, karena itu sekarang waktunya,"
"Abang bakal sendirian di sana, siapa yang akan menolong jika terjadi apa-apa," ucap Ifraz yang sejak tadi diam.
"Aku, aku yang akan menolong diriku sendiri, lagipula aku punya kalian yang akan mencari ku, apalagi yang harus di khawatirkan," tambahnya.
"Ikram, bagaimana dengan perusahaan setelah tidak adanya kamu," tanya Ginanjar.
"Harga saham sudah pasti terjun bebas," tambah Ifraz.
"Hentikan saja dana untuk negara sampai aku kembali, keluarkan produk robot terbaru yang akan mengguncang pasar internasional, di tambah desain senjata yang selama ini ku gunakan untuk mengunci musuh, segera launching produk itu, saham kita akan aman,"
"Dunia kesehatan ku bagaimana?"
"Aish, siapa di dunia ini yang bisa kalah jika berdebat dengan abang," tambah Ifraz semakin jengkel.
"Semuanya ku serahkan kepada kalian," tambahnya dengan santai sembari menyandarkan kepalanya pada sofa mobil dengan sebuah senyuman, seolah ia akan memainkan sesuatu yang menyenangkan.
Flashback Off
"Bermain saja sesuka abang sampai puas, masalah di sini aku yang akan menyelesaikannya," ucap Ifraz lirih.
"Iriana... Iriana... " teriak Ifraz.
"Apa? kenapa berteriak padaku, kau pikir aku tidak bisa mendengar suaramu yang sumbang itu Iraz?" ucapnya.
"Ah ah ah sakit na," teriak Ifraz saat Iriana menarik kuat telinganya.
"Kakak ipar, tolong aku kakak ipar," teriaknya meminta bantuan.
***
Sesuai dugaan, saham Danial group merosot tajam, namun hanya dalam beberapa hari, semua orang bekerja keras dalam beberapa hari ini, termasuk Ellia.
"Huft akhirnya," ucap Ifraz lega sembari menyandarkan tubuhnya pada sofa berukuran besar.
"Mbak,"
"Iya nona muda,"
"Ambilkan susu hangat untuk Ifraz dan Iriana, satu teh jahe hangat untuk paman dan jus buah persik untuk pak Nando, ini sudah malam sudah waktunya mereka beristirahat," ucapnya.
Ellia hanya membantu memenuhi kebutuhan mereka, istri kecil Ikram ini tidak bisa membantu apapun, tapi selalu memberi perhatian dan perasaan hangat di tengah kesibukan semua orang seperti ibu, padahal usianya cukup jauh di bawah Ifraz dan Iriana.
"Terimakasih kakak ipar,"
Ini sudah jam 3 dini hari, namun mereka masih berkutat dengan pekerjaan yang seolah tidak ada habisnya.
"Paman bagaimana kondisi saham sekarang apa masih stabil?"
"Prediksi Ikram tidak pernah salah, ini melonjak cukup tinggi dari pada sebelum ada kejadian ini,"
"Oke,"
"Permintaan kerjasama penyedia alat militer juga semakin tinggi,"
"Tapi tetap ada masalah, jika senjata itu sudah keluar di pasaran, artinya aku harus membuat yang baru untuk bang Ikram, dia harus lebih unggul dari yang lain," gumamnya lirih dengan mata terpejam karena lelah, tapi masih cukup terdengar di telinga semua orang di sana.
"Bukan seberapa hebat senjata, tapi seberapa hebat skill pemiliknya," tambah Ellia.
Ifraz yang masih memejamkan mata kini membuka matanya dengan segera, "kakak ipar pernah melihat abang dengan senjata?"
"Belum?"
"Lalu?"
"Dilihat dari postur tubuhnya saja sudah terlihat, apalagi luka yang di dapat beberapa hari yang lalu, mungkin lukanya bahkan masih belum kering," ucapnya dengan sebuah senyuman menyakitkan.
"Bagaimana kondisinya sekarang, ini sudah beberapa hari tapi masih belum mendapatkan kabar apapun," ucapnya dalam hati.
"Aku sudah menemukan lokasinya, tapi aku cukup ragu apakah bang Ikram ada di sana atau tidak," ucap Iriana.
"Dimana?"
"Sebuah hutan di sisi lain mansion ini,"
"Hah?"