
Viona bak menerima cahaya terang ketika mengetahui Aldho pernah memiliki hubungan dengan Renata. Bagi Viona Renata adalah wanita yang ideal untuk Aldho dan juga latar belakang keluarganya bahkan lebih diatas keluarga Tirta.
Dia terus memikirkan bagaimana cara untuk menjauhkan Cindy dari Aldho. Karena dari awal Viona tidak pernah menyukai Cindy.
"Renata, bisa kita bertemu siang ini?" Viona menelepon Renata.
"Iya tante bisa, nanti kirim lokasinya ya" balas Renata.
Viona dan Renata melakukan janji temu di salah satu restoran. Mereka sengaja merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan orang tua Renata.
"Halo tante, maaf aku sedikit telat" sapa Renata saat baru saja tiba di lokasi.
"Hai sayang, tante juga baru datang kok" balas Viona.
"Ada perlu apa ya tante kenapa kita harus bertemu?" tanya Renata penasaran.
"Begini Renata, tante punya rencana. Bagaimana jika kamu bekerja di rumah sakit tempat Aldho bekerja? Kamu juga lulusan fakultas kedokteran kan?" ungkap Viona.
"Iya sih tante aku lulusan kedokteran tapi aku agak malas jadi dokter menyita waktuku. Gajinya juga kecil" ucap Renata sembari menyeruput minumannya.
"Tapi ini demi kamu supaya dekat dengan Aldho. Memangnya kamu sudah menemukan pria yang lebih baik dari Aldho?" Viona terus mendesak Renata.
Sejenak Renata berpikir. Memang benar selama ini belum ada pria yang lebih baik dari Aldho. Hanya Aldho yang menduduki puncak kriteria laki-laki idaman Renata.
"Iya sih.. tapi sungguh tidak apa-apa? Aku takut tejadi masalah. Aku lihat Aldho juga sangat mencintai Cindy, sulit memisahkan mereka"
"Sudah jangan pikirkan itu. Jika kamu inginkan sesuatu harus bersungguh-sungguh. Tante akan bantu dan pastikan semua beres"
Sifat Viona yang menggebu-gebu untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan terkadang membuatnya tega menyakiti orang lain.
...****************...
Aldho pulang kerja sedikit larut karena hari ini harus membantu operasi transplantasi hati yang memakan waktu cukup lama.
Sampai di rumah dia mendapati Cindy yang telah tertidur pulang di sofa. Aldho melihat tangan Cindy yang dibalut perban membuatnya khawatir.
Diusapnya lembut tangan Cindy dan hal itu membuatnya terbangun. Perlahan Cindy mengerjapkan matanya. Dia melihat Aldho yang sudah duduk disampingnya.
"Sayang, sudah pulang?" ucap Cindy lirih karena masih sangat mengantuk.
"Iya sayang. Kenapa tanganmu?" tanya Aldho.
"Tadi tidak sengaja terkena pecahan kaca" ungkap Cindy.
"Sudah diobati?"
"Belum, aku hanya membalutnya"
"Aku lihat ya?" Aldho langsung membuka perban yang terlilit di tangan Cindy.
Aldho melihat luka yang lumayan besar di telapak tangan Cindy kemudian mengeluarkan beberapa perlengkapan untuk mengobatinya.
Cindy sedikit meringis kesakitan saat Aldho mengobati lukanya. Kemudian setelah selesai Aldho memasang plester agar lukanya lebih cepat sembuh.
"Sudah selesai. Cepat sembuh sayangku" Aldho mencium kening Cindy.
Seketika Cindy langsung memeluk Aldho. Rasa gundahnya sejak siang tadi membuatnya ingin terus bersama Aldho.
"Entah kenapa aku terus berfirasat aneh. Seperti ada sesuatu yang akan l terjadi di antara kita?" ungkap Cindy yang masih memeluk Aldho.
"Ssttt... Jangan bicara tidak-tidak. Kita akan baik-baik saja sayang. Mungkin kamu hanya kelelahan. Baiklah sekarang tidur lagi ya sayang" Aldho hendak menuntun Cindy ke ranjang namun Cindy menolaknya dengan alasan tidak mengantuk.
Kebetulan Selina malam ini tidur bersama Mama Grace jadi Aldho berinisiatif mengajak Cindy keluar.
"Baiklah kalau tidak mengantuk, mau ikut aku ke danau?" ajak Aldho.
"Ke danau? Malam-malam begini?" Cindy penasaran. Namun Aldho tak mengatakan apapun hanya mengambil jaket untuk Cindy dan pergi menggunakan mobil.
Setelah beberapa saat mereka sampai di danau. Memang benar suasana malam yang cerah terlihat banyak bintang menghiasi langit.
Bulan tampak memantul ke air danau menambah indah suasana malam itu.
"Benar, ini sangat indah" ucap Cindy takjub.
"Ini adalah tempat Favoritku saat aku tidak bisa tidur, sedang ada masalah. Rasanya berdiam disini sangat damai" Aldho melihat Cindy yang mulai kedinginan kemudian dia mengambil jaket dan memakaikannya. Dipeluknya Cindy dari belakang, itu hal paling disukai oleh Cindy.
"kita semua perlu belajar saling memahami dan mengerti sayang. Suatu saat jika aku sedang bersedih cari aku disini"
Cindy menangkap ucapan Aldho yang sedikit berbeda. Tak biasanya Aldho berkata seperti itu.
"Hey, jangan pernah bersedih. Memangnya kak Aldho mau bersedih karena apa?"
Aldho hanya tersenyum. Entah kenapa kata-kata itu muncul dari mulutnya begitu saja.
...****************...
Rebecca sedang sibuk menata barang-barang yang dibelikan Roger. Barang yang sangat banyak bahkan beberapa tidak terpikirkan oleh Rebecca.
Dia mencoba satu persatu pakaian yang ada dan ukurannya pas semua. Hingga dia menemuka beberapa set pakaian dalam dan ukurannya juga pas di tubuhnya.
TOK.. TOK.. TOK...
"iya masuk Roger, pintunya tidak dikunci" ucap Rebecca masih sibuk dengan barang-barangnya.
"Hey, sedang apa kamu?" Tanya Roger yang berdiri di depan pintu.
"Aku sedang merapikan ini. Kemarilah" ucap Rebecca.
Roger berjalan menuju ranjang dan duduk di sebelah Rebecca.
"Bagaimana semua pas kan?" tanya Roger saat Rebecca melipat pakaian.
"Iya semua pas di badanku. Termasuk ini juga. Bagaimana kamu bisa tahu ukuranku?" Rebecca menunjuk pakaian dalam.
"iya karena aku masih mengingat ukuran tubuhmu" jawab Roger santai.
Namun tidak dengan Rebecca. Mendengar ucapan Roger membuat wajahnya langsung memerah.
"Ka-kamu mengingatnya?" tanya Rebecca ragu.
"Iya karena aku berusaha mengingatnya. Maaf aku mencampakkan mu saat itu" Ujar Roger.
"Tidak apa-apa."Rebecca mencoba tersenyum. Namun Roger memperhatikan ada yang disembunyikan darinya.
"Apa kekasihmu tahu? Apa dia marah?" Roger penasaran.
Rebecca menggelengkan kepalanya."Aku tidak punya kekasih. Dan aku belum pernah berhubungan dengan pria manapun. Hanya kamu..." Rebecca tertunduk malu.
Bagaimana mau berhubungan dengan seorang pria, bahkan memikirkannya saja tidak sempat. Setiap hari dihabiskan untuk merawat ibunya dan sekarang dia harus berjuang sendiri untuk mendapatkan tempat di keluarga ayahnya.
Roger terperangah tidak percaya bahwa lagi-lagi dia merenggut kesucian seorang wanita.
"Ja-jadi...kamu..." Roger terbata.
Rebecca menatap Roger dengan lekat untuk mendengarkan ucapannya.
"so, your'e still virgin?" ucap Roger lirih.
Rebecca mengangguk pelan dan langsung menghindari tatapan Roger.
"Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku?"tanya Roger frustasi.
"Bagaimana aku memberitahumu? kamu sendiri menganggapnya lupa, dan saat itu kamu terus memanggil nama wanita lain" Rebecca mulai menitikkan air matanya. Bagaimanapun dia sangat sakit hati ketika Roger menganggap dirinya orang lain.
"Rebecca, I'm so sorry, maafkan aku Rebecca. Aku janji akan bertanggung jawab padamu" Roger memohon kepada Rebecca.
"Dengan apa?" tanya Rebecca singkat.
"Aku akan menikahimu"
.
.
Lanjut part selanjutnya..
Jangan lupa beri dukungannya teman. Like dan komen sangat ditunggu. Kritik dan saran yang membangun sangat author harapkan 😊