
Di sebuah lokasi mewah tempat pertemuan Ikram kali ini sudah di penuhi oleh banyak sekali orang, termasuk wartawan yang sudah memenuhi pintu masuk dan menyerbu mobil Ikram ketika terlihat mulai memasuki lokasi acara.
"Tuan Ikram, itu tuan Ikram," teriak satu sama lain bersahutan dengan posisi langsung berlari.
Sebuah pintu terbuka, Ifraz keluar dari mobil terlebih dahulu karena dia berada di tepi, tak lama Ikram muncul dengan kaki kanan keluar terlebih dahulu.
"Tuan Ikram, bagaimana bisa Anda membangun bisnis ini dengan usia yang masih sangat muda?"
"Tuan Ikram apakah dia istri anda?" ucapnya begitu Iriana keluar dari mobil.
"Saya akan menjawab semua pertanyaan sesuai prosedur di dalam, tunggu dan lihat saja, terima kasih sudah datang," ucapnya meninggalkan semua orang di bantu oleh beberapa pengawal untuk meninggalkan kerumunan.
Ikram hanya berjalan seorang diri meninggalkan Ifraz dan Iriana yang mematung melihat abangnya mulai memasuki tempat acara ini, seolah tak ingin pergi membiarkan Ikram sendirian di sana, hingga sebuah tangan membuyarkan pandangan iriana.
"Sudah waktunya," ucap Ifraz.
Tak lama kedua kakak beradik itu kembali masuk ke dalam mobil begitu wartawan dan kerumunan orang mulai mengikuti Ikram hingga di ambang pintu.
Pintu otomatis itu tertutup segera begitu Ikram melangkahkan kakinya ke dalam, namun tak lama suara tembakan bersahut-sahutan di dalam ruangan itu, suara tembakan itu langsung terdengar begitu Ikram masuk ke dalam sana, seolah tempat ini memang sengaja di persiapkan untuk Ikram.
Riuh suara orang semakin terdengar baik di dalam dan di luar gedung, pertanyaan apa yang terjadi di dalam sana berulang-ulang di pertanyakan, namun semua orang tetap sibuk berlari menyelamatkan diri.
Ada yang terjungkal hingga di injak-injak oleh temannya yang lain, semua orang berlari tunggang langgang, beberapa bahkan meninggalkan kamera yang sebelumnya mereka genggam erat.
Apa yang sebenarnya terjadi di dalam, kenapa Ifraz dan Iriana bahkan tidak ikut mendampingi Ikram masuk ke dalam sana?
***
Ellia masih berada di kantin kampus bersama teman temannya, untuk menghindari kecurigaan semua orang, ia berusaha tetap masuk kelas meskipun dengan beberapa luka yang belum cukup sembuh, yang tentunya tetap di samarkan oleh Ifraz sebelumnya.
"El lu sama laki lu gimana ?" tanya Vania tiba tiba-tiba.
"Kenapa? kepo ya?" tambah Ellia.
"Kita kepikiran aja sama lu," jawab Rara yang faham betul kemana arah pembicaraan sahabatnya.
"Kepikiran buat apa ?" tanyanya.
"Dia nggak sesederhana yang lu pikir El, gua cuma khawatir," tambah Rara.
"Dilihat dari manapun nggak ada hal sederhana dari mas Ikram, semua yang tampak dari ujung rambut sampai ujung kakinya selalu istimewa," ucap Ellia.
"Ya nggak gitu neng, lu nggak ngerasa prof Ikram penuh rahasia, dia sampek punya singa dan harimau di istananya, Ellia, siapa yang percaya dia orang baik dengan hewan-hewan buas itu di kanan kirinya, jangan jangan dia juga punya kandang buaya lagi,"
"Iya emang punya kok, cuma gua juga gak tau dimana," jawab Ellia seketika, pasalnya ia pernah mendengar Ifraz membicarakan itu ketika Iriana sedang dalam mode bandel.
Berbeda dengan Ellia yang masih bisa bersikap biasa saja, kedua temannya itu sudah melongo dengan mata yang hampir keluar, seperti pertama kali Ellia menikah dengan Ikram dulu.
"Udah nggak usah shock gitu, gua dulu juga gitu kok, gua nggak percaya sama apa yang gua lihat di depan mata gua sendiri malah," ucap Ellia dengan masih mengunyah makanan yang ada di hadapannya.
"Meskipun seandainya mas Ikram bukan orang baik, tapi dia selalu melakukan yang terbaik buat gua, dia bukan pemaaf tapi selalu buka pintu maafnya buat gua, dia juga bukan orang yang sabar Tapi selalu berusaha mengendalikan diri buat gua, dan yang paling penting perasaan nyaman dan di hargai, itu yang nggak pernah gua dapet selama hampir 20 tahun gua hidup," jelasnya dengan sebuah senyum manis membingkai indah di wajah Ellia.
Senyum itu menular, Vania dan Rara yang mendengar dan melihat senyum itu juga tidak bisa untuk tidak mengiyakan apa yang dikatakan sahabatnya, perasaan lega menjalar di hati kedua sahabat Ellia itu, karena mereka juga tau bagaimana kisah Ellia dan Ikram sejak awal.
"Udah ada yang cinta mati nih kayaknya," goda Rara.
"Keliatan jelas banget neng, tuh di dahi lu udah ada tulisannya, gua cinta mas Ikram," tambah Vania yang mana membuat pipi Ellia semakin merona merah.
Ellia dan Ikram masing-masing masih belum pernah mengatakan cinta, apa itu cinta? yang mereka tau mereka hanya saling berbagi dan mengisi banyak hal.
Ditengah lamunan dan ejekan tawa teman-temannya, seorang laki-laki dengan sepatu kets terburu-buru menarik Ellia, "hey lu napa sih, orang lagi makan juga, pelan-pelan dong," teriak Rara yang tidak terima Ellia di perlakukan seperti itu.
"Toga lepasin," ucap Ellia ketika sebuah cengkraman semakin kuat menekan pergelangan tangannya.
"Dimana Yuda?" tanyanya.
"Gua nggak tau, lepasin ini sakit," ucapnya sedikit meronta.
"Gua nanya dimana Yuda El?" teriaknya semakin keras tanpa memperdulikan beberapa mahasiswa lain yang berhenti dan menatap mereka, padahal Toga sudah menariknya di tempat yang cukup sepi.
"Woy ga, lu bisa sopan dikit nggak? kalo Ellia bilang nggak tau ya nggak tau, lu jangan maksa dong," tambah Rara mendorong tubuh Toga dengan paksa.
Laki-laki itu hanya menyeringai dengan semakin menatap Ellia sinis, "jangan lu kira gua nggak tau soal 30 milyar itu, kalo ada apa-apa sama temen gua, jangankan lu, orang yang ada di belakang lu juga bakal gua abisin, dasar pelacur," ucapnya tegas dengan amarah yang nggak bisa terkendali.
"Lu laki apa gimana, lemes banget tuh mulut kayak kain pel, mangkanya sekolahin juga tuh mulut biar tau etika," ucap Rara yang tak kalah emosi, gadis ini berbicara dengan sedikit berteriak agar terdengar oleh Toga yang sudah berjalan pergi meninggalkan mereka.
"Pelacur?" gumam Ellia pelan dengan sebuah senyum getir di bibirnya.
Api itu sangat terlihat jelas di mata Toga sebelum ia pergi, pertanyaan dimana Yuda memang sudah seringkali terbesit di pikiran Ellia, tapi Ellia juga tidak tau kemana perginya laki-laki itu, tidak mungkin dia bertanya pada suaminya dan meminta bantuan mencari keberadaan Yuda bukan.
"Sudah El nggak usah dipikirin mulut tuh kulkas tiga pintu," ucap Rara.
***
Di dalam mobil
Iriana mulai tidak tenang dengan duduknya di dalam mobil, gadis itu menggerakkan kakinya ke kanan dan ke kiri, beberapa kali juga berubah posisi, hingga Ifraz mulai terganggu dan menatap adiknya.
"Tenang Iriana, yang perlu kita lakukan hanya berfikir dengan tenang sekarang, tunggu dan jangan terburu-buru mengambil keputusan," ucap Ifraz.
"Semua orang kita sudah kembali, hanya Ikram yang tidak ditemukan dimana pun," jelas Ginanjar yang baru saja masuk ke dalam mobil.
"Semua tanpa kecuali?" tanya Ifraz.
"Iya,"
Iriana merebut sebuah tablet yang sebelumnya berada di genggaman tangan Ifraz, jari-jari gadis itu bergerak dengan lincah menekan layar di depannya.
"Semua alat yang terpasang di tubuh bang Ikram tidak terdeteksi," ucapnya semakin panik.
Gadis ini semakin menggila untuk melakukan apa yang bisa dia lakukan, matanya sudah memerah, sesekali butiran bening berhasil lolos satu demi satu dari kelopak mata indah miliknya.
"Bagaimana semua orang yang ada di sana?"
"Masih sedikit shock dan trauma, tidak ada yang berani mendekat ketika sebuah ledakan terdengar tak lama setelah bunyi tembakan itu,"
"Abang," lirih Iriana namun masih terdengar di telinga Ifraz.
Ifraz hanya memejamkan mata, meraba apa yang harus ia lakukan setelah ini.