
Aro mengetuk pintu kamar Ikram namun tak ada tanggapan, cukup lama ia menunggu dan mengetuk pintu itu sekali lagi, namun tetap tidak mendapat jawaban dari Ikram yang masih berada di dalam.
Akhirnya Aro memutuskan untuk masuk ke sana dan melihat apa yang dilakukan bos nya saat ini.
"Dia tidur? di jam segini?" tanya Aro pada diri sendiri.
"Bos, dokter sudah datang untuk memeriksa anda," ucap berjalan mendekat.
"Bos," panggilnya lagi.
Aro menjulurkan tangannya hendak menyentuh lengan Ikram, "kenapa badan bos panas tinggi kayak gini? tadi masih tidak kenapa-kenapa," ucapnya yang langsung membawa dokter yang sudah berada di depan pintu untuk masuk ke dalam.
"Cepat dok, sepertinya sudah parah," tambahnya semakin panik.
Dokter membuka selimut yang menutupi hampir tubuh Ikram, seluruh pakaian Ikram hampir penuh dengan darah, "dia terluka?"
"Iya, beberapa hari yang lalu,"
"Kenapa tidak langsung mengobatinya, lukanya sudah sangat parah, ini yang membuat suhu tubuhnya sangat tinggi," tambah dokter.
Dengan telaten dokter menggunting kemeja putih Ikram yang sudah berwarna merah itu, namun tangannya berhenti begitu melihat sebuah luka yang cukup ia kenali.
"Luka ini? ini hanya dimiliki oleh tuan Ikram, mungkinkah dia?" batin dokter semakin tidak karuan.
"Ada apa dok?" tanya Aro yang melihat gerakan dokter.
"Ah, lukanya sangat parah, saya harus merawat lukanya terlebih dahulu, bagian mana yang harus di dahulukan, lukanya hampir di seluruh tubuh," ucapnya mengalihkan.
"Lakukan yang terbaik dok, saya tidak ingin terjadi apapun padanya," ucap Aro.
"Saya akan memberikan obat bius sementara, tolong jangan biarkan orang lain masuk setelah ini, saya harus fokus untuk melakukan operasi di sini, Tolong bantu ambilkan ini, ini dan ini, cepat sekarang, semuanya ada di dalam tas saya di luar pintu," ucapnya.
"Apakah separah itu dok?"
"Semakin lama bergerak nyawa nya bahkan tidak akan bisa tertolong," tambah dokter tersebut.
Dengan cepat Aro sudah kembali mengantarkan apa yang di minta oleh dokter, "anda bisa menunggu di luar, saya harus fokus," ucapnya dengan tangan yang sudah penuh darah dan sebuah benang dan gunting jahit.
"Baik,"
Sepeninggal Aro, sebuah suara cukup mengagetkan dokter itu, "aku harus bangun malam ini, aku harus pulang, aku sudah berjanji pada Iriana." gumamnya dengan mata masih tertutup.
"Iriana? salah satu pilar Danial group juga bernama Iriana, apakah benar dia tuan Ikram? tapi bukankah jasadnya sudah di temukan oleh dokter Ifraz?" pikir dokter itu semakin tidak karuan.
"Jika tetap melakukan aktivitas yang berbahaya luka anda akan semakin parah,"
"Tidak apa-apa, obati saja sebisanya, aku punya adik seorang dokter hebat, dia nanti bisa mengobati aku setelah kembali," laki-laki dengan topeng menutup bagian hidung dan mata ini tetap bersikeras untuk beraktivitas.
Deg.
"Sudah, aku hanya harus mengobatinya terlebih dahulu, tidak boleh berfikir macam-macam," batinnya dalam hati yang semakin bergejolak.
Cukup lama di dalam sana, akhirnya dokter keluar dari dalam kamar Ikram dengan keringat hampir membanjiri tubuhnya, "bagaimana dok?" tanya Aro dan Andara bersamaan.
"Huft, bisa bertahan hidup sudah alhamdulillah, motivasi apa sebenarnya yang dia miliki sampai harus memaksakan dirinya sampai seperti ini," ucap dokter.
"Maksud anda?"
"Luka miliknya sudah jelas adalah luka dari beberapa hari yang lalu, lukanya sudah di jahit, tapi kembali terbuka, artinya aktivitas dan pekerjaan yang dia lakukan sangat beresiko tinggi, jika hal ini terjadi lagi dan menyebabkan infeksi akan sangat berbahaya bagi tubuhnya,"
"Bagaimana cara kami merawatnya dok?" tanya Andara yang juga cukup khawatir.
"Ini, berikan obat ini padanya begitu bangun, sesekali berikan tumbukan herbal ini padanya untuk membantu mengeringkan lukanya,"
"Baik dok,"
"Saya pergi dulu," ucap dokter tersebut meninggalkan tempat di temani oleh Aro.
"Apakah perlu untuk di periksa lagi dok,"
***
"Wajahnya?"
"Wajahnya tidak terlihat, dia memakai topeng,"
"Lagi?" ucap Iriana.
"Boleh saya melihat catatan medisnya?" ucap Ifraz sopan.
"Ini," ucapnya memberikan sebuah map kepada Ifraz.
Ifraz masih memperhatikan kertas yang diberikan oleh William, dahinya berkerut, "semuanya buruk, kondisinya sangat tidak bagus," ucapnya kemudian.
"Semakin buruk ketika melihatnya secara langsung, lukanya sangat parah, mustahil manusia normal bisa bertahan dengan luka sebanyak itu, beberapa tulangnya juga patah," tambah William.
Sekarang giliran Iriana yang menelan ludahnya berkali-kali, ia tidak sanggup jika memang benar-benar orang itu adalah Ikram abangnya.
"Tapi ada satu hal yang membuat saya semakin yakin dok,"
"Apa?"
"Waktu beliau dalam pengaruh obat, dia berkata, aku harus bangun malam ini, aku harus pulang, aku sudah berjanji pada Iriana," ucapnya.
Kaki Iriana bergetar, rasanya sudah tidak mampu menopang tubuhnya, "Iriana," panggil Ifraz ketika adiknya hendak jatuh.
"Beliau juga mengatakan memiliki adik seorang dokter hebat yang akan mengobatinya nanti ketika pulang," jelas William.
Perasaan Iriana semakin tidak karuan, Ifraz sampai harus menopang tubuh adiknya agar tidak limbung.
"Ini," ucap William menyerahkan sebuah kapas penuh darah di dalam sebuah plastik.
"Ini?"
"Kalian bisa cek dan pastikan sendiri," ucap William memberikan sebuah kantong medis berisi kapas penuh darah.
"Tidak perlu, sudah pasti itu adalah abang kami, terimakasih sudah membantu kami sebanyak yang dokter bisa, saya berjanji akan membalas kebaikan dokter nanti,"
"Tidak perlu dokter, maksud saya," ucapnya seolah sulit untuk di katakan.
"Kami akan memberikan yang terbaik setelah ini kepada anda," ucap Ifraz benar-benar berterimakasih.
"Hanya tolong jaga nyawa saya dan keluarga saya, kami hanya ingin hidup," ucapnya penuh permohonan.
Dokter Willian benar-benar khawatir saat ini, Iriana mengambil ponselnya, menutup panggilan telfon Ellia yang sejak tadi ikut mendengarkan apa yang terjadi di sini dan mencari nomor lain untuk di hubungi dan memberikannya pada Ifraz.
"Iya nona muda,"
"Ini aku, Setelah ini, kemanan keluarga dokter William, dokter bedah utama rumah sakit kita beserta seluruh keluarganya, akan menjadi tanggung jawab ku, sementara pindahkan mereka ke tempat yang aman, penuhi kebutuhan nya dan jangan lengah sedikitpun,"
"Siap tuan muda."
"Terimakasih, terimakasih," ucapnya.
"Anda sudah boleh pergi," ucap Ifraz kemudian.
Ifraz menatap Iriana, "kuatkan dirimu, kita akan berangkat ke sana setelah ini,"
"Kakak ipar?"
"Dia ikut bersama kita,"
"Sekarang sudah waktunya, menunggu bang Ikram akan membutuhkan waktu yang lama untuk kembali dengan luka separah ini,"
***
Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.