
Aldho masih memperhatikan Cindy yang tengah terlelap. Adik kecilnya kini telah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Dan takdir yang membuatnya menjadi pasangan suami istri. Meski kadang orang memandang aneh tentang mereka namun nyatanya cinta mengalahkan segalanya.
Di belainya pipi mulus Cindy dengan lembut membuatnya sedikit menggeliat dan merapatkan tubuhnya ke dekapan Aldho. Tubuh mereka masih sama-sama polos hanya terbalut selimut.
Aldho menatap ke luar jendela dan terlihat Langit mulai gelap. Aldho melihat jam sudah menunjukkan pukul 19.00.
Dengan malas Aldho pergi mandi dan memakai pakaiannya kemudian keluar kamar. Membiarkan cindy beristirahat. Di bawah tampak Mama Grace sedang menemani Selina bermain.
"Papa, mama mana?..." sapa Selina.
"Hai sayangku. Mama masih tidur. Dia kelelahan" Aldho menghampiri Selina. Kemudian Selina menceritakan semua kegiatannya hari ini. Sehari tanpa cerita dari putrinya membuat Aldho terasa hampa.
Sementara di kediaman Pak Theo tampak Rebecca yang begitu cemas sebab hingga petang Roger belum juga pulang. Dia menelpon berkali-kali namun tidak diangkat.
Tak lama kemudian terdengar suara bel pintu. Bi Lila yang membuka pintu rumah tersebut tampak terkejut karena yang datang adalah dua orang polisi.
"Maaf apa benar ini kediaman Pak Roger?" Polisi tersebut menunjukkan kartu identitas Roger.
"Benar Pak, maaf ada apa ya?" tanya Bi Lila.
"Bisa kami bertemu dengan keluarganya?" Akhirnya Bi Lila memberitahu Rebecca dan Pak Theo.
Mereka tampak terkejut ketika polisi datang.
"Maaf kami harus melaporkan bahwa saudara Roger mengalami kecelakaan dan saat ini beliau berada di rumah sakit X" mendengar penjelasan polisi tersebut langsung membuat Rebecca dan Pak Theo terkulai lemas.
Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa Roger mengalami musibah.
Tanpa menunggu lama Rebecca dan Pak Theo langsung bergegas ke rumah sakit tempat Roger dirawat.
Kondisi Roger cukup serius. Dia tak sadarkan diri dan lengan kanannya mengalami patah tulang serta tulang betisnya retak sehingga harus menjalani operasi.
"Dokter lakukan yang terbaik untuk selamatkan suami saya" sambil terisak Rebecca memohon kepada dokter.
Sementara Pak Tirta yang sedang piket kerja mengetahui hal tersebut karena kebetulan rumah sakit tersebut tempat Pak Tirta bekerja.
"Rebecca, ada apa sayang?"
Rebecca langsung berhambur memeluk Pak Tirta dan menceritakan bahwa Roger mengalami kecelakaan.
"Ayah, Roger kecelakaan" Rebecca terus menangis.
"Anakku tenanglah, Dokter pasti berusaha terbaik untuk menyelamatkan Roger.
Pak Tirta langsung menghubungi Aldho dan memberitahu tentang Roger.
"Iya Ayah, aku akan segera ke sana" balas Aldho melalui teleponnya.
Aldho langsung memberitahu semua orang kecuali Selina. Karena dia pasti syok.
Aldho hendak memberitahu Cindy. Dia masuk ke kamar ternyata Cindy sudah bangun dan selesai mandi.
"Ada apa sayang?" Cindy melihat Aldho tampak gelisah.
"Roger kecelakaan. Sekarang di rumah sakit ayah" ujar Aldho.
Cindy sangat terkejut. Dia langsung bersiap untuk pergi menemui Roger.
Di sepanjang jalan Cindy merasa sangat gelisah. Dia terus memikirkan kecelakaan Roger pasti ada kaitannya dengan kejadian siang tadi. Saking paniknya membuat Cindy merasa mual.
"Sayang aku merasa mual. Bisa menepi sebentar?" Akhirnya Aldho menepi di sisi jalan untuk membantu Cindy.
Aldho langsung menenangkan Papanya sementara Cindy langsung memeluk Rebecca. Tangisnya pecah di pelukan Cindy, perasaan Rebecca saat ini benar-benar kacau.
"Rebecca. Aku turut sedih mendengar musibah ini. Tapi percayalah Roger pasti baik-baik saja"
Satu jam berlangsung operasi Roger. Saat itu pula Rebecca tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"jika bisa bertukar posisi aku bersedia menggantikannya. Aku tidak bisa melihatnya kesakitan" gumam Rebecca.
Cindy hanya bisa tertegun mendengar ucapan Rebecca.
"Roger, padahal cinta Rebecca begitu besar kepadamu. Tapi kenapa malah kamu sia-siakan?" batin Cindy.
Beberapa polisi menghampiri Rebecca untuk memberikan barang-barang berharga milik Roger seperti ponsel, jam tangan, dompet dan lainnya.
Sementara Rebecca memeriksa barang-barang Roger dia juga mengecek ponselnya apakah masih berfungsi.
Ternyata ponselnya masih berfungsi dengan baik. Banyak pesan dan telepon masuk salah satunya dari dirinya yang beberapa saat lalu menelponnya. Kemudian dia melihat sebuah pesan dari Cindy. Rebecca membaca pesan itu dan dia sangat terkejut.
Jadi selama ini Roger masih berusaha menggoda Cindy bahkan dia menulis pesannya terang-terangan mencintai Cindy.
hatinya hancur seketika seperti dihantam ribuan batu. Suami yang selama ini dia cintai rupanya masih menyimpan perasaan untuk wanita lain. Terlebih wanita itu adalah saudara iparnya sendiri.
Sambil berkaca-kaca Rebecca menatap Cindy yang sedang dirangkul oleh Aldho. Dia tidak percaya bahwa Roger begitu mencintai Cindy.
Kini perasaan Rebecca menjadi campur aduk. Dia mengkhawatirkan Roger namun dalam hatinya juga merasa dikhianati. Perjuangannya selama bertahun-tahun kini sia-sia.
Tak berselang lama perawat datang menghampiri. "Pak Roger sudah mulai siuman tetapi beliau terus memanggil nama Cindy. Apakah di sini ada yang bernama Cindy?"
Seketika semua orang terkejut. Bagaimana mungkin Roger malah memanggil Cindy bukannya Rebecca.
"Maaf, apa tidak salah? Istrinya bernama Rebecca bukan Cindy" ujar Pak Theo.
"Tidak pak, saya mendengar sangat jelas bahwa beliau memanggil nama Cindy" ujar perawat itu.
Semua orang kini menatap Cindy. Tak terkecuali Aldho. Guratan kecewa tampak tergambar di wajah Aldho.
"Maaf, aku tidak mau" Seketika Cindy berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
Rebecca juga langsung pergi menyusul Cindy kemudian diikuti Aldho di belakangnya.
Cindy sampai di taman depan rumah sakit. Dia benar-benar kesal dan merasa tidak enak kepada semua orang. Seolah dia masih memiliki hubungan dengan Roger.
"Jully, dia mencarimu." teriak Rebecca dari belakang.
Seketika Cindy menoleh ke arah Rebecca. "Aku tidak peduli. Dia bukan siap-siap untukku" ujar Cindy acuh.
"Tapi dia masih mencintaimu. Aku tahu semuanya. Dia Masih berusaha mengejarmu" ucapan Rebecca seolah mengingatkan Cindy dengan kejadian siang tadi.
Cindy pun berjalan mendekati Rebecca. Diraihnya tangan Rebecca. "Tidak Rebecca. Semua itu tidak benar. Diantara kami sama sekali tidak ada sesuatu apapun" Cindy mencoba meyakinkan Rebecca.
"tapi apa maksud pesan ini? Jelas dia masih menggoda mu kan" Rebecca menunjukkan pesan singkat di ponsel Roger.
Cindy pun langsung menggeleng. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Rebecca akhirnya tahu.
"Rebecca. Dengarkan aku, jangan pernah berpikir macam-macam ya" mohon Cindy.
Rebecca langsung memeluk Cindy dan Tangisnya langsung pecah saat itu juga. Dia sudah tidak bisa menahan kesedihannya lebih lama lagi.
"Aku benar-benar tidak menyangka bahwa Roger setega ini kepadaku. Entah apakah aku masih sanggup bersamanya atau tidak. Aku benar-benar kecewa."