
"Kak Aldho, maafkan aku gara-gara aku kak Aldo tidak jadi ke Amerika" Cindy tertunduk lesu.
"Aku batal ke Amerika bukan karena mu tetapi memang aku masih ingin berada di sini. Lagi pula aku mendapat pekerjaan bagus sekarang jadi ini peluang bagus untuk karierku"Aldho memegang tangan Cindy dengan lembut. Dia tidak ingin membuatnya stres. Masalah yang dia hadapi sudah berat jadi tidak ingin menambahnya lagi.
Cindy tersenyum melihat Aldho yang begitu perhatian kepadanya. Keluarganya begitu sayang terhadap Cindy.
Saat sedang asyik mengobrol dengan Aldho tiba-tiba seorang memanggil Cindy dari belakang. Suara yang tidak asing baginya.
Dengan segera Cindy menoleh kebelakang dan mendapati sahabatnya yang datang menemuinya.
"Windy, Tika, Zara" Cindy segera bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri ketiga sahabatnya.
"Hati-hati" Aldho berusaha menjaga Cindy berdiri agar tidak terjatuh.
"Aku sangat merindukan kalian" Cindy memeluk ketiga sahabatnya.
"Kami juga sangat merindukanmu Cindy" ucap mereka bergantian memeluk Cindy.
"Hai, Windy, Tika, Zara" sapa Aldho.
"Hai kak Aldho" sapa Tika bersemangat.
"Cindy silahkan kalian mengobrol. Kakak ke dalam dulu" Aldho mengusap rambut Cindy.
Cindy begitu bahagia atas kedatangan sahabatnya. Seperti rindu yang terobati dia tak berhenti tersenyum bahagia. Wajah cantik yang berhari-hari murung kini terlihat ceria lagi.
"Ku kira kalian sudah tidak akan kesini lagi" ucap Cindy.
"Mana mungkin aku tidak kesini lagi. Kita ini sahabat maka sampai kapanpun kita tetap bersama" balas Windy.
"Berhari-hari di rumah tidak ada kegiatan membuatku sangat bosan. Aku ingin belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah" Cindy mulai meluapkan perasaannya.
"Sabar Cindy. Jika ingin belajar kau bisa meminjam buku-buku kami" Zara memberikan beberapa buku catatan miliknya.
"Cindy ku dengar kau jadi menikah dengan pria itu?" Tanya Tika.
Cindy menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia sebenarnya masih ragu untuk menikah dengan Roger.
"Aku harus melakukannya untuk menyelamatkan reputasi keluargaku. Tidak mungkin aku melahirkan bayiku tanpa seorang suami"
"Tapi kau tidak harus mengorbankan dirimu seperti ini kan?" Windy menimpali.
"Aku sudah cukup membuat ayah dan ibuku bersedih terutama Kak Aldho. Dia terus merasa bersalah karena ini"
"Lalu bagaimana Roger? Apa menurutmu dia juga mau melakukan pernikahan ini?" tanya Zara.
"Aku tidak tahu pasti. Tetapi ayahnya bersikeras untuk menikahkan ku. Roger hanya menurut pada orang tua ya"
Ditengah pembicaraan Mama Grace datang membawa beberapa kue dan minuman.
"Ayo dicicipi dulu ini buatan Mama" Mama Grace membagikan potongan kue kepada teman-teman Cindy.
"Terimakasih tante aku sangat merindukan kue buatan tante" Balas Tika.
Cindy bercengkrama saling melepas rindu dengan sahabat-sahabatnya. Saling meluapkan keluh kesah masing-masing nyatanya membuat Cindy lebih bahagia.
"Baiklah Cindy ini sudah sore kami pamit pulang dulu" Teman-teman Cindy berpamitan untuk pulang. Kemudian Aldho datang menemui mereka.
"Kalian sudah mau pulang? naik apa?" tanya Aldho.
"Kita akan memesan taksi online kak" jawab Zara.
"Aku antar kalian. Tidak perlu naik taksi"
"serius kak?" Jawab Tika.
"Iya, ayo sebelum aku berubah pikiran"
Akhirnya Aldho mengantar teman-teman Cindy.
Satu persatu Aldho mengantar Zara, kemudian Tika dan terakhir tinggal Windy didalam mobil.
"Kak Al, ada yang ingin aku bicarakan denganmu" Windy memulai pembicaraan.
"Baiklah silahkan, atau kita cari tempat ngobrol saja supaya lebih enak" Aldho kemudian menuju ke sebuah coffe shop tak jauh dari tempatnya sekarang.
Windy dan Aldho duduk di bagian teras karena di dalam sudah penuh orang. Aldho memesan minuman kemudian duduk menghampiri Windy. Sambil menunggu pesanan datang mereka mulai mengobrol.
"Jadi kamu mau membicarakan tentang apa?" tanya Aldho.
"Tentang Cindy dan pernikahannya kak" jawab Windy.
"memangnya ada apa dengan pernikahan Cindy?"
"Kak Aldho yakin Cindy akan bahagia jika menikah dengan Roger?"
"Jika aku lihat kak Aldho lebih cocok bersama Cindy. Karena kakak sangat tahu bagaimana Cindy?"
"Maksud kamu? Aku yang menikah dengan Cindy?" jawab Aldho bingung.
"iya kak"
"Tapi aku kakaknya Cindy. Mana mungkin dia mau menikah denganku"
"tapi Kak Aldho bukan saudara sedarah kan? dan aku lihat tadi saat kak Aldho di taman bersama Cindy..." Windy tidak meneruskan perkataannya.
Waiters sedang menyuguhkan minuman untuk Aldho dan Cindy.
"Aku dan Cindy kenapa?" tanya Aldho penasaran.
"Aku melihat kalian begitu serasi" jawab Windy sembari tersenyum.
Aldho pun tertawa.
"Hah, kamu ini. Ya mungkin karena aku memang dekat setiap hari dengannya. Kadang saat aku mengantar Cindy belanja orang-orang mengira dia kekasihku"
Windy hanya menimpali dengan senyum. Sebenarnya Windy tahu bahwa diantara Cindy dan Aldho ada suatu perasaan yang mungkin belum mereka sadari.
"Aku kira ada hal sangat penting Windy, untung saja bukan masalah"
" iya kak. Kak Aldho tolong jaga Cindy sampai kapanpun. Aku tahu hanya Kakak yang Cindy andalkan" ucap Windy penuh harap.
"Pasti Windy, aku akan menjaganya sampai kapanpun. Terimakasih sudah memperhatikan Cindy".
.
Roger mengajak Cindy untuk fitting baju pengantin. Saat Roger menghampiri Cindy ke rumahnya mama Grace yang nampak dingin menghadapi Roger. Luka atas kejadian yang menimpa Cindy masih sangat menggores di hatinya. Namun dia hanya mampu menerima semua kenyataan itu.
"Tante aku berangkat dulu" ucap Roger kepada Mama Grace.
"ya. hati-hati membawa Cindy" jawab Mama Grace.
Di perjalanan Cindy hanya diam. Rasanya masih canggung saat bersama dengan Roger. Rasa traumanya juga masih membekas. Bahkan Roger ingin menyentuh tangannya Cindy langsung buru-buru menjauh. Bagaimana mungkin dia menghadapi Roger yang akan menjadi suaminya.
Saat di perjalanan mereka tidak sengaja melihat Aldho sedang duduk mengobrol bersama Windy.
"Cindy, lihat bukankah itu Aldho, bersama siapa dia?" Roger menunjuk ke arah Coffe shop di seberang jalan.
Cindy langsung menoleh mencari keberadaan Aldho. Terlihat Windy sedang duduk bersama Aldho namun tidak ada Tika dan Zara.
"Sedang apa dia bersama Windy?" gumam Cindy.
"Kamu kenal gadis itu?" tanya Roger.
"dia temanku" jawab Cindy singkat.
Cindy sudah tiba di sebuah butik. Roger menghampiri pemilik butik yang tak lain masih kerabatnya. Mereka berdua memilih baju yang akan dipakai. Karena waktunya mepet sehingga Cindy memilih gaun yang sudah siap pakai. Roger nampak gagah memakai tuksedo berwarna hitam. Sedangkan Cindy memakai sebuah gaun pengantin berwarna putih. Aura kecantikannya begitu terpancar membuat Roger terpesona dengan kecantikannya.
"Cindy, kau terlihat sangat cantik" puji Roger.
Cindy nampak tersipu. Cindy hanya membalas dengan senyuman malu-malu.
Selesai dengan sesi fitting baju kini mereka berdua menikmati makan malam. Roger berusaha membuat Cindy nyaman. Ini pertama kalinya mereka menikmati waktu berdua karena bagaimanapun mereka akan menjadi pasangan suami istri.
"Cindy, semoga kamu menikmati makan malam ini. Jaga kesehatanmu ya. Sekali lagi maafkan aku sudah membuatmu susah" ucap Roger sembari menatap Cindy dengan saksama, tangannya mengusap jemari Cindy dengan lembut. Tatapan yang membuat Cindy sejenak terhipnotis.
Cindy hanya mengangguk. Cindy memang cukup mengenal Roger. Sebelumnya dia sangat akrab dengan Roger bahkan diam-diam sempat menyukai Roger.
.
Aldho mencari keberadaan Cindy yang tidak terlihat di rumah.
"Ma, Cindy dimana?" tanya Roger kepada Mama Grace.
"Dia pergi keluar bersama Roger" jawab Mama Grace.
"Apa? pergi dengan Roger, Mereka hanya berdua?"
.
.
.
bonus visual Roger