
Pak Tirta sedang duduk santai di ruang keluarga. Menyusuri setiap lembar album foto masa kecil Aldho dan Cindy.
Pak Tirta berhenti di sebuah potret Aldho kecil sedang memangku Cindy yang masih bayi. Dia tidak menyangka jika akhirnya Aldho menjadi suami Cindy. Sebentar lagi Pak Tirta juga akan segera memiliki cucu.
Sejenak Pak Tirta melamun. Mengingat masa-masa dirinya saat pertama kali bertemu Aldho hingga momen pertama ketika Cindy dilahirkan. Semua terjadi begitu saja hingga kini anak-anaknya sudah dewasa.
"Hai Ayah, sedang apa?" ucap Aldho sembari duduk disamping ayahnya.
"Ini, lagi lihat foto-foto masa kecil kamu dan Cindy" ucap Pak Tirta sambil tersenyum melihat deretan foto di album.
"Aku ingat ini saat kita ke Bali. Cindy sangat takut dengan penari barong hingga menangis" Aldho menunjuk salah satu foto lamanya saat di bali.
Tiba-tiba Pak Tirta menggeser salah satu foto kemudian mengeluarkan foto yang terselip di bawahnya.
Terlihat mama Grace menggendong seorang bayi di depan sebuah bangunan tua. Terlihat senyum bahagia menghiasi wajah cantik Mama Grace.
Tempat itu terasa asing bagi Aldho karena itu jelas bukan di Indonesia.
"Ini dimana Ayah? kok aku tidak pernah melihat bangunan seperti ini? Dan kenapa fotonya disembunyikan begini?"
"Ini adalah katedral St.Patrick di Irlandia. Katedral ini sangat terkenal dan letaknya berada dekat dengan panti asuhan tempat kami bertemu denganmu. Ayah hanya tidak enak jika kamu tahu ini tempat asalmu."
"Mama terlihat masih muda dan sangat cantik" ungkap Aldho sembari tersenyum melihat foto mamanya.
"Ini adalah kali pertama mamamu bertemu denganmu. Waktu itu dia sangat bahagia. Dia terus menggendong mu bahkan semalaman dia terjaga hanya untuk memandangmu. Ayah sempat cemburu saat itu" ucap Pak Tirta sembari tersenyum mengingat masa-masa itu.
"Apakah Mama Sebahagia itu?" tanya Aldho.
"Iya, bahkan dia terlihat lebih bahagia saat bertemu denganmu dibandingkan saat hari pernikahannya"
Aldho tertawa mendengar pengakuan ayahnya. "Bisa-bisanya ayah cemburu kepada seorang bayi"
"Ayah masih ingat betul saat kamu berumur empat tahun. Saat itu ada tetangga yang sedang hamil besar dan tiba-tiba kamu bertanya 'mama, Aldho dulu juga ada di perut mama kan? Aldho juga besar didalam sana kan?' dan seketika Mamamu menangis." ungkap Pak Tirta
"Satu-satunya hal yang sangat dia sesali adalah kenapa dia tidak melahirkanmu. Bahkan ayah pernah bertanya apa yang dia inginkan jika dapat mengubah takdir dan jawabannya adalah dia ingin menjadi ibu yang melahirkanmu" lanjutnya.
Aldho diam dan merenung. Pembicaraan dengan ayahnya ini terasa begitu intens. Sejak kemunculan Viona memang Pak Tirta dan Mama Grace selalu was-was jika Aldho pergi meninggalkannya. Walaupun itu juga hak Aldho untuk pergi kemanapun.
"Aku tahu, Mama sangat menyayangiku dan juga ayah. Mungkin aku belum tentu mendapatkan kebahagiaan dari orang tua kandungku seperti yang kalian berikan padaku. Terimakasih ayah selalu menjadikanku putra terbaikmu" Aldho menatap ayahnya dengan begitu lekat. Memandang sosok yang sudah mulai tua itu dengan penuh cinta.
"Sepertinya kalian sedang membicarakan hal serius?"ama Grace datang dengan membawa kue di piring.
"Kami sedang bernostalgia ma" ucap Aldho lalu Mama Grace memandangi foto yang sedang diperlihatkan Pak Tirta.
"Kau ingat ini sayang?" pak Tirta menunjukkan foto istrinya yang menggendong Aldho. Kemudian Mama Grace Memandang foto itu dengan seksama.
"Ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku" Ungkap Mama Grace sambil berkaca-kaca.
Tak ingin mengubah suasana tiba-tiba Pak Tirta menanyakan keberadaan Cindy. Namun baru saja Aldho hampir menjawab Cindy sudah nampak berjalan menuruni tangga.
Sambil mengatur nafas Cindy duduk di samping Aldho.
"Perutku semakin berat. Naik turun tangga sekarang terasa sangat melelahkan." Keluh Cindy.
"Oh sayang, memang seperti itu dulu mama juga merasakannya. Kamu sabar ya" balas Mama Grace.
"Apa kita pindah kamar di bawah saja?" tanya Aldho yang tak tega melihat Cindy kelelahan.
"Tapi aku sayang dengan kamarku. Aku sulit tidur jika pindah dari sana. Tidak apa lagian sebentar lagi aku melahirkan"
"Ih, Kak Aldho malu tahu ada mama sama ayah" tolak Cindy sembari menjauhkan dirinya.
Hal itu langsung mengundang gelak tawa terutama Mama Grace yang sering memergoki kelakuan nakal Aldho dan Cindy. Aldho pun hanya nyengir malu.
.
Seminggu berlalu hasil tes DNA Aldho sudah keluar. Semua orang penasaran dengan hasilnya.
Aldho membuka surat keterangan itu dan membacanya dengan seksama. Hasilnya menunjukkan bahwa genetik antara Aldho, Pak Theo dan Bu Viona adalah sama. Itu artinya mereka benar-benar orang tua kandung Aldho.
Bu Viona dan Pak Theo terlihat sangat bahagia.
"Sayang, kau memang benar putraku" ucap Bu Viona sembari mengusap pipi Aldho.
Aldho hanya tersenyum singkat. Dia belum terbiasa dengan hal ini.
Aldho memandang wajah Pak Theo dengan lekat. Dia masih tidak menyangka bahwa pria yang selama ini bertemu dengannya adalah ayah kandungnya. Sejenak dia mengingat tentang Roger. Berarti selama ini dia adalah kakak Roger.
"Ini mungkin sedikit canggung untuk kita, tapi aku berharap kamu mau memanggilku ayah, anakku" ucap Pak Theo.
"Iya A-ayah" Aldho sedikit terbata memanggil Pak Theo. Dia masih canggung.
Sementara Bu Viona terus melihat Cindy dan kedua orang tuanya dengan sorot tidak suka. Dia tersenyum sinis kepada Mama Grace seolah telah memenangkan sesuatu.
Cindy sadar akan sikap Bu Viona dan segera memegang erat tangan mamanya untuk tetap tegar.
"Ma semua akan baik-baik saja" bisik Cindy.
Bu Viona mendekati Aldho dan langsung memeluknya. Hal itu membuat Aldho terkejut. Pasalnya selama ini dia sama sekali tidak dekat dengan Bu Viona. Hanya beberapa kali bertemu tapi kini dia sudah menerima kenyataan bahwa wanita itu adalah ibunya.
"Maaf.." Aldho secara reflek melepaskan pelukan Bu Viona.
Entah kenapa Aldho merasa risih dengan Bu Viona. Bahkan dia tidak bergeming saat Bu Viona meminta Aldho untuk memanggilnya ibu seperti yang Pak Theo lakukan.
"Aldho, ibu mau bicara padamu empat mata" Bu Viona mencoba untuk membuat Aldho meninggalkan tempat itu.
"Kenapa? kenapa tidak disini saja bicaranya?" tolak Aldho.
"Ini penting sayang, ayolah"
Akhirnya Aldho menuruti bu Viona karena dia terus mendesak. Mereka berjalan menjauhi yang lain dan menuju ke salah satu taman di rumah sakit itu.
"Aldho, aku ingin kamu memperlakukanku seperti kamu memperlakukan Grace. Aku adalah ibu kandungmu nak" ungkap Bu Viona.
Aldho diam sejenak. Lalu menatap Bu Viona dengan tajam.
"Kalau begitu berikan aku kasih sayang seperti yang mama berikan kepadaku selama 28 tahun ini"
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...