Ellia's Husband

Ellia's Husband
Membayar Hutang 2



Yuda melihat aneh Ginanjar, dengan pelan dan hati-hati ia berbisik pada Toga, "hati-hati, dia lebih kejam dan tidak di duga dari yang kita temui tadi,"


Bukannya menjawab, Toga lebih sibuk dengan kenyataan bahwa Ellia adalah istri orang terhebat nomer satu di negeri ini, terlebih dosennya sendiri, kenyataan ini benar-benar sangat sulit di Terima oleh orang normal.


"Selama Tuhan masih memberi kalian waktu untuk bernafas, sebisa mungkin jangan mengusik ketenangan di dalam tempat ini, jika sampai itu terjadi, aku sendiri yang akan turun tangan menyelesaikan kalian," ucap Ginanjar dengan wajah sangat tidak ramah, sangat berbeda dari yang mereka temui di dalam tadi.


Mereka masuk ke dalam sebuah mobil berwarna hitam, bahkan kaca jendela mobil ini juga berwarna hitam, pada saat malam hari dan kaca yang tidak tembus pandang seperti ini sudah bisa di pastikan mereka tidak di izinkan tau lokasi tempat ini.


Dengan tenang kedua orang itu bersama dengan Maheza keluar dari mansion ini, bukan hanya membebaskan, Ifraz sudah menyiapkan sebuah rumah kecil untuk mereka tinggal sementara, dampak dari perbuatan Maheza kali ini sangat luar biasa, namun sebuah ucapan sederhana yang keluar dari mulut Ellia sedikit menggoyahkan hatinya.


"Aku tidak ingin memiliki hutang kepada siapapun," berkali-kali ucapan ini terngiang di telinga dan pikiran Ifraz.


Cukup lama ia tidak fokus dengan pekerjaannya yang ia kerjakan, hingga akhirnya ia mengambil benda kecil di dalam sebuah koper yang sudah tersusun rapi, isinya seperti sebuah ampul obat, Ifraz mengambil salah satu di antaranya dan mengambil sebuah suntikan baru.


Laki-laki ini keluar, terlihat Iriana sedang melihat televisi di ruang santai dengan sebuah snack milik Ikram di tangannya, "Iraz mau kemana?" tanya Iriana.


"Membayar hutang," ucapnya singkat tanpa tambahan kata-kata yang lain.


***


Sore ini sebuah laporan cukup mengejutkan Ikram di tengah waktunya beristirahat setelah melakukan sedikit pelatihan untuk anggota timnya.


"Bos,"


"Ada apa?" tanya Ikram dengan sebuah teh hangat di tangannya.


"Presiden mengeluarkan Maheza atas perintah dokter Ifraz,"


"Uhuk uhuk uhuk,"


"Hati-hati bos," ucap Aro.


"Pergilah,"


"Uhuk uhuk uhuk, berita macam apa ini?" ucapnya yang kembali menyeruput teh hangat.


Aro meninggalkan ruangan Ikram sesuai permintaan, laki-laki ini memijit pelan kepalanya, "kenapa dia melakukan ini," pikirnya.


Tidak ingin berfikir terlalu jauh, akhirnya Ikram mengambil sebuah laptop dan membuka sistem keamanan di mansion nya.


Ini memang tidak bisa dibuka oleh sembarang orang, hanya orang yang memiliki izin khusus yang bisa melakukannya, termasuk Ikram.


"Apa yang terjadi di sana sekarang? kamera mana yang harus ku lihat lebih dulu," gumam Ikram pelan.


Cukup lama ia mengamati saru persatu kamera mulai dari bagian yang paling depan, hingga sebuah gambar di dalam mansion cukup menarik perhatian nya.


Di dalam mansion, tepat saat kedua orang mahasiswanya di paksa masuk dengan mata di tutup seutas kain, sejak saat itu Ikram tidak beranjak dari duduknya, menunggu dan melihat semua hal yang terjadi di sana.


Ikram marah, jelas sekali di wajahnya dia sangat marah, "berani sekali mengatai istriku seorang pelacur, aku harus segera menyelesaikan urusanku di sini dan kembali, tidak baik membiarkan Ifraz semakin tidak terkendali dan menggila seperti sekarang," ucapnya.


Terlepas dari bagaimana Ikram di dunia hitam, ia tetap ingin kedua adiknya menjalani kehidupan normal seperti normalnya manusia biasa dalam terangnya cahaya.


Ikram pernah berjalan dalam gelap, karena itu ia bekerja cukup keras sampai detik ini, agar Ifraz dan Iriana tidak mengalami kegelapan itu, mereka hanya perlu menikmati cahaya yang sudah di siapkan Ikram untuk mereka.


"Aro,"


"Iya bos,"


"Malam ini kita lanjut lagi,"


"Tapi mereka butuh istirahat bos,"


"Kau pikir orang-orang ku cukup bodoh hingga bersabar sampai dua puluh lima hari? mereka pasti bisa menemukanku sebelum itu,"


"Jika anda ingin agar tidak ketahuan maka tentu tidak akan ketahuan bos,"


"Masalahnya bukan aku ingin atau tidak, mata mereka ada di mana-mana, bahkan rumah Hassel sudah mereka datangi, hanya menunggu waktu untuk mereka sampai di sini," ucap Ikram cukup masuk akal.


Ikram memang tidak mendapat luka baru, tapi luka-luka yang ia miliki sebelumnya belum cukup sembuh dan kembali terbuka karena banyaknya pelatihan yang harus ia lakukan.


"Sebelum itu, panggilkan aku dokter,"


"Saya akan panggilkan dokter yang lebih baik dari sebelumnya bos,"


"Iya, ku serahkan padamu,"


"Tapi bos, bisakah anda memakai sesuatu agar wajah anda tidak di kenali," tambah Aro.


"Apa maksudmu?"


"Bos, seluruh orang di negeri ini sudah mengenal wajah anda, sangat tidak baik jika ada yang tau anda berada di sini," tambah Aro.


"Sejak dulu selalu di sarankan memakai topeng, baiklah cepat pergilah, aku akan mendesain topengku sendiri," ucap Ikram lagi.


"Baik bos,"


***


Rumah Agatha


Hari semakin malam, namun Ifraz masih mengendarai mobil nya dengan kecepatan penuh, laki-laki ini sudah tidak sabar untuk segera sampai di tempat orang itu.


Sampai di sebuah rumah dengan halaman cukup luas, Ifraz turun dari mobilnya, mengetuk pelan pintu kayu rumah ini.


Tok tok tok


Cukup lama tidak ada seorang pun yang membuka pintu untuknya, Ifraz mengetuk kembali pintu rumah itu.


"Iya," ucap seorang anak kecil.


Sebuah pintu terbuka, terlihat seorang anak kecil berkebutuhan khusus membukakan pintu untuknya, "paman siapa? kenapa datang ke rumah kami?" tanyanya.


Ifraz terdiam, masih mengamati dengan seksama apa yang dia lihat di depan matanya, seorang gadis yang memakai kursi roda ini masih belum genap sepuluh tahun.


"Apakah ayah dan ibumu ada di dalam?"


"Ayahku sedang sakit, apa paman ingin menjenguknya?"


"Iya, tolong tunjukkan paman tempatnya," tambah Ifraz.


Namun di tengah perjalanan menuju kamar Adams, masih ada beberapa anak berkebutuhan khusus yang lain, "mungkinkah dia memelihara anak-anak ini dan mengadopsinya,"


"Mereka siapa?" tanya Ifraz lagi.


"Mereka kakak dan adikku paman, kami memang sedikit sakit, kami biasanya di rawat di rumah sakit, tapi keadaan ayah kami sedang tidak baik, jadi kami harus pulang," tambahnya.


"Ma, ada paman tampan datang berkunjung," ucapnya membuka pintu sebuah kamar.


"Siapa?"


"Aku," ucap Ifraz begitu ibu tirinya itu membuka pintu.


Sebuah wajah sumringah terlihat sekali sangat jelas di wajahnya, "kamu datang nak?" ucapnya mencoba dekat.


Namun Ifraz langsung masuk begitu saja, melihat kondisi seseorang yang sudah terbaring tidak berdaya di atas ranjang kamar, Ifraz mengambil sesuatu di jas miliknya, sebuah jarum dan benda berbahan kaca bening berisi cairan.


Dengan telaten Ifraz menyuntikkan obat itu ke dalam tubuh Adams yang sudah tidak bisa bergerak, "ini ada obat, setelah ini jangan lupa memberinya minum obat ini,"


"If... If... Ifraz," panggil Adams.


"Aku datang hanya untuk membayar hutang, masalah perusahaan, akan ada orang yang akan datang mengembalikan semua yang sudah kami ambil sebelumnya," jelasnya yang langsung beranjak pergi.


"Kau tidak ingin makan dulu?" ucap istri Adams mencoba ramah.