
Sekujur tubuh Cindy kini sudah basah oleh peluh. Nafasnya tersengal namun dia sangat bahagia karena puas.
Permainan Aldho yang begitu lembut justru membuatnya terbang ke awang-awang. Pria itu selalu bisa menyenangkan hasrat sang istri.
Seolah ini adalah balasan dari perbuatannya waktu itu.
Cindy merasa tubuhnya sangat rileks bahkan tak merasa lelah sedikitpun padahal dia sendiri yang terus meminta lebih lama.
Aldho yang tidur miring menghadap dirinya. Tampak basah juga oleh keringat.
Perlahan Cindy meraih tisu dan menyeka keringat yang ada pada wajah dan lehernya.
Diusap lembut pipi Aldho dan sedikit menyentuh bibir seksi pria itu yang ditumbuhi rambut disekitarnya.
"So sexy.." gumam Cindy lirih.
"You're the most sexiest Babe..." balas Aldho dengan matanya yang masih terpejam.
Cindy pun langsung terkejut. Ternyata Aldho belum tidur.
"Emm.. Ku kira sudah tidur." gumam Cindy salah tingkah.
"Aku sedang tidur ini sayang, tapi saking senangnya pun tak ingin melewatkan sedetik pun saat ini" Aldho mengulas senyuman saat membelai pipi Cindy dengan lembut.
Aldho merasakan kedutan di perut Cindy. Senyumnya pun semakin membuncah saat merasakan pergerakan janin di perut Cindy.
"Sepertinya dia juga senang" bisik Aldho menggoda Cindy.
"Ah sudahlah, aku mau mandi" Cindy beranjak dari ranjangnya tanpa sehelai pakaian berjalan menuju toilet.
Aldho hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya melihat pemandangan yang sangat dia sukai itu.
Setelah beberapa saat Cindy keluar dari toilet dia melihat ranjangnya yang sudah bersih dan tertata rapi.
Kebiasaan Aldho yang suka beberes setelah berolahraga.
Aldho yang bertelanjang dada hanya memakai boxer hitam terlihat menikmati sejuknya hawa pagi yang dingin dari balkon kamarnya.
Saat ini memang masih sangat pagi. Bahkan langit belum sepenuhnya terang.
Cindy yang hanya mengenakan Bathrobe berjalan memeluk Aldho dari belakang.
"Sayang, kapan kamu cuti?" tiba-tiba Cindy bertanya.
"Sepertinya dua minggu lagi sayang. Sekarang masih banyak jadwal operasi juga kerjaan kampus. Ada apa?" balas Aldho.
"Emmm.. Aku ingin ke pondok. Aku ingin menenangkan diri di sana beberapa hari" ujar Cindy.
Memang sudah lama dia tidak pergi ke Cottage yang berada di kebun teh.
"Tapi itu mendekati lahiran kamu sayang, aku khawatir perjalanannya cukup jauh" ujar Aldho.
"Tapi aku bosan sayang, aku ingin ke sana. Kangen teh jahe buatan Pak Fahri" Cindy terus merengek.
Aldho membalikkan tubuhnya menatap Cindy.
"Kalau sudah begini aku bisa apa? Kita tanya dokter Helena dulu ya apakah memungkinkan kamu untuk bepergian" Aldho paling tidak bisa jika mendengar rengekan Cindy.
Siang itu Aldho berkonsultasi kepada dokter Helena. Melihat dari kondisi Cindy yang sehat sepertinya memungkinkan dirinya untuk pergi. Namun untuk mengantisipasi mereka tetap membawa perlengkapan bayi untuk berjaga-jaga.
****************
Dua minggu berlalu akhirnya waktu yang ditunggu Cindy tiba. Begitu juga dengan Selina yang sangat antusias.
Meski begitu Mama Grace tampak khawatir. Tapi Cindy terus meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja.
"Cuacanya sedang tidak menentu sayang, Mama Takut terjadi sesuatu" mama Grace merasa cemas.
"Ma... Doakan saja baik-baik ya ma" rayu Cindy.
Meski akhirnya Mama Grace memperbolehkan Cindy pergi namun dalam hatinya masih khawatir.
"Kenapa firasatku seolah terus mengatakan sesuatu" gumam Mama Grace dalam hati.
Sementara Aldho, Cindy dan Selina kini tengah berbahagia menikmati perjalanannya. Meski ditemani hujan gerimis sepanjang perjalanan tidak mengurangi kebahagiaan mereka.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" berulang kali Aldho menanyai Cindy.
Setelah beberapa jam perjalanan mereka sampai juga di lokasi.
Tampak Pak Fahri dan istrinya menyambut mereka.
"Selamat datang Mas Aldho, Non Cindy.. Dan si cantik kesayangan Bibi" Bi Siti istri Pak Fahri langsung memeluk Selina dan menggendongnya.
Sejak kecil Aldho sering membawa Selina ke pondok sehingga mereka cukup dekat.
"Bi Siti dan Pak Fahri apa kabar?" Tanya Cindy melepas rindu.
Sejak pergi ke Milan memang mereka sama sekali tak pernah bertemu.
Cindy dan Aldho langsung beristirahat di kamar setelah perjalanan. Sementara Selina sudah ikut Pak Fahri dan istrinya ke kediamannya.
Gadis kecil itu selalu jadi pusat perhatian di kampung karna wajah bulenya yang menggemaskan.
Entah kenapa Cindy merasakan aneh di perutnya. Serasa mulas tapi tidak begitu terasa.
"Ah, tidak mungkin aku melahirkan sekarang. Kan masih dua minggu lagi" gumam Cindy dalam hati.
Keesokan harinya Aldho dan Selina sedang bermain di kebun teh karena cuacanya yang cerah. Sementara Cindy ingin beristirahat saja di Cottage.
Seharian tubuhnya terasa lemas. Bahkan kakinya sudah mulai membengkak dan terasa linu.
Sore harinya hujan turun dengan lebat disertai angin. Bahkan akses jalan ditutup karena banyak pohon tumbang.
Benar kata Mama Grace, cuaca tak bisa ditebak.
"Akh..." Cindy terpekik ketika perutnya terasa sangat mulas.
"Sayang ada apa?" Aldho menghampiri Cindy yang tengah meringkuk di ranjangnya.
"Pe-perutku sangat mulas.. Sepertinya.. Aku mau lahiran.." Cindy terus meringis kesakitan hingga tak bisa berkata dengan benar.
"Apa? Bukankah katanya masih dua minggu lagi?" Aldho terkejut.
"Tapi... Aku-tidak kuat.. " keringat Cindy mulai bercucuran dan wajahnya memucat.
"Iy-iya sayang.. Tapi sekarang jalan di tutup kita tidak bisa kemana-mana. Diluar hujan badai" Aldho sedikit panik.
Kemudian dia menelepon dokter Helena melaporkan apa yang telah dialami Cindy saat ini.
"Bu Dokter, sepertinya Cindy akan melahirkan. Sementara di sini sedang hujan badai. Jalan ditutup. Dia tidak bisa menunggu" ucap Aldho dengan panik.
"Baiklah, Pak Aldho sudah bawa segala perlengkapan yang saya minta kan? Ini keadaan darurat jadi mau tidak mau anda yang harus membantunya melahirkan" ujar Dokter Helena.
Akhirnya Aldho pun segera mempersiapkan segala perlengkapan medis yang dia bawa di mobil.
Dia mulai memeriksa detak jantung dan tekanan darah Cindy, dia juga telah memasang infus.
"Papa, mama kenapa?" Selina terkejut saat menghampiri kedua orang tuanya.
"Sepertinya adikmu akan lahir sayang. Bisa bantu Papa?" Aldho memeriksa pembukaan Cindy.
"Iya papa... Selina bantu apa?" tanya Selina.
"Tolong panggilkan Pak Fahri ya, ponsel papa ada di meja." dengan arahan Aldho Selina pun menelepon Pak Fahri.
Melihat Cindy yang penuh dengan keringat Selina pun berinisiatif mengambil tisu dan mengusap keringat di wajah mamanya.
"Mama yang kuat ya, pasti bisa" Selina mencium kening memenya sembari meraih tangan Cindy.
"Te-terimakasih.. Sayang" Mendengar semangat dari putrinya seolah Cindy mendapat kekuatan tambahan.
Aldho menuntun Cindy untuk mengejan. Ini memang pengalaman pertamanya membantu seseorang melahirkan. Meski bukan dokter spesialis Obgyn namun dia memiliki cukup pengetahuan untuk penanganan darurat.
"Ayo sayang, kamu pasti bisa. Kepalanya sudah terlihat."
"AAAARRRGGGHHHH..." Sekuat tenaga Cindy mengejan.
.
.