
Semua orang terkejut ketika Aldho mengatakan akan menikahi Cindy tak terkecuali Cindy juga ikut terkejut.
Walaupun sah-sah saja karena Aldho tidak memiliki hubungan darah dengan Cindy namun rasanya aneh karena selama ini Aldho dan Cindy berperan sebagai kakak dan adik.
"Aldho, apa yang kamu katakan nak? kau tidak perlu berkorban sejauh ini" ucap Pak Tirta.
"Ayah, aku melakukan ini semua demi Cindy dan keluarga ini. Bagaimana mungkin membiarkan ayah dipermalukan banyak orang karena pengantin pria kabur. Anggap saja ini sebagai balasan telah membesarkan aku dengan baik ayah" ucap Aldho optimis.
Pak Tirta langsung memeluk Aldho. Dia bangga sekaligus terharu dengan Aldho yang begitu menomor satukan keluarga.
"Terimakasih nak, terimakasih banyak"
Kemudian Aldho meyakinkan Cindy bahwa semua akan baik-baik saja. Cindy hanya bisa pasrah.
"Pendeta sudah menunggu" ucap salah satu kerabat.
Aldho bersiap memakai tuksedo hitam serta menyematkan bunga di jasnya.
Dia tampak gagah dan tampan. Mama Grace memeluk Aldho sekejap sebelum dia berjalan menuju altar. Semua orang terkejut ketika Aldho mengambil tempat mempelai pria yang seharusnya itu menjadi tempat Roger. Namun begitulah adanya. Semua rencana yang seharusnya berjalan lancar harus berubah karena keadaan.
Cindy berjalan menuju altar ditemani pak Tirta. Matanya masih terlihat sembab namun dia harus melakukan ini demi reputasi keluarganya.
Pendeta membacakan janji pernikahan yang diikuti Aldho begitu juga Cindy. Semua berjalan lancar hingga semua orang bersorak kegirangan dan meminta mereka saling berciuman sebagai tanda sah suami istri.
Aldho memandang wajah Cindy. Dia tahu Cindy tidak akan nyaman melakukannya jadi Aldho hanya mencium kening Cindy.
Semua orang memberi selamat begitupun ketiga sahabat Cindy yang ikut terharu akan pernikahan ini.
Acara demi acara berjalan dengan lancar. Namun berita juga cepat menyebar, beberapa tamu undangan mulai mengetahui bahwa mempelai pria telah kabur.
Cindy sedang haus lalu mengambil air di salah satu meja saji. Dia mendengar percakapan beberapa orang tamu.
"Hei, kau tahu mengapa Pak Tirta menikahkan Cindy dengan Aldho?" ucap salah satu orang.
"tidak tahu, kenapa?" jawab seorang lainnya.
"Calon mempelai pria kabur, dan lebih parahnya lagi aku dengar Cindy hamil dengan pria tersebut. Sungguh Aldho luar biasa mau menutupi aib keluarganya hingga harus mengorbankan masa depannya"
Mendengar hal itu membuat Cindy benar-benar sedih. Dia tahu posisinya saat ini amat menjadi beban keluarga.
Dia menahan air matanya selama acara berlangsung walaupun dadanya teramat sesak.
Aldho sedang berbincang dengan beberapa tamu kemudian dia melihat Windy dan segera menghampirinya.
"Hai, Kak Aldho selamat ya atas pernikahanmu" ucap Windy tersenyum.
"Terimakasih Windy, emm.. Windy terimakasih kau sudah memperingatkanku. Aku ingat perkataanmu tentang menikahi Cindy. Ternyata ini yang kau maksud" jawab Aldho.
"Sama-sama kak, dari awal aku merasa Roger hanya berniat mempermainkan Cindy. Akhirnya dia berada di tangan orang yang tepat"
Aldho dan Windy mengobrol dengan cukup akrab. Cindy melihat kedekatan Aldho dan Windy yang membuat hatinya semakin pedih. Dia harus merusak hubungan kakaknya dengan sahabatnya.
"Maafkan aku.." gumam Cindy lirih.
Hari mulai gelap dan acara selesai pukul sepuluh malam. Para tamu sudah pulang tinggal beberapa kerabat dekat saja yang masih tinggal.
Cindy masuk kamar lebih dahulu sedangkan Aldho masih berbicara dengan ayahnya.
"Aldho, malam ini temanilah Cindy. Mama takut dia melakukan hal-hal diluar kendali. Jangan sampai kejadian pagi tadi terulang lagi" pinta Mama Grace.
"Baik ma, Aldho akan menemani Cindy"
Aldho pergi ke kamarnya lebih dahulu untuk berganti pakaian kemudian berjalan menuju kamar Cindy.
Berkali-kali dia mencoba menghubungi Roger namun tetap tidak ada jawaban. Mungkin saja Roger sudah mengganti nomor teleponnya. Ditambah lagi dia teringat ucapan para tamu dan melihat Aldho merelakan hubungannya dengan Windy. Hal ini sungguh membuat Cindy merasa kacau.
Aldho mengetuk pintu kamar Cindy namun tidak ada jawaban. Akhirnya dengan hati-hati Aldho mencoba membuka pintu tersebut yang ternyata tidak dikunci.
Dia melihat Cindy yang masih mengenakan baju pengantin tidur meringkuk di atas ranjang.
"Cindy maaf aku langsung masuk tanpa persetujuanmu. Mama memintaku untuk menjagamu disini."
Cindy tidak bergeming hanya terdengar suara isak tangisnya.
"Cindy kau kenapa? kau menangis?" ucap Aldho menghampiri Cindy.
"Kak Aldho..." rengek Cindy memelas.
"Kesini, kemari." Aldho mengulurkan tangannya dan memeluk Cindy. Membiarkan Cindy menangis dalam pelukannya. Setidaknya hal itu mungkin akan membuatnya sedikit lega.
"Kau sudah selesai? mau mandi? tubuhmu sungguh bau" ucap Aldho saat Cindy mulai berhenti menangis.
Mendengar hal itu Cindy langsung bangkit dari pelukan Aldho.
"Apa aku separah itu?" ucap Cindy bersungut-sungut.
Akhirnya Cindy bergegas ke kamar mandi. Aldho hanya tersenyum geli melihat tingkah adiknya yang kini telah menjadi istrinya.
"Kak Aldho..." teriak Cindy dari dalam kamar mandi.
Aldho segera menuju kamar mandi memastikan keadaan Cindy.
"Ada apa? ku kira kamu terjatuh atau apa" tanya Aldho.
"bantu aku membuka gaun ini, aku kesulitan" Cindy mengulurkan tangannya ke punggungnya namun tak sampai.
Aldho membantu Cindy membuka satu persatu kancing gaun yang dia kenakan. Selesai semua Aldho segera keluar dari kamar mandi dan merebahkan dirinya di sofa kamar Cindy karena hari ini begitu melelahkan untuk Aldho.
Cindy sudah selesai mandi dan bersiap untuk tidur. Dia melihat Aldho yang sudah terlelap di atas sofa. Cindy mengambil selimut untuk Aldho. Dia mengusap lembut pipi Aldho sembari tersenyum.
.
flashback:
Roger sedang melakukan panggilan video dengan Cindy kemudian mamanya menelepon. Dengan malas Roger mengangkat teleponnya.
"Ada apa lagi ma? Aku tidak akan mengubah keputusanku menikahi Cindy. Jadi jangan harap aku mau menuruti permintaan Mama" ucap Roger.
" Roger kau tahu perusahaan mama di paris, mama akan memberikan sepenuhnya kepada adikmu Alex. Karena mama rasa kamu tidak akan bisa mengurusnya"
Mendengar hal itu Roger langsung naik darah. Dia begitu merasa tersaingi oleh Alex.
"apa? mama akan menyerahkan perusahaan itu kepada Alex? ma aku ini anakmu dan Alex hanya anak tirimu. Bagaimana mungkin kau menyerahkan perusahaan ini kepadanya? itu sangat tidak adil" protes Roger.
" Karena percuma mama memberikannya kepadamu. Kamu tidak pernah mendengarkanku. Walaupun aku melahirkanmu tapi aku tidak pernah punya hak untukmu"
"ma, aku bisa mengelola perusahaan itu. Jangan diberikan kepada Alex. Beri aku waktu" ucap Roger memohon.
"tidak ada waktu Roger. Mama sudah memberimu banyak waktu tapi kau tidak pernah mau. Jika kau mau perusahaan itu maka besok pagi kau harus berangkat ke Paris. Mama sudah menyiapkan tiket pesawat untukmu"
.
.
jangan lupa kembang kopinya...🌸🌸