Baby Blues

Baby Blues
bab 46 melahirkan



Flashback...


Pak Theo merasa sangat sedih ketika Roger menutup teleponnya secara sepihak. Niatnya kembali urung untuk memberitahu bahwa Aldho adalah kakaknya.


Tiba-tiba Bi Lila datang menemui Pak Theo dan memberitahukan bahwa ada tamu yang menunggunya.


Pak Theo segera menuju ke ruang tamu untuk menemui tamunya. Ternyata itu Viona.


"Viona, ada apa tumben kamu kesini"


"Theo, sebenarnya aku bingung. Kenapa Aldho semakin jauh denganku?"


Pak Theo menghela nafas sejenak. Mencoba untuk memberitahu Viona tentang sikapnya selama ini.


"Viona, aku tahu kita berdua salah. Tidak membesarkan dan merawat Aldho. Namun setidaknya janganlah kita membuat masalah dengannya. Aldho memiliki kehidupan sendiri yang mungkin tidak ada sangkut pautnya dengan kita. Jadi kita juga harus menerimanya"


Viona terdiam sejenak mencoba menelaah perkataan Pak Theo.


"Jadi maksudmu aku harus menerima Grace dan Tirta serta Cindy Istri Aldho?"


Pak Theo mengangguk. Dia tahu sebenarnya Viona baik namun didikannya dari kecil yang selalu menjadikan semua hal sempurna membuat wanita itu selalu menilai orang lain dengan detail.


"Mulai sekarang belajarlah menilai orang dengan hal-hal sederhana. Jangan menuntut orang lain dengan kemauanmu. Karena mereka memiliki pemikiran yang tidak sama denganmu"


Entah kenapa saat bersama Pak Theo, Viona selalu menurut. Dia merasa setiap ucapan Pak Theo mudah dia pahami.


Itu pula sebabnya perlahan Viona mau mendekati Cindy.


.


Hubungan Cindy dan Viona semakin baik. Akhirnya Viona mampu menerima Cindy sebagai istri Aldho.


Cindy yang mulai membuka diri untuk Viona sering menceritakan hal itu kepada Aldho sehingga perlahan hubungan Aldho dan viona mulai membaik.


Hari ini Viona kembali datang ke rumah Cindy dengan membawa banyak perlengkapan bayi.


"Sayang, Ibu membawakanmu beberapa perlengkapan untuk bayimu nanti"


"Banyak sekali bu, tapi terimakasih banyak" Cindy merasa senang pada akhirnya dia tahu bagaimana rasanya memiliki seorang mertua.


Saat asyik mengobrol tiba-tiba Cindy merasakan mulas di perutnya.


"Kamu kenapa sayang?" Mama Grace berlari menghampiri Cindy yang mengaduh kesakitan.


"Ma.. perutku kenapa rasanya sakit?" rengek Cindy.


"Apa mungkin kamu mau melahirkan?" tanya Bu Viona.


"Sepertinya begitu, Cindy ayo kita ke rumah sakit sekarang" Mama Grace langsung bergegas menghubungi Pak Tirta.


"Ma.. Tapi Kak Aldho belum pulang. Aku tidak mau melahirkan tanpa dia"


"Sayang, biar nanti mama hubungi Aldho ya, sekarang keselamatanmu lebih penting"


Saat Pak Tirta datang mereka langsung ke rumah sakit. Di perjalanan Cindy sudah terlihat pucat. Beberapa kali dia merintih kesakitan.


Mama Grace mencoba menghubungi Aldho namun cukup sulit karena mungkin terkendala jaringan sinyal.


Sampai di rumah sakit Cindy langsung dibawa ke unit gawat darurat dan segera disiapkan ruang bersalin.


"Cindy, ayo relax atur nafasnya sayang," Ucap Dokter Helena sembari menangani Cindy.


Tak lupa Dokter Sarah juga siap mendampingi Cindy untuk mempersiapkan mental dan emosionalnya.


"Bagaimana ma? Aldho sudah bisa dihubungi?" tanya Pak tirta.


"Belum pa, bagaimana ini?" Mama Grace terlihat begitu khawatir.


Viona langsung menghubungi Pak Theo bahwa Cindy segera melahirkan. Dia begitu bahagia akhirnya momen yang ditunggu-tunggu datang.


Sementara di dalam ruangan Cindy terus merintih kesakitan namun jalan bayi belum juga terbuka sempurna.


Sudah satu jam berlalu Cindy belum juga bisa melahirkan anaknya. Dia pun bersikeras menunggu kedatangan Aldho.


Dokter sudah melakukan prosedur induksi namun belum juga membuahkan hasil. Dokter Helena keluar ruangan untuk memberitahu keluarga Cindy.


"Maaf Bu, apa Pak Dokter Aldho sudah bisa dihubungi. Sepertinya nona Cindy sangat membutuhkan kehadiran Pak Aldho"


"Kita sudah lakukan induksi jadi harus menunggu jika belum berhasil terpaksa harus lakukan tindakan operasi" Ucap Dokter Helena kepada Mama Grace.


Sementara itu ponsel Pak Tirta tiba-tiba berdering. Ternyata Aldho yang menghubunginya.


"Halo ayah ada apa? Tadi Aldho sedang perjalanan naik pesawat jadi HP aku nonaktifkan"


"Aldho kamu sekarang dimana? Cindy sedang melahirkan dan dia kesakitan. Cepat ke rumah sakit" ucap Pak Tirta gentar.


"I-iya ayah, aku langsung kesana"


Untung saja letak bandara cukup dekat dengan rumah sakit tempat Cindy bersalin sehingga tidak butuh waktu lama dia langsung sampai di rumah sakit.


Aldho berlari menuju ruang bersalin. Diluar sudah ada semua keluarganya.


"Ma, apa Cindy di dalam" tanya Aldho sambil mengatur nafas.


"Dia di dalam sayang, dia sudah menunggumu"


Tanpa berlama-lama Aldho langsung masuki ruangan itu. Aldho langsung mensterilkan diri dan memakai pakaian pelindung sebelum bertemu Cindy.


Terlihat Cindy lemas tak berdaya segera dihampiri Aldho.


"Kak Aldho...." teriak Cindy bahagia.


"Sayang, aku disini. Aku bersamamu" Aldho langsung memeluk Cindy dan mencium keningnya.


Tiba-tiba perut Cindy langsung merasakan kontraksi. Tanpa berlama-lama dokter Helena langsung membantu proses persalinan tersebut.


"Aaakkkhhhh...." peluh membasahi seluruh tubuh Cindy.


Dia Mengejan beberapa kali sembari dibimbing oleh Dokter Helena. Aldho terus menyemangati Cindy dan menguatkannya.


Tak perlu menunggu lama akhirnya bayi berhasil keluar. Semua orang sangat lega saat mendengar tangis pertama bayi itu.


"Sayang, kamu berhasil. Kamu hebat" Aldho tak kuasa menitikkan air mata bahagia ketika Cindy berhasil melahirkan anaknya.


"Aku sangat lelah sayang..." Ucap Cindy lemas.


Aldho mengusap peluh di tubuh Cindy sambil berkali-kali membelai rambutnya. Kebahagiaannya tak dapat dibendung lagi.


Dokter Helena langsung memberikan di bayi itu kepada Aldho.


"Bayi berjenis kelamin perempuan dengan keadaan sehat tanpa cacat"


"Terimakasih dokter," Aldho memandangi sosok bayi mungil tersebut. Wajah dan matanya begitu mirip Roger. Namun tak mengurangi rasa sayang Aldho terhadap bayi itu.


Perlahan Cindy sudah mengumpulkan tenaganya. Walaupun masih lemas namun dia merasa lega.


"Sayang... Ini putri kita, sekarang keluarga kita sudah lengkap" ucap Aldho antusias.


Aldho memperlihatkan bayinya kepada Cindy agar dia bisa membantu belajar menyusuinya.


Cindy langsung berteriak histeris ketika melihat wajah putrinya.


"Tidak... Tidak... Jauhkan dia dariku. Aku tidak mau melihatnya" tangis Cindy pecah dan langsung membuat orang-orang panik.


Aldho langsung memberikan bayi itu kepada perawat dan segera menenangkan Cindy. Ternyata inilah yang dimaksud Dokter Sarah. Cindy bisa saja tidak menerima kehadiran anaknya.


Sementara Dokter Helena Memberitahukan keluarga Cindy yang ada di luar. Mereka semua terlihat begitu bahagia.


Namun terdengar suara gaduh di dalam ruang bersalin membuat dokter Helena segera menghampirinya.


"Tidak... Tidak... Aku benci bayi itu" Cindy terus menangis tak terkendalikan. Aldho dan dokter Sarah terus mencoba untuk menenangkannya.


Sementara di luar hampir semua orang mendengar kegaduhan yang terjadi di dalam.


"Ini yang aku takutkan." ucap mama Grace penuh kekhawatiran.


"Mama sudah jangan berpikiran macam-macam. Cindy pasti baik-baik saja" Pak Tirta menepuk bahu Mama Grace untuk menenangkannya.


.


.