Baby Blues

Baby Blues
bab 97 masih mencintai



Dua bulan sudah akhirnya keadaan Selina kembali membaik bahkan kini dirinya sudah masuk sekolah. Pastinya sekolah di tempat baru karena tidak mungkin Aldho mengembalikan Selina ke sekolah lama.


Selina cepat beradaptasi dan terlihat dia mulai mempunyai banyak teman. Serta para guru yang begitu perhatian.


Berbeda dengan kehamilan sebelumnya Cindy merasa hamil yang sekarang sangat nyaman. Dia sudah tidak pernah mengalami Morning sicknes alias mual-mual di pagi hari sehingga tubuhnya terasa segar dan bergairah.


Namun hal lain justru dialami Aldho. Dia mengalami Couvade Syndrome, atau kehamilan simpatik, adalah masalah yang terjadi pada pasangan pria dari wanita hamil yang mengalami gejala saat hamil. Memang, hal ini dapat membuat seorang pria mengalami gejala berupa sembelit, gas, kembung, mudah marah, mual, dan lainnya.


Dia sering menangis sendiri saat menonton adegan film sedih atau melihat keluarga pasien yang menangis di rumah sakit.


Hal itu pula membuat beberapa rekannya di rumah sakit merasa heran.


"Pak Dokter Aldho jadi gampang terbawa perasaan sekarang" gumam beberapa perawat.


.


Besok adalah kegiatan sekolah Selina yaitu outbond yang mengharuskan kedua orangtuanya ikut hadir karena berkenaan dengan lomba parenting.


Namun bertepatan dengan hal itu Aldho memiliki jadwal operasi yang cukup serius sehingga dia tidak mungkin meninggalkan rumah sakit.


Cindy mulai gelisah takut Selina merasa kecil hati karena Aldho tidak bisa menemani. Sementara Aldho berinisiatif agar Roger yang menghadirinya.


Akhirnya Cindy memberitahu Selina.


"Sayang, besok kegiatannya diantar Daddy mau ya? Soalnya Papa ada operasi pasien" ujar Cindy.


"Iya deh Ma, tapi sama mama ya. Selina maunya Mama Ikut" ungkap Selina.


Awalnya Cindy hendak meminta Rebecca namun karena ini permintaan Selina akhirnya dia yang harus berangkat dengan Roger.


Rebecca sempat diajak oleh Cindy namun dia menolak dengan alasan tidak enak badan.


Keesokannya Roger telah bersiap dan datang menjemput Selina juga Cindy. Mereka berangkat bertiga.


Selama di perjalanan Selina tampak ceria bercanda tawa dengan Mamanya. Sementara Roger memandangi lewat kaca spion.


"Sudah sampai..." ucap Roger saat sudah sampai di sebuah area camp Ground tempat Selina melaksanakan kegiatan.


Cindy sibuk mempersiapkan perlengkapan yang akan dibawa Selina. Roger pun ikut membantunya.


Kegiatan berlangsung dengan meriah. Para orang tua dan anak saling bekerja sama menyelesaikan berbagai macam game.


Selama melakukan berbagai macam kegiatan dengan selina tampak Roger sangat antusias dan keduanya pun terlihat begitu kompak. Ini adalah momen yang jarang didapat Roger untuk bisa intim bersama putrinya.


Cindy yang tengah hamil muda tidak diperkenankan oleh Roger melakukan banyak aktifitas.


"Cindy kamu ambil bagian mewarnai dan menata balok saja. Biar aku yang ambil aktifitas fisik yang lain" titah Roger.


Cindy pun tersenyum melihat Roger yang pengertian. Namun senyuman itu malah disalah artikan oleh Roger.


Selina kini memasuki kegiatan terakhir yaitu kegiatan khusus anak-anak jadi para orang tua tidak perlu mendampingi.


Sementara Roger dan Cindy sedang bersantai dibawah rindangnya pohon dengan beberapa orang tua lain.


Cindy tampak berbincang dengan beberapa wali murid. Banyak yang mengira Roger adalah suami Cindy namun dia langsung menjelaskannya serta berbincang mengenai masalah Selina yang pindah sekolah.


Banyak para orang tua yang mendukung Cindy dan menyemangatinya.


Roger yang sedari tadi memilih duduk menyendiri menikmati rokoknya mulai menghampiri Cindy.


"Cindy bisa kita bicara sebentar?"


Cindy pun mengangguk. "Iya Roger, ada apa?"


"Sebaiknya kita ke mobil saja ya"


Cindy pun mengangguk. Akhirnya mereka berjalan menuju mobil Roger yang terletak paling ujung. Tidak ada perasaan apapun bagi Cindy karena dia menganggap Roger adalah Saudara iparnya.


Roger membuka pintu dan mempersilahkan Cindy untuk masuk.


"Aku khawatir kamu kelelahan Cindy. Istirahatlah disini aku akan menemanimu" ujar Roger yang juga masuk ke dalam mobil.


"Terimakasih Roger. Kamu sudah perhatian padaku" balas Cindy tentu dengan senyuman.


Diam-diam Roger mengunci pintu mobil tersebut. Dia terus mengamati Cindy yang mulai memejamkan matanya. Terlihat peluh membasahi kening Cindy karena cuaca di luar memang cukup terik.


Roger mengambil tisu dan perlahan mengusap keringat yang ada di wajah Cindy. Cindy yang hampir tertidur langsung terkejut saat Roger Menyentuhnya.


Sementara Cindy mulai merasa canggung dengan perlakuan Roger. Dia langsung meraih tisu dari tangan Roger dan mengelap wajahnya sendiri.


Bukannya menjauh kini Roger semakin mendekatkan wajahnya ke arah Cindy. Cindy dibuat bingung dan dia hendak membuka pintu mobil.


Sialnya pintu mobil telah dikunci oleh Roger. Secepat kilat Roger meraih tangan Cindy dan langsung mencium bibirnya dengan ganas.


Cindy sangat terkejut berusaha meronta namun tubuh kekar Roger justru mengunci tubuh mungilnya.


"Hhmmmpphh.." Cindy berusaha teriak namun bibirnya terus dicium oleh Roger dengan serakah.


Cindy begitu ketakutan karena hal itu mengingatkannya pada saat Roger menodainya pertama kali.


Air matanya berhasil lolos. Dia terus berusaha melepaskan diri dari Roger hingga akhirnya kedua tangannya berhasil mendorong Roger.


Terlihat wajah Roger yang memerah memandangi Cindy.


PLAKKK..!!!


Cindy langsung menampar Roger dengan keras.


"Kau gila Roger. Apa yang kamu lakukan padaku" teriak Cindy gemetar.


"Ya, aku memang gila Cindy. Aku tergila-gila padamu. Aku tidak bisa berhenti mencintaimu" ungkap Roger mulai emosi.


"Tapi kamu harus ingat aku ini saudara iparmu. Dan kamu sudah punya istri. Kumohon jangan seperti ini Roger" tangis Cindy mulai pecah.


"Aku harus bagaimana Cindy? Aku sudah berusaha untuk menghilangkan perasaanku kepadamu tapi semakin aku melakukannya semakin aku menginginkanmu. Aku cemburu melihatmu mesra bersama Aldho. Harusnya yang menjadi istriku adalah kamu Cindy" Roger mulai mengungkapkan perasaannya.


"Tapi kamu harus tahu bahwa Rebecca adalah istrimu. Dia sangat mencintaimu" ujar Cindy.


"Rebecca memang mencintaiku tapi cintaku tak sebesar kepadamu Cindy. Aku sangat mencintaimu. Beri aku kesempatan sekali saja Cindy maka aki akan melupakanmu" Roger terus berusaha merayu cindy.


Cindy kembali menamparnya untuk kedua kali.


"Sadarlah Roger. Sadar... Kita tidak akan pernah bersama. Di hatiku hanya ada Kak Aldho. Dan cintaku hanya untuknya." Hardik Cindy.


Roger tampak semakin frustasi sementara Cindy sudah sangat ketakutan dan kesal.


Berdebat dengan Roger tidak ada habisnya dia hanya diam menunggu Roger membukakan pintu.


"Lalu aku harus apa Cindy?" ucap Roger kembali.


"Kamu harus menerima kenyataan" ucap Cindy ketus. Dia masih sangat kesal.


Perlahan Roger membuka kunci pintu mobilnya. Dan segera Cindy keluar dari mobil itu dan berlari mencari toilet.


Dia membasuh mukanya dengan air agar tak terlihat bahwa dirinya habis menangis.


Sambil menatap cermin Cindy mengingat saat Roger memaksanya berciuman. Hal itu semakin membuatnya kesal.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Rupanya Aldho yang menelepon.


"Sayang bagaimana kegiatan Selina? Maaf aku baru selesai mengoperasi" ucap Aldho dalam telepon.


"baik sayang, Kak Aldho sibuk tidak? boleh jemput aku ya?" ucap Cindy manja.


"Bukannya kamu barengan sama Roger sayang? Nanti dia gimana?" tanya Aldho.


"Aku pengen dijemput kamu sayang, aku kangen kamu" rengek Cindy.


Mendengar suara manja istrinya tentu saja Aldho tak bisa menolak. Dia langsung bergegas menjemput Cindy.


Dua puluh menit kemudian Aldho sampai di lokasi. Kebetulan mobilnya dia parkir di dekat Mobil Roger.


Roger yang semula duduk didalam mobil kini mulai keluar. Dia menyambut Aldho seolah tidak terjadi sesuatu.


"Sayang..." Cindy langsung memeluk tubuh Aldho dan menyembunyikan wajahnya di dalam dekapan suaminya.


Roger hanya bisa menatap Cindy dan Aldho dengan tatapan nanar.


.


.


bersambung....