Baby Blues

Baby Blues
bab 38 berdamai



Sinar mentari pagi mulai memancar dibalik tirai-tirai kamar Cindy. membuat gadis itu mulai menggeliat meregangkan tubuhnya. Ketika hendak bangun dia merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya. Seketika dia menoleh ke belakang.


Terlihat Aldho sedang tidur pulas sambil meringkuk menyembunyikan wajahnya di punggung Cindy.


Cindy berbalik dengan begitu pelan agar Aldho tidak bangun. Dia perhatikan wajah tampan suaminya yang terlihat sendu. Dia juga masih memakai jaket dan celana jeans serta kaus kaki yang belum dilepas. Mengingat kejadian kemarin membuatnya bingung dan bersedih.


Cindy membelai lembut rambut Aldho membuat pria itu perlahan mulai bangun. Dia mengucek kedua matanya dan mengerjapkan pelan.


"Selamat pagi cintaku" ucap Aldho dengan suara berat khas bangun tidur.


"Pagi sayang" Cindy nampak tersenyum melihat keadaan Aldho yang baik-baik saja.


"Maaf kemarin aku membuatmu khawatir" Aldho mengecup Cindy singkat.


"melihatmu pulang dengan utuh sudah membuatku senang"


"Memangnya bagaimana kalau aku tak utuh? pulang-pulang tubuhku tinggal separuh?" goda Aldho yang langsung disambut dengan tawa Cindy.


"Bukan begitu maksudku kamu pulang dengan keadaan yang baik sayang"


Melihat Aldho yang kembali ceria membuat Cindy lega. Sepertinya dia sudah lebih baik dibanding kemarin. Bahkan hari ini Aldho juga bergabung sarapan dengan kedua orang tuanya seolah tidak ada masalah.


Hari ini Mama Grace dan pak Tirta nampak berbincang santai di taman. Pak Tirta sedang menanam koleksi tanamannya yang baru.


"Apa yang ayah tanam? apa itu jenis bunga baru?" Aldho menghampiri ayahnya.


"Iya ini namanya Anthurium veitchi, Ayah baru mendapatkan dari teman. Bagus kan?"


"Bagus Ayah sepertinya cocok diletakkan di bagian pojok dekat philodendron"


Aldho dan Pak Tirta selalu cocok soal tanaman. Hobi pak Tirta yang mengoleksi dan bercocok tanam selalu mendapat respon positif dari Aldho.


Mama Grace nampak bahagia melihat Aldho yang seperti biasanya. Sebenarnya kejadian kemarin membuat dirinya takut jika Aldho akan membenci dirinya.


"Aldho nanti kamu ke rumah sakit jam berapa?" tanya Pak Tirta.


"Jadwalku sore yah, ada apa?" ucap Aldho sembari membantu menata tanaman hias.


"Boleh ayah nebeng? mobil ayah sedang di bengkel kebetulan ayah juga jadwal masuk sore"


"Baiklah nanti Aldho antar"


Aldho melihat kedua orang tuanya yang begitu menyayanginya. Dia begitu beruntung dibesarkan oleh keluarga ini hingga dia bisa mewujudkan cita-citanya sebagai dokter.


Memang kejadian kemarin sempat membuat Aldho marah dan membenci mereka namun semalam obrolannya dengan Pak Theo yang membuatnya sadar akan kebaikan Pak Tirta dan Mama Grace selama ini.


.


Semalam Aldho termenung di danau sendirian. Pikirannya begitu kacau lalu terbersit keinginan untuk menemui Pak Theo.


Memang selama ini Aldho cukup dekat dengan Pak Theo. Dia juga tidak menyangka bahwa ternyata dia adalah putra Pak Theo.


Hampir jam 10 malam Aldho pergi menemui Pak Theo dirumahnya. Rumah megah yang terakhir kali Aldho injakkan kakinya saat mencari Roger.


Dia datang disambut oleh asisten rumah dengan sedikit takut karena mengingat kejadian Aldho yang menghajar Roger waktu itu.


"Ma-maaf.. ada yang bisa saya bantu?" ucap asisten itu.


"Saya ingin bertemu Pak Theo"


Dengan segera asisten itu mempersilahkan Aldho masuk dan berlari ke dalam mencari pak Theo.


"Selamat Malam Aldho," sapa Pak Theo.


"Selamat malam. Maaf malam-malam aku kesini. Ada sesuatu yang mengganjal pikiranku. Jadi aku harus menemukan jawabannya sekarang juga" Ucap Aldho sedikit gusar.


"Apa yang ingin kamu ketahui Aldho?"


"Ini tentang kejadian hari ini. Aku masih sedikit bingung. Bagaimana bisa wanita itu menyebutku sebagai anaknya. Dan juga bilang bahwa aku juga putramu?"


Asisten tersebut sedang menyajikan minuman kepada Aldho dan Pak Theo lalu tak sengaja mendengar obrolan mereka. Sontak hal itu membuatnya terkejut.


"Itu benar Aldho. Jauh sebelum aku menikah dengan ibunya Roger aku memang memiliki hubungan dengan Viona. Kami menjalin hubungan cukup lama namun kedua keluarga tidak setuju. Akhirnya aku dijodohkan dengan wanita lain tanpa tahu dia sedang mengandung" Pak Theo menghela nafas berat sebelum melanjutkan bicaranya.


"Aku minta maaf selama ini benar-benar tidak tahu Aldho. Dan saat mengetahuinya aku benar-benar bahagia ternyata aku memiliki putra sehebat kamu. Bahkan sebelum tahu ini aku sudah menganggap mu sebagai putraku sendiri. Namun satu hal yang terpenting adalah kedua orang tuamu. Tirta dan Grace. Dia bahkan berani pertaruhkan nyawanya demi kebahagiaanmu"


Aldho nampak diam termenung. Pak Theo juga menjelaskan betapa kerasnya keluarga Viona hingga dia harus melepas Aldho ke panti asuhan. Sehingga keadaan ini harus terjadi. Setidaknya Viona masih mempertahankan Aldho hingga lahir. Karena suatu saat dia tahu pasti bisa bertemu dengannya lagi.


Tak terasa mereka mengobrol hingga hampir pagi. Aldho melihat jam sudah menunjukkan pukul 02.10 dini hari.


"Aldho jika mau menginap lah disini. Ini juga rumahmu nak" ucap Pak Theo.


" Tidak om, aku harus pulang. Cindy pasti menungguku"


Dari cerita Pak Theo itu akhirnya Aldho sadar betapa orangtuanya sangat menyayanginya selama ini.


.


Aldho melihat Mama Grace yang sedang di dapur. Dia menghampiri dan memeluk ibunya dari belakang.


"Ma, maafkan Aldho kemarin sempat membentak mama. Tidak seharusnya Aldho bersikap seperti itu. Maaf ya ma"


Mama Grace yang mendengar hal itu langsung berbalik dan mengulas rambut Aldho dengan lembut.


" Mama juga minta maaf sudah tidak jujur kepadamu dari awal. Mama hanya takut kamu tidak bisa menerimanya. Mama tidak ingi kehilanganmu Aldho"


"Aldho janji tidak akan meninggalkan mama" Kedua anak dan ibu itu saling memaafkan dan berpelukan.


Cindy yang tidak sengaja melihat ikut senang dan dia mulai menghampiri Aldho.


"Hey, dia mamaku. dan sekarang dia jadi mertuamu. Aku yang pertama memiliki mamaku" goda Cindy.


" Sebelum ada kamu di hanya mamaku. Dan sekarang dia mama sekaligus mertuaku jadi aku menang banyak" ucap Aldho sembari menjauhkan Mama Grace dari Cindy.


Keduanya berebut bak anak kecil membuat keributan kecil di dapur.


"Sudah... sudah.. kalian seperti anak kecil dari dulu selalu berebut. Baiklah aku mama kalian berdua" Mama Grace memeluk Aldho dan Cindy bersamaan.


Tiba-tiba ponsel Aldho berdering. Dia melihat nomor baru menelponnya.


"Halo, maaf ada yang bisa di bantu?"


"Halo, ini ibu nak. ibu Viona. Bisa kita bertemu sebentar Aldho?" ucap wanita itu dalam teleponnya.


Aldho nampak diam terpaku belum bisa menjawabnya. Dia terlihat bingung bagaimana dia harus menemuinya atau tidak. Dia melihat Mama Grace yang nampak ceria lalu kembali mendengar suara Viona yang memanggilnya di dalam telepon.


Ini sesuatu yang cukup membingungkan untuk Aldho. Karena sejujurnya dia belum siap bertemu Viona.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...