
Ikram duduk di kursi kerjanya, meletakkan kepalanya di sandaran kursi, memejamkan matanya sejenak untuk berfikir sebelum kemudian melakukan beberapa hal yang harus di lakukan.
"Iriana," gumamnya berulang kali sejak tadi, seolah mengucapkan sebuah mantera.
"Mas Ikram, makanannya sudah siap, kita bisa turun dan makan sekarang,"
"Iriana sudah bangun?"
"Seharusnya sudah, ini sudah jam setengah sepuluh, tapi aku juga tidak melihatnya tadi,"
Ikram mendekati Ellia, mencium kening istrinya ini, "Turunlah dulu, aku akan melihat Iriana," ucap Ikram.
"Oke mas, Aro juga sudah di luar bersama dengan yang lain," ucapnya.
"Iya, minta mereka menunggu sebentar untukku," ucapnya.
"Siap mas," ucap Ellia yang berlari seperti bocah.
Ikram berjalan menuju pintu kamar Iriana, tanpa mengetuk pintu Ikram masuk ke dalam kamar Iriana, terlihat gadis itu masih tidur melungkar di atas kasur.
"Iriana," panggil Ikram yang tidak mendapat sahutan sama sekali.
Adiknya itu benar-benar tertidur sangat pulas, benar-benar pulas hingga tidak menghiraukan panggilannya di jam yang sudah menjelang siang.
"Astaga, dia tidur jam berapa semalam, sampai jam segini masih belum bangun," ucap Ikram yang masih mengamati seluruh kamar.
Ruangan itu sangat penuh dengan baju berserakan, sampah bungkus snack juga ada dan berceceran di mana-mana, memang ini bukan mansion yang selalu ada orang untuk membersihkan, tapi tidak separah ini juga.
"Astaga, dia anak gadis tapi tidak bisa menjaga diri sendiri, abang harus mencarikanmu suami yang seperti apa nanti agar baru bisa tenang," ucapnya pelan.
"Abang," panggil Iriana.
"Nanti nikahkan aku dengan Logan saja," ucap Iriana dengan suara parau khas orang bangun tidur dengan mata mengantuk.
"Baru bangun langsung menunjuk ingin menikah dengan siapa, jalani saja dulu, kenapa terburu-buru ingin menikah, Ifraz bahkan masih belum ada pandangan kesana," ucap Ikram yang tengah mengelus lembut rambut panjang Iriana
"Hanya ingin saja, dia sangat baik padaku," ucapnya seperti seorang bayi yang bercerita pada ayahnya.
"Benarkah ? lebih baik dariku ?" tanya IKram.
"Tentu saja tidak, dia yang terbaik setelah bang Ikram," ucap Iriana yang sudah bangun dari duduknya.
Sebuah senyum simpul terlihat sangat tulus di wajah Ikram, "lakukan apapun yang kau mau, jika terjadi apapun nanti jangan pernah lupa kalau kau punya abang yang sangat hebat ini, kau hanya perlu mengatakan apa yang kau inginkan, abang akan mengabulkannya," ucap Ikram.
"Benarkah ?" ucap Iriana sangat antusias.
"Benar, sekarang cuci muka mu, kita akan makan bersama," ucap Ikram yang sudah beranjak dari ranjang Iriana.
"Ah, dan kamarmu ? ini pertama kalinya kamar mu sangat berantakan ? apa perlu mendatangkan sesorang dari mansion ?" tanya Ikram.
"Hehe tidak bang, aku hanya tidak sempat membersihkannya, nanti akan ku bereskan sendiri,"
"Yakin bisa? dengan kamar seberantakan ini?"
"Yakin hehe," ucapnya.
"Oke,"
Ikram berjalan keluar kamar, baru beberapa langkah dari pintu, laki-laki ini merogoh ponsel yang berada di saku celananya, "batalkan semuanya, kita hanya akan melihat semua yang akan dia lakukan sementara," perintah Ikram.
Sudah banyak sekali orang di tempat makan, tempat ini sudah berubah sepenuhnya, dulu dengan banyak sekali meja terpisah, kini Ikram sudah menggantinya dengan hanya satu meja yang sangat panjang untuk memunculkan rasa kebersamaan dan saling memiliki.
"Ah selamat pagi, kalian semua sudah datang rupanya," ucap Ikram dengan sebuah senyum yang sangat indah dan semakin membuatnya menawan.
"Kami menyukai mejanya bos,"
"Cepat sekali memasangnya," ucap IKram menyentuh meja yang ada di depannya.
"Silahkan tuan muda," ucap salah seorang pelayan yang ada di mansion Ikram sebelumnya.
"Terimakasih, kalian datang jam berapa? kok aku tidak tau," tanya Ikram.
"Sudah ada tuan muda kedua yang menyambut kami, anda tidak perlu khawatir, kami sangat nyaman berada di sini," ucap pelayan itu dengan ramah.
"Kami akan mengambilkan makanan untukmu bos," ucap Andara dengan sopan hendak mengambil piring yang ada di depan Ikram, namun sebuah tangan dari seorang pelayan yang sebelumnya membukakan kursi untuk Ikram menahannya.
"Jangan menyentuh tuan muda kami di saat makan, yang bisa melayaninya hanya nyonya muda," ucap pelayan tersebut.
"Oh, oke baik," ucap Andara tau diri, peringatan Ikram kemaren sudah cukup membuatnya tidak berkutik, terlebih ia belum meminta maaf pada Ifraz sebagai perwakilan Ikram di bidan ini.
"Silahkan nyonya,"
Ellia mengambil piring Ikram dan mengambilkan makanan untuk suaminya bahkan tanpa bertanya pada Ikram ingin menu apa, karena Ellia sudah hafal betul makanan apa yang akan di makan Ikram saat pagi hari, menunya boleh beda tapi yang di makan tetaplah sama, hanya buah dan sayuran yang bisa ia makan di pagi hari.
Setelah meletakkan piring itu di meja Ikram, Ellia mengambil piring Ifraz yang juga tengah menunggunya, "dokter Ifraz ingin makan apa ?" tanyanya.
"Seperti abang saja," ucapnya.
Ellia segera mengambilkan makanan yang di inginkan oleh Ifraz, hingga kemudian menatap kembali pada seorang pelayan.
"Mbak, minta tolong susu untuk tuan dan nona muda, dan jus stroberi untuk mas Ikram," ucapnya sangat sopan pada seseorang yang sejak tadi berada di belakang Ikram.
"Disiapkan nyonya,"
"Kalian sudah boleh makan dan menikmati makanannya," ucap Ellia ketika meja makan ini masih sepi tanpa ada bunyi suara sendok garpu yang bertubrukan dengan piring.
Ini adalah pemandangan langka dan baru mereka lihat pertama kali, bagaimana kehidupan orang elite ini benar-benar sangat jauh dari kehidupan di tempat ini, tapi jujur Ellia memang sangat baik dalam hal melayani, dia benar-benar sudah pandai untuk menjadi nyonya Ikram.
"Selamat pagi semua," ucap Iriana.
"Duduk An, ingin makan apa?"
"Hamburger, pizza, steak," ucapnya dengan sangat fasih.
"Tidak ada makanan cepat saji hari ini, makan apa yang ada di sini," sela Ifraz.
"Kau selalu memberiku makanan seperti sapi Iraz," teriak Iriana memukul lengan abangnya ringan.
"Tolong berikan alpukat dan stroberi pada Iriana," ucap Ellia.
"Terimakasih kakak ipar, dasar Iraz jahat,"
"Lain kali, nggak ada penolakan makanan, makan sesuai jadwal yang di buatkan oleh Ifraz," ucap Ikram.
Semua orang hanya menelan ludahnya kasar, "pantas saja Andara dan semua wanita di sini tidak membuatnya tertarik, selera bos yang kayak gini," ucap Aro dalam hati.
"Pelayan bahkan stand by setiap jam di sebelahnya, tapi semuanya sangat tertutup dan sopan, benar-benar tahu batasan dengan baik," batin Andara.
***
Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.