
"Ah iya aku lupa, tadi Iriana mencari kalian begitu bangun, ia cukup sedih karena bukan kalian yang ia lihat pertama kali ketika bangun," jelas Ellia yang langsung bergegas keluar tanpa menunggu respon dari kedua kakak beradik itu.
Tapi yah, memang tidak ada respon dari kedua orang ini, hanya diam dan tidak bergeming sama sekali.
"Abang,"
"Hm,"
"Kenapa abang sangat lambat, apakah karena abang sudah tua?"
Plak
Sebuah sentilan cukup keras kembali mendarat di dahi Ifraz.
"Ah, ah aduh, sakit abang," rintihan Ifraz.
"Siapa yang kau panggil tua? tidak sopan," tanya Ikram.
"Seharusnya abang bisa mengambil langkah cepat dan menghabisi Logan dalam diam, kenapa tidak melakukannya kali ini," tanya Ifraz.
"Itu abang yang salah prediksi, aku fokus pada Iriana, khawatir menyakitinya atau membuatnya terluka, aku lebih memilih kehilangan semua harta kekayaan yang ingin Logan hancurkan dari pada sebuah senyum yang harus hilang dari bibirnya, aku melupakan fakta bahwa Iriana adalah pintu gerbang semua informasi di tempat kita, dia tau semua hal meskipun aku berusaha sembunyikan, abang yang salah, tidak bisa mengerti kalau kalian sudah semakin besar dan bisa berfikir dari sudut pandang kalian sendiri," ucap Ikram.
"Maaf ya, karena harus melibatkan mu dalam rasa bersalah ini, kalian berdua cepat sekali besar," ucapnya kemudian.
Ifraz mengunyah pelan makanannya, mengamati wajah Ikram yang masih menatap makanan, "abang ada yang terluka tidak?" tanya Ifraz lagi.
"Tidak ada, aku tidak selemah itu, semuanya hampir kering sempurna, jadi jangan khawatir," jawab Ikram.
"Abang, perasaan khawatir itu juga kami rasakan saat terjadi sesuatu dengan abang, karena itu jaga diri dengan baik dan jangan sampai terluka, itu juga sangat menyakitkan untuk kami," ucap Ifraz.
"Aku akan mengingatnya," ucap Ikram yang mengacak-acak rambut Ifraz dengan lembut.
"Habiskan susunya dulu sebelum keluar," pesan Ikram.
"Siap bos," ucapnya memamerkan deretan gigi hingga Ikran tidak terlihat lagi dari kamarnya.
"Abang, ada abang seperti mu di belakang kami, masalah apapun yang akan kita hadapi nanti rasanya sudah tidak ada yang di takutkan lagi," ucap Ifraz yang mulai membersihkan piring yang ada di depannya.
***
Sebuah pintu terbuka ketika Iriana hendak naik ke atas ranjang setelah selesai dari kamar mandi, "kalian boleh pergi, aku yang akan memindahkannya," ucap Ikram yang kini mulai memindahkan Iriana dari kursi roda ke atas ranjang kamarnya.
"Sudah tau terluka, masih saja ingin ke kamar mandi, apa yang ingin kau lakukan di sana?"
"Cuci muka," jawab Ellia singkat.
Iriana hanya melihat abangnya tanpa bicara, cukup takut sebenarnya, takut kena marah, "kenapa hanya menatapku? tidak ingin meminta maaf?" tanya Ikram.
Iriana langsung memeluk Ikram tanpa basa-basi lagi, "abang sorry, aku janji tidak akan bergerak sendiri nanti, aku akan mengikuti instruksi dari abang, maaf ya maafkan aku, jangan marah," ucapnya bahkan tidak memperdulikan luka operasi nya yang belum kering.
"Luruskan tubuhmu Iriana, jangan menggeliat begitu, pasti akan sakit nanti," ucap Ikram.
"Tidak sakit, akan jauh lebih sakit saat abang marah padaku," ucapnya merajuk.
"Astaga, siapa yang marah padamu, siapa yang bilang begitu, katakan siapa orangnya," ucap Ikram lagi.
"Aku sendiri yang bilang," jawab Iriana tanpa dosa.
"Sudah, sekarang berbaring dan istirahat yang benar," ucap Ikram.
"Ini tidak sakit sama sekali abang, dokter William sangat hebat dan melakukan tugasnya dengan baik, aku pasti cepat sembuh, jika saja dia belum menikah, aku pasti akan menikahinya," celetuk Iriana.
"Menikah menikah saja terus yang ada di pikiranmu, apa abang tidak cukup baik sampai kau masih harus mencari laki-laki lain sebagai sandaran," ucap Ikram yang membenarkan posisi Iriana agar lebih nyaman.
"He he, abang sangat sempurna, terlalu sempurna," jawabnya tanpa berfikir.
"Kalau besok aku mendengar mu berbicara menikah menikah lagi, akan abang nikahkan dengan Aro saja, ah atau dengan siapa yang menjadi lawanmu kemaren itu?" tanya Ikram menggoda.
Mata Iriana membelalak, "Abang jahat banget," gerutunya kesal.
"Benar sudah baikan?"
"Iya, tapi aku lapar,"
"Aku akan bertanya pada dokter William apakah Anna sudah boleh makan," ucap Ellia.
"Dia sudah boleh makan," ucap Ifraz yang baru saja datang dengan sebuah apel yang baru saja di gigitnya.
"Abang makan," ucap Iriana yang masih bersandar di tubuh Ikram.
Ifraz mendekati Iriana, menyodorkan buah apel yang baru saja di gigitnya, "makan saja, ini sudah modern, semua operasi yang kulakukan semuanya tanpa sakit, bahkan sudah ada yang bisa berlari," ucap Ifraz.
"Cih, abang masih harus tidur di ranjang dalam beberapa hari karena hasil operasi yang kamu lakukan,"
"Kalau untuk abang jelas beda, itu adalah salah satu cara agar abang bisa beristirahat dengan baik, jika tidak begitu pasti abang sudah bergerak kesana-kemari dan terluka lagi, yang jelas akan membuat aku, Iriana dan kakak ipar khawatir," jelas Ifraz.
"Kau yang melakukan operasi padaku?" tanya Iriana.
"Tidak,"
"Pasti iya, aku tau kau pasti malu mengakuinya Iraz, iya kan? kau kan yang melakukan padaku?" ucap Iriana yang memegang buah apel dan memasukkan ke dalam mulutnya pelan-pelan.
"Bukan aku, sejak tadi juga dokter William yang melakukan oeprasinya," elak Ifraz.
"Mas ada panggilan dari mansion,"
"Siapa?"
"Pak Nando,"
"Ada apa? kenapa dia tidak menghubungi ku sendiri," tanya Ikram.
"Tidak tau," jawab Ellia.
"Abang Ikram," panggil seseorang di sana.
"Ah Nadin, ada apa? kenapa sampai memakai ponsel Nando,"
"Iraz tidak bisa di hubungi,"
"Aku di sini ada apa?"
"Ah Iraz, kau tau warna peluru yang di tembakkan oleh Iriana? aku masih belum bisa menemukan pelurunya, sangat kecil dan sudah menyatu di pembuluh darah," ucap Nadin.
"Kau bisa melakukan operasi secara live? aku akan memandu mu dari sini,"
"Oke sebentar,"
"Bagaimana?"
"Kondisinya bahkan sangat fatal, saraf bagian atasnya tidak ada respon sama sekali," jelas Nadin.
"Kau pakai peluru yang mana dek? aku tidak tau kita punya senjata macam ini," tanya Ikram.
"Itu baru, itu hadiah yang akan kuberikan pada abang,"
"Iraz kau dengar aku,"
"Iya aku masih di sini, ada apa?"
"Kapan pulang, kita sudah lama tidak bertemu, aku sangat merindukanmu," ucapnya.
"Astaga, kita masih bisa bahas itu nanti, selesaikan dulu dia, masih sempet aja bahas gituan,"
***
Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.