
"Halo..." terucap suara berat Pak Theo bicara di teleponnya.
"Halo.. Papa" terdengar suara Roger memanggil papanya. Suara yang amat dirindukan oleh pria tua itu.
"Roger... Apa kabar nak? Papa sangat merindukanmu"
"Aku baik pa, Papa apa kabar? Aku juga sangat merindukan papa"
Pak Theo merasa sangat lega mendengar suara Roger. Walaupun dia sempat marah dengannya namun bagaimana juga dia adalah anaknya.
"Papa tidak baik karena sangat merindukanmu. Kapan kamu pulang Roger papa sangat ingin bertemu denganmu. Banyak yang ingin aku katakan padamu"
Roger nampak terdiam sebentar membuat Pak Theo semakin khawatir.
"Roger juga sangat merindukan Papa, tapi saat ini aku belum bisa pulang Pa. Aku harus mengurus perusahaan Mama. Mama belum memperbolehkan ku untuk kembali.Maafkan aku Pa..."
Roger menghela nafas berat.
"Lalu bagaimana kabar Cindy pa? Apa dia baik-baik saja? Aku dengar dia sekarang menikah dengan Aldho"
"Betul, Cindy menikah dengan Aldho. Dia nampak bahagia dan sebentar lagi melahirkan. Apa kamu tidak ingin melihat anakmu nanti?"
Tak ada jawaban dari Roger. Namun samar-samar Pak Theo mendengar suara Roger menangis. Pak Theo tahu betul sifat Roger. Dia adalah pria yang gampang terbawa perasaan. Namun sikap cerobohnya yang sering merugikan orang lain.
"Roger... Ada yang ingin Papa sampaikan kepadamu. Ini tentang Aldho"
"Maaf Pa, Roger harus akhiri teleponnya. Roger ada urusan. Nanti ku telepon lagi" tiba-tiba Roger mengakhiri teleponnya tanpa mendengarkan penjelasan papanya.
Pak Theo hanya bisa mendengus kesal. Padahal dia ingin sekali mengatakan bahwa Aldho adalah kakak Roger.
.
Usia kandungan Cindy sudah memasuki minggu ke 36 itu artinya tinggal 2 minggu lagi dia akan segera melahirkan. Segala sesuatu sudah dipersiapkan mulai dari perlengkapan bayi serta yang lainnya. Kini Cindy tak lagi bepergian seperti biasanya. Hari-hari dihabiskan di dalam rumah. Teman-temannya pun kini selalu mengunjunginya di rumah.
Pagi ini seperti biasa Cindy dan mamanya mempersiapkan masakan untuk sarapan. Semua sudah siap tinggal Aldho yang masih sibuk menerima telepon.
Usai bertelepon Aldho menghampiri Cindy dengan wajah sedikit cemas.
"Ada apa sayang? Semua baik kan?" tanya Cindy penasaran.
"Ada gempa bumi di Sulawesi dan aku di tugaskan untuk transfer kesana. Banyak korban anak-anak yang membutuhkan tenaga medis operasi." Aldho menghela nafas.
"Tapi... Sampai kapan? Sebentar lagi aku melahirkan" Cindy sedikit kecewa.
Melihat Cindy yang dirundung cemas akhirnya Pak Tirta mencoba untuk memberi penjelasan kepadanya.
"Cindy, ayah tahu kamu sangat membutuhkan Aldho tapi profesi suami kamu sebagai dokter adalah pengabdian. Dalam keadaan apapun seorang dokter harus siap menjalani segala tugas. Ini demi menyelamatkan banyak nyawa"
Cindy termenung sejenak. Akhirnya dia memperbolehkan Aldho untuk pergi.
.
Aldho sedang berkemas mempersiapkan keberangkatannya. Cindy duduk di ranjang dengan raut muka sedih. Hal itu membuat Aldho ikut sedih.
"Sayang.. Ayolah jangan begitu. Aku tidak bisa pergi dengan tenang jika kamu sedih begitu"
"Aku hanya takut nanti aku melahirkan saat kamu tidak disini. Kak Aldho kan sudah janji untuk menemaniku saat lahiran nanti" rengek Cindy.
Aldho duduk berjongkok di samping ranjang dan mencium perut Cindy. Mengusapnya dengan lembut lalu memeluknya.
Bukannya senang justru Cindy malah menangis. Baru kali ini Aldho pergi agak jauh. Biasanya mereka tak terpisahkan.
Aldho semakin bimbang. Meninggalkan Cindy dalam keadaan menjelang melahirkan memang berat untuknya. Namun tugas sudah menantinya.
Akhirnya setelah lama memberi pengertian Cindy mengijinkannya pergi.
"Cindy, aku sangat mencintaimu. Doakan aku lancar pekerjaanya." Aldho mengecup bibir Cindy dengan penuh kehangatan sebelum dia pergi ke bandara.
"Jika ada waktu luang terus hubungi aku" balas Cindy.
Cindy melihat Aldho yang pergi diantar oleh ayahnya dari jendela kamarnya. Saat mobil melesat keluar dari pekarangannya membuat Cindy semakin terisak. Entah kenapa akhir-akhir ini dia menjadi lebih sensitif dan gampang menangis.
Hari-hari yang dijalani Cindy sampai beberapa minggu kedepan harus terbiasa tanpa Aldho. Tidak ada yang menggodanya ketika mau tidur, tidak ada yang memijiti kakinya setiap saat. Dan yang paling menyiksanya adalah tidak ada yang dia peluk. Aroma tubuh Aldho seperti candu untuknya. Sehari tanpa itu membuat Cindy merasa kosong.
Sesekali Aldho menghubunginya dengan panggilan video namun tidak lama karena jaringan sinyal yang buruk membuat Aldho harus pergi ke suatu tempat agak jauh agar bisa menghubungi Cindy. Hal itu menimbulkan siksaan tersendiri di hatinya. Perasaan was-was jika sewaktu-waktu Cindy melahirkan membuat Aldho khawatir. Dia harus memenuhi janjinya untuk menemani Cindy.
Cindy menghabiskan hari-harinya dengan ditemani orang tuanya. Beberapa kali teman-temannya datang namun tak sesering dulu karena mereka mulai sibuk kuliah. Kini tinggal Windy yang sering menemuinya karena Zara dan Tika kuliah di luar kota.
Sudah seminggu lebih Aldho keluar kota. Cindy sedang menyibukkan diri dengan membaca buku di ruang keluarga tiba-tiba mendengar suara bell rumah berbunyi. Dengan segera dia membukanya berharap ada kejutan Aldho sudah pulang.
Saat membuka pintu dia agak terkejut mendapati Bu Viona yang berdiri di depan pintu.
"Se-selamat pagi Bu Viona" sapa Cindy sedikit ragu.
"Selamat Pagi Cindy sayang,bagaimana kabarmu?" Sapa Bu Viona dengan begitu ramah.
Cindy agak terkejut melihat perubahan sikap Bu Viona yang sama sekali berbeda saat dia temui di rumah sakit.
Cindy mempersilahkan masuk dan mengobrol di ruang tamu.
"Maaf bu Viona. Tapi Kak Aldho sedang di luar kota"
"Aku tidak mencari Aldho. Aku hanya ingin berkunjung ke sini dan ingin memberikanmu sedikit hadiah kecil" Bu Viona menyodorkan sebuah tas agak besar.
"Apa ini Bu?" tanya Cindy penasaran.
"Itu beberapa perlengkapan bayi. Karena sebentar lagi cucuku lahir jadi aku juga harus ikut menyambutnya"
Cindy menerima tas itu.Tak berselang lama Mama Grace ke depan karena penasaran siapa yang bertamu. Namun saat melihat Viona dia tampak ingin marah.
Akhirnya Viona menjelaskan tujuan kedatangannya agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Grace, begini. Aku sadar tindakanku kemarin adalah keliru. Jadi kedatanganku kesini adalah untuk memperbaiki hubunganku dengan kalian." Bu Viona menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Saat itu aku sangat takut jika aku tidak mendapatkan hak sebagai seorang ibu walaupun aku sangat tidak pantas disebut ibu. Jadi maafkan aku Grace. Aku ingin menjadi ibu yang baik untuk Aldho jadi tolong bimbinglah aku".
Mama Grace memahami maksud Viona akhirnya dengan senang hati dia memaafkan Viona dan memulai hubungan baik dengannya.
"Cindy, aku janji akan menjadi mertua yang baik untukmu"
.
.
.
...----------------...