Baby Blues

Baby Blues
bab 55 telepon



Roger sedang melamun sambil menyetir mobil menyusuri jalanan kota Milan. Ya, saat ini dia sedang berada di Milan Italia, mengurus perusahaan tekstil milik ibunya. Gara-gara ini pula Roger rela meninggalkan pernikahannya dengan Cindy.


Dia terus memikirkan potret Cindy yang diunggah oleh ayahnya. Sejenak dia merasa iri terhadap Aldho. Padahal sebelumnya Roger sangat senang ketika ayahnya memberitahu bahwa Aldho adalah saudaranya.


Kekhawatirannya terhadap ayahnya sedikit berkurang mengingat Aldho adalah sosok yang sangat baik dan peduli. Roger yakin Aldho pasti memperlakukan ayahnya dengan baik.


Namun kini setelah melihat kedekatan Aldho dengan ayahnya rasanya dia begitu cemburu. Karena selama ini dia adalah anak emas kebanggaan ayahnya meskipun banyak berulah.


Ditambah Aldho kini telah memiliki Cindy dan anaknya. Tak dipungkiri jika Roger sebenarnya masih sangat mencintai Cindy. Harapannya untuk bersatu kembali tampaknya sirna sudah. Hanya ada penyesalan di lubuk hati Roger.


"BBRRUUAAKKKK...."


Tiba-tiba mobil Roger menabrak sesuatu di depannya. Lamunannya terhenti seketika. Dengan segera Roger membuka pintu dan berjalan keluar mobil.


Seorang wanita tergeletak lemas tak sadarkan diri. Roger segera mendekati wanita itu. Beberapa orang yang berada di lokasi kejadian langsung berkerumun menghampiri mereka.


"Are you okay?" Sambil terengah-engah Roger mencoba menolong wanita itu.


Roger membalikkan tubuh wanita itu dan dia sangat terkejut saat tahu siapa yang dia tabrak.


"Rebecca?"


Rupanya wanita itu adalah Rebecca, gadis yang dia tiduri beberapa waktu lalu dan dia campakkan begitu saja.


Tak berselang lama polisi sudah berada di lokasi dan ambulan juga datang.


Roger langsung membawanya ke rumah sakit. Keadaan Rebecca cukup memprihatinkan. Terdapat luka di beberapa tubuhnya. Roger benar-benar merasa bersalah akibat lamunannya kini malah membahayakan seseorang.


Sampai di rumah sakit tak lama kemudian ibu Roger datang. Dia begitu terkejut dengan apa yang terjadi. Sementara Roger kini sedang menjalani pemeriksaan di kantor polisi.


Beruntung saat ini keadaan Roger memang sedang sehat dan tidak mabuk sehingga pemeriksaan berlangsung cepat serta pihak keluarga menyatakan damai.


Roger kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Rebecca. Dia melihat gadis itu dari balik dinding kaca yang sekarang sedang dirawat di ruang ICU. Terdapat beberapa luka dan selang oksigen di hidungnya.


Roger tertegun dan merasa bersalah. Akibat kecerobohannya lagi-lagi orang lain harus menerima akibatnya.


Dengan langkah gontai dia berjalan ke taman depan rumah sakit. Roger mengutak atik ponselnya dan tidak sengaja melihat fotonya bersama Aldho semasa kuliah. Sejenak dia memikirkan masa-masa bersama Aldho. Dahulu dia sangat berharap bisa menjadi adiknya dan akhirnya telah terwujud. Namun kini mereka begitu jauh.


"Aku sangat ingin menghubungimu Aldho. Aku merindukanmu sebagai kakakku"


.


Hari-hari Cindy kini selain disibukkan dengan merawat Selina juga diisi dengan belajar. Sesuatu yang paling ditunggu oleh Cindy semenjak putus sekolah.


Semangatnya untuk meraih Cita-citanya kembali terukir di benaknya. Kini Cindy kembali menjadi sosok yang penuh energi. Dia berkemauan kuat untuk menunjukkan jati dirinya yang selama ini telah terpuruk diremehkan orang lain.


Waktu sudah menunjukkan pukul 23.15 dan Aldho baru saja pulang kerja. Hari ini dia shift sore. Aldho selalu pulang tepat waktu kecuali ada hal mendesak yang berhubungan dengan pasien. Beberapa kali temannya mengajak untuk nongkrong atau bersantai namun selalu ditolak karena dia selalu teringat akan Cindy dan Selina.


Sampai di rumah dia mendapati suasana yang sepi. Aldho bergegas menuju kamar dan mendapati Cindy yang terlelap sembari memeluk Selina. Dia ketiduran saat menyusui putrinya. Salah satu tangannya masih memegang buku pelajaran dan yang lain berserakan di atas ranjang.


Aldho tersenyum melihat semangat Cindy. Dia bergegas mandi dan setelah itu menghampiri Cindy.


Aldho merapikan buku-buku Cindy dan memindahkan Selina ke ranjangnya. Perlahan Aldho membetulkan pakaian Cindy dan berbaring di sebelahnya.


"Sayang, sudah pulang?" ucap Cindy yang mengagetkan Aldho.


"Sudah sayang, kamu kenapa bangun? Tidur lagi gih kalau masih ngantuk"


"Hmmm.. Ya aku sangat mengantuk. Sore tadi Selina agak rewel" Cindy membenamkan wajahnya di dada bidang Aldho. Menghirup aroma tubuh Aldho bercampur wangi sabun yang begitu menyejukkan.


Belum sampai semenit Cindy sudah kembali terlelap. Aldho juga hendak tidur namun rasanya belum mengantuk. Tiba-tiba dia mendengar ponselnya berbunyi. Aldho memeriksa siapa yang menelepon namun dia langsung meletakkan ponselnya kembali saat melihat nama Roger.


Tak berselang lama telepon itu berhenti dia mendengar sebuah nada pesan. Aldho mencoba untuk mengabaikannya namun entah kenapa hatinya terus tergerak agar membuka pesan itu.


Akhirnya Aldho membuka pesan dari Roger.


Aldho, maafkan aku yang sudah lancang menghubungimu. Aku hanya merindukan saat kita bersama-sama dulu. Jujur aku bahagia mendengar bahwa kamu adalah kakakku. Namun kecerobohanku yang telah menghancurkan hubungan ini. Sekali lagi aku minta maaf Aldho. Jika boleh aku ingin sekali mengobrol denganmu.


Aldho membaca pesan itu serta melihat foto yang dikirim oleh Roger yang memperlihatkan masa-masa mereka kuliah. Masa dimana mereka bersahabat sangat dekat.


Sejenak Aldho merasa iba dan prihatin dengan Roger. Namun saat melihat Cindy kembali dia mengingat masa-masa suram itu.


Gadis malang yang tak berdosa harus menanggung akibat dari perbuatan bejatnya. Hingga mengatasi trauma dan emosi yang tak stabil Cindy berkali-kali mencoba mengakhiri hidupnya. Kepala Aldho terasa pening saat memikirkan hal itu.


Tiba-tiba Aldho mendengar Selina yang menangis. Dia segera bangun dan memeriksanya karena tak ingin merepotkan Cindy.


"Sayang, sini sama papa" Aldho menggendong Selina namun dia merasakan bau yang menyengat.


"Kamu buang air sayang?" Aldho memeriksanya dan segera membersihkan dan mengganti popoknya.


Setelah selesai Selina sudah mulai tenang. Bayi mungil itu menunjukkan wajah imut dan senyumnya. Mata hazelnya memandang Aldho seolah mengisyaratkan sesuatu.


Aldho mengamati bayi itu yang memang benar jika diperhatikan Selina sangat mirip dengan Roger terutama matanya. Itu pula sebabnya Cindy tak mau mengajak Selina.


Aldho terus merenung. Biar bagaimanapun suatu saat nanti Selina pasti perlu tahu siapa ayah kandungnya. Akhirnya setelah mempertimbangkan beberapa saat Aldho mulai mencoba menghubungi Roger.


.


Roger sedang melamun. Harapannya berbicara dengan Aldho nampaknya tidak akan terjadi.


Namun ponselnya tiba-tiba berdering. Roger memeriksa panggilannya adalah Aldho. Dia begitu senang hingga hampir tidak percaya. Tak lama dia langsung mengangkat Teleponnya.


"Halo.. Aldho..." ucap Roger sedikit gemetar.


"Bicaralah..." ucap Aldho singkat.


.


.


.


......................