
"Biarkan saja, biar mereka tau kalau setiap inci tubuhku hanya bisa di nikmati olehmu," ucap Ikram yang membuat pipi dengan lesung pipi itu memerah.
"Mas Ikram, disini terlalu banyak orang," ucap Ellia.
"Apa mau ke kamar saja, kita langsung praktek," ucap Ikram tidak peduli semua orang semakin melotot ke arah mereka.
"Kami tidak mendengar nyonya bos," ucap yang lain.
"Mereka tidak bisa mendengar mu, tenang saja," ucap Ikram yang matanya langsung di bungkam oleh Ellia.
"Astaga, dia seorang dosen tapi sikapnya akhir-akhir ini semakin terbuka," ucap Ellia yang langsung membawa suaminya ini berpindah tempat dengan tangan masih menutup mata Ikram.
"Hendak kemana?"
"Bakar-bakar,"
"Yah, kupikir kita langsung ke kamar," ucapnya tidak bisa berhenti.
"Mas Ikram mulutnya," ucap Ellia menahan malu karena ulah suaminya ini.
Bukan ke tempat bakar-bakar, kali ini Ellia membawa suaminya ke dalam kamar, "baik, sekarang katakan kenapa mas Ikram jadi sangat terbuka, kita menjadi pusat perhatian banyak orang," ucap Ellia setelah mendudukkan Ikram di atas ranjang.
"Sebelum itu, katakan siapa saja wanita yang membuatmu cemburu?" tanya Ikram balik.
"Tidak ada, siapa yang cemburu," elaknya.
"Hm, oke jika tidak cemburu, aku akan mengerjakan beberapa proyek dengan Andara dan Zelin malam ini, setelah bakar-bakar kau bisa tidur sendiri dulu kan malam ini,"
Wajah Ellia berubah, bibir merah itu sedikit maju beberapa centimeter, "kenapa melakukan pekerjaan di malam hari," gumamnya.
"Karena aku sudah lebih sehat dari sebelumnya, jadi aku harus segera mengerjakannya, lihat, aku sudah tidak memakai tongkat malam ini." ucap Ikram.
"Di undur besok pagi bisa tidak," ucap Ellia lagi.
Ikram menarik Ellia untuk duduk di pangkuannya, "kenapa tidak bilang saja kalau cemburu," ucap Ikram yang sudah memberikan banyak sekali ciuman di seluruh wajah istri kecilnya ini.
"Aku tidak boleh cemburu, aku hanya istri rahasia," ucap Ellia lagi.
"Siapa yang bilang begitu,"
"Kan memang begitu, mas Ikram sejak awal pernikahan ini hanya menjadi pernikahan rahasia, agar mas Ikram bisa menjaga hati wanita lain, aku juga harus tau diri dengan posisiku, mas Ikram sudah banyak membantu," jelas Ellia.
Plak
"Aduh," rintihan keluar dari mulut Ellia ketika jari Ikram menyentil dahinya.
"Mangkanya banyak belajar, baca buku, agar pikiran-pikiran kayak begini tidak menganggu pikiranmu," ucap Ikram.
Ellia masih menggosok dahinya yang terasa panas, "sekarang dengarkan suamimu Ellia Clara, aku sangat terkenal, musuhku ada di mana-mana, sangat banyak sekali, bisa jadi di dalam dinding yang sama di tempat ini mereka sedang bersembunyi, jika aku tidak merahasiakan mu, menargetkan mu adalah hal yang mudah, aku tidak ingin kau dalam bahaya karena aku," jelas Ikram.
"Benarkah?" tanya Ellia setengah malu.
"Tentu saja,"
"Tapi Aro bahkan menjadikan aku sandera karena tidak tau aku memiliki hubungan dengan mas Ikram,"
"Itu karena dia bodoh, tidak bisa melihat permata sepertimu," ucap Ikram yang semakin gemas dengan tingkah istrinya ini, wajah polos dengan lesung pipi itu benar-benar membuat seseorang yang melihatnya tidak berdaya.
"Mas Ikram," panggil Ellia ketika sesuatu yang ia duduki bergerak di bawah sana.
Ellia tertawa kecil, "tidak kasian padaku?" tanya Ikram.
Ikram melepaskan Ellia dari pangkuannya, berusaha mengendalikan dirinya dengan baik.
"Sekarang, kau keluarlah dulu,"
"Kenapa?" tanya Ellia.
"Bagaimana dia bisa tidur jika kau masih ada di sini El, aku butuh waktu untuk menenangkan dia," ucap Ikram.
"Uhm, baiklah,"
"Ingat untuk tidak berfikir macam-macam, aku tidak pernah punya hubungan dengan orang lain selain kamu, kamu orang pertama," ucap Ikram ketika Ellia sudah berada di ambang pintu.
"Oke mas," ucap Ellia dengan bergembira.
"Huft, dia selalu bereaksi ketika di depan Ellia, aku bahkan tidak bisa mengendalikannya," ucap Ikram yang saat ini sedang merebahkan dirinya di atas ranjang.
***
Semua orang sudah menyiapkan pesta jagung bakar yang sudah di belikan oleh Ellia, bahkan Ifraz dan Iriana sudah berada di sana dengan sebuah jagung bakar di tangan mereka.
"Kakak ipar ?" panggilnya.
Baru beberapa langkah Ellia berjalan mendekat ke arah mereka, namun sebuah kaki dengan sengaja menghadangnya, Ellia limbung, tubuhnya hampir saja mencapai tanah, tapi Aro dengan sigap menangkap tubuh Ellia dan mengangkatnya.
Plak, sebuah tangan langsung mendarat di pipi Andara, "kau tau siapa dia ? masih berani mencelakainya dengan cara seperti ini ? jangan bodoh Andara," ucap Aro.
"Kakiku tidak sengaja tersandung kakinya Aro, kenapa sangat marah, jangan berlebihan," ucap Andara.
"Nyonya bos tidak melihat bukan berarti aku juga tidak melihatnya,"
"Paman sudah, biarkan saja dia, tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk orang-orang sepertinya," ucap Ellia.
"Baik nyonya," ucapnya pada Ellia tapi masih menatap tajam Andara di depannya.
"Dasar kau murahan, ini bukan taman bermain mu, kenapa berkuasa sekali di tempat ini," ucap perempuan lain yang juga bersama dengan Andara.
Sebuah gelas berisi air hendak perempuan itu siramkan pada Ellia, namun dengan sigap Aro melindungi Ellia.
"Paman," teriak Ellia begitu minuman berwarna kuning itu mengenai wajah Aro.
Aro benar-benar melaksanakan janjinya untuk menjaga Ellia dengan baik, Iriana sejak tadi sudah gemas hendak mendekati sekumpulan wanita itu dan menghadapinya sendiri, tapi Ifraz menahan lengannya.
"Sudahlah, kakak ipar bisa mengatasi mereka," ucapnya menahan Iriana.
"Ini sudah keterlaluan Iraz, aku tidak terima jadinya," ucap Iriana.
Dengan kesal Ellia mendekati wanita itu, "punya masalah apa sebenarnya kalian denganku hah ? paman Aro bahkan tidak bersalah tapi harus menerima perlakuan seperti ini, jika ingin mengusirku minta saja langsung pada bos kalian, berani tidak ? jangan hanya berani di belakang dan mengusik ketenangan orang lain saja," ucap Ellia.
"Lagipula aku istrinya, istri sahnya, kalian yang menggoda suamiku tapi kenapa kalian yang merasa paling tersakiti di sini, aku memang paling lemah di antara yang lain, tapi aku juga bukan yang paling sabar, dan yang paling penting aku memiliki 3 kartu as utama, apa yang terjadi pada kalian setelah ini aku juga tidak berani menjamin," ucap Ellia tidak bisa menahan diri.
"Bukan tiga sayang, aku adalah kartu as utama nya, memilikiku sama dengan memiliki semua kartu as sekaligus," ucap Ikram yang sudah melingkarkan tangannya di pinggang kecil Ellia.
***
Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.