
"Ah sial" dengus Aldho kesal.
Aldho menatap wajah sendu Cindy. Dia sebenarnya masih kesal dengan Cindy namun dia sama sekali tidak bisa marah padanya.
"Kak Aldho masih marah padaku?" Cindy tak berani menatap Aldho.
"Andaikan aku bisa marah Cindy, sekesal apapun aku padamu nyatanya tetap tak bisa marah kepadamu. Wajahmu selalu meluluhkanku" Aldho menangkap kedua pipi Cindy. Ditatapnya wajah istrinya itu kemudian mulai mencium bibirnya.
Cindy merasakan bau rokok dati mulut Aldho. Biasanya dia tidak suka namun kali ini dia tidak bisa menolaknya. Dia tahu Aldho saat ini sedang melampiaskan kekesalannya padanya.
Kemudian Aldho mendekap tubuh Cindy yang mulai terasa dingin oleh hembusan angin malam.
"Coba ceritakan detailnya Cindy. Aku ingin tahu" ujar Aldho.
"Tapi janji Kak Aldho tidak boleh marah"
Aldho menghela nafas. "Hmm baiklah akan ku coba"
Akhirnya Cindy menceritakan detail kejadian saat Roger mencoba menggodanya.
"Apa? Jadi dia ingin melecehkanmu lagi?" Aldho langsung berdiri dan menaikkan suaranya. Tangannya mengepal dengan geram.
"Kak Aldho kumohon jangan marah. Aku sudah mengatasinya dan aku baik-baik saja" Cindy meraih kepalan tangan Aldho berusaha untuk melemaskannya.
"Apa itu sebabnya kamu minta ku jemput?" Cindy pun mengangguk.
"Awalnya aku sangat takut. Aku teringat malam petaka saat itu. Tapi aku berusaha kuat." Air mata akhirnya berhasil lolos membasahi pipi Cindy.
"Aku janji akan selalu melindungimu Cindy. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuhmu" Aldho memeluk Cindy dengan erat.
Sebenarnya Cindy sedikit ragu menceritakan masalah ini kepada Aldho namun jika dia tidak jujur maka Aldho akan semakin kecewa padanya.
.
Roger akhirnya sudah diperbolehkan pulang. Namun dia merasa semua orang tampak berubah.
Rebecca meski selalu merawatnya tapi dia terlihat ketus dan jarang sekali mengobrol dengannya. Dan Papanya juga tampak lebih pendiam.
Sejak dia di rumah sakit hingga pulang ke rumah Aldho dan Cindy sama sekali tidak menjenguknya.
"Apa jangan-jangan Cindy menceritakan kepada semua orang tentang perbuatanku waktu itu?" gumam Roger.
Akhirnya Roger mencoba untuk menghubungi Aldho dengan dalih ingin bertemu Selina.
Namun Aldho sama sekali tak menggubrisnya. Hatinya masih terlalu sakit jika mengingat perbuatannya terhadap Cindy.
Jika saja Cindy tidak melarang Aldho maka dia sudah nyaris menghajar Roger seperti waktu itu.
"Sayang, kok kamu akhir-akhir ini sedikit pendiam sih. Aku kangen kamu yang cerewet seperti biasanya" goda Roger saat Rebecca menyeka tubuhnya.
Rebecca meremas waslap yang dipakai menyeka Roger. Tatap matanya menajam saat melihat wajah Roger.
"Jangan banyak bicara atau aku akan berhenti merawatmu" ucapan Rebecca yang sarkas juga dia menggosok tubuh Roger dengan keras.
"Aduh, iya-iya sayang sakit. Maaf" Roger memekik kesakitan saat Rebecca menggosok punggungnya dengan keras.
"Sakitmu itu tak sebanding dengan sakitnya hatiku saat ini Roger" batin Rebecca.
Meski hatinya ingin sekali marah namun Rebecca masih terus menahannya. Dia tidak tega meninggalkan Roger dalam keadaan sakit seperti ini.
Setiap kali mengingatnya Rebecca selalu bersedih. Dia tak kuasa menahan air matanya dan diam-diam dia menangis di taman belakang rumah.
Bi Lila dan Pak Theo menyadari penderitaan yang Rebecca alami sehingga Pak Theo harus mengambil tindakan. Meski Rebecca hanya menantunya namun Pak Theo selalu menganggapnya seperti putrinya sendiri.
"Rebecca. Kenapa kamu sendirian disini nak?" Pak Theo menghampiri Rebecca yang sedang termenung.
"Maafkan Roger, dia selalu menyakiti perasaanmu. Papa tau apa yang kamu rasakan nak. Maafkan Papa" ujar Pak Theo.
Tangis Rebecca pecah. Di sudah tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya.
"Papa tidak salah. Hanya aku saja yang terlalu berharap banyak kepada Roger. Tapi sepertinya aku tak sanggup lagi pa, aku ingin menyerah" ucap Rebecca dalam tangisnya.
Pak Theo memegang bahu Rebecca "Papa tahu, hatimu begitu sakit. Papa juga tidak akan mencegahmu lagi. Lakukan yang menurut kamu benar. Pikirkan kembali matang-matang"
Rebecca pun akhirnya mulai memikirkan matang-matang niatnya.
Dua minggu kemudian Roger sudah mulai pulih. Selama itu Rebecca merawatnya penuh tanggung jawab meski beban dalam hatinya ingin sekali bergejolak. Roger mulai menyadari betapa pentingnya Rebecca di hidupnya. Dia pun mulai sadar akan kesalahannya selama ini.
"Bodohnya aku memikirkan wanita lain sedangkan istriku sudah sebaik ini" batin Roger.
Roger bertekad untuk berubah dan mulai mencintai Rebecca. Namun sepertinya niatannya kali ini tidak semulus yang dia harapkan.
Dia mulai merasakan sikap Rebecca yang berbeda. Bahkan saat mereka melakukan hubungan suami istri Rebecca tampak tak bersemangat sama sekali. Dalam hati Rebecca hanya melakukan sebagai bentuk tugas sebagai istri saja. Cintanya sudah pupus sejak mengetahui kebohongan Roger.
"Sayang, apa kamu sakit? Maaf aku selalu merepotkanmu hingga kelelahan merawatku" Roger mencoba untuk memperhatikan Rebecca.
Namun tampaknya kini Rebecca sudah tidak sanggup lagi terus berhubungan dengan Roger.
Dia menyodorkan sebuah surat kepada Roger.
"Apa ini sayang?" Roger menerima amplop putih tersebut dan membukanya.
Dia begitu terkejut saat membaca surat tersebut adalah gugatan perceraian yang dilayangkan oleh Rebecca.
"Aku mau kita cerai Roger. Aku sudah tidak sanggup lagi" tangis Rebecca mulai pecah.
Bak tersambar petir Roger tak menyangka bahwa Rebecca akan menceraikannya.
"Ke-kenapa sayang? Kita baru menikah. Aku tidak bisa. Jangan ceraikan aku Rebecca" Roger tampak terbata.
"Perasaanmu tak pernah berubah. Kamu tidak pernah mencintaiku. Yang ada di hatimu hanyalah Cindy. Aku tidak sanggup lagi mempertahankan cintaku yang bertepuk sebelah tangan"
Roger kini bersimpuh dan memohon dan menangis di kaki Rebecca.
"Aku mohon sayang jangan lakukan ini. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku sadar aku salah tapi beri aku kesempatan kali ini"
Rebecca mencoba untuk menghindari Roger namun pria itu terus memegang kakinya. "Lepas Roger, aku tidak bisa terus bersamamu. Keputusanku sudah bulat. Aku ingin kita Cerai..."
"Tidak sayang, tidak... Jangan ceraikan aku. Aku tidak mau jauh darimu. Aku janji akan berubah" Roger semakin terisak. Untuk pertama kalinya Rebecca melihat Roger begitu lemah. Sejenak hatinya mulai merasa iba namun dia tak ingin terlena.
Rebecca terus mencoba melepaskan tangan Roger dari kakinya hingga tiba-tiba pandangannya mulai kabur. Kepalanya terasa sangat pusing.
BRUKKK...!!!!
Rebecca pingsan seketika. Roger sangat terkejut dan langsung mencoba untuk membangunkannya. Tubuh Rebecca terasa sangat dingin dan pucat.
"Sayang, Rebecca bangunlah..." Roger terus menggoyang-goyangkan tubuh Rbecca namun sama sekali tak ada respon.
Akhirnya dia memanggil Pak Theo dan Bi Lila. Mereka segera membawa Rebecca ke rumah sakit.
"Sayang bangunlah, kumohon..."
.
.
Bersambung....
Teman-teman jangan lupa vote karyaku ya.