
Ellia mengambil gelas yang berada di tangan Ikram, namun mata itu terkejut dengan tangan Ikram yang memerah dengan luka cukup besar, "tunggu, ini, ini kenapa mas ?" tanya Ellia panik memegang tangan Ikram di bagian yang tidak merah.
"Tidak sakit, hanya terkena tumpahan air ketika membuat ini tadi," ucapnya menatap gelas yang ada di tangannya.
Mendengar itu membuat Ellia dengan segera mengambil susu dari tangan Ikram kemudian sengaja memencet bagian jari Ikram yang memerah, "ah, sakit Ellia,"
"Sakit kan ? kenapa tidak hati-hati sampai terkena air panas begini," ucapnya semakin panik.
"Makanya minum itu, aku sudah membuatnya dengan susah payah," jawab Ikram.
"Kenapa masuk ke dalam dapur jika tidak bisa memasak mas, kan bisa menungguku,"
"Ya aku hanya khawatir kau kelelahan, ini sudah lewat jam sarapan dan kau masih belum bangun dan tidak makan apapun, karena itu aku membuatkan susu, lagi pula aku bisa memasak, aku hanya tidak beruntung saja hari ini, aku selalu membuat makanan untuk kedua adikku sebelumnya." jawab Ikram jujur.
"Apakah karena mas Ikram adalah dosen, mas Ikram pintar sekali menjawab ucapan ku, lalu bagaimana ini, aku tidak tau cara mengobatinya," ucap Ellia yang sudah terlanjur panik.
"Itu adalah ucapan ku sebelumnya Ellia, kenapa kau berbicara seperti aku," sanggah Ikram.
"Sudah-sudah, sekarang bagaimana ini mas, ini sangat parah, apakah ada obat luka bakar di sini ? atau apotik terdekat, ah iya apotik terdekat, aku harus mencarinya," ucap Ellia dengan cepat yang meninggalkan senyuman di bibir Ikram.
"Ini tidak apa-apa, aku sudah merendamnya dengan air dingin tadi, ini bukan masalah yang harus di besar-besarkan," tambah Ikram menenangkan.
"Tapi itu pasti perih, aku juga akan mencari dokter di dekat sini," tambahnya.
"Tidak Ellia, aku tidak apa-apa, aku tidak terbiasa dengan dokter lain selain Ifraz, sudah jangan memusingkan diri sendiri, duduk di sini saja, aku akan memesan makanan di toko terdekat, kau tidak perlu memasak oke," tambah Ikram.
Ellia segera mengambil ponselnya yang tergeletak di meja, dengan menahan perih di pangkal kakinya, Ellia turun dari ranjang dan mengirim sebuah pesan entah kepada siapa.
Melihat Ellia yang tidak juga menurut padanya membuat Ikram segera bangkit dari ranjang dan menarik tubuh kecil itu kembali ke atas ranjang bersamanya, "tidak bisakah menurut padaku satu minggu saja, jangan melawan dan tetap di sini oke,"
"Tapi gimana dong tangannya, ini sudah melepuh,' ucapnya dengan menatap tangan Ikram yang sudah mulai menggelembung berisi air.
"Sudah ayo tidur lagi saja, sambil menunggu makanan," tambah Ikram lagi.
Ellia masih kalah tenaga dengan Ikram, gadis ini mengikuti Ikram dan berbaring lagi di sana, Ikram masih bergerak di dadanya, mencari posisi ternyaman untuknya bersandar, "mas Ikram jangan mulai," ucap Ellia.
Ikram hanya meringis mendengar ucapan Ellia, laki-laki ini bahkan belum makan, tapi sudah menariknya kembali ke tempat tidur, cukup lama keduanya berada di dalam keheningan, Ellia tidak berani bergerak karena khawatir mengganggu Ikram beristirahat.
Ting tong ting tong.
Sebuah bel terdengar dari luar, "apa makanan sudah datang ?"
Baru Ellia hendak membangunkan Ikram, "mas, sepertinya makanan sudah datang, aku pergi membuka pintu dulu," ucap Ellia yang masih belum mendapat respon dari Ikram, laki-laki ini masih enggak membuka matanya meskipun tidak tidur.
"Abang," panggil Ifraz yang sudah membuka pintu.
"Ah " teriak Ellia yang sadar kancing kemeja bagian atasnya tidak tertutup sempurna.
Ikram yang terkaget segera menoleh ke arah pintu dimana adiknya ini berada, "Ifraz tutup matamu," ucapnya begitu melihat Ellia yang bersembunyi di balik selimut.
"Abang, bagaimana masih sempat melakukan itu dengan tangan terkena luka bakar,"
"Tunggu aku di luar," jawab Ikram.
"Kau menelfon nya ? bagaimana dia bisa tau ?" tanya Ikram pada Ellia.
"Aku mengirim pesan padanya, tapi kenapa cepat sekali datang,"
"Mereka semua memang selalu berada di sisiku, di tempat yang aku sendiri tidak tau, ini adalah bentuk pengamanan, aku bahkan tidak tau mereka berada di mana dan menyamar sebagai apa,"
"Tapi lain kali jangan sembarang mengirim pesan begitu tanpa izinku mengerti,"
"Siap mas,"
"Ini karena tangan mas Ikram tidak bisa diam," tambah Ellia tidak ingin di salahkan.
"Sudah mandi dulu sana, aku yakin dia tidak datang sendiri, pasti juga ada beberapa makanan yang sudah siap di sana," tambah Ikram yang mengecup kening Ellia sebelum turun dari ranjang.
Kecupan itu membuat Ellia tertegun, gadis ini tersenyum, Ikram memperlakukannya dengan sangat baik terlepas dari berapa banyak rasa kecewa yang sudah ia berikan pada laki-laki itu.
***
"Lu ngapain kesini ?" tanya Ikram.
"Abang, abang udah kikuk kikuk dengan kakak ipar ? hah ? abang ? abang ?" tanyanya tidak sabar mendapat jawaban dengan mengelilingi tubuh Ikram seperti anak kecil meminta mainan.
"Itu wajar kan ? kita sudah menikah," ucap Ikram santai meminum air yang baru saja ia ambil dari kulkas,
"Tapi sebelumnya abang bahkan pisah kamar, kenapa sekarang udah kikuk kikuk aja, secepat itu," tanya Ifraz heran.
Peletak
"Abang," rengek nya manja.
"Anak kecil tidak boleh tau, nggak usah kepo," tambahnya yang membuat Ifraz cemberut.
"Dasar abang, nakal," ucap Ifraz menepuk dahinya.
Ikram menyerahkan tangannya pada Ifraz agar laki-laki ini berhenti bicara, "kenapa abang sampai terluka, biasanya abang selalu berkutat di dapur,"
"Sedang apes," jawabnya.
"Aku akan memberikan salep, dan minum obatnya agar cepat kering,"
"Ini tidak parah bukan ? aku bisa mengatasinya sendiri, seharusnya Ellia tidak menghubungimu,"
"Apa aku harus menyiram seluruh tubuh abang dengan air panas baru bisa dikatakan parah hah ?" ucapnya kesal.
Kring kring kring.
Sebuah panggilan masuk di ponsel Ifraz cukup mengagetkan semua orang di sana, "hey, kenapa memakai nada dering aneh seperti itu," tanya Ikram yang hanya di jawab guratan aneh di wajah Ifraz.
Ikram hafal ekspresi wajah itu, "Iriana ?" tanyanya pada Ifraz yang hanya di jawab anggukan kepala olehnya.
"Kenapa ngasih tau dia ? matilah aku," ucap Ikram lemas.
"Sudah abang angkat saja telfonnya, atau dia akan semakin parah,"
Ikram menyiapkan diri dengan sedikit berdehem, adiknya yang satu itu sangat protektif padanya, dengan yakin ia menekan tombol hijau itu, "abaaaaangggggggg" teriak sebuah suara yang memekakkan telinga terdengar dari sana, Ikram yang kaget langsung menjatuhkan ponsel itu.
"Astaga, dia lebih ganas dari singa," kode Ikram pada Ifraz.
"Iriana adik abang yang paling cantik, bagaimana kabarmu ? nyaman tidak di sana ?" tanyanya.
"Kenapa abang tidak bisa menjaga diri sampai terkena air panas."
"Ifraz hanya hiperbola, ini hanya luka ringan," ucapnya dengan mata menatap Ifraz agar segara membantunya berbicara dengan Iriana, atau gadis ini akan banyak sekali memberinya petuah.
"Benar Iriana, ternyata kakak ipar terlalu khawatir, ini hanya luka memerah saja, kakak ipar sangat mencintai abang, karena itu kakak ipar sangat khawatir, dan bergegas menelfon ku,"
"Aku tidak percaya, aku akan datang ke sana," ucapnya yang langsung menutup panggilan telfon secara sepihak.
"Matilah abang," ucapnya lemas.
TO BE CONTINUE