Ellia's Husband

Ellia's Husband
Bulatan Sempurna



Hoek... hoek...


Ikram tiba-tiba merasakan mual ketika melihat tangan Ellia yang dengan telaten menyuapinya, ia bersikeras menahannya, namun perasaan mual dan gejolak di perutnya sudah tidak bisa ia tahan lagi. Laki-laki ini berlari ke wastafel yang ada di dapur dan mengeluarkan semua yang baru saja ia makan ke dalam sana.


Kepalanya pusing, ia semakin pusing begitu mendengar video pembicaraan antara istri dan mantan kekasihnya yang beberapa saat lalu dikirimkan oleh Nando tepat setalah ia sampai apartemen.


"Aku sudah mendapatkan uang tiga puluh milyar itu, kamu bisa bercerai dengan suamimu dan kembali padaku Ellia, kita bisa bersama lagi tanpa orang ketiga di antara kita, kita bisa kembali seperti dulu,"


"ada apa Ellia?"


"Aku juga ingin segera membayar semua hutang ku padanya, tapi bukankah tidak sopan jika bersikap seperti itu? maksudku setelah melunasi nya langsung mengajukan perceraian," ucap Ellia hati-hati.


"Yuda... dia sudah banyak menolong dan membantuku selama ini, jadi tolong sabar sebentar lagi, nanti jika waktunya sudah tepat aku pasti akan meminta pengajuan cerai itu secepatnya." tambahnya memberikan penjelasan.


Percakapan itu masih terngiang jelas di telinga Ikram, seperti sebuah radio yang di putar berkali-kali di otaknya, ia tidak bisa berhenti mendengar percakapan itu barang sedetik.


Terlebih melihat tangan Ellia yang terekam jelas di video yang juga di kirimkan Nando padanya, ia mual, ia benar-benar merasa mual, terlebih ketika Ellia tengah membantu memijit pelan tengkuk lehernya, tubuh laki-laki itu lemas, pandangan matanya sudah mulai buram.


"Prof anda tidak apa-apa ? apa yang anda rasakan, saya akan membantu anda masuk ke dalam kamar," ucap Ellia memberi bantuan hendak membopong Ikram.


Namun semakin Ellia menyentuhnya, rasa mual nya semakin parah, "Ellia, bisakah lakukan apa yang aku inginkan?" tanyanya.


"Apa ? saya akan melakukan apapun itu prof," ucapnya panik, Ellia tidak tau harus melakukan apa.


Belum sempat Ikram menjawab, tubuhnya sudah semakin di luar kendalinya, ia hampir tidak bisa melihat apapun saat ini, "tuan muda," teriak Ginanjar yang datang tepat waktu dan memegangi tubuh Ikram yang kurang sedikit saja sudah terjatuh.


"Ellia," ucapnya terbata.


"Apa prof, apa yang bisa saya lakukan,"


Ikram masih berusaha mengeluarkan kata, namun lidahnya kelu, ia tidak bisa bicara apapun, "Tolong anda segera membersihkan diri nona muda," ucap Ginanjar yang sudah faham dan tahu betul duduk perkara yang terjadi saat ini.


"Mandi ? apakah aku bau sampai prof Ikram mual seperti ini pak ?" ucapnya masih belum faham.


"Anda ingin membantu atau tidak nona ? jika tidak bisa melakukan apa yang tuan muda inginkan tolong segera pergi dari sini, anda hanya memperparah kondisi tuan muda," ucap Ginanjar sedikit keras.


"Paman, paman jangan terlalu keras padanya," ucap Ikram berusaha mengambil alih tubuhnya.


Ellia semakin bingung sekaligus takut, "tolong jaga prof Ikram pak," ucapnya sebelum beranjak pergi.


"Saya pasti akan menjaga beliau tanda anda minta nona, anda tidak perlu khawatir dan segera bersihkan diri anda," tambahnya.


Sepeninggal Ellia, Ikram dibantu oleh Ginanjar segera bangkit, dengan sekuat tenaga Ginanjar memindahkan Ikram ke kasur yang ada di kamar Ikram, Ginanjar merebahkan tubuh tuannya yang sudah lemas itu tanpa ada pemberontakan satu pun, seperti biasa Ginanjar segera memeriksa suhu tubuh Ikram dan menghubungi dokter pribadi yang selalu menangani tuan mudanya dalam kondisi apapun.


Suhu badan Ikram cukup tinggi dan semakin naik secara drastis, Ginanjar cukup kebingungan dengan kondisi Ikram yang semakin menurun, ini pertama kalinya sejak saat itu, ini sudah lama tidak terjadi.


***


Ellia membersihkan diri di dalam kamar mandi dengan merenung cukup lama, pikirannya sudah melalang buana cukup jauh, apa yang terjadi dengan Ikram, kenapa kondisinya semakin memburuk dan seolah tidak ingin di sentuh olehnya.


"Kenapa dengan prof Ikram ? ada apa dengannya," batinnya lagi.


Ellia masih bertarung cukup lama dengan dirinya sendiri, terlebih dengan Ginanjar yang membentaknya pertama kali, ia dibuat bingung dnegan banyak sekali pertanyaan tanpa ia bisa menjawab sendiri.


Ting tong


Ting tong


Ellia dengan segera menyelesaikan kegiatan mandinya karena ia khawatir tidak ada yang membukakan pintu, dengan memakai pakaian yang sudah ia siapkan di atas ranjang, gadis itu segera berlari keluar dengan rambut yang masih basah dan meneteskan butiran-butiran air di lantai.


Terlihat seorang laki-laki cukup muda masuk dengan Ginanjar berjalan di depannya, "beliau nona muda kami," ucap Ginanjar memperkenalkan Ellia kepada sosok di belakangnya.


"Selamat siang nona," ucapnya sopan.


"Ah. siang, anda siapa ?" tanyanya juga dengan sopan.


"Saya dokter pribadi Ikram," ucapnya sopan.


"Ikram ?" ulang Ellia, selama ini tidak ada yang berani memanggil nama suaminya secara langsung.


"Saya akan memeriksanya terlebih dahulu," ucapnya meninggalkan Ellia yang masih berdiri mematung di sana.


***


Ikram sudah duduk bersandar pada kepala ranjang dengan camilan yang selalu ada di samping ranjangnya, tak lama Ginanjar masuk dengan seorang dokter yang sudah Ikram hafal, kemudian di ikuti oleh Ellia di belakangnya.


"Lu udah enakan ? barusan paman panik bener kondisi lu makin buruk," ucap dokter itu begitu melihat Ikram yang sudah duduk dengan kaki yang masih tertutup selimut.


Bukannya menjawab, Ikram berbalik menatap Ellia dengan senyum yang memperlihatkan deretan gigi putih miliknya.


"Hai Ellia, are you okay?"


Kata pertama yang keluar dari mulut Ikram sungguh di luar dugaan, Ginanjar dan dokter muda itu menatap ke arah Ellia yang juga tengah bingung, ia melihat sendiri tadi Ikram nggak baik baik saja.


"Anda?"


"Gua abis minum obat dari lu yang waktu itu, gua udah baik-baik aja, pulang sana," ucapnya yang kian menjengkelkan.


Ginanjar yang tau bahwa tuannya itu tidak baik-baik saja segera memberi kode agar Ikram segera di periksa.


"Gua periksa lu dulu," ucapnya yang langsung mengeluarkan beberapa peralatan medis dari dalam tasnya.


"Ellia... kemari," ucap Ikram menepuk kasur kosong di sebelahnya, meminta Ellia agar duduk menemaninya di sana.


Ellia hanya menurut dengan wajah bingung, "apalagi ini?" batinnya dalam hati.


Ellia sudah duduk tepat di sisi Ikram tanpa bertanya apapun, "bagaimana dok? apakah ada yang serius,"


"Jangan berbicara dengan sopan padanya, dia adikku,"


"Adik ipar?" tanya Ellia dengan mulut membentuk bulatan sempurna.


TO BE CONTINUE