Baby Blues

Baby Blues
bab 112 pilihan Selina



"Jadi kita akan pindah ke Amerika Pa?" tanya Selina lirih.


"Iya sayang, hanya dua tahun. Nanti kita kembali lagi kesini." ujar Aldho memberi pengertian kepada putrinya.


Tampak guratan kecewa di wajah gadis kecil itu. Bagaimana tidak, saat ini yang dia pikirkan adalah Roger.


Sejak berpisah dengan Rebecca, Roger hanya mengandalkan Selina untuk kekuatannya.


Selina juga sangat mendukung Daddynya agar kembali ceria seperti sedia kala.


"Papa, aku mau bilang Daddy dulu ya" ujar Selina.


"Tentu saja sayangku" balas Aldho.


Akhirnya Aldho mengantarkan Selina kepada Roger. Sementara mereka berdua mengobrol di kamar Roger, Aldho menemui Pak Theo yang sudah lebih dulu diberi pengertian Aldho.


Meski awalnya menolak, bahkan Pak Theo sudah memberikan salah satu hotel ya agar dikelola Aldho namun tetap saja dia menolak.


Aldho tetap ingin melanjutkan mimpinya sebagai seorang dokter handal. Dan akhirnya Pak Theo paham kemauan putranya tersebut.


Bagi Aldho pekerjaannya sebagai seorang dokter adalah sebuah pekerjaan yang mulia menolong banyak orang.


Selina tampak duduk di pangkuan Roger dengan manja. Tangannya tak berhenti memeluk tubuh Daddynya seolah enggan untuk berpisah.


Bi Lila yang melihat ayah dan anak itu menjadi terharu mengingat sejak kecil Selina sempat tidak kenal ayah kandungnya kini menjadi sangat dekat.


"Permisi, ini kopi buat Mas Roger, ini susu buat nona Cantik" Bi Lila meletakkan minuman di meja depan sofa.


"Makasih Bi, sayang bilang makasih dong sama Bibi" ujar Roger.


"Terimakasih Bi Lila" suara kecil Selina terdengar sangat menggemaskan.


Kemudian setelah mengangguk Bi Lila kembali berjalan keluar. Namun dia tak sengaja menangkap ucapan Selina.


"Daddy, aku gak mau jauh dari Daddy, tapi Papa mengajakku pindah ke Amerika. Bagaimana ini Dad?" suara kecil itu mulai terisak.


Hati Bi Lila menjadi ikut sedih. Rupanya hal ini yang membuat Pak Theo juga tampak murung beberapa hari.


Namun dia tak bisa berbuat apapun. Posisinya hanya seorang asisten. Dia cukup mendoakan yang terbaik untuk keluarga majikannya.


"Sayang, kan kita bisa video call, lagian ya Papa disana juga dengan mama dan adik kamu. Jadi tidak akan kesepian" Roger mencoba untuk membujuk Selina meski dalam hatinya terasa sangat sedih. Buah hati kesayangannya akan kembali jauh darinya.


"Tapi aku mau sama Daddy.. Hiks.. Hiks.." tangis Selina kini tak dapat dibendung. Gadis kecil itu benar-benar merasa berat berpisah dengan Roger.


Sementara Roger ingin sekali menahan Selina, namun lagi-lagi dia merasa tidak punya hak penuh akan Selina. Aldho tetap yang berhak.


Aldho yang mendengar suara tangis dari Selina segera menghampiri mereka. Tampak Selina menangis tersedu-sedu di pangkuan Roger. Serta Roger yang memeluk Selina tak kuasa menahan air matanya.


"Daddy sayang kamu nak. Tapi Daddy sadar Papa kamu lebih berhak membawamu. Daddy akan sabar menunggu" ujar Roger dengan suara gemetar.


Aldho hanya bisa tertegun melihat keduanya dari celah pintu kamar Roger. Setelah dirasa keduanya mulai mereda kini Aldho mencoba untuk menghampiri mereka.


"Roger, boleh aku masuk?" tanya Aldho di depan pintu.


"Tentu, Aldho masuk saja" ujar Roger masih memeluk Selina.


Aldho menatap keduanya. Meski Selina kini tengah menyembunyikan wajahnya di dalam dada Roger.


"Tenang saja Aldho. Aku akan mengatasinya. Dia pasti mau ikut denganmu" ujar Rogers sedikit memaksa.


"Daddy... Hiks.." rengek Selina saat Roger mengatakan hal itu kepada Aldho.


Aldho memegang bahu Roger. Dia menatap saudaranya itu penuh keteguhan.


"Jika memang kamu mau Selina tetap disini maka tidak apa-apa. Dia juga sangat membutuhkanmu" ujar Aldho penuh ketenangan.


Seketika Roger dan Selina tampak terkejut.


"Sungguh? Boleh aku merawat Selina?" Roger seolah tak percaya.


Aldho pun mengangguk. "Dia kan putrimu. Mana mungkin aku melarang kalian?"


Selina yang mendengar ucapan Papanya langsung menampakkan wajahnya yang sembab dan berlinang air mata. Tampak kedua sudut bibir itu terangkat membentuk senyuman manis.


"Papa, terimakasih" ujar Selina lirih.


"Masak cuma terima kasih? Papa minta ini dong" Aldho menunjuk pipinya.


Kemudian Selina beranjak dan langsung berpindah ke pangkuan Aldho. Dia langsung mengecup pipi serta memeluknya dengan erat.


Betapa bahagianya bocah kecil itu mendapatkan dua sosok ayah yang sangat perhatian dan menyayangi mereka.


...****************...


Aldho sampai di rumah dan langsung menghampiri istrinya yang sibuk menggendong bayinya.


"Sayang, Baby Al belum tidur?" tanya Aldho.


"Belum nih, padahal dari tadi ***** lama tapi nggak tidur-tidur" keluh Cindy.


"Sini aku gantiin. Pasti kamu capek gendong terus dari tadi" Aldho meraih bayi mungil itu dan mulai menimangnya.


Belum ada lima menit Baby Al malah langsung tidur pulas di gendongan Aldho.


"Hmmm.. Dasar, nunggu papa ya baru mau bobok" Cindy menyentuh pelan ujung hidung bayinya.


Aldho pun terkekeh melihat keduanya.


"Oh iya dimana Selina?" Cindy mencari keberadaan putrinya.


"Nanti sore diantar Roger. Dia masih mau di sana" ujar Aldho.


Namun sorot mata Aldho tampak mengisyaratkan sesuatu. Cindy langsung menyadarinya.


"Ada apa?" Cindy mengusap pipi Aldho.


"Sayang, sepertinya Selina tidak mau ikut kita. Dia bersikeras ikut Roger" ujar Aldho sedikit cemas.


"Terus bagaimana? Apa Roger tidak mau membujuknya?" Balas Cindy.


"Roger sudah membujuknya tapi dia tetap tidak mau. Sayang, Selina sudah besar dan dia sudah bisa menentukan pilihannya. Jadi aku harap kamu bisa menerimanya. Toh Roger juga ayahnya kan"


Kali ini Aldho memang benar. Bagaimanapun Selina berhak menentukan dengan siapa dia tinggal. Meski berat hati namun Aldho harus siap.


...****************...


Tak terasa empat bulan berjalan begitu cepat. Itu artinya keberangkatan Aldho dan Cindy ke Amerika tinggal hitungan hari.


Semua sudah dipersiapkan dan besok malam adalah waktu keberangkatan pesawatnya. Aldho juga harus bersiap menguatkan hatinya karena ini pertama kali mereka harus meninggalkan keluarganya untuk waktu yang lama. Terutama dengan Selina.


Sejak satu minggu sebelum berangkat Aldho benar-benar quality time dengan putrinya. Bahkan dia selalu tidur menemani Selina.


Berkali-kali Aldho menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Melihat semua keluarganya sudah berkumpul di bandara untuk melepas kepergiannya.


Semua orang berpamitan satu persatu. Aldho memeluk Selina dengan erat.


"Janji sama papa ya, setiap hari harus hubungi papa. Jadi anak pintar" tak terasa air mata mengalir dari sudut netra Aldho.


"Iya pa, aku janji jadi anak baik." Selina mengecup pipi Aldho.


Entah kenapa saat berurusan dengan Selina membuat Aldho selalu menjadi melankolis. Sangat kontras dengan penampilannya yang gagah dan macho.


Dengan langkah yang berat akhirnya Aldho, Cindy dan Baby Alexander berjalan menuju pesawat. Mungkin tak akan seberat ini jika Selina juga ikut, batin Aldho.


Meski hatinya gelisah namun Aldho tak ingin membuat Cindy sedih. Dia mengalihkannya dengan menggendong baby Al.



"Alexander first trip, Papa ..." Aldho mengangkat bayi mungil kesayangannya.


.


.


Bersambung