
Sejak melihat Cindy yang begitu dekat dengan Aldho hati Roger menjadi sangat sakit. Segala penyesalan menumpuk dalam benaknya.
Andai saja dia tidak mempedulikan ucapan mamanya pasti saat ini dia yang tengah berbahagia bersama Cindy.
Sedangkan anak perempuan yang terus memeluk Aldho dia yakini adalah Selina putrinya.
Sudah seminggu ini Pak Theo terus mengawasi Roger agar tidak menemui Cindy, dia takut akan membuat masalah baru disaat Aldho masih berkabung. Pak Theo juga melarang Aldho mengunjungi rumahnya dengan berbagai alasan agar tidak tahu bahwa Roger telah kembali. Akhirnya mereka bertemu di luar.
Namun Roger tidak tahan dan akhirnya nekat pergi ke rumah Cindy. Dia tidak peduli jika harus mendapat perlakuan buruk sekalipun.
Sementara di rumah tampak kosong karena Mama Grace dan Cindy sedang keluar untuk berbelanja. Aldho menjemput Selina pulang sekolah dan Pak Tirta bekerja.
Berkali-kali Roger memencet bel rumah namun tidak ada jawaban akhirnya dia memutuskan untuk tetap menunggu.
Tak berselang lama tampak mobil Aldho datang memasuki halaman rumah.
"Papa sepertinya ada tamu" ucap Selina ketika melihat seseorang di teras rumahnya.
Aldho masih fokus memarkir kendaraannya, namun saat keluar dari mobil dia sangat terkejut melihat kedatangan Roger.
Roger sedikit takut saat melihat Aldho yang menatapnya dengan tajam.
"Hai Aldho," sapa Roger. Kemudian dia terpaku saat menatap anak kecil yang menggandeng tangan Aldho. Berwajah cantik mirip Cindy dan memiliki mata yang sangat mirip dengan Roger.
Roger langsung bisa menebak bahwa gadis kecil itu adalah Selina putrinya.
"Sayang, kamu masuk ke kamar dulu ya nanti papa nyusul, jangan kemana- mana" ucap Aldho yang langsung dibalas anggukan oleh Selina
Setelah Selina masuk ke dalam rumah Aldho langsung menghampiri Roger.
"Mau apa kau kesini?" ucap Aldho ketus.
"Aldho aku mau bertemu Cindy. Bolehkan aku menemuinya?"
Dari sorot mata Aldho tentu saja dia terlihat tidak senang.
"Untuk apa menemui istriku? Dia tidak ada di rumah. Pergilah"
"Tapi dia ibu dari anakku" balas Roger.
"Anak? Baru sekarang kau mengakui sebagai anak? Setelah kau meninggalkan Cindy dalam keadaan hamil dan kau sama sekali tidak ada tanggung jawab. Pergilah sebelum habis kesabaranku. Aku begitu muak melihatmu" Aldho mulai emosi. Melihat wajah Roger saja sudah membuatnya ingin melenyapkannya.
Roger sadar keadaannya yang tak mungkin bisa menemui Cindy dan Selina akhirnya dia memutuskan untuk pulang.
Dengan masih kesal Aldho memasuki rumah. Selina yang melihat ekspresi Papanya merasa heran.
"Itu tadi teman Papa? Kok Papa Terlihat marah?" ungkap Selina sembari mengusap pipi Aldho.
Aldho hanya tersenyum. Lalu dia mengangkat tubuh Selina dan menggendongnya di punggung.
"Selina makan dulu ya, setelah itu tidur siang" dengan telaten Aldho menyiapkan makanan untuk Selina dan menyuapinya.
Cindy dan Mama Grace belanja cukup banyak. Sudah lama mereka tidak berbelanja berdua.
Sampai di rumah dia mendapati Aldho yang sedang tidur sambil memeluk Selina. Pemandangan yang sangat indah untuk Cindy.
Cindy mendekati Aldho dan mengecup pipinya dengan sangat pelan. Namun Aldho yang sangat peka merasakan ciuman Cindy dan segera bangun.
"Sayang sudah pulang?" bisik Aldho sembari mengecupi bibir Cindy.
"Sayang, malu ah ada Selina" bisik Cindy.
"Tidak apa-apa dia sedang tidur" Aldho paling tidak tahan tidak menggoda Cindy saat berada di dekatnya.
Sementara Cindy hanya pasrah dan manja terhadap perlakuan Aldho.
Diamatinya istrinya itu. Dia sengaja tidak memberitahu Cindy jika Roger baru saja datang. Aldho tidak ingin istrinya kembali mengingat masa kelamnya.
.
Diam-diam Roger memiliki ide gila untuk membawa Selina secara paksa.
Roger mempersiapkan semua perlengkapan yang dia butuhkan dan keesokan harinya dia mulai melancarkan aksinya.
Dia terus menunggui Selina pulang sekolah. Kebetulan saat ini Selina sudah keluar dan menunggu jemputan. Sepertinya belum ada yang datang menjemput Selina sehingga Roger langsung melancarkan aksinya.
Mula-mula dia mendekati Selina. "Hai, Selina.." sapa Roger dengan senyum ramah.
"Om kan teman Papa yang kemarin datang ke rumah?" balas Selina.
Roger langsung mengiyakan. Kemudian dia meyakinkan Selina bahwa Aldho menyuruhnya untuk menjemput.
Selina yang awalnya ragu terus diyakinkan oleh Roger dan akhirnya setuju apalagi Roger membawa banyak snack membuat Selina semakin senang dan Roger langsung membawa Selina menggunakan mobilnya.
Sementara Aldho dan Cindy yang datang menjemput Selina dibuat panik karena putrinya telah menghilang.
Aldho langsung mencari tahu melalui rekaman kamera CCTV dan hasilnya Roger lah yang membawa Selina.
Cindy juga sangat terkejut saat melihat Roger yang membawa Selina.
"Bagaimana bisa dia membawa Selina? Sayang bagaimana ini, jangan-jangan Roger ingin membawa putriku kabur" Cindy terus menangis dan panik.
"Kamu sabar sayang aku akan pastikan dia tidak akan membawa Selina" Aldho berusaha menenangkan Cindy.
Aldho langsung menghubungi Papanya dan memberitahu ulah Roger. Pak Theo sudah menduga bahwa Roger akan bertindak nekad. Akhirnya mencoba untuk menghubungi Roger dan memperingatinya.
Berkali-kali Pak Theo meneleponnya namun dia tak sekalipun menjawabnya dan justru mematikan ponselnya.
"Om, kita mau kemana?"Selina sadar bahwa itu bukan jalan menuju rumahnya.
"Kita jalan-jalan dulu ya Selina. Kamu mau kemana?" tampak Roger santai.
"Tapi apa Om sudah ijin Papa? Aku khawatir dia mencari ku" Selina mulai gelisah.
"Semua akan baik-baik saja sayang, percaya padaku. Aku bukan orang jahat" Roger berusaha meyakinkan Selina.
Setelah menyetir beberapa saat mereka sampai di sebuah Theme park.
Selina yang masih polos langsung mau saat Roger mengajaknya bermain. Sebelumnya Roger memesan dua tiket dan mulailah mereka mencoba semua permainan.
"Om, Aku lapar" rengek Selina saat perutnya mulai keroncongan.
Dengan segera Roger mengajak Selina mencari makan di restoran dalam area Theme park tersebut.
Melihat Selina yang melahap makanannya membuat Roger begitu senang. Dia tidak menyangka akhirnya bisa bertatap muka langsung dengan Selina. Selama ini dia hanya melihatnya melalui foto saja.
Tak dipungkiri wajah Selina merupakan perpaduan sempurna antara kecantikan Cindy dan ketampanan Roger. Setiap orang yang melihatnya pasti berdecak kagum dengan keelokannya.
"Bagaimana sayang sudah kenyang?" tanya Roger saat Selina selesai menghabiskan pasta yang dia pesan.
"Sudah om, aku mau lanjut main lagi boleh?" nampaknya Selina sudah mulai akrab dengan Roger.
"Tentu saja, main sepuasmu Selina"
Di rumah Cindy tak henti-hentinya menangis karena mengkhawatirkan keadaan Selina. Sampai saat ini Roger belum memberi kabar sama sekali.
Aldho hendak melaporkannya ke polisi namun ditahan oleh Pak Theo. Akhirnya dengan berat hati dia menuruti permintaan papanya.
"Sayang sabar dulu ya, Selina pasti pulang"
.
...****************...