
"Suara? kenapa seorang mahasiswa sekarang ini bisa polos sepertimu," tambah Ikram geleng-geleng kepala.
"Anda menggunakan suara pengganti ketika menghubungi saya ? siapa anda sebenarnya prof ? tidak mungkin seorang dosen memiliki uang tiga puluh milyar dalam waktu singkat, terlebih semua kemewahan yang anda berikan di apartemen Ellia,"
"Yuda cukup," ucap Ellia yang merasa tidak nyaman mendengar keributan saat ini.
"Tuan muda, anda sudah menjadi trending topik pada pencarian hari ini," ucap Ginanjar yang baru saja masuk dan menyalakan televisi di ruangan itu.
"Baru diketahui bahwa CEO Danial group sebenarnya bukanlah CEO yang menjabat saat ini, nama Ikram Al Zaidan, salah seorang dosen baru di sebuah universitas swasta di sebut-sebut adalah pemilik sebenarnya dari perusahaan yang bergerak di banyak sektor perekonomian."
"Danial group, perusahaan yang bergerak di bidang robotika, properti dan kesehatan kini mulai merambah sebagai pembuat dan pendistribusi senjata militer, apa hubungan Ikram Al Zaidan dengan Danial group?"
"Ikram Al Zaidan bahkan sudah meluncurkan sebuah ranah bisnis baru yang akan mensupport pembuatan dan pengadaan senjata militer di berbagai negara, tercatat sudah ada dua puluh sembilan negara yang sudah menandatangani kerja sama pagi ini,"
"Siapakah sosok Ikram Al Zaidan pemilik CEO Danial,"
Semua pemberitaan media dan televisi hari ini penuh dengan pencarian semua hal tentang Ikram, "This is me," ucap Ikram dengan nada bicara yang sangat jauh berbeda dengan ketika ia mengajar dan berbicara sebelumnya.
Yuda bergetar, "tidak, tidak, bagaiman ini mungkin, ini tidak benar, anda sudah memberikan Ellia padaku,"
"Dan kau tidak bisa menjaganya, artinya kesepakatan kita batal, kesalahan ku membiarkan dia bersamamu, seharusnya aku tidak melepas dia sampai akhir," jelasnya penuh amarah.
"Ellia milikku, tinggalkan dia," teriak Yuda menggila.
"Bawa dia keluar," ucap Ikram sudah tidak sabar.
"Ellia milikku," teriak Yuda yang masih meronta ketika beberapa orang sudah menyeretnya keluar.
Ikram mengangkat tangannya, "Saya tidak akan meninggalkan seseorang, kecuali orang itu memberi tanda ingin ditinggalkan, entah dari sikap, sifat, cara, dan nada bicara yang ia tunjukkan, dan Ellia tidak memberikan satupun tanda itu," ucapnya yang sudah melemparkan sebuah dokumen yang berisi surat cerai mereka.
"Surat ini sudah ada sejak dua minggu yang lalu, tapi sampai detik ini dia tidak meninggalkan tanda tangan di sana, jika dia ingin ditinggalkan, maka dia bisa menyerahkan surat cerai itu ke pengadilan," ucap Ikram.
"Keluar," ucapnya mendominasi.
Masih menatap pintu ia mengatur nafasnya perlahan sebelum berbalik dan menghadap Ellia, "kalian bisa pulang," ucapnya dengan sebuah senyum yang di paksakan.
Rara dan Vania yang juga ketakutan dan tidak menduga dosen tampan pujaannya akan murka sampai seperti ini, dengan terburu-buru meraka berdua segera pamit keluar pada Ellia yang masih berbaring lemah menatap tempat pertengkaran kekasih dan suaminya dengan sesekali menangis.
"Ellia kita pamit dulu," ucap mereka takut.
"Kami permisi profesor," ucapnya.
Sepeninggal semua orang kini hanya tinggal Ellia dan Ikram di ruangan yang cukup besar itu, Ikram meremas kepalanya yang hampir pecah karena amarah, "Ahhhh," teriaknya memukul-mukul dinding rumah sakit cukup lama.
Tangis Ellia semakin menjadi dengan sikap Ikram yang tidak biasa, tangan laki-laki itu sudah berdarah yang mana membuatnya semakin takut, Iriana dan Ifraz yang kala itu berada di luar segera masuk dan mengehentikan Ikram.
"Abang, abang stop," teriak Iriana memegangi tangan Ikram.
Iriana menangis, selama ini Ikram selalu kuat, tapi untuk pertama kalinya kejadian ini membuat bahunya patah, kekuatannya hancur, bahkan semua pencapaiannya selama ini sia-sia, Iriana memeluk Ikram, menyandarkan kepala itu di bahunya.
"Kita bisa lewatin ini abang, kita bisa lewatin ini, Iriana ada di sini, kita lewati sama-sama," ucapnya yang juga terisak.
Tangis Ellia tanpa suara juga semakin menjadi menatap kehancuran di mata Ikram, "maaf mas, maaf mas, jika aku mengikuti kata-kata mu saat itu, aku minta maaf," hanya ini yang bisa di ucapkan Ellia dalam hati melihat kondisi Ikram saat ini.
Ifraz segera membawa Ellia dengan ranjang pasien untuk keluar dari sana, ini tidak baik untuk kondisi Ellia saat ini.
Ifraz membawa Ellia di sebuah ruangan kosong tidak jauh dari tempat sebelumnya, gadis ini masih tidak berhenti menangis, "kakak ipar, aku akan bercerita, jika mau mendengar ku, tolong berhenti menangis," ucap Ifraz berusaha menenangkan Ellia.
Tangisan ini berangsur-angsur reda, Ellia mulai bisa mengatur nafasnya dan mengendalikan emosinya saat ini.
Melihat itu Ifraz memulai ceritanya tanpa membiarkan Ellia menunggu, "dulu saat kami belum memiliki apapun dan hanya mengandalkan bang Ikram, dia bisa menjadi apapun untuk kami, menjaga kami sampai saat ini tidak kekurangan apapun,"
"Saat mommy meninggal, dia tidak hanya kehilangan sosok ibu, tapi juga ayah, keluarga dan semua hal yang sejak kecil ia nikmati, melihat ibu yang gantung diri di kamar membuatnya bertekad untuk menjaga kami semua adiknya, dia tidak ingin kehilangan siapapun lagi kakak ipar, kejadian ini juga sangat menyakitkan untuknya, karena itu bisa kau maafkan apa yang sudah ia lakukan hari ini untuk kami," ucap Ifraz memohon.
"Dokter Ifraz," ucapnya lirih tidak menyangka Ifraz akan mengucapkan ini padanya.
"Abang Ikram selalu memberi kami potongan makanan yang lebih besar, dia selalu berkata kenyang, terkadang ia memakan buah sisa kami yang hanya menempel di kulit buah, dia selalu menahan dirinya dengan sangat baik sejak kecil, ini pertama kalinya dia hilang kendali, karena itu maafkan jika ada kata-katanya yang menyakiti hati kakak ipar, dia sangat mencintaimu, teramat sangat, karena itu tolong tetap tinggal dan jangan hiraukan sikapnya jika sedikit kasar atau nanti meminta kakak ipar untuk pergi," ucap Ifraz lagi penuh permohonan.
"Aku hanya malu melihatnya, aku malu bertemu dengannya," ucap Ellia.
"Tidak, ini hanya emosi sesaat, ini bukan bang Ikram, ini emosi sementara, tolong tetap sabar dan berada di sampingnya," ucap Ifraz lagi yang khawatir Ellia benar-benar memutuskan pergi dari hidup Ikram setelah ini.
"Bisa bawa aku padanya sekarang?" pinta Ellia.
"Tubuh tidak apa-apa, aku hanya ingin bertemu dengannya," ucap Ellia.
Ifraz dengan perlahan memindahkan Ellia ke sebuah kursi roda, Laki-laki ini berdoa agar tidak ada lagi drama dan semua masalah ini terselesaikan dengan baik.
Begitu sampai di sana, Ikram sudah terduduk dengan tenang meskipun beberapa butiran air mata masih beranak di matanya, Iriana segera bangkit ketika Ifraz memberi kode agar mereka keluar lebih dulu.
"Mas Ikram," panggilnya.
Ikram menatap Ellia lembut, mendekati Ellia dengan deru nafas yang lebih teratur dari sebelumnya, "apakah kamu baik-baik saja ?" tanya Ikram lembut kemudian menghapus air matanya.
"Tidak," ucapnya yang juga menahan tangisnya.
"Aku sedang tidak dalam keadaan baik," tambah Ellia terisak.
"Aku bahkan tidak ingin melewati ini, tanpamu," tambah Ellia lagi.
TO BE CONTINUED