
Cindy mendorong Roger dan menjauh darinya. Roger hanya bisa terkejut dengan perilaku Cindy yang tiba-tiba berubah.
"Sayang, kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Roger.
Cindy nampak seperti orang bingung. Bayangan wajah Aldho saat dia berciuman dengan Roger membuatnya resah.
Bagaimana mungkin dia memikirkan pria lain saat didepan calon suaminya. Bahkan pria itu adalah kakaknya sendiri.
"Ti-tidak, tidak ada apa-apa, aku hanya terkejut tadi" ucap Cindy terbata.
Roger tersenyum sembari mencubit pipi Cindy.
"Aww... kenapa mencubitku?" protes Cindy.
"Aku gemas melihatmu" jawab Roger tertawa.
Cindy hanya tersenyum. Pipinya kemerahan akibat cubitan Roger juga karena tersipu.
Roger mengelus kepala Cindy dengan penuh kasih sayang. Dia memandangi wajah gadis itu.
bagaimana mungkin aku mengatakan kepada Cindy atas apa yang diucapkan mama, gadis ini sudah banyak menderita karena aku. Gumam Roger dalam hati.
Roger memeluk Cindy dengan erat. Rasanya ada bertumpuk beban dalam hatinya. Cindy memandang wajah Roger dan tersenyum. Roger membalas senyuman itu dengan kecupan manis di bibirnya.
" Cindy, aku mencintaimu" ucap Roger kembali mendekap tubuh Cindy.
Malam ini jadi malam romantis yang mereka habiskan bersama. Walaupun hanya sekedar berjalan-jalan di taman.
.
Aldho mencoba memejamkan kedua matanya berharap dia segera tertidur. Tapi ingatannya tentang Cindy terus menghantui pikirannya. Dia masih mengingat wajah Cindy saat menciumnya. Begitu dekat dan dia ingat betul rasa di bibirnya saat beradu dengan Cindy. Tanpa sadar Aldho menggigit bibir bawahnya.
"ah, ini gila..." Aldho menutupi wajahnya dengan selimut.
Tiba-tiba Aldho teringat Cindy yang tadi keluar bersama Roger. Lalu Aldho melihat jam menunjukkan pukul 11.30 malam. Akhirnya Aldho keluar dan memastikan Cindy namun tak berselang lama dia mendengar suara mobil Roger.
Aldho segera berjalan menuju ruang tamu dan tak lama kemudian Cindy mulai memasuki rumah. Rumahnya terlihat sepi dan dia mengendap-endap di ruangan gelap itu supaya tidak ada yang tahu. Ini kali pertama dalam hidupnya pulang selarut ini.
Saat sedang berjalan tiba-tiba Cindy menabrak tubuh seseorang.
"Oh, Astaga..." pekik Cindy saat terkejut.
Cindy kemudian membelalakkan matanya saat mengetahui itu adalah Aldho.
"Kak, kak.. Aldho.." ucap Cindy terbata.
"Baru pulang?" tanya Aldho.
"i-iya.."
"Yaudah, cepat istirahat. Sudah malam" Jawab Aldho singkat.
Cindy hanya mengangguk. Dia benar-benar beruntung melihat Aldho yang sama sekali tidak mengomelinya. Biasanya kakaknya itu paling cerewet tentang kehidupan Cindy, namun kali ini Aldho terlihat begitu sabar membuat Cindy mengulum senyum.
"Selamat malam Kak Aldho" ucap Cindy mengecup bibir Aldho lalu langsung pergi menuju kamarnya.
Aldho hanya bisa berdiri mematung setelah merasakan sentuhan Cindy. Kejadian sore tadi masih bersarang di seluruh otaknya malah kini Cindy mulai lagi dengan perlakuan manisnya.
"ah dasar, aku bisa gila" Aldho mengacak-acak rambutnya lalu berjalan kembali ke kamarnya.
Di dalam kamar Cindy baru ingat kelakuannya. Kenapa tadi dia tiba-tiba mencium bibir Aldho? Tak biasanya tingkahnya begitu. Namun entah atas dorongan apa dia begitu ingin menyentuh Aldho.
"Ah.. apa-apaan aku ini? Bagaimana besok aku bertemu kak Aldho, pasti dia sangat canggung, aahhh.. bodoohh.. bodoohh..." Cindy mengutuki dirinya sendiri.
.
Cindy nampak kikuk saat bertemu Aldho. Kejadian semalam benar-benar membuatnya canggung. Begitupun Aldho yang terlihat kaku dan tidak berani menatap Cindy. Dia menghabiskan makanannya dengan cepat dan segera ke rumah sakit supaya bisa menghindari Cindy.
Pak Tirta menyadari gelagat kedua anaknya itu lalu segera bertanya.
"Apa kalian bertengkar lagi?"
"Tidak.." jawab Cindy dan Aldho serentak.
"Ayah aku akan bersiap berangkat, banyak pekerjaan di rumah sakit" Aldho bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kamarnya mengambil tas dan perlengkapan yang diperlukan.
Cindy melihat sikap Aldho yang begitu dingin. Perasaannya menjadi tidak karuan, dia takut jika Aldho benar-benar marah dengan sikapnya semalam. Dia ingin menjelaskan namun Aldho buru-buru pergi.
"Sayang, ada apa dengan kalian? Sepertinya kakakmu sedang marah" tanya Mama Grace.
"emm.. tidak ada apa-apa ma" Jawab Cindy singkat. Tidak mungkin dia menceritakan kejadian semalam kepada mamanya.
Di mobil Aldho terus memikirkan kejadian semalam. Sebenarnya dia mulai jadwal praktek pukul sembilan, namun saat ini masih jam setengah tujuh pagi. Akhirnya Aldho memutuskan untuk berhenti di salah satu minimarket untuk membeli sebotol minuman.
"Kak Aldho" seorang memanggil Aldho dari belakang. Ternyata itu Windy.
"Hai Windy, apa kabar?" sapa Aldho.
"Baik kak. Kak Aldho sendiri?" balas Windy.
"Aku baik. Kamu tidak sekolah?" tanya Aldho.
"Libur semester kak"
Akhirnya Aldho berbincang-bincang santai dengan Windy di kursi depan minimarket. Windy menanyakan kabar Cindy serta kedua orang tuanya.
"Apa Kak Aldho bahagia melihat Cindy akan menikah?" tanya Windy.
" Tentu saja, Aku melihat Cindy juga semakin dekat dengan Roger. Semoga mereka bahagia" jawab Aldho. Namun sorot matanya mengatakan hal lain. Jauh dalam hatinya Aldho masih menginginkan Cindy tetap satu rumah bersamanya namun dia tidak bisa menghentikan semua itu. Cindy butuh Roger untuk bayi yang dikandungnya mau tidak mau Aldho harus menerima semua itu.
"Oke, baiklah... semoga Cindy juga akan bahagia dengan pernikahannya" jawab Windy.
Entah kenapa Windy merasa Aldho menyimpan perasaan terhadap Cindy. Namun Windy tidak ingin mencampuri urusan mereka.
.
Pernikahan tinggal tiga hari lagi. Saat ini suasana rumah cukup ramai. Beberapa orang sibuk mempersiapkan acara pernikahan Cindy. Karena waktunya yang mepet jadi acaranya ditempatkan di halaman rumah pak Tirta. Tamannya cukup luas dan asri jadi cocok saja hanya ditambahkan beberapa dekorasi.
Undangan juga tidak banyak hanya beberapa kerabat dekat serta sedikit dari teman-teman Cindy.
Terlihat Pak Tirta dan Aldho sedang berbincang dengan penata dekorasi. Mama Grace dan Cindy sibuk menyiapkan yang lainnya.
"Sayang, jangan sampai kelelahan. Jaga kesehatanmu" ucap Mama Grace kepada Cindy.
"Iya ma, aku hanya membantu sedikit"
Cindy terlihat bahagia. Akhirnya hari yang dia tunggu-tunggu hampir tiba. Meskipun awalnya sebuah musibah namun Cindy yakin ini memang sudah takdirnya menikah muda. Dan Roger adalah orang pertama yang membuat Cindy merasakan jatuh Cinta. Harapannya kini dia ingin memulai dunianya yang baru bersama Roger.
Dari kejauhan Aldho memperhatikan Cindy yang terlihat begitu bahagia. Senyumannya berkali-kali membuncah dari bibirnya.
Aldho merasa senang namun ada perasaan lain yang belum bisa dia tafsirkan. Semacam perasaan takut atau kesepian saat jauh dari Cindy. Aldho belum sepenuhnya menyadari itu.
.