
Aldho dari tadi mondar mandir di ruang tamu. Sudah jam 9 malam namun Cindy belum pulang juga. Dia begitu cemas karena Cindy pergi berdua dengan Roger.
Tak lama kemudian terdengar deru knalpot mobil. Aldho segera melangkah ke luar namun ternyata Ayahnya yang datang.
"Ada apa Aldho? kelihatannya kamu cemas" tanya Pak Tirta.
"Oh, tidak yah Aldho hanya kepikiran Cindy kenapa belum juga pulang"
"Memangnya kemana dia?"
"Dia keluar bersama Roger dari tadi sore. Aku khawatir terjadi sesuatu dengan Cindy"
Terdengar deru mobil Roger langsung saja Aldho menghampiri ke halaman. Roger keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Cindy.
"Hai, Aldho apa kabar?" sapa Roger.
Aldho tidak menjawab hanya menatap Roger dengan sinis.
Cindy keluar dari mobil. Dia melihat kakaknya yang sudah berdiri di depan Roger. Tatapannya terlihat begitu mengerikan.
"Kak, maaf aku tadi.." Cindy belum sempat menyelesaikan ucapannya.
"Cindy, sudah malam cepat masuk" Aldho langsung memotong ucapan Cindy.
Cindy hanya bisa menurut agar Aldho tidak semakin marah.
Aldho berbalik hendak memasuki rumah namun dicegah oleh Roger.
"Aldho, tunggu aku ingin bicara denganmu"
Aldho menghela nafas panjang. Ingin sekali dia mengabaikan Roger namun hatinya masih tergerak untuk berbalik.
"Ada apa?" ucap Aldho ketus.
"Maaf ini tadi salahku. Aku mengajak Cindy mempersiapkan beberapa untuk pernikahan. Lalu kami makan malam. Aku tidak memeriksa waktu jadi tolong jangan marahi Cindy" Roger mencoba menjelaskan.
"Baiklah..."
"Dan tolong ijinkan aku dekat dengan Cindy. Aku harus membangun perasaan dengannya karena kami akan menikah"
Mendengar ucapan Roger entah kenapa hati Aldho terasa ada yang pilu. Namun dia harus menerima kenyataan bahwa Roger akan menjadi suami adiknya.
"Baiklah, tapi awas saja kau sakiti Cindy lagi"
"Ya, aku tidak akan menyakiti Cindy. Terimakasih Aldho. Kalau begitu aku pamit pulang dulu. Salam ke ayah dan mamamu" Roger terlihat gembira setelah menerima izin dari Aldho.
.
Aldho mulai disibukkan dengan pekerjaannya sebagai dokter. Roger semakin sering mendatangi Cindy. Pernikahan mereka tinggal hitungan hari namun tiba-tiba ada kabar yang kurang menyenangkan datang dari ayah Roger yang terkena serangan jantung sehingga harus dirawat di rumah sakit untuk menjalani operasi.
Mau tidak mau akhirnya mereka harus menunda pernikahan hingga satu bulan lamanya.
Cindy hanya bisa pasrah menerima kenyataan itu.
"Cindy, maafkan aku. Kondisi ayahku tidak memungkinkan untuk melakukan banyak aktivitas"
"iya kak, aku akan menunggu" jawab Cindy pasrah.
"Selama kita menunggu hari pernikahan ijinkan aku untuk lebih mengenalmu. Aku ingin dekat dan memperhatikanmu Cindy" ucap Roger.
"Jika Kak Roger memang ingin memperhatikanku maka besok kau harus mengantarku periksa kandungan"
Mendapat lampu hijau dari Cindy membuat Roger semakin bersemangat.
Keesokan harinya dia sudah siap untuk menjemput Cindy dan mengantarnya ke rumah sakit. Kebetulan Rumah sakit tempat Cindy memeriksakan kandungannya sama dengan tempat kerja Aldho. Sehingga Aldho juga bisa memantau keadaan Cindy.
Cindy memasuki ruangan Dokter dengan diikuti oleh Roger. Dia mulai berbaring dan dokter sedang memeriksa janinnya menggunakan USG. Terlihat janinnya masih sangat kecil karena masih trimester pertama. Dokter menjelaskan keadaan janin yang ada di dalam kandungan Cindy.
"Ini.. ini anakku?" Roger tak kuasa menahan air matanya.
Roger menatap Cindy yang masih berbaring. Dia benar-benar merasa bersalah atas ucapannya waktu itu yang meminta untuk menggugurkan kandungannya.
"Cindy maafkan aku" ucap Roger lirih.
Cindy mengangguk dan tersenyum. Melihat Roger begitu menyesali perbuatannya. Dia berharap dengan ini Roger mau menerima buah hatinya.
Aldho menunggu di depan ruang periksa. Saat Cindy sudah selesai dan keluar ruangan langsung disambut oleh kakaknya itu.
"Bagaimana Cindy? tanya Aldho penasaran.
Roger baru keluar ruangan karena masih ada yang ditanyakan kepada dokter.
"Oh, hai Aldho sudah dari tadi disini?" sapa Roger.
"Baru saja. Ternyata kau menemani Cindy periksa?"
"Iya aku ingin tahu keadaan Cindy dan kandungannya"
Melihat Roger yang begitu antusias membuat Aldho sedikit lega. Setidaknya pria itu mau menerima calon buah hatinya.
Roger memacu kuda besinya namun bukan ke arah pulang.
"Kita mau kemana? ini kan bukan jalan arah pulang" Cindy sedikit takut.
"Aku akan mengajakmu ke tempat yang indah" ucap Roger sembari tersenyum.
Cindy hanya bisa pasrah namun lama kelamaan jalanan yang dituju semakin masuk ke tempat yang sunyi. Banyak pepohonan dan tidak ada rumah. Cindy mulai takut jika Roger melakukan sesuatu. Pria disampingnya itu bisa berbuat di luar kendali.
"Kak Roger kau mau apa? kenapa kita di tempat seperti ini? jangan macam-macam atau..."
"kita sudah sampai"
Cindy tidak jadi meneruskan ucapannya. Dia dibuat terkesima dengan pemandangan di depannya. Sebuah danau yang airnya begitu jernih dan pemandangan sangat indah.
Roger segera keluar dari mobil dan mengajak Cindy.
"Ini tempat indah yang ku maksud" Roger melirik Cindy yang terlihat menyukai pemandangan danaunya.
"Ini benar-benar tempat yang indah" ucap Cindy kagum.
Roger membuka bagasi mobilnya dan mengeluarkan barang-barang yang telah di siapkan sebelumnya.
Dia mulai menggelar tikar kecil serta menata beberapa snack, buah dan minuman.
"Silahkan tuan puteri" Roger mempersilahkan Cindy untuk duduk.
"Kau sudah mempersiapkan ini sebelumnya?" tanya Cindy
Roger tersenyum dan mengangguk.
Mereka bercengkrama sembari menikmati makanan yang sudah disediakan. Terkadang Roger membuat lelucon yang membuat Cindy tidak berhenti tertawa. Seolah mereka tidak pernah terlibat masalah sebelumnya.
Perlahan namun pasti akhirnya mereka saling dekat. Roger yang semula hanya duduk agak jauh disamping Cindy kini mulai merebahkan kepalanya di paha Cindy.
"Apa kau menyukainya Cindy?" tanya Roger dengan memandangi wajah cantik Cindy dari bawah.
"iya, baru kali ini seorang mengajakku pergi ke tempat seperti ini" jawab Cindy sembari memainkan rambut Roger.
Roger kemudian bangkit dan duduk dekat dengan Cindy.
"Aku akan mengajakmu ke tempat-tempat indah nanti" Roger membelai lembut pipi mungil Cindy.
Mereka saling menatap, tatapan yang penuh arti. Cindy mulai terbuai dengan tatapan Roger. perlahan Roger mulai mendekatkan wajahnya ke arah Cindy hingga kedua bibir mereka saling bertaut. Tidak ada jarak lagi di antara mereka.
Roger terus mengecup bibir ranum milik Cindy. Tidak ada penolakan darinya membuat Roger lebih leluasa. Kini Roger mulai mengangkat tubuh Cindy dan memindahkan ke pangkuannya.
Saling menikmati rasa yang menggelora. Cindy mulai mengalungkan tangannya ke leher Roger seakan tak ingin menyudahi kegiatan tersebut.
Roger memeluk tubuh mungil Cindy seolah gadis itu hanya miliknya satu-satunya.
"Cindy, I love you" Ucap Roger penuh arti.
Cindy tersenyum bahagia mendengar pengakuan cinta Roger. Seakan lupa dengan luka yang dibuat oleh lelaki itu.
"Are you serious?"
Roger mengangguk.
"Marry me Cindy, Aku ingin menikah denganmu sayang" Roger tidak sabar mendengar jawaban Cindy.
"yes, i love you too" Cindy tersenyum bahagia lalu mulai mencium Roger kembali.
.
.
.