
Aldho masih melanjutkan tidurnya. Dia tidak peduli pukul berapa sekarang padahal biasanya dia selalu rutin bangun pagi dan berolah raga. Baginya olah raga semalaman sudah cukup kali ini.
Di sela tidurnya dia terus mendengar suara dering ponsel yang membuat dirinya menggerutu.
"Cindy, ponselmu kenapa bunyi terus" gumam Aldho yang masih memejamkan mata.
Namun Cindy juga tidak merespon. Tangan Aldho meraba-raba ke sebelahnya namun tidak menemukan sosok istrinya. Akhirnya dengan malas ia harus terbangun.
Perlahan Aldho mengerjapkan pandangannya. Mencari sosok Cindy yang tidak ada di dekatnya lalu mendengar suara gemericik air dari dalam toilet. Tentu saja Cindy sedang mandi.
Tak lama kemudian dia mendengar kembali suara ponsel yang berdering. Akhirnya dengan malas Aldho bangkit dan mencari keberadaan sumber suara tersebut.
Celana yang tercecer di lantai dia ambil dan benar saja ponselnya berada di dalam saku. Saat hendak mengangkat teleponnya ternyata sudah mati.
Akhirnya Aldho memeriksa ponselnya, 36 panggilan tak terjawab dari Mama Grace. Dengan segera Aldho menelepon balik mamanya.
"Halo, mama" ucap Aldho.
"Oh Ya Tuhan... Aldho akhirnya kamu menjawab telepon mama, semalaman Mama tidak bisa tidur memikirkanmu dan Cindy kenapa tidak pulang ke rumah?" Mama Grace langsung mengomel ketika Aldho berhasil menghubunginya.
"Maaf Ma, Aldho lupa memberitahukan bahwa kami menginap di hotel. Cindy juga baik-baik saja"
"oh syukurlah, mama lega mendengarnya. Lain kali jika mau menginap kabari mama sayang"
"Baik ma, Maafkan Aldho ya ma" Aldho menutup panggilannya dan dari belakang Cindy memanggilnya.
"Siapa yang menelepon sayang?" tanya Cindy.
"Mama, Aku benar-benar lupa tidak mengabari mama jika kita menginap disini. Dia sangat khawatir" balas Aldho.
"Oh, yaampun kasian mama, pasti dia sangat cemas"
Aldho melihat Cindy yang hanya menggunakan handuk kimono berwarna putih lalu mendekat dan memeluknya dari belakang.
"Kenapa mandi tidak mengajakku?" protes Aldho.
"Kak Aldho tidur sangat pulas mana mungkin membangunkanmu?"
"Baiklah kalau begitu ikut aku mandi lagi" Aldho langsung menggendong tubuh Cindy kembali tidak peduli akan teriakan penolakan Cindy.
.
Di rumah Mama Grace merasa lega setelah mendengar penjelasan Aldho. Akhirnya pria itu bisa di hubungi.
"Bagaimana ma? Aldho sudah bisa dihubungi?" tanya Pak Tirta.
"Sudah yah, mereka ternyata menginap di hotel. Mereka mungkin butuh privasi" jawab Mama Grace.
"Benar juga Ma, melihat kemajuan hubungan mereka membuatku lega. Semoga trauma Cindy segera hilang"
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 Cindy dan Aldho bersiap untuk check out. Karena terburu-buru akhirnya baru sarapan di restoran. Mereka masih mengenakan pakaian semalam membuat Cindy menjadi pusat perhatian.
Akhirnya Aldho menggunakan jasnya untuk menutupi tubuh Cindy.
"Cindy.." teriak seorang wanita yang begitu dikenal Cindy.
"Windy?" balas Cindy saat menemukan sumber suara itu.
"Kalian dari mana?" Windy tampak heran dengan penampilan Aldho dan Cindy.
Memakai gaun malam yang sedikit mencolok namun wajahnya polos tanpa riasan. Sedangkan Aldho nampak formal dengan setelan kemeja hitam.
"Kami dari hotel" jawab Aldho.
"Maksudnya kami semalam menghadiri pesta pernikahan lalu menginap di hotel. Belum sempat pulang" balas Cindy.
"oohh..." Windy nampak senyum-senyum dengan kelakuan sepasang suami istri ini.
"Baiklah silahkan menikmati makanan, aku sudah selesai mau pulang" jawab Windy yang berpamitan pergi karena dia tahu sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk mengobrol.
Selesai makan Cindy dan Aldho hendak pulang namun di perjalanan tiba-tiba Cindy mengeluhkan perutnya yang sakit.
"Aakkhh...."Teriak Cindy meringis kesakitan.
"Kenapa sayang?" tanya Aldho sambil menyetir.
"Perutku sakit sekali" ucap Cindy sambil menekan perutnya.
Aldho langsung meminggirkan mobilnya dan memeriksa keadaan Cindy.
"Sebelah mana?"
Cindy menunjuk perutnya bagian atas. Dia terus meringis kesakitan.
Karena panik dan takut terjadi sesuatu dengan kehamilannya Aldho langsung pergi ke rumah sakit.
"Bagaimana Bu dokter?" Aldho langsung menanyai dokter Helena saat keluar dari ruang pemeriksaan.
"Semua baik-baik saja. Tidak terjadi sesuatu dengan kehamilannya."
"Lalu kenapa Cindy bisa kesakitan?"
"Asam lambungnya sedang naik. Jadi menimbulkan rasa nyeri" dokter Helena menjelaskan.
"Oh Ya Tuhan, aku sama sekali tidak menyadari. Tadi memang kami telat sarapan hingga jam 10 baru makan. Ku kira karena semalam aku terlalu bersemangat jadi mengganggu kehamilan Cindy" jawab Aldho menghela nafas lega.
Mendengar jawaban Aldho langsung membuat dokter Helena tertawa. Hal itu justru menimbulkan pertanyaan bagi Aldho.
"Oh Pak Aldho kenapa anda sangat jujur?" ucap Dokter Helena sembari menahan tawa.
"ya, mungkin karena saya suka sebal dengan pasien yang tidak jujur. Itu membuatku sulit mendiagnosa" balas Aldho malu-malu.
Selesai diperiksa barulah Aldho pulang ke rumah. Namun saat berjalan menyusuri koridor rumah sakit semua orang memperhatikan penampilan Cindy dan Aldho. Terutama pakaian Cindy.
"Semua orang terus memperhatikanku" gumam Cindy.
"Baiklah ayo kita segera pergi" Aldho merangkul Cindy dan berjalan cepat seperti sedang dikejar penjahat.
Pukul 12 siang mereka baru sampai di rumah. Mama Grace menyambut mereka berdua.
"Selamat siang sayang-sayangku" sambut Mama Grace.
"Mama..." rengek Cindy.
"Maaf ma kita baru pulang, tadi mengantar Cindy ke rumah sakit dulu" balas Aldho.
"Memangnya kenapa dengan Cindy?" Mama Grace terlihat panik.
"Tidak apa ma, hanya sekedar asam lambungku naik"
"Baiklah kalian istirahat saja"
Cindy dan Aldho menuju ke kamar dan berganti pakaian santai.
"Kak Aldho biarkan aku memakai baju" Aldho terus memeluk Cindy dari belakang. Dia begitu suka menggoda istrinya.
"kenapa istriku sangat cantik?" ungkap Aldho gemas.
Cindy berbalik menghadap Aldho lalu mengecupnya dengan lembut.
"Dan kamu suamiku tertampan. Yang suka buatku cemburu"
"Kenapa cemburu?" Aldho heran.
"karena para wanita selalu mencuri-curi pandang saat Kak Aldho lewat" dengus Cindy kesal.
Aldho langsung tertawa mendengar ungkapan Cindy.
"kenapa tertawa? memang begitu kan" Cindy memanyunkan bibirnya hingga membuat Aldho semakin gemas.
"Oh sayangku biarpun mereka memandangku aku tidak peduli. Hanya kamu yang ada di hatiku" Aldho sekarang semakin pandai merayu.
Saat sedang asyik menggoda Cindy tiba-tiba ponsel Aldho berbunyi.
Sebentar sayang aku angkat telepon.
"Halo selamat siang ada yang bisa saya bantu?" tanya Aldho.
"Aldho, ini aku.. Roger"
Aldho seperti tersambar petir. Dia sangat terkejut. Dia langsung berjalan keluar kamar tanpa memperhatikan Cindy.
"Apa maumu? dimana kau?" tanya Aldho dengan suara kesal.
"Aku hanya ingin menanyakan kabar Cindy Al, aku sangat merindukannya" mendengar hal itu membuat Aldho semakin marah.
"Tidak usah kau merindukan dia. Dia sudah bukan milikmu"
"Apa maksudmu Aldho?"
"Dia sekarang adalah istriku"
.
.
.
semoga menikmati cerita ini ya... jangan lupa like dan dukungannya.