Ellia's Husband

Ellia's Husband
H-1 pernikahan



"Ada apa bang?"


"Kau mengamati Ifraz hari ini?" tanyanya.


"Tentu saja, aku khawatir dia bunuh diri,"


"Mulutnya di jaga ya," ucap Ikram lembut pada Iriana yang mana membuat gadis itu hanya terkekeh.


"Kakak ipar sudah tidur? ini masih sore," tanya Iriana yang baru saja melihat Ellia tertidur di sana dengan tenang.


Ini memang sudah malam, tapi belum semalam itu untuk tidur, karenanya Iriana menyebut masih sore.


"Snack abang mana ?" tanya Ikram.


"Di ruang kerjaku, kita ke sana saja," ucap Iriana mengajak Ikram.


"Pergilah dulu,"


"Oke,"


Ikram mendekati Ellia terlebih dulu, meninggalkan sebuah kecupan singkat di dahi istrinya sebelum kemudian meninggalkan kamar menuju ruang kerja Iriana.


"Bagaimana?"


"Ini," ucap Iriana seraya memberikan sebuah berkas pada Ikram.


"Ini apa? abang bertanya tentang Ifraz, mengapa memberi semua dokumen ini?" tanyanya yang masih belum faham.


"Abang, dengan kemampuan Iraz dan kak Nadin apakah mungkin bagi adik abang yang paling cantik ini untuk mengikuti mereka, bisa-bisa aku langsung di bunuh oleh Iraz di tempat sebelum aku mencari tau tentangnya," jelas Iriana.


"Lalu ini?" tanyanya.


"Alvin Gail, pengagum rahasia kakak ipar," ucap Iriana sangat senang.


"Aku sudah tau, jangan menumpahkan bensin pada api yang sudah menyala, kau akan ikut terbakar nanti, apa dia cukup baik untuk Nadin," tanyanya pada Iriana.


"No," jawabnya singkat.


"Lalu?"


"Dia sudah memiliki banyak kekasih, kak Nadin memang yang banyak memiliki kesamaan dengannya di beberapa bidang, terlebih mereka berdua pernah berada di kampus yang sama, selain pengagum rahasia kakak ipar, dulu dia adalah pengagum rahasia kak Nadin, tapi dia sekarang sedang fokus berkencan dengan salah satu mahasiswanya," ucap Iriana.


"Kau yakin?" tanya Ikram.


"Sangat yakin," jawab Iriana.


"Suka sekali dia dengan mahasiswa," gumam Ikram pelan.


"Bukankah abang bahkan menikah dengan mahasiswa abang sendiri?"


"Tentu saja kami berbeda, pertemuan ku dengan Ellia lebih berkelas dari pada kisah cinta menye-menye mereka," ucap Ikram lagi.


Ikram masih mengamati dengan seksama semua data yang sudah di tulis secara rapi dan terstruktur oleh Iriana.


"Abang yang akan turun tangan sendiri, pikiran Ifraz sedang tidak jernih, kau awasi mereka di depan pintu, jangan sampai terlewat satu hal pun, dan laporkan semuanya pada abang, oke Iriana," ucapnya.


"Iraz terlalu lemah, begini saja cemen," ucap Iriana yang tidak mendapatkan respon dari Ikram.


"Tapi abang, abang tidak akan melakukan apapun bukan? maksudnya sesuatu menakutkan yang nanti akan membuat kak Nadin takut atau Iraz menjadi tersangka," ucapnya khawatir setelah sikap terakhir Ikram pada Dirgantara sangat mengejutkan, perusahaan besar itu bahkan harus membangun kerajaannya mulai dari nol lagi, bahkan cukup kerepotan walau hanya untuk membalas serangan Ikram.


"Tidak akan, ini bukan bisnis, ini juga bukan dunia hitam, yang bisa menyelesaikan hanya mereka, abang hanya akan membantu dengan batasan-batasan tertentu, penentunya tetap mereka berdua," ucap Ikram.


"Masalah dengan bibi?"


"Keputusan di Ifraz dan Nadin, mereka penentunya sekarang," jelas Ikram.


Meskipun tidak berbicara secara langsung mengenai ini, namun Ikram bisa menyimpulkan dengan pasti bahwa apapun keputusan mereka berdua nanti adalah penentunya.


"Sudah, kau juga jangan tidur terlalu malam, khawatir besok Nadin berangkat pagi dan kau masih berada di kamar," ucap Ikram memberikan elusan singkat di rambut cantik Iriana.


"Siap abang,"


***


Laki-laki bahkan tidak mencari tau siapa calon suami Nadin, ia bahkan tidak sampai berfikir ke sana, masih dengan pikiran yang kalang kabut, ia kembali menghisap rokoknya.


****** rokok mulai bertebaran di lantai balkon, namun ia tidak peduli, bahkan saat matahari sudah mulai muncul dengan malu, ia masih tetap berdiri di sana.


Hingga suara Nadin bergerak di tempat tidur membuatnya menoleh, bergerak pelan mendekati perempuan yang sangat ia cintai itu.


"Ada apa?" tanyanya.


"Air," ucapnya yang masih belum membuka mata.


Ifraz mengambil air putih yang ada di atas meja sebelah ranjang tempat tidurnya, memberikan pada Nadin dengan lembut.


Nadin masih enggan bangun, ini masih sangat pagi pikirnya, namun bau asap rokok yang melekat erat di tubuh Ifraz mengganggu indra penciuman nya di pagi hari.


"Kau merokok lagi Iraz?" tanya Nadin yang mulai berusaha mengembalikan nyawanya dengan mata yang berangsur-angsur terbuka.


"Kenapa merokok? kan aku sudah bilang jangan merokok, itu tidak baik untuk paru-paru mu saat tua nanti," ucap Nadin.


"Cepat mandi dan pakai bajumu," ucap Nadin lagi mendorong Ifraz masuk ke dalam kamar mandi.


"Tidak mau memandikan ku?" tanya Ifraz.


"Iraz come on, ini bukan waktunya, jangan seperti bocah,"


"Cepat mandikan aku," ucapnya tidak seperti biasa.


"Itu tidak boleh, aku tidak akan melakukan hal itu denganmu, aku hanya akan menjaganya untuk suamiku,"


"Memangnya aku memintamu melakukan apa ? aku hanya ingin kau membantuku mandi," ucap Ifraz.


"Sudah aku akan berkemas, kalau tidak ingin mandi ya tidak usah mandi," ucap Ifraz.


Sebuah ponsel milik Nadin berbunyi di dalam tas, gadis ini mengambilnya dan menganggap sebuah kesempatan untuk lepas dari Ifraz yang seperti anak kecil ini.


Namun tangannya tak kunjung menekan tombol Terima panggilan membuat Ifraz penasaran dan mengambil ponsel itu.


"Halo," ucap seseorang di seberang sana.


"Iya, ada apa Alvin?" tanya Nadin terdengar cukup gugup.


"Berikan padaku alamat mu, aku akan menjemput dan membawamu pulang bersamaku, ibu bilang bahwa kau berada di kota yang sama denganku," ucapnya.


Ifraz menggelengkan kepalanya, "aku ada fasilitas dari kantor nanti, kemaren sudah mengiyakan pimpinan, tidak enak jika membatalkannya," jawab Nadin.


"Ah baiklah kalau begitu, sampai bertemu besok calon istri," ucapnya sebelum menutup telfon.


Nadin menatap Ifraz yang tengah menatapnya, "bersiaplah, hari ini Nando yang akan mengantar mu pulang," ucap Ifraz yang langsung masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Nadin dengan perasaan berkecamuk yang tidak bisa di jelaskan.


Waktu terus berjalan, Nadin sudah siap dengan semua orang yang sudah berada di bawah, hanya Ifraz yang masih tidak terlihat batang hidungnya.


"Iraz," teriak Iriana.


"Iraz," panggilnya lagi.


Ifraz membuka pintu kamar dan beranjak turun dengan sebuah jas hitam yang ia kenakan.


Nadin dengan blazer berwarna pink memang sangat terlihat cantik hari ini, ia sudah berpamitan dengan semua orang, hanya pada Ifraz yang belum.


Nadin memaksakan senyumnya saat laki-laki ini berada di depannya, perasaanya benar-benar kacau, ia menarik nafas perlahan, menepuk pelan lengan Ifraz dengan masih tetap tersenyum, "aku pergi," ucapnya dengan sebuah senyum, namun langsung berbalik.


Nadin tidak menoleh sama sekali, sebuah senyum dengan air mata yang tidak bisa di bendung tidak menyurutkan langkahnya, ia terus berjalan.


"Aku mencoba berpura-pura kuat, tapi aku kalah dengan air mata," batinnya sebelum naik ke dalam mobil.


***


Wah author beneran seneng banget kalau ada banyak sekali komentar puas yang reader tulis setelah baca cerita ini.


Terimakasih banyak untuk semua dukungan yang selalu kalian sampaikan hingga detik ini.


Selamat membaca.