
Bak angin segar bersambut. Roger tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat Rebecca memposting foto di media sosialnya. Itu artinya saat ini dia dalam keadaan baik.
Namun Roger masih belum mengetahui dimana Rebecca berada sekarang. Hanya potret perkebunan anggur yang luas.
Jika dipikir banyak sekali perkebunan anggur di dunia ini. Roger akhirnya mencoba untuk menghubungi mantan istrinya tersebut.
Entah kenapa instingnya kuat jika dirinya akan bertemu lagi dengan Rebecca.
Apalagi saat melihat Aldho dan Cindy yang telah dikaruniai seorang bayi membuatnya bertekad untuk memperbaiki hubungannya kembali dengan Rebecca.
"Aku akan memperbaiki semua kesalahanku. Aku janji akan mencintaimu sepenuh hati Rebecca." gumam Roger dalam hati.
...****************...
Kebahagiaan Aldho dan Cindy kini lengkap sudah. Akhirnya Aldho dikaruniai seorang bayi laki-laki darah dagingnya sendiri.
Meski begitu rasa sayangnya terhadap Selina juga tidak berkurang sama sekali.
Kini mereka sedang disibukkan acara syukuran menyambut kehadiran buah hatinya, dengan kedatangan para tamu yang ingin menyambut kelahiran buah hati mereka.
Sahabat, teman, kerabat serta beberapa kenalan silih berganti mengucapkan selamat kepada keduanya.
Aldho dan Cindy pun sudah menyiapkan nama untuk bayi mereka.
"Nama bayi kami adalah Alexander Dimitri Theodorus" Jika Selina memiliki nama akhiran dari Pak Tirta kini Aldho memberi nama akhiran putranya dengan Nama Papanya, Pak Theo.
Bayi mungil itu sangat cocok dengan namanya. Kelak dia akan tumbuh menjadi sosok pria tampan seperti Papanya.
Diantara para tamu tampak Zara dan Windy datang. Namun kali ini dia tidak berdua, melainkan juga ada Dimas.
Ternyata hubungan Dimas dan Windy kini telah terjalin bahkan mereka sudah resmi bertunangan.
"Selamat Cindy, aku sangat bahagia menyambut keponakan kecilku ini" Windy memeluk Cindy.
Sementara Aldho yang pernah salah paham dengan Dimas nampak sedikit canggung. Untung saja Dimas adalah sosok yang ramah dan pandai mencairkan suasana sehingga keduanya kini lebih santai.
"Dimas, aku ucapkan selamat atas pertunanganmu dengan Windy. Maaf sebelumnya dulu aku pernah salah paham denganmu" ujar Aldho.
"Terimakasih Kak Aldho, aku tidak apa-apa. Aku paham situasinya saat itu. Justru aku sangat kagum kepadamu karena sangat tulus mencintai Cindy. Sebagai seorang suami sudah semestinya was-was jika ada pria lain dekat istrinya. Maafkan aku" balas Dimas.
Selina sangat senang melihat suasana rumah yang begitu meriah dengan banyaknya tamu. Ternyata seperti ini rasanya menyambut kelahiran seseorang di dunia.
Saat semua tamu sudah pulang Selina langsung menghampiri Cindy yang tengah menidurkan adiknya.
"Mama, aku senang hari ini banyak tamu" Selina memeluk Cindy dengan wajah ceria.
"Benarkah? Mama juga senang. Tapi lebih senang melihat senyum cantik bidadari mama ini" Cindy mengecup kening Selina.
"Ma, apa saat aku lahir dulu juga seperti ini? Mama bahagia, Papa bahagia, juga banyak tamu yang menyambutnya?" tanya Selina Antusias.
Sejenak Cindy terpaku mendengar pertanyaan Selina. Dia tahu keadaannya dulu sama sekali berbeda tidak seperti ini. Bahkan Cindy yang mengalami sindrom Baby blues enggan menyentuh Selina.
"Tentu saja sayang, Papa sangat bahagia menantimu" tiba-tiba Aldho menghampiri mereka dan mencoba menyenangkan Selina.
Aldho melirik Cindy yang tampak merasa bersalah. Kemudian dia menggenggam tangan Cindy sembari tersenyum memberi semangat.
"Setiap kelahiran bayi di dunia ini selalu disambut dengan sukacita sayang, jika kami tidak senang mana mungkin Papa dan Mama begitu menyayangimu sampai sekarang?" imbuh Aldho.
"Lalu Daddy Roger kemana Pa? Apa dia tidak bersama Mama saat melahirkanku?" pertanyaan itu muncul lagi dari bibir Selina.
"Daddymu masih sibuk di luar negri."
Selina yang kini memang diliputi rasa penasaran yang tinggi.
Sejenak Aldho dan Cindy terdiam. Saling menatap.
"Em.. Itu sayang, Ka_kamu akan mengerti saat dewasa nanti. Yang pasti kami semua menyayangimu. Papa, mama, Daddy, kakek dan nenek" ujar Aldho.
Tidak mungkin menceritakan bagaimana hubungan Roger dan Cindy sebelumnya. Yang ada nanti Selina akan semakin membenci Roger.
.
Cindy tampak masih merenungkan pertanyaan Selina tadi siang. Dia tampak melamun di kamarnya sembari mengusap air mata yang merembes jatuh.
"Sayang, kamu kenapa? Ada masalah?" Aldho mendekati Cindy yang tampak sedih.
"Aku memikirkan pertanyaan Selina tadi. Aku merasa sangat buruk menjadi ibu" Cindy kini semakin terisak.
"Sudahlah Sayang, biarkan semua masa lalu itu berlalu. Yang penting sekarang kita tetap menyayangi Selina" Aldho meraih tubuh Cindy dan memeluknya.
"Tapi bagaimana jika nanti dia dewasa dan menagih jawaban tentang masa laluku dan Roger? Aku takut menjawabnya" Cindy semakin gelisah.
"Serahkan semuanya kepadaku, aku yang akan memberitahunya tanpa menyakiti perasaan siapapun" jawaban Aldho memang selalu menenangkan untuk Cindy.
Satu-satunya pria yang sabar mencintai dan membimbing Cindy. Dialah obat, kekuatan serta tempatnya bersandar.
"Terimakasih sayang. Aku mencintaimu" Cindy mengecup bibir Aldho sebagai bentuk ungkapan rasa cintanya.
"Aku juga mencintaimu. Bahkan seluruh hidupku adalah cinta untukmu" balas Aldho.
"Yang harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya memberitahu mama dan ayah soal ke Amerika" Aldho sedikit cemas mengatakan ini.
"Benar juga, lebih baik kita beritahu jauh-jauh hari. Agar Mama dan Ayah bisa memikirkannya dengan matang-matang" balas Cindy.
"Tapi aku ragu memberitahu Papa Theo, beliau sepertinya yang paling sulit untuk kutinggal. Dia pernah mewanti-wantiku untuk tetap bersamanya. Dia trauma ditinggal seperti Roger" Aldho terlihat lesu.
Cindy tahu bahwa Aldho sangat menyayangi semua keluarganya. Pak Theo meski tidak merawatnya sejak kecil namun perhatian dan kebaikannya mampu meluluhkan Aldho. Apalagi Pak Theo selalu memprioritaskan Aldho.
.
Seminggu kemudian, Aldho dan Cindy mencoba untuk berbicara kepada Mama Grace dan Pak Tirta perihal keberangkatannya ke Amerika.
Awalnya mereka terkejut namun ini adalah untuk kebaikan masa depan Aldho. Jadi Mama Grace dan Pak Tirta merestuinya.
"Jika itu yang terbaik untukmu maka Ayah hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian. Tapi apa kamu sudah bicara kepada Selina?" tanya Pak Tirta.
"Belum ayah, rencananya aku akan bicara pada Selina setelah mendapatkan restu mama dan ayah" ujar Aldho.
Pak Tirta pun langsung memeluk Aldho. Dia tahu ada keraguan di benak putranya. Dengan ini berharap keputusannya tidak akan merugikan siapapun.
"Kejar cita-citamu nak, ayah tidak akan menahanmu. Jadilah putra kebanggaan ayah" suasana haru pun tak dapat dibendung.
Aldho membalas pelukan ayahnya dengan erat. "Terimakasih Ayah"
Sementara Cindy dan Mama Grace juga tak kuasa menahan air matanya. Mereka saling memeluk. Meski sebentar lagi harus berpisah namun mereka tetaplah keluarga.
Satu tugas Aldho selesai kini tinggal meyakinkan Selina dan Pak Theo. Jika Pak Theo berat berpisah dengan Aldho, maka Selina pasti berat berpisah dengan Roger.
.
.
Bersambung.