
Sinar mentari menyeruak menembus tirai jendela. Roger yang terlelap mulai terganggu dengan silaunya. Perlahan dia menggeliat dan mengucek matanya.
Kepalanya terasa begitu berat. Entah berapa banyak alkohol yang dia minum semalam.
Dia mulai mengerjapkan matanya dan mengedarkan pandangan ke ruangan itu. Ini bukanlah kamarnya dan tempat ini terasa asing.
Tak sengaja tangan Roger menyenggol sesuatu di sampingnya. Dia langsung menoleh ternyata seorang perempuan tengah tidur membelakanginya.
Terlihat punggung yang putih mulus dengan rambut panjang berwarna pirang. Roger semakin dibuat penasaran dan saat hendak melihat wanita itu dia mulai tersadar bahwa saat ini tubuhnya telanjang tanpa sehelai pakaian.
"Astaga..." gumam Roger sembari menepuk jidatnya.
Roger membalikkan tubuh wanita itu. Dengan malas wanita itu mulai menggeliat dan justru memeluk tubuh polos Roger.
"Who are you?" tanya Roger mencoba melepaskan pelukan wanita itu.
Wanita itu membuka matanya dan mendekatkan wajahnya ke arah Roger.
"Kamu lupa denganku Roger?" ucap Wanita itu.
"Rebecca?"
Wanita itu tersenyum dan langsung menciumi Roger. Rebecca adalah sekretaris ibunya Roger. Sejak awal ibunya memang ingin menjodohkan Roger dengan Rebecca.
Wanita cantik blasteran Indonesia Italia ini memang sudah lama bekerja untuk ibunya Roger. Dia adalah anak dari kenalan ibunya yang kemudian dipercaya karena kinerja dan kecerdasan Rebecca.
"Hentikan.. Apa yang kamu lakukan disini hah?"
Rebecca mulai mendengus kesal. "Apa kamu tidak ingat apa yang kamu lakukan padaku?"
"Memangnya apa?"
"Semalam kamu mabuk aku menolongmu. Tapi kamu minta lebih dan sekarang kamu lupa itu?" ungkapnya kesal.
"Aku benar-benar tidak ingat. Aku mabuk, lupakan saja" Roger berjalan menuju toilet.
"Apa? Lupakan ini? Tidak semudah itu Roger. Lalu siapa Cindy gadis yang terus kamu panggil semalaman?" Rebecca mengungkap dengan kesal.
"Apa? Cindy?" Roger terkejut.
.
Aldho sedang membantu Mama Grace mempersiapkan sarapan.
"Al, kemarin Mama sudah bicara dengan Cindy, dia setuju melanjutkan sekolah lagi"
"Benarkah? Kalau begitu Aldho akan carikan homeschooling yang terbaik untuk Cindy." Aldho terlihat senang. Setidaknya hal ini bisa membuat Cindy lebih baik.
"Ada apa Ma? Ayah dengar kalian membicarakan tentang Cindy?" tanya Pak Tirta.
"Oh, kemarin Mama Bicara dengan Cindy, dia setuju melanjutkan studinya lagi"
"Benarkah? Ayah ikut senang mendengarnya"
Mereka sudah duduk di meja makan kecuali Cindy. Sedangkan Selina sedang tertidur di kamar Mama Grace setelah dimandikan oleh Aldho.
Saat hendak menyantap makanan tiba-tiba Cindy terlihat berjalan menuruni tangga. Sontak hal itu membuat semua orang nampak heran sekaligus senang. Karena sudah hampir satu bulan ini Cindy tak mau sama sekali keluar dari kamarnya.
"Selamat pagi, boleh aku bergabung?" Sapa Cindy seraya duduk di samping Aldho.
"Selamat pagi sayang, tentu saja Mama masak kesukaan kamu" Mama Grace langsung menyiapkan piring dan mengambilkan makanan untuk Cindy.
"Terima kasih Ma, emm.. Ini Cindy bawa ASI nya" Cindy menyodorkan sebotol penuh ASI untuk Selina.
Mereka akhirnya menyantap sarapan bersama. Suasana hangat dan ceria kembali menghiasi rumah itu.
Aldho tak henti-hentinya tersenyum dan mencuri-curi pandang ke arah Cindy yang mulai mau membuka diri.
"Cindy, ayah dengar kamu mau sekolah lagi?" tanya Pak Tirta.
"Iya Ayah..."
"Ayah turut senang mendengarnya. Belajar yang sungguh-sungguh semoga kamu sukses sayang" Pak Tirta mengusap rambut Cindy. Dia sangat senang akhirnya putrinya kembali memiliki minat untuk belajar.
Tak lama kemudian terdengar suara tangis Selina. Mama Grace segera pergi menengok Selina. Cindy nampaknya masih belum siap mengenai Selina lalu dia langsung bergegas meninggalkan ruang makan dan kembali ke atas.
"Aldho, kamu temani Cindy saja. Biar Ayah dan Mama yang mengurus Selina. Dia butuh kamu" ungkap Pak Tirta.
"Baik Ayah" Aldho langsung bergegas menyusul Cindy ke kamarnya.
"Cindy.. Cindy kamu baik-baik saja kan?" Aldho langsung menghampiri Cindy yang duduk termenung di atas ranjang.
"Kak Aldho... Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa..."
"Sayang, kamu pasti bisa. Jangan pikirkan hal lain. Dia putri kita. Hanya kau dan aku" Aldho memeluk Cindy.
"Dia tidak bersalah sayang. Ingatlah dia pernah berada di dalam perutmu dan kamu menantinya sudah lama" imbuh Aldho.
Sejenak Cindy mulai berpikir. Dia memang masih trauma dengan perbuatan Roger namun sampai kapan dia terus begini. Di sisi lain Cindy mulai merasa kasian dengan bayinya.
.
Siang ini Cindy hanya berdua dengan Mama Grace. Pak Tirta pergi ke rumah sakit dan Aldho sedang ada urusan di luar.
Cindy merasa haus dan mengambil air ke dapur karena persediaan air minum di kamarnya habis.
Selesai minum Cindy mendengar suara Selina yang menangis. Dia mencoba untuk tidak mempedulikannya karena Mama Grace pasti sedang bersamanya. Namun hingga beberapa lama Selina masih tetap menangis.
Cindy mulai penasaran dengan keadaan Selina akhirnya dia mulai memberanikan diri menemui anaknya.
Perlahan Cindy membuka pintu kamar Mama Grace. Terlihat bayi mungil itu menangis hingga wajahnya memerah. Tak ada Mama Grace bersamanya namun terdengar suara seseorang mandi di toilet.
"Ka-kamu kenapa? Haus ya?" Cindy mulai menggendong Selina. Ini adalah pertama kalinya ibu dan anak itu berinteraksi.
Tangis Selina langsung mereda saat Cindy menyentuhnya. Mungkin inilah yang dirindukan dari bayi mungil itu.
Cindy mulai memposisikan bayinya seperti saat kelas hamil dulu. Beberapa saat Selina masih terlihat kesulitan namun lama kelamaan dia sudah terbiasa.
Awalnya Cindy merasa geli namun perlahan dia merasakan sesuatu yang lain. Detak jantung kecil itu bisa dirasakan oleh Cindy.
"Putriku..." gumam Cindy mulai berkaca-kaca. Dia langsung memeluk Selina dan mengusapnya dengan penuh cinta.
Mama Grace selesai mandi. Saat keluar dari toilet dia dibuat terkejut dengan keberadaan Cindy yang sedang menyusui Selina. Rasanya hal itu seperti mimpi. Mama Grace sangat bahagia bahkan tak terasa air matanya mulai menggenangi pupilnya.
Tak ingin melewatkan kesempatan ini diam-diam dia memotret Cindy yang sedang sibuk menggendong Selina.
"Cindy.." panggil Mama Grace.
Cindy nampak terkejut, dia sedikit malu saat tertangkap basah oleh mamanya yang sedang menggendong Selina.
"Emm.. Mama.. Itu. Tadi Selina menangis terus jadi aku kasian" ucap Cindy terbata.
Mama Grace langsung merangkul Cindy.
"Sayang terimakasih, mama sangat bahagia melihatmu"
Cindy melihat raut bahagia mamanya hal itu pula membuatnya ikut bahagia.
"Mama, terimakasih ya sudah bantu Cindy selama ini. Aku sering merepotkanmu. Maafkan aku ma" tak terasa air mata mengalir di pipi cantiknya.
"Mama akan lakukan apapun untuk kebahagiaanmu Cindy. Mama sangat menyayangimu"
.
Aldho sedang mengurus pendaftaran program kejar paket berjenjang untuk Cindy. Dia mempersiapkan pendidikan Cindy dengan memilih alternatif home schooling agar dia nyaman untuk belajar.
"Cindy, masa depanmu kembali terukir sayang" gumam Aldho optimis.
Dia tidak sabar memberitahukan Cindy tentang hal ini.
.
.
.
......................