Ellia's Husband

Ellia's Husband
Mulai Normal



"Benarkah sampai terbuka ?" ucap Ikram tidak percaya dan melihat tubuhnya di cermin.


"Ah ah ah ah ah," rintihannya keluar dan berteriak sakit.


Iriana datang mendekati Ikram dan menarik telinga Ikram yang nakal menurutnya, "sudah berapa kali ku bilang, kita tidak ingin melihat abang pulang dengan terluka lagi, kenapa tidak bilang sejak tadi agar segera di rawat, malah pergi menghajar Maheza,"


"Lepaskan iriana, aku juga tidak ingin terluka, saat itu benteng sedang di serbu, aku bahkan harus melompat dari pesawat agar pesawatnya tidak meledak," ucapnya kelepasan.


"Mas Ikram melompat ? melompat dari pesawat? setinggi itu ?" tanya Ellia dengan mata membulat sempurna khas miliknya.


"Melompat ?" teriak Iriana yang juga tidak percaya.


"Bukan melompat seperti itu, tentu aku memakai pelindung dan mendarat dengan aman, hanya sedikit terkena pohon,"


"Nah kan ? apa yang aman ?" ucap Iriana lagi.


"Sudahlah, kan aku masih sehat sekarang," ucap Ikram membela diri.


"Tapi kenapa jam yang abang pakai tidak menunjukkan gejala apapun, semua angkanya masih sama ? tidak ada sesuatu di sistem yang bertanda merah dengan tanda vital di tubuh abang," tanya Iriana heran.


"Hehe aku mematikannya agar kau tidak khawatir dan harus terbang ke sana saat itu juga," ucap Ikram memperlihatkan senyumnya agar tidak kena marah.


"Abang nakal kan, Iraz cepat, cepat periksa dia,"


"Iraz ?" teriak Iriana karena Ifraz masih tidak merespon.


"Abang kan, menjengkelkan, hanya bisa bikin kita khawatir saja," tambahnya semakin kesal.


Ifraz akhirnya melangkahkan kakinya mendekati Ikram, ia sejak tadi mengamati semua luka tanpa perban di tubuh abangnya, "kemari bang," tariknya agar Ikram duduk di atas ranjang menghadap Ellia.


"Siapa yang merawat luka ini " tanya Ifraz yang heran dengan jahitan luka  yang ada di tubuh abangnya.


"Zelin," ucapnya singkat.


"Zelin ?" tanya Ellia lagi semakin cemburu, "gadis itu yang merawat dan sudah melihat tubuh mas Ikram, siapa yang bisa bertahan setelah melihat tubuh itu," batin Ellia kesal.


"Iya, kami tidak memiliki dokter, di sana hanya di kelilingi oleh hutan dan masuk dalam area terlarang untuk di masuki karena banyak sekali hewan buas yang masih belum punah dan berkeliaran di sana,"


"Sudah tau bahaya masih aja bandel pakai balik ke sana,"


"Tapi kan abang balik udah jadi ketua, harusnya kamu apresiasi usaha abang dong sampek bisa jadi ketua sekarang,"


"Nggak, nggak ada apresiasi apresiasi, lebih baik abang nggak jadi ketua dari pada abang terluka terus," ucap Iriana lago tidak ingi n di bantah.


"Dokter ifraz bagaimana ? apakah parah ?" tanya Ellia.


"Sudah jelas Zelin bukan dokter, dia hanya asal menyambung kulit dengan kulit dan memberi obat antibiotik sekaligus pereda rasa sakit, jahitannya bahkan lebih buruk dari dokter junior di rumah sakit kami, gimana abang bisa tahan dengan sakitnya selama ini, aku yakin ini juga tanpa bius,"


"Tidak lebih sakit dari hatiku, jadi semua luka di tubuhku tidak berasa,"


"Tengkurap bang, aku akan menjahit bagaian punggung,"


"Tunggu-tunggu, lalu bagian dadanya, lukanya juga banyak di sana, apa tidak pedih ?" tanya Ellia yang getir sendiri melihat luka itu.


Cukup lama Ifraz melakukan operasi sederhana di bantu oleh Iriana di sampingnya sebagai asisten dan Ellia yang hanya melihat tentunya, memang seperti ini biasanya, Ikram adalah orang yang paling anti dengan rumah sakit, terlebih kadang beberapa luka  tembak yang mungkin akan menimbulkan banyak sekali pertanyaan di kepala dokter yang bertugas saat itu, maka dari itu keberadaan Ifraz sangat penting.


Ikram adalah orang yang sangat menjaga tubuhnya dari luka sejak kecil, saat terluka ia akan masa bodoh dengan luka yang ada di tubuhnya agar Ifraz dan iriana tidak memarahinya, tapi saat luka itu sudah sembuh namun meninggalkan bekas luka, maka Ikram akan berteriak dan marah kepada semua orang karena ada bekas luka di tubuhnya, karena itu Ifraz sangat berhati-hati pada setiap luka yang ada di tubuh abangnya atau dia akan kena omelan nanti jika sampai luka itu meninggalkan bekas.


Ifraz dan iriana adalah kolaborasi yang cukup membantu Ikram, Ifraz di dunia kesehatan, dan Iriana yang akan membantu mengeluarkan banyak sekali alat baik untuk kesehatannya, alat tempurnya bahkan senjata yang bisa membantu dan memudahkan Ikram bertahan di dunia bisnis yang cukup menyeramkan.


Tok tok tok


"Tuan muda,"


"Masuk," ucapnya begitu tau Ginanjar yang sedang memanggilnya.


"Ada apa ?"


"Semua media menghubungi kami untuk segera melakukan wawancara dengan anda," ucapnya.


"Biarkan saja dulu, aku tidak akan keluar mansion untuk sementara ini sampai aku menginginkannya, aku hanya ingin tidur saja, tinggal di benteng bersama laki-laki benar-benar menyiksaku," tambah Ikram yang sudah di bantu oleh Iriana untuk memakai bajunya.


"Baik tuan muda," ucapnya kemudian pergi.


"Sudah bang," ucapnya.


"Oke, aku akan tidur dulu, kalian keluarlah," ucapnya mengusir secara terang-terangan, pasalnya karena menunggu Ikram cukup lama Ellia yang masih mengantuk karen obat yang ia minum kini akhirnya tertidur.


"Abang jangan nakal lagi, menurut saja padaku dan Ifraz,"


"Dan Zelin, kakak ipar sepertinya cemburu," tambah Ifraz.


"Iya benar sekali,"


Ikram melihat Ellia cukup lama, gadis itu tengah terlelap dengan sangat nyenyak, "sudah kalian keluar dulu, tentangnya nanti aku yang akan mengurusnya, dan kau Iriana, kau harus belajar bela diri, jangan hanya berpaku pada senjata, itu percuma jika kecepatan tubuhmu tidak maksimal," ucapnya.


"Iya bang," jawabnya lemas, Iriana bukan orang feminim, tapi ia juga bukan orang suka bela diri dan melakukan pekerjaan kasar seperti itu, ia hanya suka berada seorang diri di sebuah ruangan tertutup dan tinggal di dunianya tanpa ada satupun orang yang menggangu.


"Sudah, kemari," ucap Ikram merentangkan tangannya.


Iriana memeluk abangnya ini dengan senang, "abang nggak bisa jaga kalian selamanya, abang ingin kalian bisa berdiri dengan kaki kalian sendiri sekalipun abang udah nggak ada nanti," tambahnya mengelus lembut kepala Iriana dan bagu Ifraz.


"Kami pergi dulu bang," tambah Ifraz yang sudah menari adiknya untuk mengikutinya keluar.


Setelah kedua manusia itu pergi, Ikram menatap wajah yang sudah sangat ia rindukan itu, sebuah senyum getir kembali terlihat di wajah yang sebelumnya bahagia itu, "aku bisa menjaga orang lain, tapi tidak anakku sendiri, huft," tangan ini membelai lembut wajah Ellia.


"Selamat tidur Ellia, mimpi indah ya,semua hal indah menanti kita setelah ini," ucapnya yang tanpa sengaja memabangunkan Ellia.


"Mas Ikram,"


"Hey kenapa bangun, ayo tidur lagi,"


Bukan menjawab Ellia hanya bergerak pelan mendekati Ikram, "aku ingin di peluk seperti biasanya,"


TO BE CONTINUE