
Tatapan Cindy dan Aldho saling beradu. Sejenak Aldho terbuai dengan kecantikan Cindy. Dia melihat gadis itu sebagai seorang wanita bukan saudaranya. Begitupun Cindy menatap Aldho dengan penuh arti.
Dengan segera Aldho menyadarkan dirinya dan segera mendorong tubuh Cindy untuk bangkit dari tubuhnya.
Perasaan canggung mulai meliputi mereka. Cindy bangkit dari tubuh Aldho dan duduk di ranjang.
Aldho memperhatikan Cindy yang sedang terdiam. Lalu Cindy membalas tatapan Aldho namun wajah Aldho berubah jadi muram.
" Sudah ku bilang untuk hati-hati tapi kau tidak pernah mendengarkanku. Cindy kau ini sedang hamil jaga tingkahmu jangan seperti anak kecil" bentak Aldho kesal.
Cindy hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Tidak menyangka bahwa Aldho jadi marah padanya.
"Sebentar lagi kamu akan menikah. Tolong jaga sikapmu" Suara Aldho terdengar parau. Ada sesuatu yang dipendam dalam hatinya.
"Maaf..." ucap Cindy lirih. Tanpa banyak kata Cindy langsung keluar dari kamar Aldho dan berjalan cepat menuju kamarnya.
Mama Grace dan Pak Tirta yang sedang menonton tv hanya melihat Cindy yang berjalan dengan kesal menuju kamarnya. Tak lama kemudian Aldho juga keluar dari kamarnya mengejar Cindy.
"Ada apa dengan mereka?" tanya Pak Tirta.
"Biar saja, sebentar lagi pasti cengengesan lagi" jawab Mama Grace santai.
"Cindy, tunggu" Aldho menahan pintu yang akan ditutup oleh Cindy.
Aldho langsung masuk ke dalam kamar Cindy tanpa persetujuannya. Cindy membuang muka. Dia masih marah dengan ucapan Aldho.
"Cindy maafkan aku, bukan maksudku seperti itu" Aldho berusaha membujuk Cindy.
Air mata Cindy meleleh dipipinya. Kehamilannya membuat perasaan Cindy jadi sensitif.
"Cindy kau menangis?" Aldho segera memeluk Cindy.
Dia terus terisak membuat Aldho semakin merasa bersalah. Mungkin ucapannya yang begitu keterlaluan.
"Cindy maafkan kakak" Aldho mendekap tubuh Cindy berusaha untuk menenangkannya.
"Kak, kenapa kau marah padaku padahal biasanya tak pernah begitu. Apa aku terlalu jahil? dan soal tadi aku tidak sengaja" protes Cindy.
"Tidak Cindy, aku hanya terbawa emosi. Maafkan aku sudah menyakiti perasaanmu"
"kenapa kak Aldho jadi emosional?"
Aldho melepas pelukannya dan duduk di tepi ranjang. Mengamati Cindy yang sedang duduk mendekatinya.
"Sebentar lagi kau menikah Cindy, itu artinya kau tidak tinggal dirumah ini lagi. Betapa kesepiannya aku jika tidak ada dirimu dirumah ini"
Cindy mengusap lutut Aldho dan mencoba memberinya pengertian.
"Kak, Aku memang akan menikah tapi aku tidak sepenuhnya pergi dari keluarga ini. Aku bisa berkunjung setiap akhir pekan"
"hmmm... adikku kenapa secepat ini kau dewasa. Aku merindukanmu saat masih ingusan dulu" Goda Aldho sembari mengacak-acak rambut Cindy.
"Aaa.. Kak Aldho rambutku jadi berantakan"
Cindy dan Aldho keluar kamar dengan saling cekikikan. Sangat jauh berbeda dengan setengah jam sebelumnya yang sedang uring-uringan.
Pak Tirta Dan Mama Grace yang masih di tempat yang sama hanya bisa menyaksikan tingkah kedua anaknya.
"Cepat sekali mereka mengubah suasana hati" gumam Pak Tirta lalu melirik istrinya yang juga memandangnya. Kedua mata itu beradu dan akhirnya tak kuasa menahan tawa.
.
Roger berusaha menghubungi ibunya untuk memberitahu perihal pernikahannya bersama Cindy. Namun ibunya tetap bersikukuh untuk menghentikan pernikahan Roger.
Nyonya Violeta adalah ibu Roger yang memiliki sikap begitu perfeksionis. Dia memiliki standar tinggi untuk calon menantunya. Walaupun Cindy juga termasuk gadis yang baik tidak cukup baginya karena Cindy masih belum memiliki karier yang cemerlang.
"Ma, pernikahanku tinggal seminggu lagi. Kenapa mama tega tidak hadir di pernikahan anakmu ini?" ucap Roger dalam sambungan teleponnya.
"Roger, kamu tahu sendiri kan bagaimana mama sudah mempersiapkan semua untukmu termasuk jodoh. Mama tidak ingin kamu salah pilih"
"tapi ma, Cindy gadis yang baik. Lagipula dia sedang mengandung anakku"
"Suruh saja dia menggugurkan kandungannya" ucap Nyonya Violeta.
Seorang mengetuk pintu kamar Roger. Ternyata Pak Theo ayah Roger.
"Roger, kau baik-baik saja?" tanya Pak Theo dari balik pintu.
Saat ini ayah Roger sudah mulai pulih dan kembali ke rumah. Dia juga harus segera menyiapkan pernikahan putranya yang sempat tertunda.
Roger membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan ayahnya masuk.
"Mama terus memintaku untuk membatalkan pernikahan ini yah, Roger harus bagaimana?"
"Kau ini laki-laki Roger. Kau harus berani bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan. Cindy adalah gadis baik. Dia hanya korban kecerobohanmu, apa kau tega menghancurkan harapannya?" Pak Theo memegang bahu Roger.
"Baik ayah" ucap Roger sembari tersenyum.
Saat ini Roger benar-benar membutuhkan Cindy untuk melepaskan keluh kesahnya. Jadi dia segera pergi ke rumah Cindy tanpa menghubunginya terlebih dahulu.
Cindy yang sedang bersantai dikamar mendengar suara Mama Grace yang memanggilnya dari luar.
"Cindy, ada Roger di bawah mencarimu" teriak Mama Grace dari luar kamar.
Cindy segera keluar dan menemui Roger. Entah kenapa dia begitu bersemangat saat bertemu Roger.
"Sayang waktunya bertemu papamu" gumam Cindy sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Roger sedang duduk di ruang tamu ditemani Pak Tirta dan Roger.
"Hai..." sapa Cindy sedikit malu-malu.
"Hai, Cindy.."Balas Roger sambil tersenyum.
Pak Tirta dan Aldho mulai memahami gelagat kedua sejoli itu akhirnya mengalah dan pergi dari hadapan mereka.
"Kenapa Kak Roger kesini malam-malam?" tanya Cindy.
"Aku sangat merindukanmu" jawab Roger sembari mengusap pipi Cindy.
"bohong..." goda Cindy.
"Tidak sayang, aku merindukanmu. Dan sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan kepadamu" Ekspresi Roger kini sedikit berubah. Dia terlihat sedikit murung.
"Ada apa, ceritakan padaku"
"Sebaiknya kita pergi keluar. Aku ingin jalan-jalan bersamamu"
Cindy melihat jam pukul 21.00. Namun dia tidak ingin melewatkan kesempatan berdua dengan Roger. akhirnya dia pamit kepada ayahnya untuk keluar sebentar.
Roger memacu mobilnya menuju sebuah taman. Akhirnya mereka berjalan-jalan di taman menikmati suasana malam.
"Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan kak?" tanya Cindy dengan berjalan santai.
"Sepertinya Mamaku tidak akan datang, Maafkan aku" ucap Roger murung.
"Tidak apa, mungkin beliau sedang sibuk" jawab Cindy santai.
"Sebenarnya hubunganku dengan Mama kurang baik. Apalagi setelah ada Jimmy saudara tiriku. Dia selalu membandingkanku dengannya" ungkap Roger kesal.
Cindy tidak menjawab dia hanya menatap Roger lalu memeluknya membuat Roger sedikit terkejut.
"Aku tidak tahu harus apa, aku tidak punya solusi untuk masalahmu namun aku ingin kak Roger menjadi lebih tenang" Cindy mendekap tubuh Roger dan langsung dibalas dengan pelukan mesra dari Roger.
"Cindy terimakasih" Roger menatap lekat Cindy dan membelai pipinya yang merona lalu mendekatkan wajahnya dengan gadis itu.
Roger mengecup mesra bibir Cindy. Namun Cindy langsung teringat dengan kejadian sore tadi saat tidak sengaja berciuman dengan Aldho.
Kejadian itu terus terngiang di otaknya membuat Cindy langsung melepaskan Roger dan menjauhinya.
"Ada apa denganku?" gumam Cindy.
.
.