
Cindy mengunci dirinya di kamar dan menangis sejadi-jadinya. Karena kecerobohannya dia merasa gagal menjadi seorang ibu juga istri.
Cindy juga tidak bisa menyalahkan Aldho yang memarahinya karena dia memang yang lalai dan ceroboh hingga membuat Selina hampir meregang nyawa.
"Aku memang manusia yang tak berguna, bisaku hanya menyusahkan orang lain" gumam Cindy dalam tangisnya.
Sementara Aldho mencoba untuk menemui Cindy. Berkali-kali dia mengetuk pintu kamarnya namun tak ada balasan.
"Cindy, ku mohon bukalah pintunya. Aku minta maaf Cindy. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu" Aldho menempelkan keningnya pada pintu.
Dia merasa sangat menyesal dan bersalah karena sikapnya. Membentak Cindy di hadapan banyak orang jelas membuat Cindy sakit hati.
"Aku layak dihukum Cindy, tapi tolong bukalah pintunya sayang" Aldho terus mencoba untuk meminta maaf.
Mendengar suara Aldho justru membuat Cindy semakin terisak. Dia tidak sanggup bertemu dengannya bahkan sekedar menatap mukanya. Cindy benar-benar malu.
Sementara di luar semua tamu sudah pulang semua tinggal Pak Theo yang tersisa. Dia sengaja menunda kepulangannya untuk menemani Selina agar Aldho dan Cindy bisa memiliki waktu berdua menyelesaikan masalahnya.
Sudah hampir satu jam Aldho menunggu didepan pintu namun Cindy tetap tak mau membukanya. Tapi Aldho sama sekali tak menyerah. Dia terus menunggu hingga akhirnya Cindy membukakan pintu.
"Cindy aku benar-benar minta maaf, aku tidak bermaksud mempermalukan mu didepan banyak orang" Aldho langsung memeluk Cindy.
"Ini memang salahku, aku yang lalai menjaga Selina. Bahkan aku tidak bisa menolongnya" ucap Cindy lirih.
"Sudah sayang, mari lupakan kejadian ini. Kita sama-sama salah. Ini akan jadi pelajaran untuk kedepannya" Aldho berusaha membuat Cindy tenang.
Meskipun Cindy terlihat tenang namun dalam hatinya masih berkecamuk. Dia terus mengingat kata-kata Viona.
.
Semua kembali seperti semula. Aldho sudah meminta maaf kepada kedua orangtuanya atas apa yang terjadi. Tentu saja itu hal spontan dan wajar ketika seseorang sedang panik.
Cindy sedang membereskan kamar tidurnya tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Viona. Sebenarnya Cindy enggan membukanya karena isinya pasti hanya akan membuat Cindy kesal.
Benar saja, Viona mengirimkan sebuah foto saat Aldho dan Renata mencoba menolong Selina, sedangkan Cindy hanya diam berdiri disebelahnya.
"Cindy, maafkan ibu mungkin ucapanku melukai perasaanmu. Namun melihat ini membuatku terus berpikir bahwa sikapmu sungguh fatal. Aku pernah berada di posisimu Cindy. Aku tidak bisa menjadi seorang ibu yang baik. Dan orang yang aku cintai tidak bahagia bersamaku. Semakin aku mempertahankannya semakin menderita pula mereka. Untuk itu pikirkan baik-baik apakah kau akan terus menahan Aldho yang pura-pura bahagia disisimu?"
Pesan panjang ditulis oleh ibu mertuanya. Hal itu pula membuat Cindy terus berpikir apakah benar Aldho sebenarnya tidak bahagia?
"Sayang, kok melamun sih? Ada masalah?" tiba-tiba Aldho datang menghampiri Cindy.
"Ti-tidak, emm.. Dimana Selina?" Cindy berusaha menutupi perasaannya.
"Selina ikut ayah dan mama keluar sayang, aku mau berdua saja denganmu"
Cindy menatap Aldho dengan seksama. Dia begitu mencintai suaminya namun dia tidak ingin Aldho terbebani dengan masalahnya.
"Sayang, apa kamu bahagia bersamaku?" tiba-tiba kata itu terlontar dari mulut Cindy. Sontak saja Aldho langsung tersenyum.
"Kenapa harus ditanyakan? Aku jelas bahagia sayang. Aku bahagia memilikimu" dengan gemas Aldho terus mengecupi Cindy.
.
Cindy sedang banyak pikiran. Saat bersama Aldho dia tidak bisa benar-benar menikmatinya bahkan asi yang dia keluarkan juga berpengaruh sehingga membuat Selina rewel.
Kemudian dia iseng-iseng membuka formulir pendaftaran beasiswa sekolah mode yang ditawarkan oleh tutornya beberapa waktu lalu.
Diamatinya dengan seksama dan dia mulai berpikir untuk mengambil keputusan besar yaitu mendaftar ke sekolah mode itu membiarkan Aldho memilih kehidupannya sendiri.
"mungkin ini yang terbaik. Ibu Vio benar harusnya aku merelakan Aldho untuk kebahagiaannya" gumam Cindy dalam hati.
Akhirnya Cindy memberanikan diri berkonsultasi dengan tutornya mengenai beasiswa itu.
"Cindy kamu yakin ingin mendaftar beasiswa itu? Lantas bagaimana dengan suami dan putrimu?"
Diam-diam Cindy mempersiapkan semua yang dia butuhkan termasuk uang tabungannya. Dia sudah memantapkan diri untuk pergi.
"Maafkan aku sayang, aku sangat mencintaimu tapi aku tidak bisa membiarkanmu terus berkorban untukku. Hiduplah dengan pilihanmu dan berbahagialah" Cindy mengusap lembut pipi dan mencium kening Aldho yang tengah tertidur pulas.
Kemudian dia menghampiri Selina. Gadis mungilnya tengah tertidur dengan nyenyak. Air mata Cindy tak kuasa terbendung. Benar-benar berat mengambil keputusan ini namun dia harus melakukannya. Itu yang terbaik.
"Maafkan mama sayang, tumbuhlah menjadi anak yang hebat. Maafkan mama"
Diam-diam Cindy mengambil koper yang sudah dia siapkan sebelumnya. Sebelum pergi dia meninggalkan sepucuk surat untuk Aldho dan meletakkan di atas bantalnya. Dengan hati-hati dia melangkahkan kaki keluar agar Aldho dan Selina tidak terbangun.
Cindy berhasil keluar dan saat melintasi kamar orang tuanya dia berhenti sejenak dan menyelipkan sebuah surat untuk mereka.
"Maafkan Cindy belum bisa menjadi anak yang baik"
Sebelum keluar Cindy memperhatikan kediamannya. Rumah yang dia tinggali sejak kecil hingga saat ini. Tempat ternyaman untuknya menghabiskan hari-harinya.
Hatinya benar-benar sesak. Dengan seluruh tenaga dia berusaha melangkahkan kakinya dan pergi dari rumah itu.
...****************...
Sudah beberapa bulan Rebecca tinggal bersama Roger. Pria itu benar-benar memperlakukan Rebecca sangat baik.
Keseharian Rebecca yang selalu bersama Roger diam-diam ternyata membuatnya mulai jatuh hati.
Apalagi Roger selalu berbagi cerita dengan Rebecca bahkan saat ayahnya memposting foto Selina dia tak sungkan memberitahu Rebecca.
"Lihatlah, putriku sudah berumur satu tahun" Roger nampak antusias.
"Dia sangat cantik, aku suka melihatnya." Puji Rebecca.
"Jika kamu memiliki seorang putri kelak pasti juga sangat cantik sepertimu" balas Roger sembari menatap Wajah Rebecca.
Sejenak Rebecca tersipu dengan pujian Roger.
"Jadi menurutmu aku cantik?" balasnya dengan semakin mendekati Roger.
Roger membelai rambut Rebecca. Diperhatikannya wajah cantik itu lalu dicubitnya pipi Rebecca dengan gemas.
"Aww.. Kok malah dicubit?" protes Rebecca.
"lalu mau diapakan Rebecca?" Roger mendekati Rebecca.
Kedua pasang netra itu saling beradu. Terlihat bayang-bayang wajah mereka.
"Kau cantik Rebecca, benar-benar cantik" Roger semakin mendekatkan wajahnya dengan Rebecca.
Gadis itu mulai memejamkan matanya dan jantungnya mulai berdebar saat Roger hendak menciumnya.
Roger memperhatikan wajah Rebecca dengan seksama. Dia baru sadar ternyata Rebecca memiliki paras yang hampir mirip dengan Cindy. Seketika Roger beranjak dan menjauhi Rebecca.
"Roger, kenapa?" Rebecca nampak bingung dengan sikap Roger.
"Tidak apa-apa. Maaf aku mau keluar mencari udara segar"
Rebecca hanya bisa menatap Roger yang pergi menjauh. Terasa sesak dalam hatinya.
"sampai kapan kamu terus menyimpan perasaanmu untuk Cindy?"
.
.