
Dua hari berlalu, Cindy sudah diperbolehkan untuk pulang. Selama itu pula Aldho dan Pak Tirta terus memikirkan kehamilan Cindy. Aldho begitu terpukul namun penasaran apa yang sedang Cindy alami hingga dia hamil. Aldho tau betul Cindy bukanlah gadis gampangan yang mudah memberikan tubuhnya untuk sembarangan laki-laki. Cindy juga selalu patuh terhadap orang tuanya.
Di perjalanan pulang dari rumah sakit Cindy duduk di kursi belakang bersama Mama Grace. Sementara Aldho menyetir dan pak Tirta berada di sampingnya. Suasana begitu hening. Tidak ada yang berbicara sama sekali. Mama Grace merasa ada yang berbeda lalu memulai pembicaraan.
"Cindy sayang, akhirnya kamu sudah boleh pulang. Lain kali hati-hati ya jangan sampai jatuh lagi" Ucap Mama Grace mencoba mencairkan suasana.
Cindy hanya menanggapi dengan anggukan dan tersenyum tipis. Dia masih memikirkan perkataan Roger yang meminta untuk menggugurkan kandungannya.
jika aku menggugurkan bayi ini, maka sama saja aku jadi pembunuh. batin Cindy.
Sementara Aldho terus mendengus kesal. Pikirannya terus mengusik. Dia ingin cepat sampai rumah dan menanyai Cindy apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sebelumnya dia harus memberitahu Mama Grace dengan hati-hati.
Pak Tirta menyadari sikap Aldho. Sesekali dia mengusap bahu Aldho untuk menenangkannya.
Mereka sampai di rumah. Mama Grace membantu Cindy menuju kamarnya sedangkan Aldho dan Pak Tirta membawa sisa barang yang ada di mobil.
"Biar Ayah yang bicara dengan Mamamu. Kamu bicaralah dengan adikmu. Tapi jangan sampai membuatnya tertekan" titah Pak Tirta kepada Aldho.
"baik yah.." Aldho mulai menaiki tangga menuju kamar Cindy.
"Cindy, boleh kakak masuk?"Aldho mengetuk kamar Cindy.
"Iya kak, masuk saja" balas Cindy.
Aldho memasuki ruangan tempat Cindy istirahat. Dia duduk di tepi ranjang dekat Cindy.
Aldho memandangi Cindy yang keningnya masih tertempel plester.
"Ada apa kak?" tanya Cindy lirih.
"Cindy kamu yakin tidak ada yang ingin kamu ceritakan kepadaku?"
Cindy menunduk. Dia masih berfikir apakah menceritakan semuanya kepada Aldho adalah keputusan yang tepat? Tapi Roger terus mendesaknya untuk bungkam.
"Ti-tidak kak.." ucap Cindy terbata.
"Cindy kau tau aku sangat menyayangimu lebih dari diriku sendiri. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi kepadamu." Aldho memegang telapak tangan Cindy dan mulai menyatukan jemarinya.
Kini Aldho menghamburkan tubuhnya ke pelukan Cindy. Dia sudah tidak tahan lagi. Tangisnya pecah di pelukan Cindy membuat gadis itu bingung, tidak pernah kakaknya sesedih ini.
"Cindy jangan kau tutupi lagi. Aku tahu apa yang kau sembunyikan. Jujurlah padaku aku tidak akan memarahimu. Tapi beritahu alasannya kenapa kamu sampai mengalami itu.." Aldho menyampaikan maksudnya kepada Cindy membuat gadis itu tersentak.
Keringat dingin membasahi pelipisnya dan tubuhnya mulai gemetar mendengar kata-kata Aldho.
"Kak Aldho sudah tahu?" ucapnya dengan gemetar.
"Aku tahu Cindy. Kemarin dokter memberitahu hasil pemeriksaannya. Siapa yang melakukannya Cindy?" Kini Aldho menatap mata Cindy dengan tajam. Dia sangat ingin tahu apa yang terjadi.
Sementara di ruangan lain Mama Grace sedang merapikan kamar tidurnya. Pak Tirta mendekati Mama Grace dengan raut wajah cemas.
"Ma, bisa kita bicara sebentar?" Pak Tirta meraih tangan istrinya untuk menghentikan pekerjaannya sebentar.
"Ada apa sayang, sepertinya ini serius?"
Pak Tirta menyodorkan sebuah kertas yang isinya keterangan pemeriksaan Cindy. Mama Grace menerima kertas itu dan mulai membacanya.
"a-apa... ini tidak mungkin. Ini pasti salah kan sayang?" Mama Grace mulai berkaca-kaca. Dia sangat terkejut dengan kehamilan Cindy.
"Ayah juga tidak percaya. Tapi kita harus tau kebenarannya dari Cindy langsung" Pak Tirta belum selesai berbicara namun Mama Grace sudah bangkit dan berlari menuju kamar Cindy.
Sementara di kamar Cindy sedang menangis bersama Aldho.
"Siapa Cindy pelakunya? Jangan takut katakan saja" Aldho terus mendesak Cindy untuk jujur.
Sementara Aldho langsung bangkit dari ranjang. Dia sangat terkejut akan pengakuan Cindy. Tidak menyangka bahwa sahabatnya sendiri yang melakukan hal itu.
Mama Grace dan Pak Tirta yang sedang berada di depan pintu kamar Cindy sama terkejutnya dengan pengakuan Cindy. Mama Grace langsung berlari menghampiri Cindy. Memeluknya dengan erat.
Cindy mulai menceritakan detail kejadiannya membuat Aldho semakin geram. Amarahnya sudah memuncak sementara tangis Cindy dan Mama Grace pecah.
"Aku harus menemukan badjingan itu" tangan Aldho mengepal seakan sudah siap memberi pelajaran untuk Roger.
Tanpa ba bi bu lagi Aldho langsung berjalan keluar kamar Cindy untuk mencari Roger. Dia sudah tidak mempedulikan lagi teriakan Pak Tirta. Tak lupa dia mengambil salah satu tongkat golf milik pak Tirta yang berada di bawah tangga.
Aldho mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga sampai di depan rumah Roger. Dia membuka pintu mobil dan membantingnya dengan kasar.
Dengan tidak sabar Aldho menggedor-gedor pintu rumah Roger.
Bi Lila segera membukakan pintu.
"Oh, mas Aldho silahkan..." Aldho langsung memasuki rumah Roger. Dia melihat sekeliling.
"Dimana Roger bi?" tanya Aldho dengan wajah memerah.
"Di kamarnya mas, tapi..." belum sempat Bi Lila meneruskan ucapannya Aldho langsung beranjak menuju kamar Roger yang memang sudah dia hafal tempatnya.
Di depan pintu Aldho mendengar ada suara perempuan yang sedang cekikikan. Tanpa menunggu lama Aldho langsung menendang pintu kamar Roger dengan keras.
Roger yang bertelanjang dada bersama seorang wanita di atas ranjangnya sangat terkejut dengan kedatangan Aldho yang sedang memegang tongkat golf di tangan kanannya.
"Aldho..."
BBUUKKKK...!!!!
Aldho langsung melayangkan tongkat golfnya ke punggung Roger dengan keras membuat wanita yang bersama Roger langsung memekik keras dan meloncat dari ranjang.
"Badjingan kau Roger, sialan kau..." Aldho terus memukuli Roger dengan tongkat golf milik ayahnya serta menendang Roger. Jiwanya sudah dipenuhi dengan amarah hingga tak lagi menghiraukan teriakan wanita itu. Sedangkan Roger hanya pasrah dengan apa yang dilakukan Aldho karena dia tau kesalahanya. Kalaupun hari ini dia harus mati di tangan Aldho dia pasrah.
Bi Lila yang mendengar suara gaduh di atas segera menghampiri. Dia dibuat terkejut melihat Roger yang sudah berlumuran darah dan memar di beberapa bagian tubuhnya karena dihajar oleh Aldho.
Sementara wanita yang bersama Roger meraih ponselnya di meja dan mencoba untuk menghubungi polisi. Dengan segera Bi Lila menghentikan wanita itu.
" Jangan... biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri" "Tapi dia bisa mati..." Ucap wanita itu panik.
Bi Lila menggelengkan kepalanya. Memberi isyarat agar wanita itu tidak ikut campur.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" wanita itu sungguh penasaran. Akhirnya Bi Lila mengajaknya keluar dan menceritakan semuanya membuat wanita itu begitu terkejut.
Di dalam kamar Aldho menjambak rambut Roger yang tersungkur lemas di lantai hingga kepalanya mendongak ke atas. Wajahnya yang babak belur penuh berlumuran darah menghadap Aldho dengan pasrah.
"Kau bilang aku seperti saudaramu, tapi kenapa kau tega melakukan itu kepada Cindy? Kau melukainya sama dengan melukaiku" Ucap Aldho dengan penuh amarah. Air matanya mulai membanjiri wajah tampannya. Dia tidak pernah menangis sekalipun sedang terluka Namun kali ini lukanya begitu dalam. Seperti ribuan pisau menghujam jantungnya.
"ma-maafkan aku Aldho, aku tidak sadar melakukannya. Saat itu aku sedang mabuk" Roger mencoba menjelaskan kepada Aldho dengan menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Kau tahu Cindy adalah belahan jiwaku. Kau tega melecehkannya, kau bahkan menghancurkan masa depannya. Kau adalah orang paling menjijikkan yang paling aku kenal" Aldho melepaskan Roger dan dia duduk bersimpuh di sebelahnya. Kedua tangannya kini menutup wajahnya. Dia menangis dan semakin terisak. Perasaannya begitu hancur.
"Aku telah gagal menjadi kakak yang baik"
.
.
Semoga suka dengan karyaku. Bila ada kurangnya boleh ditambahkan di kolom komentar ya... jangan lupa boleh kasih bunganya... hehe