
Kedua manusia yang menjalani kehidupan normal sebagai pasangan suami istri itu tengah duduk bersama di tepi pantai.
Angin sepoi-sepoi semakin membuat keduanya merasa nyaman, rambut Ellia sesekali tertiup angin ke sana kemari yang mana semakin membuat gadis itu terlihat cantik.
Ikram masih menatap gadisnya yang sedang makan jagung dan melihat ke pantai, "prof," panggilnya.
"Iya," jawab Ikram singkat dengan masih menatap gadis di depannya.
"Kenapa anda menjadi profesor, anda sudah sangat kaya," ucap Ellia yang masih fokus dengan jagung bakar di tangannya.
"Hanya ingin,"
"Lalu apa pekerjaan anda sebenarnya?"
"Pembunuh bayaran," jawab Ikram yang mana membuat Ellia langsung menatapnya.
"Hah? pembunuh bayaran?" ucap Ellia yang mulai takut campur kaget.
"Menurut mu apa pekerjaanku?"
"Pemilik perusahaan ?"
"Mungkin," tambah Ikram.
"Lalu,"
"Sudahlah, tidak perlu tau, ini makan juga milikku," ucap Ikram yang tidak terlalu suka dengan jagung bakar, itu mengotori pipinya yang mana membuatnya tidak terlihat elegan.
"Anda terlihat sangat kaya meskipun menutupi nya, setelan yang selalu anda pakai membongkar semuanya, di tambah wangi parfum ini,"
"Benarkah?" ucap Ikram, ia memang selalu memakai desain baju dengan merk terkenal, ia bahkan sudah bekerja sama agar selalu tampil tampan di setiap penampilannya.
Ellia mengangguk, "apalagi dengan wajah tampan anda itu, itu semakin terlihat seperti barang langka," ucapnya.
Ikram hanya tersenyum senang menanggapi ucapan Ellia.
Ellia dan Ikram baru kembali ke rumah ketika matahari sudah tenggelam, keduanya kembali dengan sepeda ontel yang mereka pakai sebelumnya, kali ini Ikram menarik tangan Ellia agar berpegangan pada perutnya, "kita nikmati saja waktu satu minggu yang tersisa ini Ellia, mari bahagia dan tidak saling mengecewakan," itu adalah sesuatu yang di ucapkan Ikram sewaktu berada di tepi pantai tadi.
"Saya minta maaf sudah menyakiti anda prof,"
"Tidak masalah, jangan panggil aku seperti itu, panggil aku dengan sebutan lain yang lebih enak di dengar Ellia,"
"Apa dong ?"
"Kalau kau masih memanggilku profesor, semua orang pasti akan mengira aku berjalan dengan adik atau keponakanku, panggil mas atau apa lah, yang penting jangan profesor, profesor identik dengan orang tua dengan kepala botak," tambahnya memberi penjelasan.
"Baiklah baiklah, mas Ikram bagaimana ?" tanya Ellia lagi dengan menatap Ikram di sampingnya.
"Boleh," jawab Ikram.
Tangan laki-laki ini mulai bergerak membersihkan bibir Ellia yang masih tertempel biji jagung, Ellia menatap laki-laki di depannya ini, selama ini Ellia memang berkencan dengan Yuda, tapi keduanya hanya berkencan biasa, tidak ada kontak fisik berlebihan, Ellia juga sangat menjaga image di depan Yuda, sangat berbeda jauh dengan sikap Ellia di depan Ikram yang sudah sejak awal apa adanya.
Secara tidak langsung Ikram mengenal Ellia sebelum Ellia memiliki perasaan apapun pada laki-laki ini, itu membuatnya bersikap apa adanya dan natural saja.
Kedua manusia itu cukup lama saling memandang, hingga kemudian Ikram tersenyum dan berkata, "ada sebuah biji jagung di sana,"
"Ah, hehe." ucap Ellia yang cukup salah tingkah namun berusaha bersikap baik-baik saja.
IKram hanya tersenyum, kemudian meniup wajah Ellia perlahan dengan mulutnya,"ah mas Ikram, jadi tambah panas," ucapnya yang berlari menjauh semakin salah tingkah.
***
Rumah sementara Ikram dan Ellia
"El, tolong siapkan air panas untukku ya, aku ingin mandi, badanku lengket semua," ucap Ikram pada Ellia begitu keduanya sudah sampai di dalam rumah, laki-laki itu langsung duduk di atas sebuah sofa berwarna abu-abu dengan ukuran kecil itu.
"Siap pak bos, laksanakan," jawab Ellia dengan tangan terangkat.
Gadis ini dengan senandung kecil meninggalkan Ikram yang masih tidak beranjak dari kasur, ia mengambil sebuah remote TV dan menyalakannya, beberapa kali ia mengganti channel karena tidak ada satupun yang sesuai, namun gerakan jarinya berhenti disebuah berita tentang sebuah perusahaan, Danial Group.
Cukup lama Ikram menonton berita itu, hingga tanpa sadar laki-laki ini tersenyum tanpa alasan setelah melihat berita tersebut, hingga sebuah tangan mengagetkannya, "mas airnya sudah siap," ucap Ellia menyentuh bahu Ikram.
"Ah, oke oke, aku mandi dulu," ucapnya yang mematikan televisi dan beranjak dari sana.
"Ellia,"
"Ada apa ?" tanya Ellia lagi.
"Malam ini bolehkah ?" tanya Ikram meminta izin.
Ellia yang sudah cukup dewasa segera tau arah pembicaraan Ikram kali ini, lagi pula Ikram sudah memberi tahunya tadi, ia ingin haknya sebagai suami, dengan senyum Ellia mengangguk.
Terlihat sekali rona bahagia di wajah Ikram suaminya, "aku mandi dulu, tidak akan lama," tambahnya.
Sepeninggal Ikram Ellia mengambil ponselnya dan mencari di internet apa saja yang harus di siapkan dan bagaimana cara memulainya, karena ini yang pertama untuk Ellia, ia benar-benar sangat gugup tidak tau harus apa.
"Oke oke, tenang Ellia, langkah pertama aku harus mandi dulu, iya mandi, aku harus mandi, aku akan mandi di luar saja," ucap Ellia lagi.
Sebelum ia pergi mandi, ia lebih dulu menyiapkan baju yang akan di pakai Ikram setelah ini, ia menyiapkan baju itu di atas sebuah kasur yang berukuran queen, sudah teramat sangat besar pikir Ellia, kasur miliknya dulu tidak ada separuh dari kasur ini.
Di dalam kamar mandi Ikram masih terdiam di bawah guyuran air shower yang dingin, ia bahkan tidak menyentuh sama sekali air panas yang sudah disiapkan Ellia di dalam bathub, ia hanya berdiri termenung tanpa melakukan apapun di dalam sana.
Hampir tiga puluh menit Ikram masih belum juga keluar dari kamar mandi, Ellia bahkan sudah selesai mandi, karena khawatir ia mengetuk pintu kamar mandi dimana Ikram masuk namun tak kunjung keluar.
Tok tok tok
"Mas, mas Ikram," panggilnya.
"Mas Ikram," panggilnya lagi yang tak kunjung mendapatkan sahutan.
Ketika tidak juga mendapat sahutan Ellia hendak mengetuk kembali pintu kamar mandi, namun gerakannya terhenti ketika pintu tersebut terbuka dan Ikram muncul dari balik pintu dengan sebuah handuk yang melingkar di pinggangnya, di tambah rambut basah dan roti sobek yang benar benar indah membuat Ellia menelan ludahnya perlahan.
"Cobaan apa lagi ini tuhan, bohong jika aku tidak tergoda dengan makhluk ciptaan mu ini," batinnya.
"Sudah puas belom ?" ucap Ikram dengan nada yang tidak kalah menggoda.
"Ah profesor, ini tidak baik, ini buka sikap yang baik sebagai dosen." teriaknya sembari berusaha menutup matanya meskipun ia sedikit mengintip dari sela-sela jari tangannya.
"Bukankah sangat sia-sia jika hal ini di lewatkan, tubuh mas Ikram benar-benar indah,"batin Ellia tidak terkendali.
"Aku suamimu, Ellia, aku bukan dosen saat ini," tambahnya.
TO BE CONTINUE