Baby Blues

Baby Blues
bab 95 kado terindah



Seminggu sejak Selina dirawat di rumah sakit hari ini dia sudah boleh dibawa pulang. Tentunya dengan pengawasan Aldho yang ketat.


Dia sempat mengalami gangguan pasca operasi namun sudah bisa diatasi. Kini kondisinya sudah stabil namun Selina yang masih kecil tentu saja rewel.


Semalaman Cindy dan Aldho bergantian menggendong Selina karena terus menangis.


"Mama... Aku takut.. Aku takut.." rupanya hal itu menimbulkan rasa trauma bagi Selina.


Aldho mengingat kembali saat Cindy mengalami trauma. Rasanya hal itu masih sangat membekas di hatinya bagaimana dia berusaha mengatasi trauma Cindy dan kini harus terulang kembali kepada putrinya.


Semenjak kejadian itu Selina menjadi pendiam dan menutup diri terhadap orang lain.


"Apa Selina akan seperti ini terus?" Cindy mulai gelisah.


"Tidak sayang, ini hanya sementara. Jangan khawatir" Aldho mencoba untuk menenangkan Cindy. Dia tahu istrinya begitu kalut.


Setiap hari Roger dan Rebecca juga selalu menyempatkan diri untuk menghampiri Selina. Dukungan banyak orang akan membuatnya segera pulih.


"Sayang, lihat Mommy datang bawa boneka Barbie kesukaan kamu." Rebecca datang membawa hadiah untuk Selina.


Hari ini Cindy sedang tidak enak badan. Kepalanya terasa pusing dan tubuhnya seakan tidak memiliki tenaga.


Bahkan dia tidak sanggup untuk bangun dari ranjangnya. Melihat keadaan Istrinya seperti itu membuat Aldho khawatir.


"Sayang, ada apa denganmu?" Aldho membelai kepala Cindy yang sedang tidur miring.


Bukannya menjawab Cindy justru menangis sesenggukan. Aldho semakin bingung. Dia segera mengeluarkan stetoskop dan tensi serta beberapa peralatan untuk memeriksa Cindy.


Sepertinya baik-baik saja hanya kelelahan dan tekanan darah yang menurun.


"Ada yang sakit lagi sayang?" Aldho mencoba mencari tahu.


"Aku... Aku mau.." masih menangis Cindy mencoba untuk berbicara.


"Iya mau apa sayang?" tanya Aldho lagi.


"Aku mau bubur ayam..." Aldho terperangah mendengar ucapan Cindy. Dia pikir istrinya begitu kesakitan ternyata hanya menginginkan bubur ayam.


"Iya, habis ini aku pesan online ya"ucap Aldho.


"Tidak, tidak mau.. Dibelikan langsung sama Kak Aldho. Pesan online sering tidak sesuai" rengek Cindy bak anak kecil.


Aldho sedikit tersenyum geli melihat kelakuan Cindy. Namun se manja apapun Cindy, Aldho justru semakin mencintainya.


"Baiklah, aku belikan dulu ya" Aldho mengecup kening Cindy sebelum dia pergi membeli bubur.


Sementara di bawah tampak Rebecca, Roger dan Mama Grace sedang menemani Selina.


"Aldho, bagaimana keadaan Cindy?" tanya Mama Grace.


"Aku periksa dia baik-baik saja. Sepertinya dia kelelahan. Tubuhnya masih lemah" balas Aldho.


"Kak Aldho, jika Jully masih sakit ijinkan kami menemani Selina supaya dia bisa istirahat dan kak Aldho bisa kerja" ujar Rebecca.


"Terimakasih Rebecca, tapi apa kalian tidak repot nanti?"


"Tidak Aldho, Selina juga putriku jadi kita bisa bekerja sama untuk merawatnya. Selina mau kan ditemani Daddy dan Mommy?" ujar Roger yang kemudian menanyai Selina. Selina pun mengangguk dan akhirnya Aldho mengijinkan.


Sore itu Aldho pergi membeli bubur untuk Cindy sebelum berangkat kerja. Masih ada waktu setengah jam dia gunakan untuk menyuapi Cindy.


Roger yang tak sengaja melihat Aldho merasa jantungnya berdebar.


"Benar saja Cindy sangat mencintai Aldho. Dia memang pria yang sangat perhatian dan menyayanginya." gumam Roger dalam hati.


Meski kini Roger ikhlas melepaskan Cindy namun sebagai manusia normal terkadang ada secuil perasaan yang masih membekas di hatinya.


Tapi Roger tidak ingin memelihara perasaan itu. Buru-buru Roger menghampiri istrinya dan selina agar perasaan di hatinya segera berubah.


Hingga malam tiba kondisi Cindy belum juga membaik. Mama grace berulang kali melihat keadaan cindy. Karena letak kamar Cindy yang berada di lantai atas dan Mama Grace harus bolak-balik menaiki tangga akhirnya Rebecca yang menggantikan menengok keadaan Cindy.


Rebecca hendak menengok Cindy di kamarnya namun dia dibuat terkejut saat mendapati Cindy yang tergeletak di lantai tak sadarkan diri.


Rebecca langsung memanggil Roger dan Mama Grace untuk membantunya.


"Sepertinya dia pingsan" ujar Mama Grace saat berulang kali membangunkan Cindy.


"Roger, Rebecca tolong bawa Cindy ke rumah sakit. Mama khawatir sesuatu terjadi dengannya. Biar Selina bersama Mama" pinta Mama Grace.


Sementara Rebecca berjalan keluar lebih dulu untuk menyiapkan mobil.


Setelah beberapa saat mereka di perjalanan tiba juga di rumah sakit tempat Aldho bekerja. Karena itu adalah rumah sakit paling dekat dari rumah.


Saat Cindy diperiksa dokter, Aldho baru saja datang karena dia baru selesai mengoperasi pasien.


"Dimana Cindy?" sambil terengah-engah Aldho menghampiri Roger dan Rebecca di ruang tunggu.


"Cindy masih diperiksa di ruangan itu" Roger menunjuk ruangan dokter Helena.


Sejenak Aldho merasa heran, kenapa Cindy diperiksa oleh dokter kandungan.


Akhirnya Aldho langsung memasuki ruangan dokter Helena untuk memastikan.


"Selamat malam, bu Dokter" ujar Aldho.


"Selamat malam Dokter Aldho" balas Dokter Helena yang baru selesai memeriksa Cindy.


"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" Aldho sembari membantu Cindy bangkit dari ranjang.


"Selamat Pak Aldho, Ibu Cindy sedang mengandung. Usia kandungannya menginjak minggu ke 3" ucap Dokter Helena dengan senyum bahagia.


Awalnya Aldho tak percaya namun saat melihat Cindy dia langsung percaya.


"Benarkah?" tanya Aldho kepada Cindy. Dan istrinya pun mengangguk sembari mengulas senyum bahagianya.


Aldho langsung memeluk Cindy. Dia memeluknya dengan erat. Tampak kedua netra ya berkaca-kaca.


Tanpa berkata-kata lagi kedua insan tersebut menumpahkan segala rasa bahagianya.


Aldho tentu saja menciumi Cindy dengan gemas sebagai rasa syukurnya yang telah Cindy hadiahkan kepadanya.


Hingga dia tak sadar mengecup bibir Cindy didepan dokter Helena.


"Ehmm.." Dokter Helena berdehem saat Aldho mencium Cindy didepannya.


"Oh, maaf bu. Maaf" Aldho langsung sadar dengan apa yang dia perbuat.


Dokter Helena hanya tertawa kecil melihat begitu gemasnya pasangan ini.


Setelah selesai memeriksakan diri Aldho dan Cindy berjalan keluar.


Diluar pintu Roger dan Rebecca langsung menghampiri Cindy.


"Jully bagaimana keadaanmu? Tidak ada yang serius kan?" tanya Rebecca.


Cindy hanya tersenyum lalu memberikan hasil pemeriksaan dirinya.


"Kamu hamil?" Pekik Rebecca.


Cindy dan Aldho kompak mengangguk sembari tersenyum bahagia.


"Ya Ampun.. Selamat Jully. Ini adalah hadiah terindah yang aku dengar malam ini. Pastinya juga kak Aldho kan?" ujar Rebecca.


Aldho pun juga mengangguk bahagia.


"Selamat Aldho, aku turut bahagia mendengarnya" ucap Roger.


Selesai diperiksa Cindy sudah boleh pulang. Akhirnya mereka bertiga pulang sedangkan Aldho masih melanjutkan pekerjaannya.


"Besok Selina pasti sangat senang ketika tahu Kamu hamil Jully" ujar Rebecca.


"Iya. Aku tidak sabar memberitahunya" ungkap Cindy.


Sementara Roger didepan menyetir mobil sesekali melihat kearah mereka penasaran apa yang dibicarakan.


Sampai di rumah mereka istirahat masing-masing.


Berdasarkan pengalaman Cindy, Rebecca sangat berharap juga hamil.


.


Maaf ya, author sibuk bgt akhir-akhir ini jadi jarang update.