Baby Blues

Baby Blues
Bab 53 kejutan



Aldho bergegas pulang ke rumah setelah urusannya selesai. Dia ingin memberi kejutan Cindy dengan membawa formulir pendaftaran sekolahnya.


Saat perjalanan dia berhenti di lampu merah. Ada seorang anak kecil laki-laki menjual bunga mawar dan ditawarkan kepada setiap pengendara yang ada.


Aldho merasa iba akhirnya dia membeli semua bunga yang di jual anak itu.


"Dek, berapa semua bunganya?"


"kakak mau beli semua?" ucap anak itu tidak percaya. Aldho mengangguk.


"Semuanya seratus ribu kak"


Kemudian Aldho memberikan tiga lembar uang seratus ribuan. Anak itu memberikan semua bunganya.


"Kak ini terlalu banyak" Anak itu mengembalikan uang lebih yang diberikan Aldho.


"Itu untukmu, anggap saja rejeki hari ini" Aldho segera berlalu dengan mobilnya karena lampu sudah hijau.


Anak itu terus memperhatikan Aldho yang pergi dengan mata berkaca-kaca.


"Terimakasih Tuhan, aku bertemu orang baik. Suatu saat nanti aku akan jadi baik sepertinya".


.


Aldho sampai di halaman rumah. Dia tidak sabar bertemu Cindy. Dibawanya seikat bunga yang dia beli tadi agar Cindy semakin senang.


Dia memasuki rumah yang terlihat sepi. Biasanya dia akan menengok Selina dulu di kamar Mama Grace namun kali ini dia ingin langsung menemui Cindy.


Aldho menaiki tangga dan langsung menuju kamarnya. Dia membuka pintu perlahan dan menyembunyikan bunga serta formulir di belakang.


Saat hendak memberi kejutan Cindy dia malah terkejut karena melihat Cindy yang tengah menggendong Selina.



"Sayang... Kamu...." Aldho merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


Tangan yang semula dia sembunyikan di belakang kini dia biarkan begitu saja.


Cindy tersenyum saat melihat Aldho datang. Dia sudah menduga Aldho pasti kaget bila tahu Cindy tela mau menggendong Selina.


"Rasanya tidak buruk, dia sangat menggemaskan" ucap Cindy.


Aldho langsung mendekati Cindy dan memeluknya dari samping.


"Aku ingin memberimu kejutan hari ini, tapi malah aku yang mendapatkan kejutan. Terima kasih sayang" ucap Aldho sembari memeluk Cindy juga Selina.


"Memangnya mau kasih kejutan apa?"


Aldho menunjuk bunga yang dia letakkan di sofa sebelah Cindy.


"Aku belikan bunga untuk istriku yang cantik ini dan juga aku membawa formulir untuk sekolahmu sayang" Aldho menunjukkan formulirnya kepada Cindy.


"Apa? Ini sungguhan sayang? Aku bisa sekolah lagi?" Cindy nampak begitu bahagia.


Aldho mengangguk. Sepertinya hari ini adalah hari terbaik untuk mereka. Perjuangan Aldho yang dengan telaten membimbing dan membuat Cindy mau menerima bayinya rasanya tidak sia-sia. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain ini.


"Terimakasih sayang" Cindy langsung mengecup bibir Aldho dengan lembut.


"Aku mencintaimu" ucapnya disela ciuman itu.


"Sayang, bagaimana jika Selina melihatnya. Dia masih dibawah umur" ucap Aldho bercanda.


"Ahh.. Dia tidak akan ingat. Dia masih bayi"


"Ya sudah, kalau begitu nanti malam kita lanjutkan lagi yang lain" bisik Aldho nakal yang langsung membuat pipi Cindy memerah.


.


Sejak bertengkar dengan Aldho kini Viona tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Dia begitu terpukul dengan ucapan Aldho yang telah menolaknya.


Namun hati wanita itu memang sekeras batu. Tak pernah sedikitpun dia merasa bersalah akan apa yang diperbuat kepada Cindy.


Berkali-kali Pak Theo mengingatkan Viona untuk merubah sikapnya agar Aldho mau menerimanya kembali namun hal itu cukup sulit.


Begitu juga dengan Aldho yang telah sakit hati dengan Viona kini tak pernah lagi menghubungi ibunya itu.


Ponsel Aldho sedang berdering. Ternyata Papanya yang menelepon.


"Halo, selamat siang Pa, ada yang bisa Aldho bantu?"


"Aldho, bolehkah malam ini Papa menjenguk Selina? Papa sangat merindukan dia" ucap Pak Theo dalam telepon.


"Terimakasih nak, sampai jumpa nanti malam"


Aldho memberitahu orang tuanya juga Cindy jika Papanya akan berkunjung. Mama Grace mempersiapkan makan malam dibantu Cindy.


Hingga waktunya tiba semua sudah siap. Bel pintu berbunyi yang menandakan kedatangan Pak Theo. Dia datang seorang diri sembari membawa beberapa bingkisan.


"Selamat malam Pa" Aldho menyambut kedatangan Papanya. Pak Theo langsung memeluk Aldho karena sudah beberapa hari ini Aldho sibuk tidak sempat bertemu papanya.


Kedua orang tua Cindy juga menyambut kedatangannya.


"Aldho, dimana Cindy?" tanya Pak Theo.


"Dia masih bersiap Pa,"


Tak berselang lama Cindy datang sembari menggendong Selina. Hal itu membuat Pak Theo begitu senang mengingat terakhir kali dia tahu Cindy begitu terpukul dan tidak mau sama sekali bertemu Selina.


"Anakku, apa kabar sayang?" Pak Theo menyambut Cindy.


"Papa, kabarku baik. Papa apa kabar?"


"Papa baik, bahkan lebih baik saat melihatmu bersama Selina" ungkap Pak Theo berbahagia.


Semua orang kini sudah berada di ruang makan dan menikmati makan malam bersama. Suasana penuh kehangatan dan bahagia menyelimuti ruangan itu.


Selesai makan malam mereka mengobrol bersama. Pak Theo langsung menggendong Selina untuk melepas kerinduannya. Dipandangi wajah cantik cucunya itu. Sekilas dia memikirkan Roger. Dia tak pernah menyangka jika hal ini terjadi. Setelah berulah dan merugikan banyak orang dia pergi tanpa ada tanggung jawab.


Lalu dia melihat Cindy dan Aldho yang sedang mengobrol berdua. Hatinya merasa tenang. Akhirnya Cindy bisa melewati semua ini dan Aldho yang selalu setia mendampingi Cindy bahkan merelakan masa depannya demi Cindy.


Setidaknya Pak Theo masih memiliki Aldho yang selalu memperhatikannya. Walaupun dalam hati dia masih merasa bersalah karena tak mengenali putranya sendiri sedari kecil.


"Aldho, bisa mengobrol sebentar? Ada yang ingin papa bicarakan"


"Baik Pa, silahkan"


Mereka berdua menuju taman. Duduk berdua dan memulai obrolan.


"Papa sangat senang melihat perubahan Cindy. Segala perjuanganmu akhirnya berbuah manis"


"Iya pa, Aldho juga sangat bahagia. Akhirnya do'a ku terjawab sudah"


"Aldho, Papa sangat bahagia memilikimu. Tapi Papa masih saja merasa bersalah kepadamu dan itu selalu mengganggu pikiranku"


"Kenapa Papa harus merasa bersalah kepadaku?" tanya Aldho heran.


" Papa tak bisa mengenalimu sejak kecil. Papa tidak merawatmu dari kecil. Aku adalah orang tua yang begitu buruk" Pak Theo tertunduk.


"Pa, Aldho bahagia jadi anak papa, walaupun sejak kecil aku tidak mengenal papa, itu tidak akan mengubah perasaanku pa."


"Terimakasih Aldho. Kini Papa hanya memilikimu nak. Jangan pernah tinggalkan Papa seperti Roger"


Mendengar nama Roger membuat Aldho mulai emosional. Hatinya masih begitu sakit terhadap Roger.


"Pa, tolong jangan pernah sebut nama itu. Mungkin dia putra Papa juga tapi aku masih sangat membencinya setelah semua yang dia perbuat"


Sementara itu Pak Tirta sedang memperhatikan Aldho dan Pak Theo yang mengobrol dari kejauhan.


"Ayah, sedang apa?" Mama Grace menghampiri Pak Tirta.


"Ayah sedang memperhatikan mereka. Akhirnya Aldho mengetahui orang tua kandungnya. Papa sangat bahagia sekaligus terharu"


Mama Grace mengusap punggung Pak Tirta kemudian menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Menikmati pemandangan indah antara Aldho dan Pak Theo.


"Cindy dimana ma?" tanya Pak Tirta.


"Dia sedang menidurkan cucu kita"


Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Mama Grace segera berjalan ke depan. "Mungkin itu sopir Pak Theo yang menjemputnya" ucap Mama Grace.


Saat Pintu di buka Mama Grace sangat terkejut dengan seorang yang datang.


"Viona?"


.


.


......................