Ellia's Husband

Ellia's Husband
Berita baru



Beberapa hari berlalu dengan damai, sangat nyaman, mereka hanya kembali menjadi diri mereka sendiri seutuhnya selama beberapa hari, keluarga itu selalu hangat sebanyak apapun kegiatan yang mereka lakukan di luar, sarapan dan makan malam yang tidak boleh di lewatkan adalah sebuah sarana agar Ikram bisa mengetahui bagaimana hari adik-adiknya.


Pertanyaan seperti apa yang akan kalian lakukan hari ini ? bagaimana hari kalian ? apakah ada masalah yang tidak bisa di selesaikan, hingga sebuah pujian dan ungkapan puas juga tidak pernah lupa di ucapkan Ikram pada mereka semua.


Seperti hari ini, saat mereka sarapan di pagi hari, "Kalian hanya harus mencoba, lakukan saja yang terbaik yang kalian bisa, hasil itu bukan kita yang menentukan,"


"Tidak bisakah abang membantunya,"


"Ada yang bisa abang bantu, ada yang tidak, yang jelas abang nggak ingin menciderai semua kerja keras yang kalian lakukan dengan bantuan instan dari abang, karena kalian punya hak untuk bangga atas pencapaian kalian sendiri, oke,"


"Siap abang,"


"Nanti jika ada yang mengatakan kalian sukses karena abang ada di sisi kalian, kalian tidak terganggu dan bisa dengan bangga mengatakan, ini adalah hasil kerja kerasku, karena seberapa banyak yang abang kasih ke kalian, kalau kalian tidak memaksimalkan tenaga dan pikiran yang kalian miliki, itu tidak ada gunanya,"


Sungguh sebuah ucapan sederhana yang menyenangkan hati orang yang mendengarnya, "abang lihatlah mataku, dia sedikit bengkak bukan ? sakit sekali," ucap Iriana.


"Yang dokter itu gua woy, bukan abang, lu nanya abang juga abang nggak bakal ngerti," ucap Ifraz ketus.


"Perlu beli komputer baru tidak ? cari yang khusus agar tidak sakit lagi ?" ucap Ikram.


"Ah, emang lu sakit gak perlu dokter sih," gumam Ifraz memakan sayur yang ada di di piringnya.


"Haha, gua  nggak butuh obat, yang ku butuhkan hanya komputer baru," ejeknya pada Ifraz merasa menang.


Ellia hanya tersenyum melihat Iriana dengan Ifraz yang selalu bertengkar setiap kali bertemu, "bang Ikram," panggil Nadin.


"Ada apa ?"


"Aku sepertinya harus kembali dalam waktu dekat, aku hendak mengajukan cuti sementara, paling tidak dua sampai tiga bulan," ucapnya, Ifraz segera menoleh mendengar apa yang di bicarakan oleh Nadin.


"Ada apa ? kenapa tidak bilang padaku ? dua bulan itu lama sekali loh," ucap Ifraz yang tidak tau apapun dengan apa yang terjadi pada Nadin.


"Aku harus menyiapkan pernikahanku," ucap Nadin yang mana membuat semua orang melihat ke arahnya bingung.


Ikram menatap adiknya yang juga cukup shock menerima pernyataan yang baru saja mereka dengar.


"Sejak kapan kalian berhubungan?" tanya Ifraz.


"Tidak pernah, ini hasil perjodohan," ucapnya pada Ifraz.


"Kenapa sampai di jodohkan ? apakah tidak bisa sabar sedikit lagi, abang yang akan melamar mu atas nama Ifraz nanti,"


Nadin menatap Ifraz yang juga menatapnya "Ini sudah cukup lama bang, aku sudah di anggap cukup tua dan harus segera menikah, aku bahkan sudah di tolak puluhan kali, tidak mungkin untuk terus menunggunya, kau yang bilang kita teman selamanya kan ?" tanyanya pada Ifraz.


Laki-laki itu hanya diam, menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan olehnya, "siapa dia ? lebih tampan dan kaya dariku ?" tanya Ifraz.


"Cukup tampan, tapi kalau kaya, gaji ku saja sudah cukup untuk menghidupi kita seumur hidup, untuk apa aku mencari yang kaya lagi," jawabnya.


"Kenapa sampai di jodohkan kak ?" tanya Iriana.


"Aku anak satu-satunya, mereka ingin segera punya cucu," jawab Nadin.


Ifraz masih terlihat datar tanpa ekspresi, mengetuk pelan meja makan dengan jari telunjuk sebelah kanan hingga berbunyi tuk tuk tuk tuk, terlihat sekali dia juga tidak nyaman.


"Baiklah, aku memberimu cuti, untuk hadiah pernikahan aku akan memberi sebuah apartemen untuk kalian di tengah kota, itu salah satu properti milik Ifraz yang paling mahal, aku akan membelikannya untukmu,"


"Wah, benarkah abang, aku tidak sabar untuk tinggal di sana," ucapnya senang.


"Itu hak istimewa CEO, keberatan ?"


"Iya, aku hanya memberinya izin satu minggu, aku juga seorang eksekutif," ucapnya tidak ingin di bantah.


"Pelit sekali, aku libur juga tidak akan membuat rumah sakit dan usahamu bangkrut," ketus Nadin.


"Habiskan saja makanannya, bicara saja sejak tadi," jawab Ifraz.


"Dasar perusak suasana," ucap Nadin jengkel.


"Lu tuh perusak suasana," jawab Ifraz.


Iriana dan Ellia hanya diam dan saling memandang penuh kode, mereka berdua sudah pernah membahas ini, dan benar saja, hal ini terjadi bahkan sebelum Ifraz menyadari perasaanya.


"Hidup ini keras bro, telat lamaran harus siap jadi tamu undangan," ucap Iriana pada Ifraz melalui mata.


"Kapan tanggal pernikahannya," tanya Ellia


"Dua hari lagi," jawab Nadin.


"Cepat sekali,"


"Sudah dua hari lagi tapi izin cuti dua sampai tiga bulan ? kalau semua karyawan sepertimu, bisa bangkrut dalam dua hari kita," ketus Ifraz.


"Gua kan juga butuh cuti, honeymoon dan saling mengenal satu sama lain, lagian abang juga setuju kok, ngapain lu yang repot sih, perusahaan punya abang juga," ucap Nadin lagi.


Kedua orang ini memang suka berdebat, bahkan sampai sarapan hari ini selesai, keduanya masih berdebat panjang hingga membuat Ikram sakit kepala.


"Mana yang tidak enak mas ?" tanya Ellia saat Ikram memijit kepalanya pelan.


"Kemari, rasanya lama sekali kita tidak seperti ini ya, aku terlalu sibuk bekerja dan mengurus perusahaan," ucap IKram yang menarik Ellia di atas pangkuannya.


"Pusing memikirkan dokter Ifraz ?" tanya Ellia yang langsung di jawab anggukan singkat oleh IKram.


"Dia juga sedikit lambat dalam hal ini, perempuan memang akan di pandang buruk saat mereka tidak segera menikah mas,"


"Aku tidak pernah memaksa Iriana,"


"Tidak semua orang seberuntung Iriana karena memiliki saudara sebaik mas Ikram,"


"Nadin juga sepertinya berada di posisi sulit, jelas-jelas kemarin dia masih dengan senang dan gembira memintaku menikahkannya dengan Ifraz, padahal aku sudah sangat nyaman dengan dia ada di sini, bisa di bilang memiliki seseorang seperti Nadin di samping Ifraz dengan sikap anehnya itu sedikit membuatku tenang,"


Ellia memainkan rambut Ikram, sesekali mencium aroma wangi dari sana, "jangan menggodaku seperti itu, aku sudah harus berangkat kerja, kau membuatku terlambat," ucapnya berusaha menahan diri.


Bukannya berhenti, Ellia malah semakin menggoda Ikram yang terlihat sudah sangat gusar, "Ellia, jangan bilang aku tidak memperingatkan mu," panggilnya dengan suara berat yang langsung memindahkan istrinya itu ke ranjang.


Dan terjadilah olahraga raga di pagi hari.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar kak


Selamat membaca