
Roger benar-benar terkejut dan tidak percaya bahwa Aldho tiba-tiba datang. Dia sedikit khawatir saat menyadari perbuatannya terhadap Cindy. Dia takut Cindy akan mengadu kepada Aldho
Terlihat Cindy sedang memeluk Aldho. Dalam hatinya dia begitu sakit. Cindy adalah wanita yang sangat dia cintai dan dia dambakan sejak gadis itu masih memakai seragam putih abu-abu. Kini hanya penyesalan yang selalu meliputi hatinya.
"Hai Roger. Apa ada kendala dengan Selina?" tanya Aldho.
"Tidak. Semua baik-baik saja" balas Roger seolah tak terjadi sesuatu.
Cindy hanya terdiam. Dia sengaja tidak ingin memberitahu Aldho karena menjaga perasaannya.
Tak berselang lama Selina pun menghampiri mereka karena kegiatannya sudah Selesai. Bocah itu berlari dan langsung memeluk Aldho. Roger yang telah bersiap menangkap Selina hanya bisa gigit jari.
"Papa... Aku senang papa disini" ujar Selina antusias.
"Benarkah? Sepertinya putri Papa sangat bahagia" Aldho langsung menggendong Selina dan menciuminya.
Roger sangat cemburu melihat kedekatan Selina dengan Aldho. Meskipun dia ayah kandung Selina dan seharian menemani putrinya tetap saja dia menjadi nomor dua untuk Selina.
Selina tampak sangat antusias menceritakan kegiatannya seharian ini.
"Sayang, sudah bilang terimakasih sama Daddy? Kan sudah menemani Selina sejak tadi" pinta Aldho.
Akhirnya Selina baru menghampiri Roger. "Daddy terimakasih ya, sudah temani Selina" Selina memeluk Roger.
"Sama-sama sayang, Daddy juga sangat senang hari ini"
Saat pulang Cindy memilih untuk satu mobil bersama Aldho, begitupun Selina. Sementara Roger akhirnya pulang sendiri. Meski tampak baik-baik saja sebenarnya Roger sedang menahan sesak di dadanya.
Selina langsung masuk ke dalam mobil Aldho dan merebahkan dirinya di kursi belakang karena kelelahan. Sementara Cindy duduk di samping kemudi.
Cindy tampak gelisah karena masih mengingat perbuatan Roger terhadapnya. Benar-benar hal yang diluar dugaannya. Sejenak dia menatap Aldho. Kemudian teringat Rebecca.
Aldho menyadari kegelisahan Cindy. "Sayang, apa semua baik-baik saja?"
Cindy pun tersenyum. Dia tidak mungkin cerita kepada Aldho.
Tampak Selina sudah terlelap. Sepertinya dia sangat kelelahan. Sementara Aldho dan Cindy juga tak terlalu banyak mengobrol.
Tiba-tiba perut Cindy berbunyi tanda lapar akhirnya Aldho berhenti di sebuah kedai. "Ini adalah tempat favoritku dulu saat bermain di sekitar sini"
Aldho hendak keluar dari mobil namun Cindy mencegahnya.
"Tunggu, Selina bagaimana?" tanya Cindy.
"Tidak apa-apa. Kita mampir sebentar biarkan dia tidur."
Akhirnya Aldho menuju kedai tersebut. Dia memilih kursi dekat jendela agar bisa mengawasi putrinya yang tidur di mobil.
Mereka memesan makanan. Cindy yang kelaparan langsung melahap makanannya dengan cepat. Aldho hanya tersenyum memperhatikan istrinya.
"Pelan-pelan sayang, tidak akan ada yang merebutnya darimu" ujar Aldho sembari mengusap bibir Cindy yang belepotan.
"Kak Aldho, Aku sangat mencintaimu" ucap Cindy serius.
"Aduh..." tiba-tiba Aldho memegangi dadanya.
Cindy langsung terkejut dan panik. "Sayang ada apa?"
Aldho pun tersenyum."Mungkin ini gejala jatuh cinta. Hatiku terasa meleleh"
Cindy langsung memanyunkan bibirnya dan mencubit pipi Aldho. Perlakuan romantis Aldho sukses membuat suasana hati Cindy menjadi lebih baik.
"Iiih Kak Aldho ku kira sakit beneran" protes Cindy.
Aldho hanya terkekeh. "Kamu selalu menggemaskan sayang. Hingga aku ingin sekali melahapmu"
Selina tampak masih tertidur. Akhirnya Aldho dan Cindy kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan.
Saat baru masuk ke mobil tiba-tiba Aldho mengecup bibir Cindy. Sontak saja Cindy langsung mendorong Aldho. Dia masih teringat dengan perlakuan Roger.
Cindy sedikit bingung. Akhirnya dia melihat Selina. "emm.. Aku nggak enak ada Selina sayang"
"Tapi dia sedang tidur. Sebentar saja sayang. Aku tidak tahan melihat bibir cantikmu" rengek Aldho.
Akhirnya Cindy menuruti Aldho. Diraihnya kerah baju Aldho dan Cindy langsung menciumnya dengan penuh gairah.
"Akhh.." Cindy sedikit terpekik kala Aldho mengecupi lehernya. Sadar akan posisinya saat ini akhirnya mereka menghentikan cumbu an panas tersebut.
Keduanya menoleh ke arah Selina. Bocah itu ternyata masih terlelap. Mereka merasa lega karena putrinya tidak melihat kelakuan nakalnya.
"Sayang kita lanjutkan dirumah ya" ucap Aldho kembali menyetir mobilnya. Cindy yang sudah meremang pun hanya bisa mengangguk.
Aldho kini fokus menyetir agar cepat sampai di rumah.
Sementara Cindy yang masih dirundung dilema akhirnya mengirim pesan singkat kepada Roger.
"Roger, aku sudah memaafkanmu. Anggap saja kejadian tadi tak pernah terjadi. Tapi ingatlah batasanmu. Jangan pernah coba-coba untuk menggodaku lagi. Dan ingat jangan sampai Kak Aldho dan Rebecca mengetahui hal ini"
Cindy berharap Roger segera berubah dan berhenti mengganggunya.
Aldho dan Cindy akhirnya sampai di rumah. Kediamannya tampak sepi karena orang tuanya sedang keluar.
Aldho menggendong Selina dan menidurkan ke kamar putrinya. Sementara Cindy sedang menunggu di depan pintu kamarnya.
Aldho langsung menarik Cindy ke dalam kamar dan menutup pintunya. Gairahnya yang sudah memuncak sejak tadi sangat ingin segera dia lampiaskan.
Begitu juga dengan Cindy, sejak hamil dirinya sangat ingin disentuh oleh Aldho setiap saat.
Aldho mengangkat tubuh Cindy ke atas ranjang. Dipandangi wajah cantik istrinya sebelum mulai aksinya hingga membuat Cindy terbang ke awang-awang.
"I will make it slowly Honey." Aldho selalu mengerti kondisi Cindy dan tidak ingin membahayakan kondisi Cindy yang hamil muda.
Sementara Roger yang terbakar amarah terus memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Keserakahannya akan Cindy membuatnya lupa diri. Bahkan kini dia begitu cemburu kepada Aldho karena Selina putrinya yang selalu mengutamakan Aldho dibanding dirinya.
Dia tak sadar bahwa sikap Selina adalah wajar karena Aldho yang selama ini membesarkannya.
Ponselnya berbunyi tanda pesan masuk. Dengan masih kesal Roger membuka pesan yang ternyata dari Cindy.
Dia membaca isi pesan tersebut dan malah membuatnya semakin memanas.
Roger pun membalas pesan tersebut. Sambil mengetik dia masih melajukan mobilnya dengan cepat.
"Entah bisa atau tidak tapi saat ini aku masih mencintaimu Cindy. Aku tidak peduli dengan apapun"
Roger hendak mengirim pesan tersebut namun naas dia kehilangan keseimbangan sehingga mobilnya oleng dan menabrak pohon di sisi Jalan.
BRRAAKKKK...!!!!!
Kecelakaan pun tak terhindarkan. Saking kerasnya benturan membuat Airbag di mobilnya tak sepenuhnya melindungi dirinya. Sisi tubuhnya terjepit badan mobil yang ringsek.
"Aarrgghhh... Cindy..." Gumam Roger sebelum tak sadarkan diri.
.
Rebecca sedang membuatkan teh panas untuk Papa mertuanya sembari menunggu kedatangan Roger. Tiba-tiba perasaannya menjadi gelisah hingga tak sadar menyenggol cangkir yang berisi teh panas dan jatuh mengenai kakinya.
"Aduh..." pekik Rebecca saat kakinya terkena cipratan air panas.
"Nona Rebecca. Non baik-baik saja?" Bi Lila langsung menolong Rebecca. Dia langsung mengobati kaki Rebecca dan membereskan pecahan cangkir.
"Bi kok perasaanku nggak enak ya, aku kepikiran sama Roger"
.
Gimana sih ini Roger punya istri Rebecca secantik ini malah disia-siain... Awas nanti diambil orang baru tau rasa.
.