
Cindy berjalan menuju ruang kelas dan mengambil tas serta barang-barangnya. Terlihat teman-temannya begitu sedih.
"Teman-teman, terimakasih kalian sudah baik kepadaku. Maaf jika aku banyak salah kepada kalian" Cindy berpamitan kepada teman sekelasnya. Satu persatu dari temannya saling menjabat tangan dan memeluk Cindy. Mereka tahu Cindy hanyalah korban. Gadis baik sepertinya tidak mungkin melakukan hal bodoh. Saat berpamitan dengan ketiga sahabatnya air mata Cindy tak mampu terbendung lagi. Windy, Tika, dan Zara adalah sahabat yang selalu membantunya.
"Kita akan tetap bersama selamanya" ucap Windy menenangkan Cindy.
Mereka bertiga mengantar Cindy ke mobil yang sudah di tunggu oleh Aldho beserta orang tuanya.
Di dalam mobil Cindy tak berhenti menyeka air matanya. Harapannya untuk menyelesaikan sekolahnya dan berkuliah kini pupus sudah. Satu musibah yang menimpanya membuat masa depan Cindy hancur.
Mama Grace yang duduk di sebelah Cindy hanya bisa memeluk tubuh mungil putrinya.
"Semua akan baik-baik saja sayang" Mama Grace berusaha menghibur Cindy.
Aldho yang sedang menyetir hanya bisa menahan sakit dalam hatinya. Ketidak adilan yang diterima Cindy sungguh sangat menghancurkan hatinya.
"Aldho ayo kita ke mall. Ayah ingin makan es krim sambil jalan-jalan" Tiba-tiba Pak Tirta meminta Aldho menuju mall. Sontak membuat semua orang heran.
"Apa tepat saat seperti ini malah jalan-jalan di mall?" protes Mama Grace.
Aldho menuruti saja mungkin ini cara ayahnya menghibur keluarganya.
Saat tiba di mall Pak Tirta langsung mengajak Keluarganya untuk makan es krim di salah satu food court. Terlihat wajah lesu dari anak dan istrinya menuruti kemauan Pak Tirta.
Mereka memesan es krim dengan berbagai macam varian rasa.
"Cindy, apa kamu ingat waktu kamu kecil ayah diam-diam membelikanmu es krim saat musim hujan tanpa sepengetahuan mamamu? Pak Tirta mencoba mencairkan suasana.
Mama Grace langsung melirik suaminya dengan penuh penasaran.
"Tapi kenapa ayah bocorkan sekarang? Kan jadi ketahuan mama" Ucap Cindy.
"Jadi diam-diam kamu membohongiku?" protes Mama Grace.
"Mana mungkin es krim selezat ini tidak ku berikan kepada putriku. Dia sangat menyukainya. Walaupun kadang dia kena pilek" Pak Tirta tertawa.
"Tapi akibatnya Cindy jadi pilek kan" Mama Grace menggerutu.
Melihat kelakuan kedua orang tuanya membuat Cindy dan Aldho mulai ikut tertawa.
"Ya seperti itulah hidup. Kadang manis seperti es krim ini namun juga kita harus siap terkena pilek. Tak semuanya berjalan mulus. Kadang ada masalah tapi kita harus tetap menghadapinya" Pak Tirta memberi pengertian kepada anak-anaknya.
Melihat anak dan istrinya tampak merenung membuat Pak Tirta segera merubah suasana.
"Baiklah cepat habiskan es krim ini setelah itu kita main disana" sambil menunjuk play ground yang ada di mall itu.
Mereka mencoba berbagai permainan yang ada, Mama Grace pun tak mau kalah. Dia sibuk bermain ditemani Aldho. Keluarga itu terlihat benar-benar bahagia seperti tidak ada masalah apapun. Begitulah cara seorang ayah yang mencoba untuk menghibur keluarganya ditengah masalah yang cukup pelik.
"Ayah terima kasih untuk hari ini" Cindy memeluk ayahnya dengan manja.
"Sama-sama sayang, ayah akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu" Pak Tirta mengusap rambut Cindy dengan penuh kasih sayang.
.
Aldho terus kepikiran akan Roger yang tidak kunjung menemui keluarganya, kali ini dia mengunjunginya untuk kedua kali.
Aldho mengetuk pintu rumah Roger dan tak berselang lama Bi Lila membukakan pintu.
"Selamat pagi Tuan Aldho, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Bi Lila.
"Roger ada bi?"
"Ada tuan, silahkan masuk saya panggilkan tuan Roger dulu" Bi Lila mempersilahkan Aldho untuk menunggu di ruang tamu. Kali ini Aldho nampak lebih tenang dibanding terakhir kali datang. Bi Lila segera memanggil Roger yang berada di kamar.
Dengan ragu Roger berjalan menuju ruang tamu.
" Aldho, sudah menunggu dari tadi?" tanya Roger dengan sedikit ketakutan.
"Tidak, baru saja" Aldho menatap Roger dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Emm, maaf ada apa kau kesini?" tanya Roger ragu.
"menikah?" Roger tampak kaget.
"iya, kau harus menikahinya"
"tunggu, bukankah aku cukup membayar berapapun untuk tanggung jawab?"
Mendengar ucapan Roger membuat Aldho kembali naik pitam. Dia bangkit dari tempat duduknya lalu memegang kerah baju Roger hingga terangkat.
" Kau benar-benar ingin cari mati? Kau pikir adikku bisa dibeli dengan uangmu? Jika kau tak menikahinya aku akan benar-benar menghabisimu" Kini amarah Aldho benar-benar tak bisa terbendung.
"I-iya, aku pasti akan menikahi Cindy, biarkan aku meminta ijin orang tuaku" Roger begitu ketakutan melihat kemarahan Aldho.
Aldho melepaskan cengkramannya dan mendorong Roger duduk di kursi.
"awas saja kau berani mempermainkan adikku. Aku akan membuat perhitungan denganmu" Aldho berlalu keluar dari rumah Roger yang terasa seperti sarang ular baginya.
Roger akhirnya berdiskusi dengan orang tuanya. Ayahnya yang telah berpisah dengan ibunya kini tinggal di Australia. Sedangkan ibunya kini pergi ke Eropa namun selalu berpindah-pindah negara. Terakhir berada di Italia.
Ayahnya merespon dengan baik. Karena memang dia sangat ingin memiliki menantu serta cucu. Cindy adalah gadis baik yang cocok untuknya. Namun sang ibu malah lebih menyarankan Roger untuk tidak menikah dulu.
Akhirnya seminggu kemudian Roger dan Ayahnya mendatangi kediaman Cindy menjelaskan untuk rencana pernikahan.
"Sebaiknya pernikahan ini segera dipercepat. Bagaimana jika kita laksanakan dua minggu lagi?" ucap Ayah Roger.
Semua telah menyepakati pernikahan tersebut.
Cindy hanya bisa pasrah walaupun sebenarnya dia belum ingin menikah. Baginya sekarang ini menyelamatkan kehormatan keluarganya lebih penting.
.
Pagi ini seperti biasa semua berkumpul untuk sarapan bersama. Hanya saja Cindy lebih santai dirumah karena kini sudah tidak berangkat sekolah.
"Yah, Ma, Cindy, Aldho punya pengumuman penting" ucap Aldho sembari membantu Mama Grace mencuci piring kotor.
"Ada apa sayang?" tanya Mama Grace.
"Aldho diterima bekerja di rumah sakit swasta terbesar di sini. Mulai hari senin aku akan menjadi dokter muda di sana"
"Bukannya kakak mau ke Amerika?" tanya Cindy.
"Setelah dipikirkan aku masih ingin disini. Aku masih ingin bersama kalian"
Dalam hati Cindy tahu bahwa kakaknya itu pasti membatalkan beasiswanya demi dia. Namun Aldho berusaha mencari alasan lain.
"Kenapa tidak ke rumah sakit ayah? di sana kan juga membutuhkan dokter spesialis anak?" tanya Mama Grace.
"Tidak ma, aku tidak ingin satu tempat kerja dengan ayah. Bisa-bisa nanti aku kena omel terus." jawab Aldho bercanda.
Pak Tirta sudah lebih dulu tahu niatan Aldho hanya bisa tersenyum sembari melanjutkan membaca koran.
Cindy hanya terdiam lalu pergi ke taman samping rumah. Dia duduk termenung karena merasa bersalah dengan keputusan yang diambil Aldho.
Aldho melihat Cindy yang tengah bersedih di taman lalu menghampirinya.
"Cindy, boleh aku duduk disini?" Aldho mendekati Cindy yang terlihat sedih.
"silahkan.." jawabnya singkat.
Aldho duduk di sebelah Cindy mengamati tanaman yang di rawat oleh ayahnya.
"Kak Aldho, maaf gara-gara aku kakak batal ke Amerika"
.
.
bonus visual Aldho