
"Ini di buat khusus untukmu, daging setengah matang dengan lelehan keju yang di bakar, steak favoritmu," ucap Ikram membelai lembut rambut Ellia yang kini dengan sebuah senyum cantik di bibirnya menatap Ikram tak percaya.
"Cepat di makan, nanti tidak enak jika dingin," ucap Ikram lagi pada Ellia yang masih menatapnya.
Dengan sebuah senyum yang masih mengembang di wajah cantiknya, Ellia masih menatap Ikram, "aku pasti akan langsung menghabiskannya, terimakasih mas Ikram," ucapnya semakin senang.
Bukan mengambil steak nya, tapi sebuah roti yang masih ia makan beberapa gigit, "aku akan menghabiskan ini dulu, sayang jika di buang," ucapnya.
Baru saja Ellia hendak memasukkan potongan roti ke dalam mulutnya, namun sebuah tangan menghentikan gerakannya, "Tidak perlu di makan, makan saja steak nya, rotinya aku yang akan makan," ucap Ikram lagi.
"Benarkah? makasih mas Ikram," ucapnya senang sekali, ia bahkan langsung memeluk Ikram tidak peduli berapa banyak pasang mata yang memperhatikannya saat ini.
"Pelan-pelan kakak ipar, kami tidak akan berebut denganmu, kakak bisa memakannya sendiri," ucap Iriana.
Ifraz menatap semua orang di sana, "dia tau cara menghargai pemberian bang Ikram dengan baik, jika ingin marah dan merebut kembali steak kakak ipar, seharusnya bisa saja bang Ikram merebutnya langsung, tapi bang Ikram justru malah membawa satu truk penjual steak kemari, abang memang selalu baik," batin Ifraz yang masih memasukkan sesuap demi sesuap sendok ke dalam mulutnya.
"Kalau kalian ingin nambah, ambil saja steak nya,"
"Siap bos," ucap mereka serentak.
"Iriana,"
"Hm," ucapnya yang masih memasukkan potongan pizza ke dalam mulutnya.
"Boleh pacaran, tapi tidak aneh-aneh, selangkah saja melangkahi aturan abang, kau tau sendiri akibatnya,"
"Pft,"
Iriana tersedak, tak hanya dia, Ifraz bahkan menyemburkan air yang sudah berada di dalam mulutnya.
"Sejak kapan lu punya pacar?" tanya Ifraz tidak percaya.
"Dari mana abang tau?"
"Tidak penting,"
"Jadi beneran lu udah punya pacar na?" tanya Ifraz lagi semakin tidak percaya.
"Abang, kok bisa dia? dengan siapa? siapa orangnya?" cerca Ifraz dengan banyak sekali pertanyaan.
Iriana tidak berani menjawab, gadis ini hanya diam di tempatnya dengan tangan penuh saus pizza, "Logan," jawab Ikram.
"Logan yang mana mas?" tanya Ellia.
"Asisten kak Zelin itu? bukankah dia jarang tampil dan hanya di balik layar, sangat jarang dia keluar, bagaimana bisa dia dan Logan?" tanya Ifraz lagi bingung.
"Kami hanya dekat, belum sampai ke arah sana," ucap Iriana.
Ikram hanya tersenyum, "yang penting kau bisa jaga diri dengan baik, aku dan Ifraz sangat menyayangi dan menghormati mu, kami selalu melakukan yang terbaik untukmu selama kami bisa, karena itu paling tidak dia juga bisa melakukan hal yang sama seperti yang kami berdua lakukan kepadamu," ucap Ikram.
"Tunggu tunggu, sejak kapan?" tanya Ifraz.
"Baru beberapa hari saja,"
"Abang, jangan terlalu berlebihan, ini hanya kisah anak muda saja, tidak perlu terlalu serius," ucap Ifraz bernafas lega.
"Bagaimana mas Ikram tau?" tanya Iriana lagi.
"Mas Ikram," ucap Ellia memegang lembut lengan Ikram agar laki-laki ini bisa lebih sabar.
"Abang, mungkinkah mereka hanya, uhm, hanya sedang mencoba melakukannya, bukan bermaksud ingin melakukan," ucap Ifraz berusaha membantu adiknya yang sudah menunduk tidak berani menatap Ikram, meskipun ia sendiri tau tidak seharusnya Iriana melakukan itu.
"Aku percaya pada Iriana, aku juga percaya dengan Logan, dia salah satu bawahan ku yang setia, tapi aku tidak percaya dengan nafsu manusia, dia menipu, memanipulasi, this is not love, this is just lust, kalian berdua harus mulai belajar membedakan itu,"
"Abang, Iriana mencintainya,"
"Cobalah dulu, abang hanya mengingatkan, semua keputusan tetap ada padamu, abang juga tidak pernah bilang kau harus mengakhirinya," ucap Ikram.
"Dimana dia sekarang, dia bahkan tidak terlihat hari ini,"
"Sedang menyiapkan pelatihan untuk mereka dua menit lagi," ucap Ikram.
"Oke, aku juga akan ikut pelatihan, hari ini tubuh ku sangat sakit gara-gara semalam, sudah lama sekali aku tidak melakukannya bang, aku butuh melemaskan tubuhku," ucap Ifraz mengubah topik pembicaraan.
"Aku akan datang melihat nanti, sekarang selesaikan makanannya dulu," ucapnya.
"Bagaimana bang Ikram bisa tau, aku sudah menyembunyikan Logan dengan baik, aish, bagaimana ini, pasti akan sangat sulit menggapai ekspektasi mereka berdua, kenapa aku memiliki dua abang yang sempurna seperti mereka," ucap Iriana sedih.
***
Pagi ini semua orang sedang berkumpul, Iriana entah terkena setan apa ingin bertarung dengan Aro, yang paling hebat di tempat ini.
"Aku ingin mencoba dengan Aro," ucapnya.
"Wah bahkan seorang wanita berani menantang Aro,"
"Nona, tidak mungkin wanita cantik sepertimu bisa mengalahkan bos kami, lebih baik main boneka saja di kamar, kami tidak ingin membuat Anda menangis dan berlari pada bos Ikram karena kalah," teriak yang lain.
Aro datang mendekati Iriana, "jangan salahkan aku jika sesuatu terjadi padamu, kau yang memaksaku untuk turun tangan langsung,"
Namun belum selesai Aro bicara, laki laki itu sudah menarik Iriana hendak merubuhkan nya, namun tubuh kecil tinggi itu tetap tidak kehilangan keseimbangan, dengan sikap sempurna ia menarik Aro dan melemparkannya ke lantai.
Iriana memutar tubuhnya dan menghadap Aro yang berusaha bangkit dengan sebuah pistol di tangannya.
"Saya di didik bang Ikram untuk menghormati yang lebih tua, bukan takut pada yang lebih tua, mau setinggi apapun derajat anda di tempat ini, jika tidak menghargai saya, tidak akan saya hargai balik, berani injak kaki saya, saya akan injak kepala anda,"
"Ingat, kita hanya beda umur, bukan nyali," tambahnya.
Dor dor dor, beberapa kendi berisi air terjatuh satu persatu di lantai, tiga tembakan sempurna yang di lakukan oleh Iriana semakin membuat orang memandang takjub, "dalam sejarah, tidak ada yang namanya manusia takut pada manusia, sampai sini faham?" ucapnya memegang pundak Aro dan turun dari ring.
"Ah, jangan lupa minta maaf pada kakakku, dia menanti permintaan maaf mu, jangan membuatnya menunggu nanti bang Ikram akan marah," ucapnya.
Sepasang mata mengamati semua kejadian ini, "dia sudah semakin ahli, aku tidak tau apakah sudah mendidiknya dengan benar atau tidak, tapi melepaskannya pada Logan cukup berat juga," ucap Ikram yang berjalan kembali dengan sebuah tongkat menyangga tubuhnya.
***
Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.