
"Yes, tapi abang mau kemana,"
"Melamar seseorang,"
"Siapa?" tanyanya.
"Sudah abang pergi dulu," ucap Ikram.
Kali ini Ikram datang bersama Ginanjar dan juga Nando, ia benar-benar serius kali ini, Ifraz hanya akan diam dan tidak melakukan apapun, tapi ia sangat faham betul, setelah kepergian Nadin dia pasti akan hancur, sangat hancur, dan Ikram tidak akan membiarkan itu.
Perjalanan kali ini cukup memakan waktu, hampir tiga jam mereka berada dalam perjalanan, mau tidak mau harus menggunakan lajur darat, karena sangat tidak mungkin memakai kendaraan udara di area padat penduduk seperti kota tempat tinggal Nadin, begitu pikir Ikram.
"Kita hampir sampai tuan muda,"
"Berapa jam?"
"Dua puluh menit lagi,"
"Bolehkah berhenti di supermarket sebentar mas,"
"Baik nyonya,"
"Ingin mencari apa ?"
"Paman tidak makan apapun sejak kita berangkat pagi ini, aku khawatir akan buruk untuk kondisi kesehatan di usia paman sekarang," ucap Ellia.
"Pak Nando bahkan belum minum sama sekali," tambahnya.
"List apa saja yang kau inginkan, nanti biar Nando yang membelinya," ucap Ikram.
"Tidak, aku sendiri saja,"
"Baiklah, terserah padamu," ucap Ikram.
Mobil yang sangat mewah itu berhenti di sebuah supermarket yang sangat besar, sepertinya sangat lengkap, Nando membuka pintu untuk Ellia, "perlu aku membantumu,"
"No, akan ada banyak orang di dalam, wajah mas Ikram tentu akan membuat kehebohan di dalam sana," ucap Ellia.
"Biarkan Nando membantuku kalau begitu, jangan membawa apapun yang berat," ucapnya pada Ellia sebelum turun.
"Siap bos," ucapnya yang langsung turun dari mobil.
"Sangat menyenangkan bukan bersama seseorang seperti Ellia, dulu paman berfikiran buruk padanya, tapi dia sangat perhatian dalam hal apapun, bahkan sangat pengertian tentang semua hal yang kamu lakukan tanpa banyak bertanya seperti wanita pada umumnya," ucap Ginanjar.
"Paman menikah saja, agar tau bagaimana rasanya memiliki istri sepertinya, itu sangat menyenangkan," ucap Ikram, terlihat sekali rona bahagia di wajahnya itu.
"Tapi tidak semua wanita seperti Ellia kan? kemana lagi paman harus mencari wanita seperti istrimu itu, di lihat saja sudah membawa aura tenang untuk sekelilingnya," tambah Ginanjar.
"Perlu aku mencarinya?" tanya Ikram.
"Kalau sudah waktunya juga pasti akan ketemu, tidak perlu terburu-buru," ucap Ginanjar.
Ellia sudah terlihat dari dalam mobil, dia berlari seperti anak kecil dengan gaun mahal miliknya, sangat lucu sekali.
"Dia tidak kehilangan sisi polos dan sikap anak-anaknya, lucu sekali," ucap Ikram yang terdengar jelas di telinga Ginanjar.
"Dia bahkan pernah berlari mengejar tikus di dapur mansion dengan tongkat di tangannya, itu lucu sekali Ikram, kau harus melihatnya lain kali saat ada tikus berkunjung di dapur kita," ucap Ginanjar tidak bisa menahan tawa.
"Benarkah, apa aku meminta seseorang untuk mengirim satu truk tikus ke mansion agar aku bisa melihatnya," ucap Ikram random yang mana semakin tidak bisa membuat Ginanjar menghentikan tawanya.
"Kalian senang sekali, ada apa?"
"Tuan besar bahkan bisa tertawa selepas itu, ini pertama kali, biasanya beliau hanya tegang dan risau memikirkan para tuan dan nona muda, semua orang mulai berubah sejak nyonya muda datang ke mansion," gumam Nando dalam hati.
"Ada tikus," ucap Ikram.
"Dimana, bagaimana bisa tikus masuk mobil, aku sudah menangkap 15 tikus di dalam mansion, apakah di dalam mobil juga ada?" tanya Ellia gemas.
"Aku suka gemas dengan tikus," ucap Ellia.
"Perlu aku membelikan untukmu, aku bisa melakukannya agar kau senang," ucapnya yang hanya mendapat gelengan kepala tidak percaya dari Ellia.
"Ya Tuhan mas, kenapa bisa mikir sampai sana?" ucapnya tidak percaya.
"Dia hendak membeli tikus satu truk sejak tadi," ucap Ginanjar semakin tertawa lepas, mobil ini bahkan sudah bergetar karena suara tawanya.
"Aku salah ya,"
"Bagaimana bisa tuanku yang sangat pintar menjadi sedikit bodoh begini saat berhadapan dengan nyonya," batin Nando.
"Tidak, sudah cukup untuk tikusnya, ini untuk mas Ikram, ini roti selai keju kesukaan paman dan minum untuk pak Nando," ucap Ellia memberikan makanan dan minuman untuk mereka masing-masing.
"Aku hanya air?" tanya Ikram
"Ini rotinya, ini obatnya,"
Ikram menerima semua pemberian Ellia dan memasukkan ke dalam mulutnya, semua orang pun sama, Nando berkendara pelan agar semua orang yang ia layani bisa menikmati makanan dengan nyaman.
Dua puluh menit lebih sedikit, akhirnya sebuah apartemen yang cukup sederhana sudah berada di depan mereka.
"Nadin tinggal di sini?"
"Orang tuanya," jelas Ikram.
Tok tok tok
Pintu terbuka, "Ikram, kalian bahkan sampai datang gubuk kami, kami sedang mempersiapkan pernikahan, karena itu tempatnya masih sangat kotor dan tidak layak untuk menerima tamu," ucapnya sopan meminta semua orang untuk masuk.
"Tidak masalah bi, dulu kita juga sering tinggal di sini, rumah ini selalu sangat nyaman," ucap Ikram benar-benar membuat hati pemilik rumah tenang.
"Kemari dan duduk di sini, pak Ginanjar bahkan sampai datang kemari, ada apa ini ? apa Nadin membuat masalah dan melakukan sesuatu yang buruk?" tanyanya khawatir.
"Tidak bibi, Nadin sangat baik, tidak ada masalah dengannya," ucap Ellia tak kalah sopan.
"Kamu cantik sekali, sudah berapa lama bekerja di samping Ikram, dia sangat baik padamu kan, kalau dia melakukan sesuatu yang buruk, bilang saja padaku dan aku akan memukulnya," ucapnya yang tidak tau bahwa Ellia adalah istri Ikram.
"Wah aku tidak memperkenalkan dia dengan baik rupanya, perkenalkan dia menantuku, istri Ikram," ucap Ginanjar memperkenalkan siapa Ellia.
"Loh, kapan mereka menikah, kenapa bibi sampai tidak tau," ucapnya kecewa.
"Harus di rahasiakan agar semua orang tidak tau bi, bibi lihat kan kalau dia sangat cantik, aku tidak akan rela memperkenalkan dia di depan umum, semua orang akan jatuh cinta padanya dalam sekaki lihat nanti," ucap Ikram.
"Lihatlah suamimu, mulutnya seperti makan gula setiap hari, dia begitu sejak dulu," ucap Ibu Nadin menimpali.
"Ini makanlah, hanya ada makanan-makanan seperti ini sekarang, bibi hanya sendiri jadi tidak butuh stok banyak makanan," jelasnya.
"Sudah bi, jangan di keluarkan semua, kemari saja dan duduk di sini," ucap Ikram.
"Ah iya, kalian bahkan belum bilang ada apa?" ucapnya dengan beberapa toples jajan di tangannya.
Dengan telaten tangan renta itu membuka tutup toples makanan dan menyajikannya untuk semua orang di sana.
"Ada apa?"
"Uhm, begini Ratih, aku sebagai wali mereka meminta maaf sebelumnya jika sampai detik ini anak kami Ifraz belum memberi kepastian tentang hubungannya dengan Nadin, karena itu kami datang untuk meminta putrimu untuk Ifraz," ucap Ginanjar.
"Tapi dia sudah harus menikah besok, semua sudah siap," ucap Ratih
***
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar kak
Selamat membaca