
Mendengar kabar tentang Rebecca membuat ayah Rebecca dan ibunya Roger langsung terbang ke Indonesia. Dia berharap bisa membantu putrinya.
Kurang dari 24 jam akhirnya mereka sampai di rumah sakit.
"Dimana putriku" ucap Ayah Rebecca gemetar. Dia tak kuasa menahan kesedihannya saat melihat Rebecca yang terbaring tak berdaya.
"Aku akan mendonorkan sumsumku. Asalkan putriku bisa selamat" Akhirnya Ayah Rebecca menjalani serangkaian tes untuk mengetahui kecocokan sumsumnya.
"Akhirnya, Bapak memenuhi kriteria" Dokter dan semua orang merasa sangat lega.
Rebecca segera menjalani operasi transplantasi. Hampir empat jam berlalu akhirnya dokter menyatakan semuanya berjalan lancar.
Roger merasa sangat lega begitupun dengan yang lain.
"Aku janji setelah ini aku akan memperbaiki hubungan kita Rebecca" gumam Roger.
Ibu Roger mendengar ucapan putranya dan langsung bertanya-tanya.
"Memangnya ada apa dengan hubunganmu Roger? Kalian bertengkar?"
Roger bingung menjawab pertanyaan ibunya.
"Bukan hanya bertengkar. Bahkan Rebecca sudah melayangkan gugatan cerai kepadanya" ujar Pak Theo menimpali.
"Apa? Cerai? Bagaimana bisa?" ibu Roger semakin bingung.
"Tanyakan saja sendiri pada putra kesayanganmu" Pak Theo mulai jengah dengan kelakuan Roger.
Roger pun hanya menunduk. Dia tak bisa berkata-kata lagi. Sekeras apapun ibunya bertanya dia hanya diam. Rasa bersalah yang menumpuk membuat ya tak mampu berbuat apa-apa.
Cindy dan Aldho tampak datang untuk menjenguk Rebecca. Ibu Roger dan Cindy sempat bertegur sapa. Tidak ada kecanggungan di antara mereka karena memang sudah sama-sama memaafkan kejadian masa lalu.
Cindy pun juga merasa beruntung dirinya gagal menikah dengan Roger. Pada akhirnya dia menikah dengan Aldho sendiri.
"Cindy apakah kamu mengandung? Tante lihat perutmu sudah membuncit" Ibu Roger mengusap perut Cindy.
"Iya tante. Sudah masuk bulan ke 5" ujar Cindy sembari memancarkan senyum bahagianya.
"Selamat sayang, semoga kalian di eri kesehatan" tampak gurat kesedihan menyelimuti wajah ibu Roger. Harapannya memiliki cucu dari Rebecca justru nasib pernikahan mereka diujung tanduk.
"Cindy, apa tante boleh tahu masalah apa yang membuat Rebecca menceraikan Roger" tanya Ibu Roger.
Cindy pun terkejut saat mendengar kabar perceraian Rebecca.
"Aku malah tidak tahu kabar itu tante. Sungguh" terakhir kali memang Rebecca mengatakan ingin menyerah tapi tidak sampai membicarakan perceraian.
Cindy pun melihat Roger yang sejak tadi terlihat sangat kusut. Ada rasa kasihan jika sampai Rebecca benar-benar menceraikannya.
.
Setelah dua jam pasca operasi akhirnya Rebecca sudah mulai tersadar. Betapa bahagianya semua orang melihat keadaan Rebecca.
Secara bergantian mereka menjenguk Rebecca di ruangannya meski sebentar.
Roger melangkahkan kakinya mendekati Rebecca. Rebecca seolah tak ingin melihat wajah Roger. Dia berusaha memalingkan wajahnya.
"Sayang, aku bahagia kamu kembali sadar" Roger mengusap pipi Rebecca.
Tak ada jawaban apapun dari Rebecca hanya air mata yang terus menetes dari sudut netranya.
Roger tak kuasa menahan air matanya pula. Dia menggenggam tangan Rebecca dengan erat. Menuntaskan segala penyesalan di benaknya.
"Aku tidak tahu bagaimana jika harus hidup tanpamu. Kumohon tetaplah bersamaku"
Belum sempat Rebecca menjawab namun perawat sudah memanggil karena sudah melewati batas kunjungan.
Sementara Cindy yang hendak menghampiri Aldho tak sengaja menabrak seseorang.
"Maaf, maaf saya tidak melihat jalan dengan baik" ujar seseorang yang menabraknya.
Cindy seperti mengenal suara itu dan benar saja. Dia adalah temannya sewaktu SMA.
"Dimas?" sapa Cindy.
"Cindy? Benarkah ini kamu? wow.." sapa Dimas.
"Tidak kusangka bertemu denganmu. Aku selalu mengikuti berita tentangmu. Kamu sukses menjadi desainer terkenal. Dan kau terlihat semakin cantik" ujar Dimas kagum.
Dimas adalah teman Cindy saat SMA. Dia pernah naksir Cindy sejak awal mereka bersekolah. Bertemu kembali Cindy membuatnya sangat senang meski dia tahu Cindy sudah berumah tangga.
Cukup lama mereka mengobrol hingga Cindy lupa akan menghampiri Aldho. Dimas meminta nomor ponsel Cindy untuk dimasukkan ke grub kelas. Tentu saja Cindy langsung memberikannya.
Aldho menunggu Cindy cukup lama namun dia tak kunjung datang akhirnya dia mencari keberadaan istrinya.
Saat berjalan di koridor dia melihat Cindy yang sedang asyik bercanda tawa dengan seorang pria. Bahkan terlihat Cindy sangat menikmati obrolan mereka.
Entah kenapa perasaan Aldho sangat terganggu melihat pria lain mendekati istrinya.
"Ehmm..." Aldho mendekati Cindy.
"Eh, sayang.. Kamu disini." ucap Cindy singkat.
"Aku menunggumu dari tadi." ujar Aldho sedikit kesal.
"Oh, maaf. Aku lupa. Aku sedang asyik mengobrol dengan temanku. Perkenalkan dia Dimas. Teman SMA ku" Cindy memperkenalkan Dimas kepada Aldho.
Dimas langsung memperkenalkan dirinya. Sosok Dimas memang terbilang tampan serta usianya yang masih muda sepantaran dengan Cindy membuat Aldho sedikit khawatir dan merasa tersaingi.
"Hai kak Aldho. Ternyata Kak Aldho tetap terlihat keren seperti saat menjemput Cindy sekolah dulu" puji Dimas.
Aldho hanya tersenyum singkat. Baginya pujian Dimas sama sekali tak mengubah perasaannya.
"Sayang, ayo kita pulang. Selina pasti sudah menunggu" ujar Aldho.
"Oh ya Cindy, kapan-kapan apa boleh aku main kerumahmu? Aku sungguh ingin bertemu Selina yang cantik" ujar Dimas.
Aldho hendak melarangnya namun Cindy sudah menjawabnya lebih dulu.
"Tentu saja. Kamu boleh main" ujar Cindy dengan entengnya.
Aldho langsung menarik tangan Cindy dan pergi meninggalkan Dimas.
Di sepanjang perjalanan Aldho tampak serius menyetir mobilnya dan tidak berbicara sama sekali. Sedangkan Cindy sibuk dengan ponselnya bahakan dia senyum-senyum sendiri memandangi layar ponselnya.
Aldho hanya memperhatikan sekilas. Dia juga tidak ingin salah paham kepada Cindy. Mungkin saja dia hanya membaca cerita hiburan.
Di rumah mereka menghabiskan waktu dengan Selina. Hingga akhirnya gadis itu tertidur. Cindy dan Aldho berpindah ke kamar mereka.
"Sayang, tadi katanya ada yang mau kamu ceritakan?" tanya Aldho sembari berjalan menuju Cindy.
Cindy tak segera menjawab. Namun dia justru masih sibuk dengan ponselnya. Aldho mengulangi pertanyaannya dan Cindy masih mengabaikannya.
"CINDY..." Aldho sedikit meninggikan suaranya.
"Eh, iya sayang ada apa?" tanya Cindy.
"Kamu tidak mendengarku Cindy? Aku tadi bertanya katanya ada yang ingin kamu katakan padaku" ujar Aldho sedikit kesal.
"Emm.. Iya. Itu soal Rebecca. Katanya dia menggugat cerai Roger" ujar Cindy.
Aldho pun terkejut dengan berita itu namun dia juga tidak bisa ikut campur.
"hmmm... Aku turut prihatin dengan mereka. Semoga kita jangan sampai seperti itu. Aku mau selamanya bersamamu" Aldho meraih tubuh Cindy dan memeluknya.
"Tentu sayang, aku nyamannya cuma sama kamu" Cindy memperdalam pelukannya.
Sementara Aldho terlelap Cindy kembali sibuk dengan ponselnya. Bahkan dia mulai tertawa sendiri memandangi layar ponselnya membuat Aldho terbangun.
"Sayang, kamu menertawakan apa sih?"
Cindy masih sibuk dengan ponselnya dan tidak menjawab pertanyaan Aldho lagi.
.
.
Bersambung.