
"Memancing, tapi tidak dapat, he he," tawanya yang langsung berhenti karena bibir basah yang mendarat cantik di bibir Ellia.
"Abang, kita masih ada di sini loh," ucap Iriana yang membuat Ikram langsung menarik tubuhnya, menjauh dari bibir Ellia.
Laki-laki yang tengah berdiri itu mengusap lembut bibir basah dengan ibu jarinya yang semakin membuatnya terlihat sangat menawan.
"Kalian di sini sejak kapan?" tanya Ikram.
"Sejak abang datang kesini," ucap Iriana.
Ikram hanya memainkan lidahnya, menatap Ellia dengan pipi merah karena malu, "pergilah, kalian membuatnya malu," ucap Ikram kemudian tanpa canggung sama sekali.
"Tenang saja kakak ipar, kalian kan sudah menikah, kenapa harus malu, hanya tinggal kami di sini," ucap Ifraz namun Ellia masih duduk di tempatnya tidak berani menoleh sama sekali.
"Pergilah, bisa-bisa dia duduk di sini sampai pagi kalau kalian terus menggodanya," ucap Ikram.
Kedua orang kakak beradik itu hanya pergi dengan sebuah tawa yang tidak surut dari bibir keduanya, "mereka sudah pergi, kenapa sampai semerah itu, aku hanya mencicipi pelan," ucap Ikram.
"Mas Ikram, nakal, tidak harus di tempat umum begini, kan kita bisa ke kamar atau di mana gitu yang sepi,"
"Yasudah ayo ke kamar," ucap Ikram yang membuat Ellia membulatkan matanya tidak percaya.
"Ayo, cepat ke kamar," ucap Ikram lagi yang semakin membuat Ellia membeku di tempatnya.
***
Hari sudah malam saat beberapa mobil mulai memasuki sebuah halaman sangat luas, ini tidak terlalu larut namun karena aktifitas yang cukup padat hari ini sehingga membuat Ellia tertidur saat dalam perjalanan ke mansion, "huoamm, akhirnya sudah sampai rumah," ucap Ellia.
"Sudah bangun ?" tanya Ikram yang cukup lama merasa kesemutan di bagian kaki karena menjadi bantal Ellia.
"Sudah bangun sejak tadi, tapi masih nyaman tidur di sini," ucap Ellia yang masih tidak mau bangun dari paha Ikram, justru malah menggerak-gerakkan kepalanya.
"Bangunlah, jangan menggeliat di sana," ucap Ikram.
"Tidak mau tidak mau," ucap Ellia semakin senang menggerakkan tubuhnya.
"Hm, kau ini,"
"Kita sudah hampir tiba tuan muda," ucap sopir yang tengah mengendarai mobil Ikram.
"Oke,"
"Cepat bersiap, kita sudah hampir sampai," ucap Ikram pada Ellia.
Ellia segera bangun dari tidurnya, ia tidak peduli dengan Andara yang juga berada di kursi depan, "masa bodoh toh mas Ikram suamiku, aku tidak perlu malu," ucapnya dalam hati.
Sebuah pintu terbuka, perlahan Ikram keluar dari dalam mobilnya dengan Ellia yang lebih dulu keluar dari mobil, beberapa orang sudah berdiri di sana menyambut dengan rapi, "selamat datang kembali di mansion tuan muda," ucap mereka serentak.
"Wah, kalian terlihat sangat bahagia mendegar berita kepulangan ku, lama sekali kita tidak bertemu ya," ucap Ikram.
"Ikram," panggil Ginanjar.
"Wah paman, maaf sudah banyak merepotkan paman selama aku tidak ada," ucap Ikram yang langsung memeluk tubuh yang cukup berusia di depannya.
"Tidak masalah, selama kau baik-baik saja, itu sudah cukup," jelas Ginanjar.
"Aku baik-baik saja, paman tidak perlu mengkhawatirkan aku, paman bagaimana kabarnya?" tanya Ikram balik.
"Semua baik-baik saja, kau hanya harus menjaga diri dengan baik saja sudah cukup membuat semuanya baik-baik saja, sudah sekarang kalian istirahat," jelas Ginanjar
"Silahkan beristirahat tuan muda, kami akan menyiapkan segala kebutuhan anda," ucap kepala pelayan.
"Siapkan makan malam dulu, aku masih harus melihat hutan yang sudah di acak-acak oleh Ifraz," ucap Ikram.
"Mas Ikram nggak masuk dulu ?" tanya Ellia.
"Aku pergi sebentar saja oke, kau masuklah dengan Iriana dan Andara, paman ku serahkan mereka padamu," ucap Ikram berpesan.
"Tentu saja bersamaku kakak ipar, kan aku ada di sini," ucapnya pada Ellia.
"Kita masuk saja dulu kakak ipar, abang itu sedang rindu dengan momo mochi," ucap Iriana.
"Momo mochi ? siapa ?"
"Itu hewan peliharaan tuanĀ muda yang ada di hutan nyonya,"
Ellia mengangguk mantap dengan mulut membentuk huruf O, "Ayo Andara," ajaknya.
Andara sangat terkejut saat ia masuk kedalam istana ini, ini benar-benar megah, ia tahu Ikram sangat kaya, tapi tidak pernah berfikir akan sekaya ini, "dia bisa tinggal di tempat kami setelah tinggal di tempat seperti ini? setelah banyak sekali pelayan yang datang tempo hari untuk melayaninya, kapal pesiar super mewah dengan fasilitas lengkap dan istana sebesar ini," ucap Andara dalam hati, ia berkali-kali menelan ludahnya.
"Bos Ikram seperti bunglon, dia bisa berubah menjadi apapun di manapun tempat ia berada," batin Andara.
Semua orang sudah masuk ke dalam mansion dan masuk ke dalam kamarnya masing-masing untuk beristirahat sejenak sampai waktunya makan malam.
***
Keempat hewan Ikram mengaum cukup keras, hingga membangunkan Logan dari istirahat nya, "kenapa kalian berteriak di malam hari, ini mengganggu tidurku,"
"Tidur saja lagi, kenapa menyalahkan hewan yang bahkan tidak mengerti apa yang kamu bicarakan,"
"Hanya seorang bocah saja berani bicara seperti itu padaku," jawab Logan.
"Bocah ini juga yang sudah menyelamatkan nyawamu,"
"Aku lebih baik mati dari pada harus berada di sini," ucapnya semakin kesal, terlihat sekali dia sedang tidak sabar.
Auman hewan sungguh tidak berhenti begitu saja, mereka semakin keras seolah mengetahui ada yang datang, "wah wah, kalian bahkan sudah menyambut kedatangan ku," ucap Ikram yang baru saja masuk dan meminta penjaga membuka kunci rantai di terali besi.
"Abang," teriak seorang wanita yang sejak tadi berada di sana.
Hewan buas itu langsung menyerbu dan menyambut kedatangan Ikram, Ikram hanya mengelus lembut kepala mereka satu persatu.
"Abang bagaimana kabarnya?"
"Aku baik-baik saja, apakah sulit di sini? maaf harus membuatmu turun tangan sendiri," ucap Ikram.
"Tidak masalah, semua akan aku lakukan untuk bang Ikram," ucapnya sambil memberi sebuah tanda cinta dari jarinya.
"Ikram," panggil Logan.
"Wah aku sampai lupa kau ada di sini," ucapnya.
"Bagaimana adikmu? dia sudah mati?" tanyanya dengan sangat yakin.
"Sepertinya aku akan membuatmu kecewa, dia masih hidup dengan baik dan bahagia sekarang," ucap Ikram meminta sebuah kunci agar bisa masuk ke dalam sel Logan.
Laki-laki yang masih menggunakan infus di tangannya itu bahkan tidak bisa bergerak bebas karena luka operasi yang cukup parah di kedua bahunya.
"Jangan buka, jangan buka pintunya," ucap Logan.
Ikram hanya mengeluarkan seringai, "takut dengan mereka?" tanya Ikram yang tidak di jawab oleh Logan, butiran keringat sebesar biji jagung terlihat di dahi Logan sudah cukup menjawab pertanyaan Ikram.
"Nadin, ayo kita makan malam bersama, aku masih tidak minat bermain dengannya," ucap Ikram yang meninggalkan Logan dengan suara teriakan karena Momo Mochi yang semakin mendekatinya.
***
Wah author beneran seneng banget kalau ada banyak sekali komentar puas yang reader tulis setelah baca cerita ini.
Terimakasih banyak untuk semua dukungan yang selalu kalian sampaikan hingga detik ini.
Selamat membaca.